Aku ini penggemar berat cerita Chicken Soup for the Teenager Soul. Tak mengherankan juga kalau aku suka tergila-gila pada kisah unik, menarik dan inspiratif dari orang-orang yang kukenal, atau yang tak kukenal, dari motivator atau ulama misalnya. Selama kisah itu memberikan inspirasi, motivasi, dan berkesan, pasti akan selalu menancap di otak. Seperti kisah yang akan aku ceritakan kali ini.

Aku punya sahabat yang berasal dari Medan. Meski kadang menjengkelkan karena wataknya yang keras, hatinya lembut dan penyabar. Bisa kubilang dia seorang yang agamis, karena tiap minggu dia ke gereja dan aktif dalam acara kebaktian. Suatu ketika, karena sebuah kecelakaan yang mematahkan lengan kanannya, aku disuruh bantu-bantu membersihkan rumahnya, yang bayar gajiku adalah pihak asuransi.

Baca juga: Mengapa saat sakit di Jerman, kita tak perlu pusing-pusing membersihkan rumah?

Yang aku suka dari temanku itu, dia senang berbagi kisah-kisah yang inspiratif, sama denganku. Dia sudah lebih dari 14 tahun tinggal di Jerman, menikah dengan orang Jerman, dan bekerja di tengah-tengah orang Jerman. Jadi bersamanya, aku lebih sering jadi orang yang haus akan ilmu dan cerita, dia juga penasehat yang baik. Meski kadang dia seperti radio rusak, ngoceh tanpa henti, aku rela saja jadi pendengar yang setia. Aku suka kebijakannya memandang sebuah masalah, tak sepertiku yang selalu saja sembrono dan gegabah dalam berkeputusan.

Suatu hari, saat aku diminta membantunya merapikan almari, dia bercerita tentang kisah salah satu teman gerejanya. Ini adalah kisah favoritku sepanjang masa, yang hampir kubuat novel saking gilanya aku pada kisah nyata yang mirip drama korea ini. Ceritanya begini:

Sebut saja namanya Maria. Seorang gadis cantik yang merantau ke Jerman meninggalkan Medan sekitar tahun 2007 lalu dengan menjadi au pair. Maria punya harapan yang besar untuk bisa menikah dengan orang Jerman. Banyak alasan yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut, selain karena pria Jerman yang baginya sangat rupawan, dia juga jatuh cinta pada budaya Jerman. Maria ingin tinggal dan menetap di Jerman.

Satu tahun pun berlalu. Tak ada tanda bahwa dia akan punya sosok suami orang Jerman. Tak putus asa, dia pun tetap bertahan di Jerman dengan beralih profesi menjadi FSJ. Kejadian memilukan menimpa Maria ketika dia jadi FSJ. Ayahnya sang tulang punggung keluarga meninggal. Kini ibunya harus mengambil alih tanggung jawab keluarga dan Maria pun tergerak untuk membantu menyekolahkan ke 5 adiknya.

Selama 2,5 tahun dia tinggal di Jerman, kesibukannya hanya diisi oleh bekerja dan bekerja sambilan. Karena dia merasa tanggung jawabnya membantu keluarga amatlah besar. Tak terasa, waktu berlalu meninggalkannya yang sendiri dan kesepian di Jerman. Ia pun sebenarnya selalu ingat untuk mencari jodoh. Tapi Maria tak percaya pada biro jodoh. Dia rajin datang ke gereja. Hadir ke acara kumpul jemaat dan kebaktian, serta memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kalau sudah jodoh, tak akan lari kemana, pikirnya.

Tiba saatnya dia harus mengakhiri kegiatan FSJnya. Ia tak mau pulang, karena ia sadar, lulusan SMA, merantau ke Jerman, lalu pulang setelah FSJ, akan sama saja dengan sama sekali tak ke Jerman. Akhirnya, dia pun mengambil alternativ untuk sekolah sambil kerja di bidang kesehatan (Ausbildung). Selama 3 tahun, dia mendapat banyak pelajaran yang bisa dia petik dari pendidikan itu. Selama itu, lebih dari 5 tahun dia tinggal di Jerman. Sayangnya, tanda-tanda penampakan pangeran berkuda putih itu belum muncul. Dia pun sedikit geram dan akhirnya berusaha mencoba peruntungan lewat biro jodoh (dating sites).

Bukannya pria baik-baik yang dia dapat, malah pria Jerman yang hanya tertarik pada fisiknya saja yang ingin berkenalan. Maria, seperti namanya, adalah seorang gadis baik yang menjaga kesuciannya. Setelah bertemu beberapa pria brengsek, Maria akhirnya kapok dan tak mau lagi berurusan dengan dating sites. Dia pun pasrah dan tetap percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuknya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan pun berlalu. Maria cemas. Terlebih ketika dia hampir 6 tahun tinggal di Jerman, sudah lulus program Ausbildung dan mencoba melamar kerja ke sana kemari, tapi tak ada yang cocok. Akhirnya, karena suatu keadaan yang sangat mendesak, maria terpaksa harus dipulangkan ke Indonesia. Tabungannya habis, dan dia semakin putus asa serta skeptic akan masa depannya di Indonesia. Untuk daftar di Universitas di Jerman, dia membutuhkan sebuah jaminan, atau paling tidak uang sebesar 8000 euro, yang mana sangat mustahil ia dapatkan. Selama ini, uangnya selalu ia gunakan untuk membantu keluarganya di Indonesia.

“Aku masih ingat tangisnya, Rin!” kata temanku menceritakan kisah Maria. “Di depan kami, di depan jemaat gereja itu dia berlinang air mata. Esok harinya dia harus pulang. Dia minta supaya kami mendoakan masa depannya. Agar dia didekatkan jodohnya, agar dia dapat pekerjaan di Indonesia. Aku tahu benar dia terisak-isak dan sebenarnya tak mau pulang ke Indonesia. Tapi apa daya, Rin. Kami juga tak bisa membantunya. Oh, kasihan anak itu.”

Aku menunggu kelanjutan kisah itu sambil terus melipat-lipat baju temanku itu.

“Tahu nggak, Rin! Sebuah keajaiban terjadi!”

“Keajaiban?” kataku sambil melongo menoleh kepadanya, seperti anak anjing menunggu majikannya memberinya makan.

“Iya, keajaiban! Coba tebak, apa?”

Kali ini aku benci sekali pada temanku itu. Aku yang sudah penasaran itu malah dibuat semakin penasaran karena diajakin main tebak-tebakan.

“Udah ah, langsung cerita saja!”

“Ihh, nggak mau! Ayo tebak!”

Aku menggerutu dan bilang, “Ya sudah, kalau gitu kasih clue, apa keajaibannya.”

“Si Maria itu akhirnya bertemu dengan pujaan hati, suaminya yang sangat baik hati dan rupawan!”

“Nah, itu sudah kamu jawab sendiri keajaibannya, aku nggak perlu menebak lagi, donk?”

“Tebak lah, di mana si Maria bertemu lelaki itu?”

Yah mana gue tau. Kali itu, ingin rasanya aku melempar pakaian-pakaian temanku yang sudah aku lipat itu keluar jendela agar dia tahu betapa gusarnya aku menunggunya membocorkan tempat di mana si Maria bertemu suaminya. Akhirnya, asal ceplos, aku jawab, “Di Indonesia?”

“Salah”

“Di Jerman?”

“Bisa jadi”

“Iiiihhhh, kamu ngeselin banget sih. Cepetan kasih tau di mana! Kalau nggak aku buang nih baju-baju kamu keluar jendela!”

“Oke…oke…. Jadi begini, Rin! Tuhan memang selalu punya rencana indah dibalik semua ujian yang menimpa kita. Semalam suntuk Maria menangisi kepulangannya. Di Bandara dia tak tega untuk pulang dan berpikir bahwa dia tak akan bisa kembali lagi ke Jerman. Nggak taunya, di dalam pesawat, Rin! Ada seorang pemuda bule yang kebetulan duduk di sebelah dia.”

“Itu suaminya?” selaku.

“Ih, tunggu dulu sampai aku selesai cerita, napa?” temanku memang tak suka pembicaraannya dipotong, terlebih kalau sudah cerita hal yang seru. Lalu lanjutnya, “Bule yang duduk di samping Maria itu memang aneh. Saat itu adalah pertama kali penerbangannya ke Indonesia. Dia tak tahu mengapa dia ingin sekali pergi ke Indonesia. Dia hanya pernah sekali melihat berita tentang Jakarta di layar kaca, tentang macet dan demo, tapi tak tahu mengapa hatinya sangat tergerak untuk terbang ke Jakarta. Nah, Tuhan rupanya sudah merancang pertemuan mereka, TEPAT di saat Maria sangat putus-asa.”

Aku masih terus saja mendengarkan cerita temanku itu. Kali ini kuhentikan sejenak aktifitas melipat-lipat kolor di tanganku. Kelanjutan kisah Maria bisa aku uraikan seperti ini:

Pemuda itu, karena bosan duduk di pesawat, mencoba menyapa Maria dan bertanya dari mana dia berasal. Saat itu, Maria memang kelihatan sangat sedih dan putus asa. Tapi aura kecantikannya mampu menyihir sang pria hingga dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat tahu Maria berasal dari Indonesia, di penerbangan menuju Dubai itu, sebut saja namanya Nico, langsung bersemangat dan cerita bahwa dia juga mau ke Indonesia. Maria pun juga akhirnya sedikit bersemangat dan sepanjang penerbangan Dubai-Jakarta (kebetulan lagi, pesawat mereka sama, hanya tempat duduk yang terpisah bisa mereka atur sehingga mereka kembali duduk bersama), Maria dan Nico tak henti-hentinya cerita. Tentang Nico yang tiba-tiba terilhami untuk ke Jakarta, tentang Maria dan kehidupannya di Jerman, dsb.

Begitulah, akhirnya, Nico, sejak pertemuan pertama itu, tak ingin satu hari pun terpisah dari Maria. Begitu pun sebaliknya. Kini, mereka telah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yang lucu-lucu. Mereka tinggal di Jerman. Oleh pemuda tampan itu, Maria tak hanya dinikahi, tapi semua adiknya disekolahkan, keluarganya dibantu, dan kehidupan Maria terpulihkan.

Kisah ini seperti di dalam dongeng saja. Tapi benar-benar nyata. Temanku tak pernah menyangka seajaib itu kisah cinta mereka. Saat acara pernikahan diselenggarakan di Jerman, temanku pun datang dan kepada para jemaat, Maria (sekali lagi) dengan berlinang air mata, bersaksi akan kisah cintanya dengan Nico yang terjadi seperti sebuah mukjizat.

Bayangkan kalau Maria tak harus kembali ke Indonesia, pasti dia tak akan bertemu Nico di pesawat itu. Ah, cinta memang selalu datang tepat pada waktunya, cinta tak pernah salah waktu, apalagi salah kamar 😁.

Kisah ini, adalah paling menginsiprasiku di sepanjang tahun 2016. Tentu saja, aku tak kenal dengan temannya temanku itu. Nama Nico dan Maria pun aku rekayasa. Meski alurnya si wanita sendiri yang paling tahu,  tapi kisah cinta mereka asli dan semoga kalian juga terilhami olehnya. (Terutama para jomblo yang sedang patah hati atau patah semangat, 😅)

Baca juga kisah inspiratif ‘frische Luft’ lainnya: Kisah Ratu Cempreng!

Salam

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Liebe Grüße

Comments

  1. My God, sampe mau nangis bacanya. Tuhan yang Maha Mendengar, walau mungkin ucapan itu cuma disampaikan lewat air mata ya. Moga pernikahan mereka langgeng2. Keluarga Maria di Medan juga dimudahkan hidupnya. Teruntuk dirimu, Mbakyu inspiratif saya, moga juga dipersatukan dengan one best guy di sana ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *