Tulisan ini aku tulis di blog lamaku saat aku masih jadi FSJ-lerin,,  

“Aku nggak tau kenapa Wolfgang memberi kita banyak sekali uang” kata teman kerjaku, Katja. Wolfgang adalah ketua instansi kami. Yang dimaksud disini bukan kita, aku dan Katja, melainkan kepada seluruh penghuni grup kertas. Hmmm,,sulit juga bercerita kalau nggak ngasih tau dulu latar belakangnya.
Jadi aku bekerja di salah satu panti penyandang cacat di daerah kota Hamburg. Panti itu dibagi menjadi 3 golongan,

1.Wohngruppe, wohngruppe adalah sebuah rumah, benar-benar sebuah rumah yang besar yang di dalamnya dihuni oleh para penyandang cacat. Satu rumah bisa dihuni oleh 7-10 orang dan masing-masing penyandang cacat memiliki kamar dengan fasilitas lengkap seperti Kasur, almari, meja, kursi, sofa kecil, dan dekorasi. TV juga ada di ruang tengah. Di satu rumah yang dihuni 9orang cacat, biasanya memiliki 4 pekerja (bukan penyandang cacat, melainkan orang normal). Pekerja disini membantu orang cacat tersebut menjalani aktivitas layaknya orang normal yang tentu saja nggak bisa mereka lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain, seperti menyiapkan makan, mandi, ganti baju, sikat gigi, mencukur, menyalakan TV, memasak untuk mereka dan membantu melakukan apa yang dibutuhkan orang-orang cacat tersebut, atau yang diinginkan, contohnya merokok (pekerja menyalakan pemantik apinya dan penyandang cacatnya merokok setelahnya). Para pekerja yang bekerja di wohngruppe akan mengalami shift seperti kerja di pabrik 😀 pasalnya para penyandang cacat itu nggak boleh dibiarkan sendiri, bahkan saat mereka tertidur. Namun, kalau di wohngruppe, saat penyandang cacat itu tidur, pekerja juga bisa tidur. Mau apa lagi coba? kan mereka bekerja untuk para penyandang cacat itu?

2. Werkstatt, werkstatt diibaratkan seperti kantor bagi penyandang cacat. Sungguhan!!!kalau di wohngruppe, mereka benar-benar seperti tinggal di rumah, bisa santai, nonton TV, dsb, kalau di sini, mereka diwajibkan bekerja dan diberi gaji pula. Tiap hari mereka wajib menghasilkan sebuah karya yang bisa dijual. Di sebuah werkstatt, para penyandang cacat itu dikelompokkan menjadi beberapa grup. Selama yang kutahu, ada grup Kertas (papiergruppe) yang menghasilkan berbagai kerajinan dengan bahan dasar kertas yang layak dijual. Grup Kerajinan Tangan (Kunsthandwerk gruppe) yang menghasilkan macam-macam kerajinan yang terbuat nggak cuma dari kertas, tapi juga lilin, gelas,dsb. Grup Kayu (Holzgruppe), grup yang menghasilkan berbagai kerajinan yang terbuat dari kayu, tentu saja kerajinan ringan contohnya hiasan untuk pot bungan, dekorasi jendela, mainan anak (kapan-kapan aku fotoin contohnya biar bisa bayangin lucunya kerajinan yang mereka buat). Di tiap-tiap grup terdapat 7 sampai 10 orang penyandang cacat dan 4 sampai 5 orang pekerja yang membantu mereka mebuat kerajinan itu. Ada juga grup kecil (kleingruppe) yang terdiri dari 2 sampai 3 orang penyandang cacat dengan 2 orang pekerja normal yang membantu mereka, mereka bisa bergabung ke salah satu grup, namun mereka juga punya ruangan kerja sendiri. Para penyandang cacat yang bekerja di Werkstatt umumnya cacat fisik atau cacat mental ringan dan sanggup bekerja serta punya kemauan untuk bekerja setiap hari. Kalau mereka cacat mental total, epilepsi, dan jarang mau disuruh bekerja, mereka akan dikirim ke Tagestätte.

3. Yupp,,Tagestätte,,,juga sebuah kantor seperti werkstatt namun di sini para penyandang cacat tidak mendapatkan upah karena mereka adalah golongan yang umumnya cacat mental, nggak mau bekerja atau kadang mau kerja kadang nggak. Jadi mereka yang dari datang pagi cuma mau tidur di tempat kerja, atau cuma mau main bola dan minum teh sepanjang hari, tagestätte lah tempatnya. Di sini mereka tidak ditargetkan untuk membuat pra karya setiap hari, kalau mau ya buat, kalau nggak mau ya nggak dipaksa karena mereka juga dimengerti sebagai orang cacat yang memiliki keterbatasan di banyak hal, terutama keterbatasan daya untuk berkeinginan atau berpengertian melakukan suatu hal. Kalau para penyandang cacat itu hanya mau santai sepanjang hari, para pekerja normal juga akan santai, biasanya kami membuat kue atau minum kopi dan duduk-duduk di taman bersama mereka. Kalau mereka mood mengerjakan, para pekerja akan membantu menyiapkan apa yang harus dikerjakan, misalnya untuk melaminating kertas, mereka yang memasukkan kertas ke mesin laminating, tapi pekerja normal yang menyiapkan peralatan serta memasukkan kertas ke plastik laminatingnya, dsb.

Dan aku bekerja di Tagestätte, sebenernya bukan resmi sebagai pekerja melainkan sebagai sukarelawan (FSJ) yang juga dibayar (tidak sebanyak pekerja resmi). Ada banyak kesempatan menjadi relawan, ausbildung (seperti politeknik namun juga dibayar), atau menjadi pekerja resmi di Jerman yang akan aku ceritakan di kesempatan lain.

Kembali ke teman kerjaku yang diberi uang lebih oleh Kepala Instansi kita.

“Kok bisa??” tanyaku heran.
“Aku juga heran. Sebenarnya para penyandang cacat dijatah uang sarapan tiap bulan 150 euro untuk satu grup, 6 euro per orang euro untuk uang makan siang, mereka juga dapat uang jajan tapi dari wohngruppe, kita para pekerja normal diberi lebih sedikit, untuk produksi, kita diberi 50 euro per bulan untuk produksi dan 50 euro untuk kebutuhan beli kue dan kopi. Sedangkan bulan ini Wolfgang ngasih kita dua kali lipat. Mungkin dia salah, besok aku tanyakan lagi ke dia. Bulan lalu kita juga punya banyak uang sisa dari uang sarapan.” Brigitta seperti biasa menjelaskan dengan sangat gamblang.
“Aku pikir jatah-jatah uang itu terlalu banyak untuk penyandang cacat, kan??harga makanan yang kita pesan untuk makan siang aja harganya cuma 3 euro” jawabku
“Ja, stimmt (ya, benar)….makanya kita selalu mengembalikan uang-uang itu kepada pemerintah kembali”
Deg….aku sedikit tertegun. Ya, mereka benar-benar menghitung dengan seksama berapa pengeluaran yang dipakai untuk penyandang cacat itu dan mengembalikan jika ada sisa. Aku nggak bisa menyimpulkan secara general bagaimana keadaan di lain instansi. Namun dari apa yang selalu aku lihat di tempat kerjaku, mereka benar-benar transparan. Kami semua (para pekerja normal) diberi kunci yang bisa membuka seluruh pintu, bahkan kantor kepala instansi. Kami juga diijinkan melihat arsip, mengecek data di komputer tentang para penyandang cacat, tentang apapun termasuk pemasukan dan pengeluaran keuangan. Semua nggak ada yang ditutup-tutupi.

Kalau dipikir secara logika, para penyandang cacat itu, mereka tidak tahu berapa nominal uang yang berwarna merah, hijau atau ungu. Para pekerja normal akan dengan sangat mudah mengorupsi uang mereka bukan?. Setiap senin, kami berbelanja roti atau sereal, dan para penyandang cacat terkadang jajan es krim atau kue dengan uang saku mereka (tentunya para pekerja  normal membantu membelikannya). Dan jika para pekerja juga ingin minum es atau makan kue, mereka harus bayar sendiri!,,mereka sama sekali tidak mengakali penyandang cacat tersebut untuk kepentingan pribadi, padahal, logikanya penyandang cacat juga nggak bisa berbicara atau berpikir kalau uang mereka dicuri, mereka bahkan tidak tahu kalau mereka punya uang saku. Yang mereka tahu, mereka dibelikan es krim atau kue.

Aku sungguh takjub dengan kejujuran mereka, negara sekuler yang kebanyakan penduduknya tidak beragama ini bisa sebegitu jujurnya, aku berpikir suatu saat di Indonesia orang-orang pasti bisa lebih jujur 🙂 . Rasa takjub yang tak kunjung putus adalah ketika aku menyadari bahwa negara terbersih dari korupsi nomer 4 Sedunia ini, sebegitunya mengatur kepentingan para penyandang cacat, para pengangguran, para manula dan pendidikan anak-anak. Para pekerja digaji dengan gaji mencukupi demi kelangsungan hidup penyandang cacat agar mereka bisa hidup senormal mungkin.

Salah seorang teman di Munich juga bekerja sebagai asisten penyandang cacat. Lelaki lulusan master computer science yang dulunya bekerja untuk proyek besar Jerman membangun teleskop raksasa di Chile itu kini dengan senang hati melayani orang cacat. Dia menuturkan ceritanya padaku.

“Aku bekerja untuk seorang wanita penyandang cacat yang berusia sekitar 27 tahun. Dia tidak cacat mental. Dia berpikir sepenuhnya seperti orang normal, namun cacat fisik bawaan sejak lahirnya menghalanginya untuk beraktivitas layaknya manusia normal. Dia selalu duduk di kursi roda dan saat bicara, tangan serta kakinya selalu berhentak-hentak secara spontan. Aku melamar pekerjaan kepadanya, dia sendiri yang menginterviewku dan memilihku sebagai asisten pribadinya. Tentu saja ada 6 asisten lain yang semuanya adalah pria.”
“Jadi ada 7 asisten untuk satu penyandang cacat itu?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan lalu dia menerangkan lagi apa saja yang asisten perlu lakukan untuk wanita itu-
“Kami harus menggendongnya ke tempat tidur, membantunya mandi, membersihkan kotorannya setelah BAB, memasak untuknya, membersihkan dapurnya, melakukan semua yang dia minta”

“Trus yang bayar kamu siapa? dia kan pasti nggak bisa kerja?”

“Genau (benar), yang bayar kami para asisten ya pemerintah, pemerintah juga yang memberinya uang untuk membayar sewa apartemen, membeli baju, makan, membayar segala keperluannya dan membayar asisten-asistennya. Itu kalau penyandang cacatnya nggak kerja, kalau kerja mereka malah nggak dapat uang begituan, malah mereka harus membayar pajak sama seperti pekerja normal”

“Heeeeee????” aku sungguh nggak paham dengan sistem pemerintah itu. Lalu aku beranikan diri bertanya berapa gaji yang dia dapat untuk menjadi asisten penyandang cacat itu”

“Tergantung jumlah jam, tapi rata-rata seperti pekerja pada umumnya 1400 sampai 2000 euro perbulan”

“Gleg,,kalau dia punya tujuh asisten, berarti pemerintah kudu membayar 14.000 euro perbulan belum lagi ditambah dengan uang apartemen dan bla bla bla tadi??” tanyaku sambil memutar otak mengkalkulasi berapa rupiah yang harus dikeluarkan pemerintah hanya untuk SATU, ya SATU penyandang cacat,, 16.000 an lah plus uang lain-lain yang sama dengan 240 juta perBULAN.

“Ya, tapi kan kita juga wajib membayar pajak lagi kepada pemerintah?? jadi penghasilan bersih ya nggak sampai segitu!” jawab temanku.

“Trotzdem (tetap aja)”

240 juta yang harus dikeluarkan pemerintah, sekali lagi hanya untuk keberlangsungan satu jiwa yang kurang beruntung agar bisa merasakan hidup seperti kita, layaknya orang normal. Tapi logika itu menjadi masuk akal mengingat Robert, host familiku saat di Munich dulu bilang bahwa gajinya bekerja di kantor sebagai konsultan keuangan sekitar 3000 euro per bulan, dia hanya dapat 1700 bersih, hampir separoh untuk bayar pajak. Saat kukomentari, huuh sayang banget sih, kerja keras tapi separuhnya untuk bayar pemerintah. Dia dengan tegas menjawab: aku nggak membayar pemerintah, dengan uang pajak itu aku membantu orang tua dan penyandang cacat, juga orang yang nggak punya kendaraan bisa berpergian dengan mudah menggunakan sarana transportasi. Dan semua itu dari uang pajak. Hmmm,,yah aku lupa kalau aku pemerintah di sini mengelolanya dengan begitu baik. Kata guru di sekolah bahasaku, korupsi di pemerintahan itu pasti ada, namun tidak segencar yang kita dengar seperti di negara-negara terkorup seperti Korea Utara. Na ja, asal pemerintah masih memperhatikan keberlangsungan hidup banyak jiwa, dan masing-masing individu bisa hidup dengan sangat layak entah mereka miskin, atau kaya, cacat atau normal, punya pekerjaan atau nggak, aku pikir pemerintah telah mengelola perekonomian dengan bijak, walaupun nggak bersih bersih amat :P.

Oyeeee….aku udah nulis berapa jam nih??sekarang udah pukul 23.26…Hmmm semoga lain waktu bisa share lebih banyak dan lebih bermafaat lagi. 


Viele Grüße

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *