Tinggal di Jerman selama beberapa tahun, aku bertemu banyak sekali orang-orang hebat, yang berjuang di tanah perantauan, jauh dari orang tua, sanak saudara. Aku kagum sekali akan kegigihan teman-teman di sini dalam menggapai mimpi. Sebagian dari mereka adalah anak lulusan SMA/SMK yang memberanikan diri datang ke Jerman dengan menjadi au pair dan memutar otak bagaimana agar bisa melanjutkan kehidupan di Jerman yang semua serba mahal ini. Dari mereka aku menyadari satu hal, bahwa menggapai mimpi itu bukan hanya untuk mereka yang punya uang saja, bukan untuk mereka yang sangat cerdas saja, tapi untuk kita semua, bahkan yang nggak cukup pandai untuk ikut seleksi program beasiswa (seperti aku), dan yang nggak cukup mampu untuk membiayai kuliah (seperti aku lagi :D),  yang mau dan berani keluar dari zona aman dan bertekat bahwa mimpi itu kita tanam untuk kita raih, dan kita melakukan yang terbaik untuk meraihnya.
So, bertemu dan bertukar pikiran dengan teman se-perantauan, aku banyak mendapatkan informasi untuk kuliah di Jerman, tanpa uang jaminan 8000 euro. 
Berikut trik dan tips yang mungkin bisa jadi inspirasi juga buat kalian yang berminat kuliah di Jerman:


1. Mulai dari NOL

Yang aku maksud di sini, kalau kalian benar-benar pengen datang dulu ke Jerman, cari cara yang paling mudah, yakni jadi au pair (lihat bahasan seputar au pair). Kalau kalian sebegitu beruntungnya, seperti salah satu teman aku yang 2 tahun lalu jadi au pair di salah satu kota kecil di Bavaria, kalian akan dapat Host Family yang baik hati dan percaya kepada kalian sehingga mau menjamin kalian (hitam di atas putih) selama beberapa tahun kuliah di Jerman. Tapi hal ini juga faktor keberuntungan. Karena menjadi penjamin (verpflichtungserklärung) berarti berani menjamin dan benar-benar kenal siapa yang dijamin, misalnya kalian udah dijamin sama keluarga lantas melakukan aksi pencurian, perampokan, dan tindakan kriminal lainnya sampai berurusan dengan polisi, keluarga penjamin bisa terlibat dan harus bertanggung jawab. Faktor ini lah yang dipikirkan banyak keluarga Jerman. Meskipun mereka mengenal karakter kita, baik, sopan, pemalu, sungkan-an, tapi kita tetap saja orang asing. Seperti Host Family ku dulu, mereka bersedia menjamin, asal aku kuliahnya tidak jauh-jauh di lain kota (tetap di München), agar bisa sekali-sekali membantu mereka di akhir pekan. 

2. Punya plan B setelah start dari nol

Kalau ternyata kalian nggak beruntung punya host family dermawan dan suka membantu, jangan putus asa. Tetap jalin hubungan baik dengan siapa saja. Rejeki bisa bersumber dari mana aja kan? putar otak, putar haluan. Salah satu kenalan bercerita, dia tinggal di Austria selama 1 tahun untuk jadi au pair (mulai dari nol) lalu pindah ke Jerman jadi au pair lagi (dari nol lagi :D), lalu karena dia nggak begitu beruntung dapat keluarga penjamin, dia (dan yang juga aku lakukan) memutuskan untuk menjadi FSJ atau BFD (simak seputar FSJ dan BFD) dan menambah pengalaman juga belajar bahasa Jerman yang nantinya saat kuliah akan sangat berguna untuk kerja sampingan.
Ketika FSJ, pastikan terhubung dengan banyak orang, nggak cuma orang Jerman, tapi kawan-kawan Indonesia agar dapat link untuk mencari kerja tambahan dan sebagainya. 

3. Nabung, Hemat, Pelit 

Saat FSJ atau au pair, kalian jadi punya waktu cukup untuk berpikir apakah kalian benar-benar ingin kuliah di Jerman atau malah balik ke Indonesia, atau banting stir ke ausbildung, dsb. Gunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya agar kalian nggak salah mengambil langkah ke depannya. Jangan sampai salah spekulasi!!!
Salah seorang teman yang aku sayangkan sekali dia harus kembali ke Indonesia karena salah spekulasi. Dia datang ke Jerman dengan jadi au pair dan punya impian melanjutkan S2, tapi keasikan menjadi au pair, alih-alih daftar FSJ, dia malah terus tinggal di Host Family yang sama (memperpanjang visanya bukan lagi au pair, tapi sprach schulerin dengan host family sebagai penjamin). Kalau sudah punya visa sprach schulerin, tahap selanjutnya yang harus kalian tempuh adalah studkol (studen koleg) atau jadi mahasiswa. Teman aku itu di akhir tahun visa sprach schulerin nya, dia berubah pikiran ingin menjadi FSJ dulu sebelum mulai S2. Kalau kalian sudah punya visa sprach schulerin, kalian harus mau tidak mau kembali ke Indonesia untuk memperpanjang visa FSJ. Usut punya usut yang aku dengar, pihak kedubes Indonesia belum mengijinkan dia kembali ke Jerman lagi. Saat aku menulis ini, sudah bulan ke 8 dia menunggu visa di Indonesia. Jadi sangat disayangkan kalau kalian salah spekulasi.
Kembali ke topik. Kalau kalian cekatan, ada banyak peluang kerja sambilan saat FSJ, dari situ kalian bisa mengumpulkan uang yang nantinya akan kalian pergunakan untuk memperpanjang visa dan uang tabungan saat memulai study. Sebagai info tambahan:
Aku dulu mendapat gaji FSJ perbulan 623 euro, dari situ aku membayar kamar 300 euro, makan aku jatah 80 euro perbulan, dan pengeluaran tak terduga sekitar 50 euro. Aku mendapat sekitar 190 euro per bulan untuk tabungan. Tapi aku punya pekerjaan sampingan menjadi baby sitter yang aku lakukan tiap akhir pekan sekitar 5 jam perminggu, baby sitter dibayar 10 euro perjam, jadi perbulan aku mendapat tambahan sekitar 200 euro. Bisa kurang bisa lebih. Ada beberapa bulan aku mendapat penghasilan hanya dari baby sitter saja 400 euro. Katakanlah aku boros, aku masih bisa menabung sekitar 300-400 euro per bulan dan dalam satu tahun, aku punya tabungan 3600 sampai 4000 euro. Tapi aku sangat boros saat itu, jadi setelah satu tahun setengah menjalani FSJ, aku hanya punya tabungan 3000 euro. Yah, seperti yang aku katakan, kalian harus cekatan dan semangat dalam menjemput rezeki demi menggapai mimpi.

4. Nyicil VISA

Awalnya aku merasa tergelitik bertemu dengan salah satu mahasiswa S2 sejurusan yang lihai banget dalam ‘ngakali’ birokrasi pemerintah Jerman. Birokrasi pemerintah Jerman emang njlimetnya alang kepalang, tapi bukan berarti kita nggak bisa bertahan. Kalau kalian bisa bertahan dalam suasana macet Jakarta, kalian bakal tahan dengan tantangan hidup di mana aja (apa sih kok jadi nglantur) :D.
Jadi teman aku ini nggak pernah punya uang 8000 euro buat kuliah di Jerman. Dia hanya punya 2000 (itu pun dapat dari hutang sesama teman Indonesia yang tinggal di Hamburg) dan dari 2000 itu dia bisa memperpanjang Visa nya selama 3 bulan. Setelah tiga bulan? ya memperpanjang lagi dengan utang lagi 2000. Jadi selama 2 tahun ini dia berada di Jerman, tiap 3 bulan dia harus memperpanjang Visa. Kerugiannya, tiap 3 bulan dia harus rela bayar 80 euro untuk memperpanjang. Tapi informasi terakhir kemarin, dia bisa nabung dan dapat pinjaman sana sini sampai 6000 euro sehingga dia bisa memperpanjang sampai 9 bulan.


5. Pinjam Teman!!!!

Kalau kalian dengar dan baca kisah tentang kuliah di Jerman dari anak orang mampu atau yang lolos seleksi beasiswa, mungkin kisah lucu seputar pinjam meminjam di kalangan mahasiswa hampir tak terdengar. Padahal udah jadi rahasia umum bahwa saat memperpanjang visa adalah saat kedermawanan teman diuji. Ya, salah seorang teman dekat yang juga cerdik sekali harus rela bersusah payah menghubungi semua kenalannya di Jerman (tentunya orang-orang Indonesia senasib seperjuangan) dan meminjam uang untuk memperpanjang visa dari FSJ ke student. Dari semua yang dia kenal, ada yang meminjamkan 100 euro, 300 sampai 1000 dan dia bisa dapat 8000 euro untuk itu. Masalahnya, uang 8000 itu tidak bisa ditarik secara utuh setelah kita mendapat visa, hanya 650 euro per bulan. Jadi, saat kita meminjam, pastikan mereka belum butuh uang tersebut sampai beberapa bulan ke depan.

6. Verpflichtungserklärung

Atau penjamin. Seperti yang aku sebutkan di atas, keluarga host family bisa jadi keluarga penjamin. Namun, bukan hanya itu, teman dekat bisa juga jadi penjamin asalkan dia sudah bekerja dan gajinya cukup untuk menjadi Verpflichtungserklärung. Saat aku ingin memulai S2 tahun lalu, paman dari teman dekat aku (orang Jerman) malah menawarkan diri untuk menjadi Verpflichtungserklärung karena beliau pernah tinggal lama di Indonesia dan kita sering bertemu, beliau percaya dan menganggap ku sebagai keponakannya sendiri, selain dari paman tersebut, orang tua dari teman yang lain, yang pernah aku dampingi saat magang di Indonesia juga bersedia menjadi penjamin, dan teman yang lain yang sudah bekerja di perusahaan Jerman juga demikian. Intinya, kalian nggak bakal tahu bagaimana nasib membawa kalian ke mana dan rejeki bersumber dari mana. Tetap lah jadi orang ramah dan baik agar kita dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan berkenan membantu kesulitan kita.

7. Banting Tulang

Kalau kalian masih belum beruntung juga dengan cara ini itu, dan borosnya minta ampun, masih ada cara gila tanpa 8000 euro dan tanpa beasiswa untuk kuliah di Jerman, yakni kerja banting tulang. JERMAN BUTUH TENAGA KERJA!!!!! kebangetan banget kalau kalian sampai nggak dapat kerja di sini sedangkan Jerman tuh gudangnya kesempatan kerja (kecuali kalau kalian malas nyari dan malas kerja ya). Banyak banget iklan lowongan kerja sambilan buat pelajar. Teman aku ada yang kerja di bagian gudang H&M, jadi penyetempel surat di kantor pos, kerja di pabrik coklat, dan banyak lainnya. Dan info itu tinggal tanya saja ke Studierenwerk Beratung atau kantor buat konsultasi masalah keuangan mahasiswa. Ada juga kerja yang langsung masuk kantong seperti baby sitter, atau bersih-bersih rumah, jagain kucing atau ngajak jalan-jalan anjing, dan sebagainya. Gajinya dihitung per jam. Rata-rata sih 10 euro perjam. Kerja 15 jam saja perminggu, kalian sudah bisa hidup di Jerman satu bulan. Sebagai mahasiswa, kalian diperbolehkan bekerja maksimal 19 jam per minggu, dan itu dikontrol oleh pemerintah, kalau lebih dari itu, kalian bisa dapat masalah. 

8. Beasiswa setelah satu tahun kuliah

Aku berpikir, kuliah di Jerman benar-benar asik, selain biaya kuliahnya minim dan peluang kerja sambilan yang seabrek, banyak juga tawaran beasiswa dari pihak kampus atau yayasan2 tertentu. Asal rajin nyari di websitenya DAAD atau website kampus, kalian pasti nemu. Rata-rata beasiswa diberikan saat kalian udah 2 semester kuliah dengan transcript record yang baik. Jadi awal-awal kuliah banting tulang dulu yeeay. 
Aku dengar Bafög (atau pinjaman pemerintah untuk mahasiswa) juga kini bisa buat mahasiswa asing yang sudah tinggal minimal 15 bulan di Jerman. Tapi aku pribadi lebih memilih daftar beasiswa lain selain Bafög. 

Kalau kalian masih bimbang mau dari mana melangkah dan ragu atau kesulitan memulai dari nol, berarti kalian belum segigih itu. Mungkin Tuhan belum mengizinkan makhluk plin plan dan kurang tangguh berada di negara yang semuanya serba harus disiplin dan terorganisir. Tapi hidup di Jerman juga tidak seindah bayangan saat aku masih SD, salju, jalan yang bersih dan rapi. Iklim dan cuaca yang ekstrim kadang membuat kita merindukan Indonesia yang selalu sehangat mentari. Orang-orang Jerman yang serba kaku, disiplin, tepat waktu, saklek, frontal kadang membuat aku merindukan orang-orang Indonesia yang kepo, suka senyum dan sungkan an. :D. Jadi tak sedikit juga kawan yang memutuskan untuk berubah pikiran (setelah mencoba memulai dari nol), karena merasa budaya Jerman tak sesuai dengan hati nurani. Ada juga yang harus pulang karena salah spekulasi lah, malas cari tahu dan eksplorasi lah, dan tergerus oleh kerasnya hidup di Jerman. 

So, aku harap postingan kali ini bisa jadi inspirasi dan ide buat kalian yang ingin kuliah di luar negeri, khususnya Jerman. Aku akan sangat senang sekali kalau kalian mau membagi tulisan ini kepada yang mungkin membutuhkan info, adik, kakak, teman, saudara, kenalan, dsb sehingga mereka juga bisa mendapatkan info tambahan lain yang mungkin berguna juga. Aku senang berbagi dengan kalian dan lebih senang kalau kalian tanya atau berkomentar tentang tulisan yang aku buat sehingga ke depannya aku bisa berbagi hal-hal yang positif lagi. 

Viele Grüße

Comments

  1. Waah ketemu tulisan mba girindra, aku jga gabung d grub jdi aupair yg mba buat. Senang dan meng inspirasi bgt tulisannya. Dri bbrpa thn lalu udh png bgt bisa aupair dsna cmn keterbatasan kursus dan agent buat kesana. Tapi thn lalu ketemu sama prof yg mau bantu buat qt jdi aupair dsna, cmn syaratnya ngk bisa klo cmn sendri. Harus ada teman yg ikut juga 😢

    1. Saat ini, saya belum bisa membantu, namun saya dan kawan-kawan di sini berencana untuk membangun link untuk bisa menjadi agen terpercaya untuk membantu pemuda-pemuda ynag ingin ke Jerman. Semoga nantinya bisa membantu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *