Aku datang ke Jerman dengan program Au Pair. Selama satu tahun tinggal di keluarga Austria, aku mendapat banyak sekali pengalaman tentang budaya, terutama adat istiadat Jerman. Cita-citaku datang ke Jerman adalah untuk mewujudkan mimpi -sejak kecil- untuk tinggal dan sekolah di Eropa.  Aku berasal dari Batu-Malang-Jawa Timur, karena itu aku benar benar orang Jawa tulen :D.

Saat menulis ini, aku sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Hamburg. Tentang perjalanan dari au pair sampai kuliah, pasti akan aku ceritakan di artikel lain, di bawah ini, adalah sepenggal kisah sebelum ke Jerman, yang juga belum semuanya aku ceritakan. Tapi semoga sedikit memberi motivasi.

Sebelum datang ke Jerman, aku sudah puluhan kali mencoba berbisnis (berdagang) tapi gagal, menikah tapi gagal, dan kegagalan demi kegalalan itu yang mengantarkanku ke sini. Tak terhitung banyaknya aku berdagang. Dimulai dari kelas 5 SD, aku menjajakan kue ote-ote, jemblem, pisang goreng dan tahu isi keliling kampung, lalu jualan rujak bersama adik tersayang. Kami saat itu tinggal di rumah nenek. Alm. nenekku adalah pedagang jamu keliling. Kalau pagi beliau berjualan jamu, menjelang sore berjualan gorengan.

Pagi-pagi buta, aku membantu nenek berbelanja di pasar batu untuk membuat jamu dan gorengan. Kalau tak membantu, aku tak diberi uang saku. Sepulang sekolah, aku masih harus membantu menumbuk singkong rebus untuk dibuat jemblem, lalu menjajakannya keliling kampung (nenek menjajakan di pasar Batu). Kami membagi teritori agar nenek bisa memproduksi gorengan lebih banyak. Sedikit maupun banyak, aku tetap saja mendapat upah 300 rupiah tiap hari untuk naik angkot ke Beji (les tambahan demi mengikuti olimpiade IPS). Kalau gorenganku tak habis terjual, aku bisa dicambuk sampai babak belur, dan setelahnya harus jalan kaki dari Temas ke Beji, jaraknya sekitar 5 km.

Ketika SMP, aku sempat dibully karena jelek, miskin dan sepatu sering jebol. Di kala itu, mereka yang membullyku tak tahu bahwa sebelum dan sepulang sekolah, aku berjalan menyusuri sepanjang pasar Batu becek mencari warung-warung yang bersedia aku titipi kacang goreng, karenanya sepatu murahan yang dibeli ibu dari toko klontongan di pasar loak itu pun mudah jebol. Selain kacang goreng, aku juga pernah berjualan nata de coco di malam hari (juga di Pasar Batu). Pernah juga selama beberapa bulan berjualan bubur kacang ijo di depan Bank Rinjani, dengan gerobak dorong. Kadang tak laku sama sekali. Kalau pun laku, pembelinya terkadang hanya kasihan melihat wajahku yang memelas duduk di pojokan gapura itu. Akhirnya, karena semakin hari bubur kacang ijo semakin tak laku, aku hanya bertahan dengan jualan kacang goreng saja.

Kemudian saat SMA, aku bekerja selama 2,5 tahun di sebuah wartel dan foto kopi dengan gaji 100 ribu per bulan setiap hari mulai dari sepulang sekolah (pukul 15.00 hingga pukul 21.00). Dari Gaji tersebut yang membuat aku bertahan dan lulus dari SMA.

Dibilang cantik, nggak, pintar dan kaya juga nggak. Betapa malangnya nasib diriku hehehe 😅. Apa yang membuat aku pantas sukses kalau begitu?

Tak ada jaminan orang kaya, pintar dan cantik itu akan selalu sukses, itu yang aku percayai. Bukankah Tuhan Maha Adil? Siapa yang gigih, dia yang akan menuai kesuksesannya sendiri. Lulus SMA, sebenarnya, aku ingin sekali kuliah. Namun, apa daya, keluarga tak punya modal. Lulus SMA saja sudah untung-untung an.

Saat itu, ada sebuah penawaran dari kampus baru, namanya Stimmindo (Sekolah Tinggi Multimedia Indonesia). Penawaran dari pihak kampus adalah dengan kuliah selama satu tahun (D1), kita bisa mendapat jaminan kerja di perusahaan multimedia, dan program D2 (2 tahun), kita bisa dikontrak kerja oleh proyek film kartun Kak Seto di Jakarta.

Lagi-lagi kendala dana membuatku tak bisa memilih keputusan. Aku ingin kuliah saja dan kerja. Karena biaya untuk D1 lebih murah (saat itu biaya masuknya sekitar 2,5 juta), dan jangka waktunya tidak terlalu lama, aku pun memutuskan untuk menempuhnya.

Ternyata semua kesempatan kerja dan proyek yang dijanjikan Stimmindo adalah omong kosong belaka. Setelah lulus, ijazahku itu pun tak diakui oleh perusahaan manapun karena Stimmindo belum ter-akreditasi. Akhirnya aku pun mencoba melamar kerja ke mana pun asalkan tidak terlihat nganggur di rumah.

Aku sempat bekerja di kantor telemarketing kartu kredit di Malang. Tapi mungkin memang bukan bakatku untuk merayu pelanggan, aku hanya bertahan 2 hari saja di sana. Tak ber putus asa, dibantu oleh seorang saudara di Surabaya, aku melamar ke Perusahaan Ekspor Udang di KIG (Kawasan Industri Gresik), nama perusahaannya adalah Indumanis.

Aku jatuh cinta pada Gresik dan semua yang aku temui di sana. Teman-temanku, rekan kerja yang sering membully ku, makanannya, athmosfer keagamaannya, Bakso dan ciloknya, semuanya. Aku seperti menemukan rumahku yang sebenarnya.

Saat itu, aku melihat adanya jarak serta kesenjangan sosial antara pekerja di kawasan KIG dengan pekerja Petrokimia dan Semen Gresik. Pekerja di Petro dan Semen terlihat lebih bergengsi ketimbang pekerja sepertiku di KIG ini. Aku pun ingin sekali bekerja di sana. Sayang sekali, untuk bekerja di kedua perusahaan bonafit itu, minimal harus lulus S1, sedangkan ijazah D1 ku pun tak diakui di perusahaan kecil, apalagi perusahaan tersebut. Aku pun memilih untuk tidak terlalu berharap.

Sebuah keajaiban datang saat di tahun ke tiga aku bekerja di Gresik. Ayahku ingin bertemu denganku di Surabaya dan melihat keadaanku di Gresik. Oh ya, aku ceritakan sedikit background keluargaku:

Orang tuaku sudah cerai sejak aku kelas 6 SD. Ayah adalah seorang pemandu wisata di Bali dan mempunyai pacar orang Perancis (saat itu). Sedangkan ibu sudah menikah lagi dengan seorang lelaki dari Batu Malang -ayah tiriku, seorang supir truk- mereka berdua dikaruniai seorang anak laki-laki, adikku, Daniel. Dengan ayahku yang di Bali, ibu mempunyai satu anak gadis lagi, adik perempuanku, yang cantik (yang membuat aku sering dibully karena dia putih aku item :P), Reni.

Balik lagi ke Gresik. Saat ayah mengunjungiku, dia membawa serta pacarnya, Helene. Mereka berdua terlihat prihatin dengan keadaanku di Gresik yang membuatku semakin kurus dan item (padahal, seperti yang kuceritakan, aku bahagia dengan pekerjaanku, entah kenapa mereka kasihan terhadap orang yang bahagia :D).

Saat makan siang di sebuah restoran, Helene iseng bertanya apakah aku tak punya mimpi selain bekerja di Gresik sebagai penyortir udang. Tentu saja aku punya, tapi aku sadar bahwa buat apalah arti mimpi tinggi-tinggi kalau keadaanku seperti ini. Aku pun tak bisa berharap padanya untuk dibawa ke Prancis. Bapak saja tak bisa dibawanya apalagi aku. Kemudian dia bertanya apakah aku berencana untuk kuliah. Aku mengiyakannya dan bilang kalau sebenarnya aku ingin kuliah. Helene bertanya berapa biaya kuliah di Malang. Aku yang saat itu belum mengecek biayanya, berspekulasi seadanya saja dengan bilang, “Kemungkinan 3 juta untuk biaya masuk, per semesternya, mungkin sekitar sejuta.”

Helene begitu terkejut akan nominal yang katanya murah tersebut. Lalu dia menyuruhku untuk daftar kuliah, dia yang akan membiayai per semesternya. Semangatku untuk belajar pun membara.

Aku tak mengetahui bahwa sistem perkuliahan di Indonesia sangat aneh.Yakni setelah lulus lebih dari 3 tahun dari SMA, siswa tidak bisa ikut SMPTN dan masuk Universitas Negeri. Pupus sudah harapanku untuk kuliah di Univ. Brawijaya, UIN Malang, atau UM. Dulu aku sering ikut-ikutan temanku mendaftar di UB dengan harapan suatu saat aku bisa kuliah di sana juga.

Satu-satunya harapanku adalah Univ. Muhammadiyah, karena dekat Batu. Aku ingin mengambil jurusan Bahasa Inggris, terserah entah itu sastra atau pendidikan, yang penting bisa memperbaiki kemampuan Bahasa Inggrisku dan bisa berkomunikasi dengan Helene dengan lebih baik. Setelah mencari tahu sana sini tentang UnMu, aku semakin putus asa. Karena biaya masuk Universitas swasta tersebut sangatlah mahal (kalau nggak salah saat itu 8 atau 10 juta, sedangkan aku bilang Helene hanya 3 juta). Pilihan berikutnya adalah Universitas Merdeka. Namun, saat itu, Unmer belum punya program S1 untuk jurusan bahasa inggris, hanya D3. Kemudian, aku menemukan satu-satunya Universitas dengan biaya terjangkau, tapi jauhnya minta ampun dari Batu, yakni Universitas Kanjuruhan. Biaya daftar masuknya pun tepat seperti yang aku utarakan ke Helene, kurang lebih 3 juta saat itu.

Singkat cerita, aku pun kuliah di Universitas Kanjuruhan. Ternyata, kehidupan kuliah sangatlah berat bagiku. Aku punya sedikit tabungan dari bekerja di Gresik yang langsung habis di semester pertama, karena aku harus PP Batu-Malang setiap hari (kurang lebih 48 km) dengan sepeda motor.

Aku memutuskan untuk mengambil kredit sepeda motor Honda Revo saat itu, dengan uang muka tabunganku (kalau nggak salah 2 juta). Helene ternyata hanya mau memberi bantuan tiap semester. Makanya aku harus mencari tambahan sendiri untuk biaya kehidupan sehari-hari. Ayah tiriku tak bisa banyak membantu karena dia dan ibu juga harus membayar setoran untuk truknya tiap hari dan menyekolahkan kedua adikku. Ayah kandungku tak tahu menahu kalau aku kredit sepeda motor. Tapi aku bilang kalau aku butuh uang untuk hidup selama kuliah. Kemudian ayahku menyetujui untuk mengirimkan uang sebesar 500 ribu rupiah setiap bulan. Biaya kredit motor selama 3 tahun terselamatkan.Tapi bagaimana dengan biaya kuliah, buku, bensin, dan tugas-tugas selama 4 tahun itu?

Kredit motorku saat itu adalah 420 ribu. Ayah mengirimiku uang 500 ribu per bulan. Sisanya 80 ribu. Dengan 80 tersebut aku harus bertahan tiap bulan. Itulah alasanku mengapa aku tidak ngekos di Malang dan tinggal di Batu, karena: pertama, aku bisa punya motor, kedua, aku bisa kerja sambilan di Batu, ketiga, aku tak punya sisa uang untuk biaya kos dan cicilan sepeda motor tiap bulan.

Di Batu, setiap pulang kuliah, aku kerja di BNS (Batu Night Spectacular) sebagai penjaga sebuah stand pulsa dan aksesoris hp, dan dibayar 10 ribu tiap kali datang. Dengan 10 ribu tersebut, aku membeli bensin pulang pergi Batu-Malang.

Tuhan rupanya punya rencana sendiri mengapa aku dibiarkan merugi kuliiah di Stimmindo. Rupanya aku juga tak serugi itu. Aku dapat ilmu tentang editing, photoshop dan corel draw, yang bisa aku manfaatkan selama aku kuliah itu.

Tiap minggunya, entah dari mana datangnya, aku mendapat order pembuatan banner, spanduk, editing foto dari tetangga dan warung-warung di sekitar Pasar Batu. Aku mengeditnya dari komputer Daniel dan membawanya ke Malang (kalau aku pergi kuliah) untuk dicetak. Aku juga menerima orderan pembuatan mug, kaos, dan foto ulang tahun. Semua yang aku pelajari selama di Stimmindo ternyata ada gunanya juga. Dari orderan tersebut, aku bertahan hidup dan bisa membeli jajan atau makan selama di kampus, serta bisa fotokopi, nge-print, dan membeli buku.

Ternyata, hidup tak semudah rencanaku. Di semester kedua, aku sering cek cok dengan ayahku di Bali, Helene pun tak mau mengirimiku uang untuk semester kedua. Akhirnya aku memutuskan untuk terminal dan bekerja sebagai graphic designer di sebuah perusahaan percetakan di Malang. Beberapa teman kuliahku sangat kecewa. Mereka silih berganti membujukku untuk kembali ke kampus dan mengurungkan niatku untuk terminal.

Dua bulan setelah bekerja di percetakan, aku merubah niatku untuk kembali ke kampus. Tapi ternyata pihak kampus tak mau menerima pembayaran semesterku yang telat itu. Aku menghubungi pihak dekan bersama salah satu dosen dan beberapa teman. Tau apa katanya? “Saya tidak tahu menahu dan tidak bisa membantu, kalau anda tidak bayar tepat waktu, resikonya adalah D-O alias Drop Out!”

Aku menangis tersedu-sedu. Beliau tak tahu bahwa aku telah mengumpulkan uang dan behutang sana sini demi membayar kuliahku ini. Tak berputus asa, aku tetap ikut kuliah seperti biasa dan semua nilaiku di semester kedua tak bisa diakses karena aku tidak terdaftar alias terminal di semester tersebut. Masalah ini, ternyata bisa aku atasi dengan menghubungi masing-masing dosen dan mereka berkenan memasukkan nilaiku.

Semester ketiga, rupanya Helene mau membantuku kembali sehingga aku bisa sedikit bernafas. Tapi, aku harus melunasi hutang-hutangku yang menumpuk untuk membayar semester 2. Akhirnya, aku cuti kerja di BNS dan pergi ke Situbondo untuk membantu paman berdagang stroberi keliling. Paman membutuhkan tenagaku untuk berjaga di sebuah mall di Situbondo sementara dia keliling menjajakan stroberi di sebuah karnaval. Kadang sebaliknya, aku yang harus berpanas-panas keliling menjajakan stroberi kepada para penonton karnaval.

Paman yang menjanjikan gaji satu juta satu bulan saat itu, ternyata mengalami kerugian, sehingga aku hanya digaji 300 ribu untuk jerih payahku selama liburan. Hutang-hutangku belum terbayar juga. Tapi Tuhan punya tangan kepanjangan lain. Saat masuk kuliah, ketua kelas membutuhkan perwakilan kelas untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris. Entah mengapa tak ada yang mau, sehingga aku harus ditunjuk. Aku tak punya banyak persiapan untuk lomba itu, tapi bisa menjuarai dan berhasil mengantongi uang 500 ribu dari pihak kampus.

Hutangku masih belum sepenuhnya lunas. Tapi di semester 3 tersebut, aku mempunyai satu pencerahan, untuk dua semester ke depan, yakni beasiswa bebas uang semester dan uang saku sebesar 1 juta per-semester selama satu tahun. Yang artinya, aku tak harus mengemis kepada Helene selama semester 4 dan 5, dan masih terus bekerja keras mengumpulkan uang untuk semester 6, 7, dan 8. Dari sisa beasiswa itu, aku bisa membayar hutang-hutangku kepada teman-teman.

Di semester 6, cicilan sepeda motorku lunas dan aku jadi bisa mengumpulkan uang yang dikirimkan ayah tiap bulan (500 ribu) untuk membayar biaya semester. Suatu hari, ayah mengunjungiku ke Malang lagi dan menemukan fakta bahwa aku mempunyai sepeda motor Revo (yang masih terlihat baru) dari uang-uang yang selama ini dikirimkannya padaku. Dia mengklaim bahwa itu adalah motornya.

Ayah tiriku pernah bilang bahwa kuliahku bukan tanggung jawabnya, dia juga tak bertanggung jawab atas cicilan motor. Dan memang selama aku kuliah dan mencicil motor itu, sepeser pun dia tidak pernah membantu. Hanya kadang memberiku 5000 rupiah untuk uang bensin. Aku sangat berterima kasih kepadanya, dan bisa mengerti keadaan dan kekurangannya. Dia juga harus menghidupi keluargaku (memberi makan aku dan Reni yang sebenarnya bukan darah dagingnya). Namun, ini ayah kandungku yang membantuku selama 3 tahun dengan memberi uang 500 ribu perbulan dan mengklaim bahwa itu motor miliknya? Bagaimana perasaanku waktu itu? Bagaimana mungkin dia tidak berpikir bahwa aku hanya hidup dari sisa 80 ribu yang dikirimkannya, dan bagaimana bisa semua itu cukup untuk hidup? Yang kuinginkan hanyalah sebuah kebanggaan bahwa aku bisa mengatur uang yang sedikit dan jungkir balik mengaturnya sehingga motor bisa lunas dan aku tetap bisa kuliah. Bukan kebanggaan yang aku dapat, malah sakit hati.

Selama 4 tahun aku kuliah, ayah tak pernah menanyakan satu kali pun apakah aku dapat nilai bagus atau lulus ujian atau apapun seputar kuliah, acap kali mengirimkan uang pun dengan harus bertengkar terlebih dahulu. Saat itu, hanya ibu dan teman-temanku yang menguatkan aku. Masalah dengan ayah dan kunjungannya ke Batu saat itu, meski agak pelik dan menguras air mata, bisa aku atasi dan memberinya sedikit pengertian tentang keadaanku.

Di Semester 7, aku mulai dihadapkan dengan penulisan skripsi, di saat itulah, aku menemukan cara untuk menggapai mimpiku ke Eropa, mimpi yang selama ini bercokol dalam hatiku. Di semester ini pun, atas jasa Reni (adikku), kami membuka les privat murah untuk anak-anak SD di sekitar rumah yang kesulitan mengerjakan PR. Sepulang kuliah, aku dan Reni, terkadang teman gerejanya, memberikan les privat kepada lebih dari 20 orang. Ada dari mereka yang membayar 1000, ada yang 2000, ada yang tak membayar sama sekali. Uang-uang itu untuk membeli boardmarker dan kalau sisa, oleh Reni diberikan padaku untuk membeli bensin dan biaya penelitian (skripsi), ngeprint, dsb. Ayahku yang tahu kalau aku tak mencicil motor lagi, mulai jarang-jarang mengirimiku uang. Tapi aku tak pernah kekurangan.

Saat aku sudah memutuskan untuk ke Jerman, motor Revo yang kunamai Shahrukh Khan itu kujual untuk uang saku berangkat ke Jerman.

Perjuangan sebelum berangkat ke Jerman yang hanya sepenggal ini belum 100% aku ceritakan. Sisanya, sebenarnya sudah aku tuliskan di kisah ‘Sebelum ke Jerman’. Semoga aku punya waktu untuk menceritakan perjuanganku mulai au pair sampai kuliah di Jerman.

Dari semester 6 sampai ke Jerman, bisa kalian baca perjuanganku dari: semua berawal dari patah hati

Semoga apa yang aku ceritakan kali ini bisa diambil hikmahnya, dan memberi sedikit semangat kepada kalian semua yang saat ini sedang berputus asa dalam menggapai mimpi. Kalian tak sendiri. Mimpiku pun belum sepenuhnya terwujud, tapi setidaknya aku sudah menggapai salah satu diantaranya, yakni tinggal di Eropa. Mimpiku yang lainnya sebenarnya adalah membangun sebuah sekolah bahasa gratis (Jerman dan Inggris) untuk anak-anak yang tidak mampu di Indonesia dan rumah sosial anti diskriminasi untuk penyandang cacat, terutama anak-anak dan pemuda dengan penderita cacat fisik dan mental. Doakan semoga cepat terwujud ya 🙂

Sampai berjumpa lagi di cerita menarik selanjutnya.

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Comments

  1. Panutan deh pokoknya!
    kakak bikin aku mulai membangitkan naga terbang dalam diri yang pingin ke Eropa juga heheh 🙂

    Semoga selalu dalam lindungan Tuhan!

    Tapi masih aja punya trauman dikit sama bahasa Jerman >.< /ini gak penting wkwkw

  2. Kenapa aku jadi sedih ya baca kisahmu ini, padahal happy ending begitu. Well done 🙂 salam kenal ya, tadi enggak sengaja nemu blog ini, sekarang saya mau liat-liat dulu ya ^_^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *