Akhirnya aku menulisnya juga…haha. Banyak sekali yang bertanya bagaimana sih kok bisa ke Jerman, proses awal sampai berada dan tinggal di sana. Well, kalau diceritakan bisa jadi novel donk. Tapi oke, aku ceritakan mulai dari awal dan bersambung ya.

Semua berawal dari patah hati

Mengenang diriku di tahun 2012, mungkin sekarang aku bisa tertawa sendiri. Bagaimana tidak, tepat di awal bulan Februari 2012, tunanganku meninggalkanku demi wanita lain. Aku saat itu sudah dipastikan hidup segan mati tak mau. Pasalnya, kita berencana menikah di Agustus 2012, dan 5 bulan sebelum itu terlaksana, dia pergi.

Betapa sekarang aku harus berterima kasih sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya dan seikhlas-ikhlasnya kepada mantan tunanganku dan pacarnya (saat itu, sekarang sudah menjadi istri), karena mereka lah sekarang aku bisa melihat dunia yang indah ini. Paling tidak, hingga saat ini, aku sudah menjelajahi lebih dari 15 negara dan 50 kota di seluruh Eropa. Di Musim panas 2014 saja, aku sudah keliling 12 negara dan 25 kota di Eropa.

Ceritanya seperti ini:

Sakit hati itu sebenarnya bukan hanya dari mantan tunanganku. Tapi jauh jauh hari sebelum itu, saat aku SMP, dari guru Bahasa Inggrisku. Saat SD, aku sama sekali nggak pernah diajari Bahasa Inggris, begitu masuk di SMP favorit, semua murid-muridnya pada pandai-pandai. Aku bahkan nggak bisa membedakan fungsi He dan She saat itu. Saat aku tanya, aku dibully. Bukan hanya teman-teman, tapi gurunya juga. Suatu kali, Ibu Guru itu berkata padaku SATU hal yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku:

“Kamu ini, tiap giliran kamu menerjemahkan satu kalimat, selalu saja tidak bisa. Membacanya salah, menerjemahkannya salah. Nggak punya bakat berbahasa kamu ini. Ya sudah, lanjut ke teman yang lainnya.”

Beliau mengatakan itu di depan satu teman sekelas, yang tak hanya membuatku malu dan ditertawakan, tapi juga membuatku patah arang. Namun patah arang hanya terjadi dalam hitungan detik saja, di detik selanjutnya, saat air mata hampir menetes, aku berjanji, bukan untuk membuktikan bahwa ucapan Ibu Guru itu salah, tapi untuk memotivasi diriku sendiri bahwa aku harus bisa bahasa Inggris, kalau perlu, aku akan ke negara asing. Aku yang saat SMP sering dibully karena kebodohanku itu, akhirnya menghibur diri sendiri dengan membaca buku karangan Astrid Lindgren (pengarang buku anak-anak asal Swedia), tentang Musim Semi di Bullerbyn. Aku ingin sekali menjadi anak-anak penghuni desa Bullerbyn dan selalu membayangkan betapa enaknya tinggal di desa itu. FYI, aku sudah mengunjungi museum Astrid Lindgren di Stockholm tahun 2014 silam dan puas sekali sudah mencapai impianku ke kotanya Bu Astrid tersebut.

Saat aku berpacaran dengan seseorang yang aku pikir akan menjadi pendamping hidupku kala itu, aku memupus semua harapan, impian dan cita-citaku untuk pergi ke luar negeri. Aku pernah bertanya kepadanya, “Aa’ bagaimana kalau aku akhirnya dapat beasiswa ke Australia atau Eropa, maukah kau ikut bersamaku ke sana?”. Dia menjawab, “Hidup matiku hanya untuk bumi Arema, mending kita di sini saja, nggak usah jauh-jauh dari sanak family.”

Aku sebenarnya tipikal pemimpi yang mudah berkompromi dengan kondisi. Aku pun mengalah dengan situasi kami saat itu. Bayanganku, setelah lulus kuliah, dia kerja di pabrik, aku mungkin jadi guru honorer dan mengabdikan diriku pada suami dan keluarga.

Semua tiba-tiba berubah. Total. Dia pergi bersama wanita lain. Saat itu, bisa dipastikan aku depressi. Bagaimana tidak? Kami sudah punya mimpi-mimpi. Aku bahkan sudah membayangkan desain undangan, berapa yang akan diundang. Semua tetangga, teman, keluarga jauh maupun dekat tahu kalau kami akan menikah. Kalau dibayangkan, aku seperti membangun sebuah rumah, yang tinggal diberi atap, tapi kemudian dihancurkan berkeping-keping tak tersisa lagi. Malam tak bisa tidur, siang tak bisa makan. Aku yang sudah kurus ini, kehilangan berat badan hingga 9 kilo saat itu.

Ibu dan sahabat-sahabatku adalah saksi bagaimana hancurnya aku saat itu hingga bagaimana aku bangkit kembali. Silih berganti hingga satu dua tahun lamanya mereka memotivasiku. Hingga aku pun bisa menyelesaikan kuliah. Oh ya, saat dia pergi, aku masih semester 6.

Aku merasa aku belum bisa membalas budi sahabat-sahabatku saat itu. Mungkin dengan membaca ini, mereka akan tahu betapa aku sangat merindukan dan menyayangi mereka dan berterima kasih atas apa yang mereka lakukan untukku selama ini.

Selang dua minggu setelah aku putus, saat aku tahu mantan tunanganku itu nge-tweet ‘Selamat Hari Valentine, sayang’, tak ada ibu dirumah tempatku curhat dan menangis. Sebelumnya mantanku itu bilang kalau kita harus berpisah karena sudah tak cocok lagi dan tidak cinta lagi. Tapi tweet nya saat itu membuktikan bahwa ada wanita lain. Aku pun telepon, salah satu sahabatku, sebut saja namanya Agus. Agus adalah sahabat terbaikku hingga saat ini meski kami terpisah jarak dan waktu.  Dia sedang di luar kota untuk bekerja saat itu. (Diam sebentar, menangis mengingat apa yang dia lakukan untukku saat itu).

Agus mendengarkan keluhanku yang panjang di telepon tanpa berkata sepatah katapun. Dia yang saat itu bekerja, masih menyempatkan diri mendengarkanku. Hanya beberapa kalimat yang dikatakannya saat aku menangis menjerit-jerit di tlp saat itu. Sekarang aku sudah lupa.  Dia hanya diam mendengarkanku. Sampai aku menutup telepon itu dia masih tak banyak menghibur.

10 menit kemudian, sahabatku yang lain, sebut saja namanya Fadli, datang ke rumahku. Dia melihat mataku yang sembab setelah menangis. Dia tak banyak berkata juga, hanya mengemasi barang-barangku. Dimasukkannya handuk dan diambilnya beberapa potong pakaianku dari lemari. Aku bertanya-tanya, kesurupan apa anak ini. Dia tak menjawab pertanyaanku, langsung saja menggandeng tanganku menuju motor bebeknya yang diparkir di depan rumah. Dia hanya berkata,”Wes meneng o, meluo ae!” (Sudah diam, ikut saja!)

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Ternyata dia mengajakku ke pemandian air panas, Cangar. Aku, Agus, Fadli, Chrisant dan sahabat-sahabatku lainnya suka sekali ke sana sejak SMA. Aku pun merasa terhibur, seharian kuhabiskan waktuku bersamanya. Dia juga mengajakku ke rumahnya untuk makan, nonton film dan ngobrol. Hingga sebelum diantar pulang, akhirnya aku ingin bercerita padanya bahwa alasan tunanganku memutuskanku adalah demi wanita lain. Ini yang dikatakannya padaku, yang membuatku selalu bercerita tentang mereka kepada siapapun yang aku temui, termasuk ke orang Jerman juga:

“Bodoh! Memangnya untuk apa aku seharian ini bersamamu kalau tidak untuk menghiburmu!”

Dia sudah tahu, Agus meneleponnya. Aku selalu menangis mengingat hal itu. Selain Agus dan Fadli, ada sahabat kami yang lain, sebut saja Chrisant, juga tak pernah absen menemaniku dan mendukungku. Hampir tiap akhir pekan selama 2 tahun, dia tak pernah sekalipun menutup telinganya untuk mendengarkan keluh kesahku. Pintu rumahnya, keluarganya juga tak pernah sekalipun keberatan kurepoti.

Kami bersahabat sudah lebih dari 10 tahun dan setiap kali aku ingat siapa yang ada bersamaku saat aku terpuruk saat itu, aku akan mengangis mengingat ketiga sahabatku dan dengan apa yang mereka lakukan untukku. Tanpa mereka, aku tak akan pernah bisa seperti ini. Oh, rindunya….

Dua tahun pun berlalu. Di saat aku mencari ide untuk menulis skripsi, aku menemukan sebuah skripsi dari kakak kelas yang judulnya menarik sekali, ‘Kultur Schock dan Akulturasi Budaya Belanda’. Aku kemudian menamatkan thesis itu hanya dalam beberapa jam saja. Dari thesis itu, aku jadi tahu bagaimana cara ke Belanda tanpa harus bersusah payah berburu beasiswa.

Ibuku yang mungkin selama dua tahun masa kelamku itu juga sering menangis melihat penderitaanku, jadi sangat gembira mendengar kabar bahwa aku ingin melanjutkan mimpiku ke luar negeri yang sempat terhalang takdir kala itu.

Ibu selalu memotivasi dan mendoakanku agar aku bisa mencapai impianku. Hiks jadi kangen ibu.

Saat aku pulang ke Indonesia tahun 2015 silam, aku menyempatkan diri bersilaturahmi dengan mantan tunanganku dan istrinya. Kami berteman dan menjalin hubungan baik hingga sekarang, bahkan dengan istrinya, aku sering berbbm ria. Aku bersyukur telah menjalani masa-masa tersulit saat itu yang membuatku berada di sini sekarang. Berkat doa ibu, sahabat dan semua yang menyayangiku.

Buat pembaca yang sedang sakit hati, bebahagialah. Sungguh, karena melalui sebuah penderitaan, kita akan belajar dan berkembang. Ibuku selalu bilang, ulat yang jelek dan menjijikkan itu, melalui cobaan dan siksaan yang teramat kuat saat dia bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Saat ia keluar dari kepompong, tekanan, tempaan dan dorongan hebat didapatkannya demi bisa keluar dari kempompong dan mengepakkan sayapnya yang indah dan menjadi kupu-kupu. 

Belajar dari kupu-kupu, kalau kita tidak dicobai dan ditekan serta ditempa oleh pengalaman hidup, kita akan selalu jadi orang yang biasa-biasa saja, jelek, menjijikkan seperti ulat :D. Dan percayalah satu hal, sesakit apapun kamu hari ini, waktu terus berjalan, suatu hari nanti, kamu akan menengok ke belakang dan akan menertawakan dirimu sendiri yang hancur, tapi kamu akan bangga karena bisa bangkit dari kehancuran itu. Buatlah orang tua dan sahabat-sahabat yang menyayangimu bangga. Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Bukankah dibalik kesusahan ada kemudahan?

Bersambung……
Part 2: Tak Ada Yang kebetulan

Viele Grüße

Comments

  1. Wah aku meleleh membacanya Mbak. Hebat ya bisa mengubah energi negatif bahkan super negatif menjadi debuah mimpi yg jadi kenyataan. Ditunggu sambungannya…
    Eh etapi aku jadi mikir, nggak harus patah hati juga kan kalo mo ke Jepang? hehehe…nama temennya ada yg aku suka tuh chrisant, kayak bunga krisan πŸ™‚

  2. Jadi teringat kata seorang motivator, "saat yang terjelek mungkin itulah yang akan membangkitkan yang terbaik."

    Saya juga bangkit setelah mengalami hal yang tidak terbayangkan selama hidup.

  3. Ya Tuhan, sampe mau nangis bacanya. Dia memang penghalang buat mimpi kamu ya, mba. Makanya dipindahin dia dari hidup kamu ke perempuan lain. Ini pertama kalinya saya mampir, makanya mulai dari cerita pertama ini dulu πŸ™‚

  4. ya ampun mbak menginspirasi banget bacanya. bener kata mbak nita, Tuhan memang tau yang terbaik, mantanmu merupakan penghalang mimpimu. Kalo kamu sama dia terus mungkin kamu gak bisa ke luar negri. Anyway, aku juga baru aja putus hubungan dengan mantanku dan sekarang aku termotivasi untuk bisa exchange/internship ke Jepang karena itu. Aku juga janji sama diriku sendiri kalau impianku terwujud aku bakal bilang makasih ke mantanku (dan gebetan barunya haha) karena udah mengenalkanku terhadap hal-hal berbau Jepang yang sekarang aku suka banget dan termotivasi kesana

  5. Kakak!! I love you so much. Keep inspiring.
    Bagi tiap orang, bentuk sukses itu beda". Dan bagiku, sukses itu kalau sudah bisa keluar negeri….dapat beasiswa. Tapi mungkin belum dapat waktu dan kesempatan yang tepat. Aku belum mendapatkan itu.

    Ya kadang aku jatuh bangun dalam kemalasan. Tapi sungguh masih ada kobaran semangat dalam jiwa (ehe) untuk bisa keluar negeri, apalagi Eropa. Semangat untuk aku!!

  6. Semangat untuk kamu :)….
    Bener bangeeet setuju sekali,,,defini sukses menurut aku adalah ketika aku bisa paling tidak sedikit bermanfaat bagi orang lain, lalu bahagia dengan apa yang sudah aku perjuangkan. Aku kadang kasihan sama ragaku yang sering aku pergunakan untuk ini dan itu, jadi kadang defini suksesku berubah-ubah demi menyenangkan diriku sendiri, karena saat semua orang menjauh, hanya Tuhan dan diri sendiri lah yang paling dekat. Karenanya aku mencoba bersahabat dengan diriku sendiri…

    Loh kok jadi ngglambyar seh πŸ˜€

    Ayooo semangatt…pasti ada giliran kamu nantinya πŸ™‚

  7. Ceritamu menarik sekali, mungkin satu hari bisa dibukukan ^_^
    Untung dirimu punya teman-teman dan keluarga yang benar-benar support saat itu ya… engga kebayang deh. Kalau aku, engga mungkin bisa bersahabat lagi sama mangan tunangan yang ninggalin demi perempuan lain. Lupa pasti bisa, tapi jadi sahabat itu…. wah, pokoknya salut deh sama Mbak Indra.

  8. Luar biasa perjuangan dan semangat nya dapat sy jadikan contoh untuk anak saya yg ingin melanjutkan studi dan terkandala masalah dana sehingga bercita cita menjadi aupair dulu dan kemudian melanjutkan sekolahnya dalam sukses ya

  9. :D,,, maafkan, lupakan sakit dan sedihnya, lalu beranjaklah melanjutkan hidup, itu saja sih yang bisa saya ambil hikmahnya dari semua rasa sakit yang pernah mendera, yang sebagian besar membuat kita menjadi orang yng lebih dewasa πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *