Apa definisi sukses menurut kalian? Saat sudah bisa membahagiakan orang tua? Berguna bagi nusa, bangsa dan agama? Punya uang banyak dan bisa traveling ke mana-mana? Atau punya pekerjaan yang menghasilkan uang banyak tiap bulannya?

Aku bukanlah orang sukses, bagiku aku tak akan pernah bisa sukses, karena definisi sukses klise yang sejak kecil tertanam di dalam otakku adalah definisi sukses yang sangat sulit aku wujudkan. Saat ini, kehidupanku di Jerman masih seputar kerja keras dan membanting tulang demi bertahan hidup. Aku masih belum mampu membantu keluargaku yang miskin, aku masih belum sanggup traveling tiap bulannya, pekerjaanku pun hanya serabutan dan gajinya pas-pas an untuk membayar kuliah dan bertahan hidup.

Namun, dua hal saja yang ingin aku capai dalam hidup ini. Pertama, aku ini seorang yang -bisa dibilang- perfeksionis dan menuntut semua terlaksana sesuai kehendakku, sehingga terkadang aku tak bahagia dengan kehidupanku sendiri. Maka aku bertekad untuk BAHAGIA. Sejak tinggal di Jerman, aku belajar mencintai diriku sendiri, memaafkan kebodohanku, memaklumi kekuranganku, tidak menuntut sempurna, dan berusaha melakukan apa yang membuat hatiku ini senang. Karena aku percaya, siapapun yang kita temui, keluarga, adik, kakak, sahabat, bahkan kekasih hati atau anak sekalipun pun, ada kalanya punya hidupnya sendiri, dan ketika semua itu menjauh dan pergi, hanya ada kita dan diri kita sendiri. Maka berdamai dan membahagiakan jiwa raganya adalah kebutuhan yang harus aku penuhi.

Kedua, latar belakang kemiskinan yang telah lama menggerogoti hidupku, membuatku mau tak mau harus bekerja keras. Kisah di balik semua pencapaianku ini membuat aku ingin membagi apa yang sudah aku capai kepada siapapun yang berani berjuang dan bermimpi seperti aku. Kepada siapapun yang sadar bahwa hidup itu bukanlah soal keberutungan dan nasib baik semata, namun kerja keras. Karenanya, keinginanku selanjutnya adalah berguna bagi orang lain. Cukup satu atau dua orang saja yang dapat manfaat dariku, sudah cukup, semoga dari mereka hidupku diberkati.

Aku ini bukan orang cantik, sehingga susah jadi artis dan terkenal, kalaupun jadi artis, pasti artis murahan bahan bullian 😀.  Kalau kalian membaca betapa miskinnya diriku di artikel:  bagaimana bisa sampai ke Jerman?, kalian akan sadar bahwa akan sulit bagi anak miskin sepertiku untuk ke Eropa. Selanjutnya, aku ini tidak pintar. Beberapa mahasiswa yang aku temui di Jerman, mereka sampai di sini dengan beasiswa, otaknya brillian, bisa bersaing mendapatkan beasiswa ke Jerman adalah suatu hal yang mustahil aku lakukan. Sudah kubilang, aku ini tidak pintar. Mungkin saat SD saja aku pernah satu kali rangking 1, waktu kelas 3SD, selebihnya tak pernah lagi. Bahkan saat SMP, aku pernah peringkat 35 dari 40 siswa. Saat SMA, peringkat 20 dari 40 siswa. Baru saat aku menyerah dan masuk kelas Bahasa (yang katanya kelas buangan itu), aku bisa dapat peringkat 3, dan lulus dengan NEM rata-rata 9,1. Tapi, ya karena bukan dari kelas IPA, da aku mah apa atuh, tak dianggap.

Baiklah aku sudahi dulu basa-basinya yang terlalu panjang sampai basi 😀. Kali ini, aku ingin cerita bagaimana perjuanganku untuk bisa kuliah di Jerman dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang aku miliki.

Aku tiba di Bandara Franz Josef Strauß, München pada tanggal 11 Januari 2014. Ekspektasiku di bulan Januari kala itu adalah salju yang menggunung dan pemandangan sekitar yang memutih.

Robert dan Nadja bersama si kembar Amy dan Zoe menjemputku di bandara dengan senyum termanis mereka. Si kembar masih duduk di kereta dorong karena mereka masih berumur 11 bulan saat itu. Nadja menyerahkan seikat bunga indah warna warni sambutan kedatanganku. Baru pertama kalinya seumur hidupku, di usiaku yang ke 25 tahun ini, aku menerima rangkaian bunga seperti itu. Di Indonesia, tak pernah diriku diberi bunga. Aku pun tak tahu untuk apa bunga itu, setelah kering dan layu, pasti toh dibuang saja.

Aku menerima karangan bunga itu, memeluk mereka dan langsung menciumi si kembar. Amy dan Zoe terlihat sangat girang dan langsung mengenaliku. Kata Nadja, biasanya si kembar takut pada orang baru. Padahal aku ini bukan saja orang baru bagi mereka, tapi orang asing dengan warna kulit dan rambut yang sangat berbeda, tapi mereka malah tak takut sama sekali. Amy yang biasanya nangis ketakutan, malah jingkrak jingkrak di kereta dorongnya, seolah dia menunggu kedatanganku, menyambutku dengan cerianya.

Ekspektasi München yang berselimut salju pun lenyap saat aku menuju mobil. Di sekitar bandara, hanya dingin terasa, pepohonan kering berwarna coklat dan langitpun tertutup awan abu-abu. Hmmm, di mana salju itu? Kata Nadja, tahun ini tak ada salju, tak terlalu dingin juga. Rupanya global warming sudah mulai menjalar dan Eropa pun tak luput dari imbasnya.

Kami menuju mobil VW Mini Bus hitam. Setelah meletakkan koperku di bagasi, Robert membuang trolli begitu saja di sekitaran pelataran parkir. Katanya, nanti juga diangkut oleh petugas bandara. Aku duduk di kursi tengah bersama si kembar. Robert tak bisa menyalakan mesin mobilnya karena mobil mendeteksi bahwa salah satu sabuk pengaman belum teepasang, tentu saja itu sabuk pengamanku.

“Indra, tolong kenakan sabuk pengaman kamu!”

“Hah, memangnya ada?”

Robert dan Nadja pun serempak menoleh ke belakang dan terheran-heran. “Coba tengok ke kanan, itu ada ujung sabuk yang harus kamu tancapkan ke dekat paha kiri kamu!” kata Nadja.

Hhehe, aku pun tak bisa menghindari sikap ndesoku di hadapan mereka. Aku bilang, bahwa di Malang, aku biasa ikut ayah tiriku nge-truk, nyari pasir ke sungai-sungai, tapi truk itu tak ada sabuk pengamannya, setahuku, biasanya mobil di Indonesia, sabuk pengaman hanya untuk orang yang duduk di depan. Mereka tak menyalahkan diriku, karena aku tidak tahu.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, aku memegangi kursi sekencang-kencangnya, mukaku tegang sekali dan aku merasa wajahku kaku pucat pasi. Robert yang menyetir mobilpun langsung tahu dari spion tengah, lalu katanya, “Indra, kenapa kamu terlihat begitu tegang? Mabuk darat?”

“Maaf Robert, aku takut sekali kamu menubruk mobil yang lalu lalang. Soalnya, di Indonesia kan aku terbiasa mengendarai motor di jalur kiri, nah sekarang aku melihat ke depan semua di kanan, aku jadi cemas.”

Nadja dan Robert menertawakanku tanpa henti tapi aku tetap pucat pasi.

Sesampainya di halaman apartemen, Nadja menurunkan Amy dan Zoe dari mobil. Robert membawa Zoe, Nadja membawa Amy menuju ke dalam rumah. Aku hanya membawa tas ransel besar kumel yang diwariskan bapak padaku, tas ransel yang akan aku gunakan keliling Eropa musim panas nanti. Robert melarangku membawa koper berat di bagasi, setelah membawa Zoe ke dalam rumah, dia membawakan koperku.

Apartemen mereka berada di sebuah bangunan berlantai 3. Mereka tinggal di lantai dasar dengan satu tetangga yang juga punya anak tunggal lebih tua beberapa bulan dari Amy dan Zoe, nama anaknya Anabel. Kadang Anabel dan ibunya maen ke tempat Amy dan Zoe begitu pun sebaliknya.

Apartemen itu tidak terlalu besar. Saat masuk ke dalam, di sebelah kiri, ada kamar Nadja dan Robert, kemudian sebelah kanan toilet kecil untuk tamu. Di sebelah kamar orang tua, ada kamar panjang yang yang terkesan padat karena ada dua ranjang kecil, dua almari dan meja untuk ganti popok serta puluhan mainan anak. Kamar itu adalah kamar Amy dan Zoe yang berhadapan dengan kamar mandi dan kamar perkakas. Menyusuri koridor utama sepanjang kurang lebih 5×2 meter itu, di ujung kirinya akan kita temukan ruang tamu yang luas, yang saat kita menatap jendela, akan terlihat kebun dan tumbuhan di taman, serta alat barbeque yang ditutup mantel abu-abu. Sedangkan ujung kanan sebelah kamar perkakas, di sanalah dapur yang juga luas dan modern.

Aku begitu terkesima melihat apartemen ini. Bukan karena luasnya -karena memang kecil-, tapi karena ditata rapi, serba hitam putih, bersih, baunya wangi, saat masuk ke ruang tamu, ada sofa coklat yang terpajang menghadap TV besar. Di Batu, aku tak pernah melihat apartemen, paling kos-kosan anak kuliah yang satu kamarnya dihuni 2-4 orang. Rumah orang tuaku sendiri luasnya 50 meter yang masih terus dibangun dan selalu terlihat kotor, kumuh dan berantakan. Aku membayangkan, apartemen ini sebenarnya tak lebih besar, tapi mengapa jauh lebih indah dan bagus.

Robert mengantarkan aku melihat-lihat seluruh apartemen. Dan setiap kali dia menjelaskan, aku selalu melotot dan berdecak kagum. Robert sampai heran dan bertanya apa yang terjadi pada diriku ini. Aku ndeso sekali, benar-benar kampungan.

Saat melihat kamar mandi yang lantainya kering dengan Bathtub yang besar dan putih itu, aku bertanya, “Robert, kita boleh nyemplung di situ?”

Robert memanggil Nadja dan tertawa terbahak-bahak sambil mengulangi pertanyaanku untuk diceritakan kepada Nadja kembali. Nadja pun menahan tawa karena dia melihatku tak ketawa. Aku benar-benar polos dan tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk mandi. “Kalau tak ada gayung, bagaimana aku bisa mandi? Apa aku harus mengisi bathtub itu sampai penuh lalu nyebur, atau ada gayung, atau pakai botol, gelas, atau bagaimana”

Kali ini Nadja yang tertawa meledak. “Indra, kalau kamu mau mandi, lihat, itu ada shower, ada kran, mandinya di dalam bathtub, kamu juga boleh berendam!”

“Aku boleh masak air panas dulu biar mandi air hangat?” tanyaku.

Robert tersenyum lagi dan bilang, “Indra, kalau kran kamu nyalakan dan putar tepat di tengah, nggak terlalu ke kanan atau ke kiri dan tunggu sampai beberapa detik, akan keluar air hangat secara otomatis!”

“Sungguh?”

Kalian harus tau bahwa di rumahku di Batu yang cuacanya selalu sejuk itu, kami tak punya penghangat air otomatis. Aku begitu girang saat aku tahu aku tak harus memasak air untuk mandi air panas di sana.

Aku merasa aku menjadi bayi dan terlahir kembali saat itu. Aku tak bisa berbahasa Jerman dan tak mengerti apa yang Robert dan Nadja bicarakan kadang-kadang (kecuali kalau mereka ngomong pakai Bahasa Inggris kepadaku). Mereka sangat sabar dan telaten menghadapi kekonyolan dan kepolosanku. Tak jarang mereka menyebutku sebagai anak nomor 3, adiknya Zoe dan Amy. Padahal aku seumuran dengan Nadja.

Setelah melihat-lihat seisi rumah, aku penasaran kenapa tak ada kamar untukku. Robert pun mengerti kegusaranku. Nadja menggendong Amy dan Robert menggendong Zoe. Aku membopong koperku untuk keluar dari apartemen itu.

“Maaf, Indra, karena ruangan di atas tidak cukup, kamu harus tidur di basement. Tapi ruangan basement itu sudah kami sulap jadi kamar kok, sayangnya tak ada kamar mandi dan toilet untukmu, tapi kamu bisa pakai toilet kami yang juga cuma satu itu kalau di malam hari kamu kebelet. Dulu, pacarnya adikku, saat beberapa bulan kerja di München juga sempat menempati kamar ini, kok. Semoga kamu menyukainya!” kata Nadja.

Kami turun tangga satu lantai dan menuju sebuah koridor gelap yang di kanan kirinya terdapat beberapa kamar tertutup. Lalu di ujung kiri koridor itu, ada sebuah kamar dengan pintu putih. Itu kamarku.

Begitu masuk kamar, aku lagi-lagi tak percaya dengan pemandangan di depanku. Kamarku itu luasnya 2 kali kamar mereka, kira-kira kamar anak-anak dan ruang tamu digabung jadi satu. Kasur berukuran 160x200cm warna merah, meja belajar dan almari besar. Semua yang aku perlukan ada di situ. Dibandingkan dengan kamarku di Batu, yang cuma berukuran 1,5x3m, kamar ini sungguh berlebihan buatku.

“Terima kasih, Nadja, Robert, kamar ini bagus sekali!”

“Kamu suka?” tanya Robert.

“Kamu tau, kamar ini mungkin 8 kali lebih luas ketimbang kamar aku di Batu, dan 100 kali lebih bagus, perabotannya juga lengkap. Di batu, aku cuma punya kasur ukuran 1×2 meter, lalu almari mungil dengan 4 pintu kecil ukurannya mungkin 50x50x100 cm, itu saja. Bajuku saja, tak muat ditaruh di sana. Aku harus menaruhnya di kardus, atau di jemuran, sampai ada tempat di lemari itu untuk baju bersih. Aku suka sekali, kamar ini.!” kataku terharu.

Nadja menunjukkan koleksi jaket musim dinginnya yang sudah ditaruh di almariku. Dia bilang aku boleh memakainya karena dia sudah jarang pakai. Kemudian mereka membiarkan aku sendiri di kamar untuk beristirahat dan memberikan kunci apartemen mereka untukku karena aku boleh masuk kapanpun aku mau.

Aku tak mengalami jetlag yang berarti saat datang di München pertama kali. Aku begitu excited tak sabar ingin menguyel-uyel si kembar rambut pirang yang wajah keduanya mirip barbie itu.

Aku bingung melihat karangan bunga yang diberikan Nadja padaku, yang tergeletak di atas meja belajar itu. Aku pun tak melihat ada tempat sampah di dalam kamarku. Kemudian aku naik ke atas (ke apartemen mereka).

Aku melihat Nadja dan Robert sedang menyiapkan makan malam. Mereka tersenyum senang melihatku datang. Aku pun segera menciumi Amy dan Zoe yang duduk di kursi tinggi di meja makan itu.

“Nadja, mana tempat sampah?”

“Oh, itu tuh, di rak pojokan, buka pintu kecilnya, di sana ada tempat sampah. Oh iya, kamu harus misahin sampah organik, plastik, dan kertas juga ya!”

“Kalau bunga ini, sampah organik kan?” tanyaku lagi.

Nadja menghentikan aktivitas memasaknya dan berbalik ke arahku. Diikuti dengan Robert.

“Indra, kenapa kamu mau buang bunga itu? Kamu nggak suka dengan bunganya?”, Nadja terlihat agak jengkel kepadaku.

“Loh, kalau nggak dibuang, terus diapakan, Nadja, seumur-umur aku belum pernah dapat beginian.”

Setelah melihatku kebingungan, Nadja pun tersenyum dan bilang, “Ach so, aku nggak tau kalau kamu nggak suka bunga! Tau gitu, tadi kita belikan kado lain!”

“Bukannya aku nggak suka, tapi aku nggak tau untuk apa!!” Lalu aku jelaskan bahwa di Indonesia, buka budaya kami membelikan bunga, kecuali kalau orang itu mati, atau sukses besar, karangan bunga seperti ini mungkin cuma untuk orang kaya, sehingga aku tak pernah berkesempatan menerimanya.

Nadja pun mengerti, kemudian dia memberiku sebuah vas bunga, mengisinya dengan air, lalu meletakkan bunga itu pada vas.

“Kamu mau taruh bunga ini di kamarmu?”. Aku pun mengangguk.

Aku letakkan bunga itu di kamarku, dan tak pernah sekalipun menggubrisnya, tak pernah sekalipun memandangnya, hanya meletakkannya saja, sampai layu dan membusuk. Sampai 2 bulan kemudian, Nadja mendapati bunga itu dan marah-marah karena aku tak merawatnya dengan baik. Sampai sekarang pun aku tak pernah bisa merawat bunga,lagi pula, aku juga tak suka bunga. Ada beberapa pot bunga yang oleh Nadja diletakkan di kamarku, sampai kami pindah di rumah baru, pot-pot itu tak pernah sekalipun aku gubris, akhirnya layu dan mati. Nadja pun hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapiku.

Karena cerita ini sudah terlalu panjang, mungkin aku sambung lain kali. Nantikan diary au pair dan kekonyolanku berikutnya, ya 🙂

Bersambung…..

foto kami di minggu pertama

Jangan lupa baca:
Bagaimana bisa sampai ke Jerman?
Sebelum jadi au pair part 1: semua berawal dari patah hati

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg

Comments

  1. Definisi sukses menurutku: Kalo aku dah punya uang banyak bisa bantu orang tua, dan orang-orang di sekelilingku… haaaseeekkk… -_- apalah….

    "Aku ini bukan orang cantik"
    Weeeeh mbak…gak boleh gitu… *sok tua* *dijitak*
    Mbak tuh cakep… menurut aku sih cantik, gak kerempeng kayak aku banyak jerawatnya…muka minyakan banget… tinggal peres kalo mau goreng-goreng…rambutku kek sapu ijuk..ada aja sehelai dua helai yg mencuat keluar..
    rambut mbak tuh bagus, jatuhnya alami… 😀

  2. seruh sangat perjalanan dari awal hingga saat ini hari pertama di Jerman, sayangnya bagaimana bisa sampai di Jerman kudu menunggu artikel lanjutannya nih….asik dan menginspirasi pisan deh ih

  3. Aku jadi ingat pas liburan ke Swiss, padahal bukan pertama kalinya aku ke Eropa, cuma mungkin karena baru sampai malam sebelumnya, dan paginya masih jet-lagged dan belum terbiasa dengan negara baru… pas nyebrang jalan, aku lupa dan nengoknya ke kanan dulu. Bodohnya langsung nyebrang pula, tanpa liat ke kiri sebelumnya. Untung di sana aturannya adalah kendaraan give way ke pejalan kaki, jadi aku engga jadi ketabrak >_<)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *