Kalau dibilang mampu berbahasa Jerman, rasanya aku masih jauh dari kesan ‘mahir’ atau ‘ahli’ apalagi ‘sempurna’. Ngomong juga masih banyak salah-salah dan terbata-bata, begitupun dengan menulis dalam Bahasa Jerman. Menulis blog dalam bahasa Jerman sebenarnya adalah sarana untukku demi memperbaiki grammatik dan kesalahan dalam penulisan bahasa. Setelah menulis, biasanya aku baca puluhan kali sampai aku benar-benar yakin untuk menyerahkan pada editornya. Meskipun sudah sering membaca dan menulis, ternyata masih saja ada banyak kesalahan bahasa dan penggunaan tata letak kalimat yang morat-marit. Ya sudahlah, namanya juga belajar, siapa tahu pembaca yang juga sama-sama masih dalam proses belajar Bahasa Jerman, akan notice dan belajar dari kesalahan yang aku buat.

Baca juga: 10 Fakta Mengejutkan Tentang Bahasa Jerman

Satu hal yang WAJIB diketahui oleh semua orang yang saat ini sedang belajar bahasa Jerman adalah:
ORANG JERMAN SENDIRI SERING BIKIN KESALAHAN DALAM BERBAHASA!!!

Kali ini aku akan berbagi fakta dan kisah yang menurutku sedikit lucu dan aneh tentang orang Jerman yang sering kali berbuat salah dalam menggunakan bahasa ibu mereka.

Cerita 1: 
Saat masih tinggal di host family, Nadja (host mother) ku kerap bertanya padaku tentang apa yang aku pelajari saat kursus Bahasa Jerman. Aku bilang, “Yah, tentang konjugation, akusativ, dativ, nominativ, genitiv”

Dia terlihat mengerutkan alis, lalu bilang, “What the hell are those?” (apaan tuh?)

Aku pikir dia pura-pura nggak tahu, karena apa yang aku sebutkan diatas adalah dasar-dasar grammatik dalam Bahasa Jerman. Eh, ternyata dia emang sama sekali nggak tahu. Saat suaminya pulang kerja, dia tanya lebih lanjut tentang grammatik bahasanya sendiri. Batinku, “Kemana aja saat sekolah dulu, bu’e?” ^_^

Cerita 2: 
Kolega di tempatku kerja pernah bercerita seperti ini:
“Saat aku melakukan kegiatan sukarelawan di sebuah TK, aku pernah satu kali bilang pada muridku bahwa dia harus makan makanannya sampai habis. Alih-alih makan, anak TK itu malah mengkoreksi grammarku seperti ini: ‘Kamu tadi bilang Ess doch mal dein Essen auf! Bukan Ess itu mah, tapi Iss!”

info: Iss doch mal dein Essen auf (Baca: Is doh mal dain essen auf) adalah bentuk kalimat perintah (imperativ) yang artinya: habiskan makanmu!

Tuh kan, orang Jerman yang bahkan udah gede aja sering perlu dikoreksi loh grammarnya, bahkan sama anak TK.😀 Untungnya orang Jerman yang memang direk dan frontal mau dikritik oleh muridnya. Bahkan dianggapnya hal itu lucu. Kalau guruku di Indonesia dulu, pasti aku sudah dibilang, “Ihhh bocah sok tua, keminter (sok pintar), metuek (lagaknya kayak orang tua)!” 😀

Cerita 3:
Aku pernah menanggapi obrolan dengan Chef di tempat kerjaku seperti ini, “Ja, vielleicht wegen des Wetters“(baca: ya, vilaikht wegen des weters, artinya: Ya, mungkin karena cuacanya). Alih-alih menanggapi obrolanku, dia malah tepuk tangan sambil bilang, “Wow, gila ya, orang Jerman aja sering salah loh bilangnya, kamu orang asing malah bener!”

Aku yang kebingungan saat itu langsung bertanya apa maksudnya. Lalu Chefku itu menjelaskan bahwa, biasanya orang Jerman lupa menggunakan genitiv dalam penggabungan kalimat yang menggunakan kata ‘Wegen’. Genitiv memang masih digunakan, tapi orang Jerman seperti malas memformulasi kalimat dengan bentuk genitiv, jadi mereka sering membuat kekeliruan dalam grammatik mereka sendiri. Jadi, yang benar memang wegen des Wetters, (Genitiv: pakai des lalu ditambah huruf s di akhir kata Wetter), tapi orang Jerman kadang memformulasi kalimat yang harusnya pakai genitiv dengan dativ jadinya; wegen dem Wetter (baca: wegen dem weta).

Cerita 4:
Beberapa waktu yang lalu, kami para pekerja yang bukan dari Jerman, sempat dipusingkan dengan kata-kata: Abräumen (baca: abroimen), aufräumen (baca:aufroimen), dan wegräumen (baca:wegroimen). Arti dari ketiga kata tersebut sebenarnya mirip yakni membereskan atau merapikan sesuatu. Bedanya, kata pertama digunakan untuk merapikan sesuatu dari meja (seperti merapikan meja makan dengan menaruh gelas dan piring ke tempat cucian). Kata kedua, aufräumen, digunakan untuk beres-beres yang tujuannya untuk merapikan barang yang awalnya berantakan. Lalu kata ketiga, wegräumen, juga untuk beres-beres barang, menyingkirkan, atau meletakkan barang ke tempat semula.

Aku, salah satu FSJ yang juga dari Indonesia, lalu salah satu pekerja dari Polandia kemudian bertanya kepada 3 orang pekerja dari Jerman. Sangat mengejutkan mendengar jawaban mereka yang berbeda beda. Ada yang bilang, aufräumen itu untuk mengorganisir barang-barang yang semula berantakan, ada yang bilang, menyingkirkan barang-barang, lalu yang lain bilang kata-kata itu digunakan untuk menata sebuah ruangan yang semula sangat berantakan kayak kapal pecah. Akhirnya, kita ber-enam tanya mbah google bersama-sama. 😀 dan definisi kata-kata diatas yang benar ya yang aku tulis diatas (berdasarkan jawaban orang-orang di google).

Tuh kan, orang Jerman aja bingung, apalagi kita, coba? 😀

Cerita 5: 
Cerita ini baru terjadi tadi siang saat aku bekerja. Salah satu pekerja Jerman (wanita) ada yang menikah dengan orang Ghana. Kemudian kami (aku, istri orang Ghana tersebut, dan satu lagi orang Jerman (yang juga wanita)) terlibat obrolan seputar hubungan antar budaya.

Kolega aku (orang Jerman asli) bertanya kepada istri orang Ghana tersebut seperti ini, “Oh, ist dein Mann ein Ghanese?” (Oh, suami kamu orang Ghana toh?)

Lalu istri orang Ghana tersebut membetulkan grammatik kolega kami yang keliru, katanya, “Bukan Ghanese tapi Ghanaer!”

Kami tertawa terbahak-bahak. Lalu komentarku, “Kalian berdua yang sama-sama orang Jerman saja bingung loh, gimana dengan aku?”

Lalu salah satu dari mereka menjawab, “Iya ya, Bahasa Jerman memang aneh bin membingungkan. Bayangin, untuk menyebut orang Cina, kita bilangnya ‘Chinesen‘ bukan ‘Chinaer’. Tapi untuk menyebut orang Jepang, kita bilang ‘Japaner‘ bukan ‘Japanese'”

Lalu aku menyahut, “Untuk bilang orang Indonesia, kalian bilangnya ‘Indonesier‘ tapi untuk bilang orang Vietnam, kalian bilangnya ‘Vietnamesen‘”

Kedua rekan kerjaku pun tertawa.

Tuh kan, orang Jerman aja masih banyak salah-salah dan keliru dalam menata bahasa mereka sendiri, bahkan banyak sekali yang tak tahu menahu tentang grammatik. Ya iyalah, kita juga sebagai orang Indonesia, mana peduli S-P-O-K? Ngomong ya ngomong, saat menyampaikan sesuatu mana mungkin kita mikir, nih kalimat sesuai dengan kaedah Bahasa Indonesia yang baik dan benar nggak ya? 😀

Jadi, kalau kalian saat ini sedang mempelajari bahasa asing, terutama Bahasa Jerman, jangan takut salah grammatik, kalau kalian beruntung, akan ada yang membetulkan kesalahan-kesalahan itu, kalau nggak, dengan berkomunikasi, kita akan selalu terlatih untuk mendengarkan, lalu mengoreksi kesalahan yang telah kita lakukan, sehingga kedepannya tak mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam berkomunikasi, selama pesan atau maksud tersampaikan dengan baik, artinya komunikasi itu berjalan lancar, kendati dengan bahasa yang berantakan. Tak mengapa, namanya juga belajar!. Semua pasti pernah berbuat kesalahan. 🙂

Semoga artikel yang berisi tentang cerita-cerita orang Jerman ini bisa sedikit memberi informasi seputar Jerman.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)
Liebe Grüße

Comments

  1. No.1 tuh suamiku banget haha, pas dulu kursus klo kutanya ttg no.1 pasti bilang "sudah dari sananya begitu" haha. Tapi kalau ditanya soal politik biar ngomong panjang lebar sangat detail lah padahal aku nanya butuh jawaban singkat jelas padat 😀 .

  2. Kayanya kalo 'jangan takut salah gramatik' itu berlaku untuk semua bahasa deh kak xD
    begitupun dengan Indonesia.
    Misal nih, 'buk bebeknya satu' secara grammar mah slaah banget nget. Harusnya kan 'buk saya beli bebeknya satu potong' wkwkwkw. Tapi justru kalo bener 100% malah lucu wkwkw xDDD

    Kalo di bhs Jerman tuh aku kadang gak kuat sm klasifikasi benda" antara feminin, maskulin, sm neutral wkwkw xD trus apalagi tuh banyak perubahan artikelnya T.T

  3. Iya bener…tapi emang sih di Indonesia kalau semakin formal dan tersusun secara gramatik, malah makin aneh kedengarannya. Tapi kalau di Jerman, orang ngomong tuh tatanan bahasa dan grammatiknya bener-bener tersusun, jadi apa yang kita baca di buku dengan apa yang dikatakan orang-orang, sama persis, sususannya, imbuhannya, artikelnya. Nah kalau di Indonesia, orang ngomong, nyekip kata kerja (contohnya bu, bebek atu aja donk! XD). Padahal kalau di buku pelajaran bahasa Indonesia, kita belajarnya lebih formal: Bu, beli bebek satu potong saja ya!…

    Tapi kalau di Jerman, di buku tulisannya gitu, orang2 ngucapinnya juga gitu, sama persis.

    Tapi bener juga, mempelajari bahasa apapun, selama komunikasi nyambung, grammar mah urusan belakangan. 🙂

  4. aku suka bahasa jerman karena aku punya klub sepak bola di Dortmund, Borussia Dortmund. walau bahasa jerman memang njlimet kalau diucapkan tapi dari bentuknya tampak keren untukku. oiya, blogku juga ada unsur jermannya juga. kalau boleh mari kita saling mengikuti di blogger. bolehkah?

  5. Gw buta bahasa Jerman. Ngomong jawa kromo inggil aja banyak salahnya dalam penggunaan kata, bahasa Indonesia apalagi. Bahasa asing mah gak usah ditanya, banyak salahnya. Yang penting yang diajak ngomong nyambung, wkwkwk.

  6. setaun aja belajar jerman, Frau Vani guruku telaten sih sebenernya
    cuma ya karena ada maskula femina dan neutral jadi ini otak kok ya gak paham2, hiks
    cuma inget satu kalimat "zum gebulstag vie gluch" hehehe

  7. Veleitch gahjfs ah emboh, bingung mbak 😂
    B.inggris aja masih belum fasih apalagi b.jerman yang ejaannya diketik, meledak nanti ni otak.

    Wah ternyata orang pribumi juga kadang salah ya. Dan sepertinya lebih suka memodif bahasanya sendiri.

  8. Saya dulu pernah belajar bahasa Jerman waktu SMA. Aduh susah nulisnya kan ada huruf yang berbeda dengan alfabet biasa. Tapi saya suka grammar. Kadang saya suka koreksi grammar atau ejaan yang salah dalam penggunaan bahasa Inggris – bukan Deutsch heheh.
    Itu anak TK pinter juga ya ngoreksi perkataan relawan hehehe

  9. Ya emang bener sih. Kalo udah ngobrol sama orang pasti bahasanya gak beraturan. Gak apa yang penting yang di ajak ngobrol paham. Hehe

    Anak tk benerin kalimat gurunya yang salah? Salut 😁

  10. Iya, sy jd pgn bljr lg. Wkt SMA, sy les, lho. Kbtln bhs asing selain Iggrs yg diajarin di A3 (sos.) SMA sy wkt th '93-'95 ya Jrmn ini. Sy inget betapa tmn2 skls -ta sy ajarin sblm ulangan. Semua hrs teliti: kt sandang, kt kerja & kt dpn yg mengandung Dativ & Akkusaativ, ltk kt keterangan, konjugatie, usw.

  11. Pas sma belajar bahasa jerman satu tahun tp begitu luluss lupaa wkwkek karena ndak pernah dipakai. . belajar sendiri juga masih sering bingung mbaaak, aplgi bedain dia feminim sama maskulin. hiksss. .

    aku dulu pngen banget lanjut kuliah ke Jerman mbaak tp ndak jd karena ndak dpet beasiswanyaa hehehe. . tp masih pngen pake banget berkunjung kesnaaa. . nanti aku kontak mbak yaa kalau main ke jerman wkwkwk 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *