Banyak jalan menuju Roma Jerman. Sekalipun jalan yang kutempuh untuk mengejar cita-cita kuliah di Jerman tidak semudah aku menuliskan kalimat pertama, tetap saja aku berhasil menggapainya. Sekarang giliran kalian!

Baca kisahku sebelum ke Jerman: Semua berawal dari patah hati

Kali ini, aku akan sedikit berbagi pengalaman seputar Au Pair yang telah aku lalui, agar (mungkin) kalian yang saat ini sedang galau, ingin ke Jerman, nggak tau harus memilih jalan yang mana, bisa sedikit tercerahkan. Pengalaman ini bisa jadi terjadi tak hanya di Jerman, tapi di negara lain juga.

Baca juga: Au Pair, 5W 1H???

Saat aku berangkat ke Jerman dulu, aku hanya tahu program Au Pair, tapi sekarang, informasi tentang program selain Au Pair untuk ke Indonesia sudah mulai banyak, jadi kalian juga punya beberapa pertimbangan dalam memilih. Dari situ, aku jadi merasa beruntung karena dulu aku tidak punya pilihan lain, jadi tak usah galau :D. Sekarang, bagi yang galau, mari menyimak artikel ini sampai tuntas!

Baca juga:
Seputar FSJ dan BFD di Jerman
Melamar FSJ dari Indonesia
Apa itu Ausbildung di Jerman??

PLUS MINUS PROGRAM AU PAIR

Aku akan sangat mengerti kebimbangan kalian yang ingin ke Jerman. Pertama, Jerman itu jauh, yang secara otomatis menjauhkan kalian dari zona nyaman (orang tua, sahabat, dkk), kedua, karena jauh, kalian takut kalau terjadi apa-apa nantinya tak akan bisa pulang dan kesulitan di negara orang. Aku beritahu sebuah rahasia yang bisa menenangkan: Sejauh apapun itu, percayalah, orang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik pula, kalian pun akan bertemu sahabat baru, mendapat pengalaman baru, berada di universitas kehidupan yang baru. ! Jadi tak perlu takut!

Sekarang, mari berbicara tentang kelebihan program au pair yang aku dapat dari pengalaman pribadi:

+ Lebih mudah karena sudah ada website gratis yang menyediakan ribuan host family. Selain itu, sudah ada agen untuk au pair ke Jerman yang mungkin bisa membantu kalian mempermudah pengurusan ini itu.

+ Tidak memakan banyak biaya. Bagi kalian yang bernasip sama miskinnya seperti diriku :P, pilihan menjadi au pair adalah pilihan paling tepat. Karena, kita bisa berkompromi dengan host family untuk menanggung biaya tiket, atau hutang dulu dan dibayar kalau kita sudah bekerja nanti.

+ Bahasa tak jadi kendala utama. Kalau kalian tak ada basic bahasa Jerman yang mumpuni (sama seperti diriku dulu), kalian bisa mencari keluarga yang bisa berbahasa Inggris. Meskipun demikian, kalian harus tetap lulus ujian sertifikat A1, karena kedubes mensyaratkannya. Info tambahan: Aku dulu tidak les di Goethe untuk lulus, cukup les dengan guru bahasa Jerman SMA untuk belajar dasar-dasar bahasa Jerman dan rajin melatih kemampuan dengan nonton you tube.

+ Tidak perlu ribet soal akomodasi. Kalau jadi au pair, secara otomatis sudah dapat jaminan dari akomodasi dari pihak keluarga.

+ Belajar budaya Jerman lebih intensiv. Mau tak mau, kalian harus dihadapkan dengan situasi bersama keluarga Jerman. Dari situ, kalian bisa belajar bagaimana orang Jerman itu mengatur rumah tangga dan membesarkan anak. Pengalaman ini sungguh tak ternilai harganya dan tak bisa dipelajari di Universitas manapun.

+ Hari libur. Banyak kasus sebenarnya yang terjadi pada au pair, bahwa mereka hanya dapat jatah libur sehari seminggu. Pengalamanku dulu, aku libur sabtu dan minggu. Kemudian selama satu tahun, aku mendapat jatah libur satu bulan full dan digaji penuh, yang lalu aku manfaatkan untuk keliling Eropa.

Baca kisah perjalanan keliling Eropaku yang seru, dimulai dari:
Berlin dan kenangan yang mengendap di sana

+ Mencoba kuliner asing secara gratis. Bayangkan, selama hampir setiap hari selama satu tahun, aku mencoba makanan ala Eropa, kadang dibelikan, kadang dimasakin oleh host family. Meskipun banyak yang cocok di lidah, banyak juga yang bikin aku hampir muntah :D. Tapi, dengan begitu, aku merasa amat sangat beruntung, karena diantara banyak orang Indonesia di Jerman, aku lumayan paham dan kenal banyak makanan Jerman, termasuk budaya Jerman yang aku dapat selama menjadi au pair. Saat suatu kali bertemu dengan orang Amerika yang berkunjung ke Hamburg, aku bisa menjelaskan mulai A sampai Z, apa itu Schnitzel, apa bedanya Schnitzel ala Jerman dan Austria, apa itu Gulasch, Roullade, Senfeier, Franzbrotchen, Bretzel, dan banyak lagi makanan lainnya, termasuk FKK, sejarah Jerman, orang-orang Jerman, dan banyak hal lain tentang Jerman.

Sekarang kekurangan menjadi Au Pair:

– Merasa jadi pembantu. Kalau kalian mendapat keluarga yang tidak tepat (seperti banyak kasus terjadi di Jerman), keberadaan kita di sebuah host family, bisa kita rasakan tak lebih dari pembantu dan babysitter dengan jam kerja yang (kadang) tak masuk akal. Pengalamanku dulu, aku kerja hanya 6 jam per hari dan selama 6 bulan pertama, aku merasa malah seperti anak, seperti kakak dari anak kembar yang aku asuh. Tapi begitu mereka melihat aku rajin dan ringan tangan, membantu membersihkan dapur, dan tak pernah protes kalau disuruh kerja lembur, mereka memanfaatkan aku.

– Culture Shock. Pengalaman tinggal bersama keluarga asing adalah sebuah pengalaman yang di satu sisi sangat berharga, tapi di sisi lain juga memunculkan sebuah duka. Kita merasa asing di tengah-tengah keluarga bahagia, merasa terkurung di sebuah negara yang bebas, merasa terisolasi, tak punya kehidupan. Oleh karenanya, faktor penting mencari host family, adalah kenali dulu di mana mereka tinggal. Kalau bisa cari yang tinggal di kota besar agar kalian bisa sering hang out, cari teman, kesempatan bertemu dengan orang Indonesia pun lebih mudah ketimbang di kota kecil.

Baca pengalamanku bertemu dengan sahabat sesama au pair di Jerman pertama kali:
Aku kutu dan sahabatku

– Gaji sedikit. Kerja banyak, gaji sedikit menjadi hal yang sangat problematis. Memang kalau di rupiahkan, 260 euro itu terbilang banyak (hampir 4 juta rupiah), tapi untuk tinggal dan jalan-jalan di Jerman, seperti hidup senin kamis. Aku dulu, saat au pair, perbulan bisa mendapatkan gaji tambahan dengan bersih-bersih dan jaga anak ekstra di tetangga dan di host family yang sama.

– Akomodasi yang tidak memadai. Bagiku yang terbiasa tinggal sekamar 9 orang dengan adik dan tante-tanteku, tinggal atau tidur sekamar bersama si bocah tak jadi masalah. Tapi ini sudah menentang aturan pemerintah Jerman. Banyak au pair ang tak mendapat kamar sendiri sehingga harus tidur bersama anak-anak.

– Tertekan. Perasaan ini muncul kalau kita merasa diperlakukan tidak adil. Ingin memberontak takut, kalau tidak memberontak, merasa dirugikan, apalagi kendala bahasa asing yang memungkinkan kita untuk kalah dan malas capek-capek debat dan menunggu sampai semuanya usai.

Nah, begitulah plus minus menjadi Au Pair, tentu saja beda orang beda pengalaman. Mungkin ada tambahan dari kalian? Atau pertanyaan?

Semoga informasi ini membantu mengatasi perasaan bimbang dan mencerahkan kalian yang akan berangkat ke Jerman dengan program Au Pair, ya 🙂

Penting untuk kalian baca: 5 Cara (Tips) Memilih Host Family!

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Comments

  1. Saya jadi ingat saat ada tukar-menukar pelajar dari Australia. Di Kampung saya ada host Family, menanggung semua keperluannya. Dari jalan-jalan sampai makan. Bahkan kadang masih diberi uang saku saat berangkat sekolah. Ah jadi pengen ke Jerman, impian saya untuk kuliah.

  2. menarik sekali ceritanya mulai dari pernah patah hati sampi jadi Au Pair…
    segudang sejarah mengenai Jerman sepertinya nggak bakal habis untuk di tulis ya neng.

    ngomong ngomong patah hati kenapa ya ..?

  3. Huweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

    Kakaaaakkk!!!!
    Aku emang bukan lagi au pair sih. Cuma ada banyak hal di atas yang aku kerasa banget saat di Thailand ini. Dan yang paling bikin terharu itu pas, 'orang baik ketemu orang baik'.

    Aku ngerasain banget dan mewek nih T_T padahal aku ngerasa aku ini tengil, dll. Tapi oleh Tuhan masihh aja dipertemukan sama orang baik 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *