Kisah sebelumnya: Diary Au Pair: Hari Pertama di München 

Bau musim dingin adalah bau favoritku yang tak pernah bisa kugambarkan dengan kata-kata. Intinya, baunya dingin :D, tapi dinginnya berbau khas, seperti bau uap es, atau bau-bauan yang belum pernah aku hirup sebelum aku datang ke München, yang membuatku selalu merindukan bau tersebut. Sebenarnya, yang membuatku mencintai bau musim dingin itu adalah bau si kembar di hari pertama kedatanganku di München 11 Januari 2014 silam. Bau mereka, bau banget😕, serius, beda dengan bau bayi Indonesia yang wangi, bau minyak telon, ditambah baby cologne atau shampo bayi yang wanginya lembut. Bau si kembar yang kucium saat mereka menyambutku di bandara adalah bau uap es yang dingin ditambah tomat (atau sejenisnya) yang mungkin mereka makan sebelum menjemputku.

“Mungkin mereka belum mandi pagi ini” pikirku saat itu.

Si kembar terlihat sama antusiasnya denganku, mereka selalu saja jingkrak-jingkrak saat aku datang. Di hari kedatanganku, mereka masih belum bisa jalan. Zoe dan Amy adalah bayi kembar yang bukan identik. Kata Nadja, mereka bukan bayi kembar, hanya adik kakak yang kebetulan tinggal di dalam satu rahim. Zoe kakaknya, Amy adiknya. Zoe lebih mirip Robert, sedangkan Amy lebih mirip Nadja. Tapi aku ngotot Amy dan Zoe mirip satu sama lain, sedangkan Nadja ngotot kalau mereka itu nggak mirip. Kemudian aku bilang, “Sebenarnya, bagiku terlihat mirip, sih, aku aja nggak bisa membedakan Anabel dan Zoe, jangankan bayi, yang dewasa aja, asal putih dan pirang, aku bingung.” Nadja tertawa sebentar lalu katanya, “Wah sama donk, bagiku kamu sama orang-orang Asia lainnya juga mirip”.

Aku bangun pagi-pagi buta dan nggak bisa tidur lagi karena jetlag yang membuat tubuhku masih mengikuti jam kerja Indonesia. Hampir pukul 08 pagi saat matahari belum sepenuhnya muncul, aku sudah nongol di dapur. Nadja yang baru bangun, kaget mendapatiku tiba-tiba ada di sana seperti kucing, diam duduk dan tak tahu harus berbuat apa.

Aku tak pernah menyesali diriku yang bodoh, konyol, polos, dan benar-benar ndeso. Tak pernah aku berani membayangkan bagaimana nasibku jika aku langsung pergi ke Jerman tanpa ada keluarga ini. Aku tak pernah naik pesawat sebelumnya dan sekalinya naik pesawat di usia yang ke 25 tahun, langsung ke benua yang sama sekali berbeda dari Indonesia. Aku merasa menjadi pribadi yang kurang beradab dan benar-benar seperti manusia purba yang datang dari abad sebelumnya. Saat berada di dapur, dari duduk di tepian meja kayu jati itu, aku memandangi kitchen set dan memutar otak mengingat-ingat bagaimana kemarin Nadja dan Robert masak makan malam sedangkan tak ada kompor di sana.

Saat Nadja melihatku, setelah kaget, dia tersenyum dan bertanya, “Selamat pagi, bagaimana tidurmu? Nyenyak? Kok pagi benar kamu ke atas? Aku aja baru bangun?”

“Aku pikir Amy dan Zoe sudah bangun, soalnya bayi-bayi di Batu bangun pagi-pagi, lalu mandi dan pakai bedak tebal sampai mukanya putih dan dijemur di bawah sinar mentari pagi biar dapat vitamin D”

Nadja berusaha mencerna kata-kataku ditengah mukanya yang masih terlihat mengantuk itu. “Mandi? Amy dan Zoe baru aja mandi 2 hari yang lalu, mereka mandi lagi hari Minggu nanti!”

“Jadi nggak 2 kali sehari?”

“Whatt?” Nadja terlihat makin bingung dengan percakapan kami yang kemudian dia paham setelah aku jelaskan bahwa bayi-bayi di Batu mandi 2 kali sehari dan selalu wangi pakai bedak dan parfum. Nadja pun lalu menjelaskan (yang meskipun aku pahami, aku masih kurang bisa terima) bahwa bayi-bayi di Jerman mandi 2 kali seminggu saja (terutama di musim dingin), pakai shampo juga (yang shamponya tanpa pewangi), pakai minyak bayi (tanpa pewangi), tanpa dibedakin. Kata Nadja, “Kulit bayi kan sensitif, mandi sering-sering malah nggak bagus, produk perawatan bayi di sini rata-rata tanpa parfum, karena kontaminasi bau-bauan itu bisa bikin bayi nggak nyaman, baru kalau dia sudah besar, dia bisa pilih sendiri apakah mau wangi parfum atau nggak.”

Aku masih tak habis pikir, yang kutahu, bayi-bayi itu selalu berbedak putih, wangi dan segar.

Amy dan Zoe juga tidak ditindik, tidak pakai anting-anting. Kata Nadja, “Aduh, kasihan banget kalau masih bayi sudah disiksa, itu penganiayaan namanya. Mereka bisa tindik sendiri kalau mereka sudah bisa memutuskan mau pakai anting atau nggak”. Pikirku saat itu, justru masih bayi, mereka kan bakal segera lupa rasa sakitnya. Aku saja nggak ingat pernah ditindik, karena waktu itu masih bayi banget. Justru kalau aku tindik saat dewasa, pasti aku ketakutan lihat alat yang akan melubangi telingaku dan membuat berkas seumur hidup itu.

Setelah mengobrol singkat di dapur, kami mendengar salah satu dari si kembar meraung, bangun. “Zoe!” bisik Nadja. Naluri ibu memang kuat banget, suara bayi kembar itu kan sama persis, tapi Nadja tahu persis itu suara siapa.

Nadja dengan sigap membopongnya. Setelah Zoe agak tenang, dia mengganti popoknya. Untuk mengganti popok, terdapat meja setinggi perut manusia dewasa yang disebut ‘wickeltisch’. Di bawah wickeltisch tersebut ada peralatan tempur untuk mengganti popok, laci-laci berisi diapers, alas ganti popok, celana dan stocking musim dingin bayi, kaos dalam, tisu basah untuk melap pantat bayi, dsb. Mereka tak diseka dengan air ketika ngompol maupun BAB di popok, melainkan hanya dilap tisu basah saja.

Aku hanya melihat cara Nadja mengganti popok Zoe yang bagiku terlihat aneh itu. Di Batu, aku terbiasa mengganti popok keponakanku yang masih bayi dan menyiram pantatnya dengan air sampai bersih, dilap handuk, dibubuhi bedak ‘anu’nya, lalu diganti popoknya. Di sini, hanya dilap tisu basah (bau tisunya aneh banget, aku pikir tisu itu sempat terkena ompol bayi, nggak taunya, emang baunya seperti itu).

Robert pun ikut bangun. Setelah tersenyum, menyapaku dan menanyakan bagaimana tidurku semalam, dia membopong Amy dan mengganti popoknya. Hari itu aku hanya dipersilakan untuk melihat bagaimana keseharian mereka bersama Amy dan Zoe.

“Indra, kamu mau ikut jalan-jalan ke kota? Aku kan janji mau beliin kamu sepatu musim dingin dan kartu perdana buat hp-mu!” kata Nadja.

Aku pun mengiyakannya.

Kami jalan-jalan ke pusat kota, tepatnya di Marienplatz. Aku masih saja tegang di dalam mobil dan untuk mengalihkan ketegangan itu, aku menimang-nimang Amy dan Zoe yang duduk di Maxicosi di samping kanan dan kiriku. Maxicosi adalah kursi duduk bayi di mobil.

Setibanya di Marienplatz, Nadja mengajakku melihat icon kota München, city hall dan frauenkirche. Aku masih saja bego dan tak begitu ngeh kalau kita sudah ada di kota München. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, mungkin mabuk darat gara-gara mobil yang lalu lalang di sebrang kanan jalan.

Saat memilih sepatu, Robert menjaga si kembar di luar Deichmann (toko sepatu di Jerman) agar kami bisa memilih sepatu dengan leluasa. Aku merasa sungkan kalau memilih sepatu kelamaan, padahal biasanya kalau shopping dan urusan pilih memilih, aku bisa berjam-jam. Aku takut si kembar nangis sambil menunggu kami, akhirnya kuputuskan membeli sepatu yang akhirnya sedikit kebesaran untukku. Tak apa, akhirnya toh aku memakainya dengan kaos kaki tebal, jadi nyaman juga (Amy dan Zoe ternyata aman-aman saja bersama papanya dan tak rewel)

Robert dan Nadja memberiku iphone4 yang Nadja pakai agar jadwal keluarga bisa langsung tersambung di icloud dan aku bisa mengecek kapan dan di mana keluarga ini ada janji, butuh aku atau nggak, dsb. Hp samsung slide butut pemberian adikku yang layarnya sudah berwarna merah kekuning kuningan itu pun segera aku museumkan. Nadja pun membeli iphone baru untuknya.

Kami berjalan-jalan menyusuri sepanjang area pejalan kaki dari Marienplatz ke Karlsplatz Stachus. Robert membeli hem yang harganya bisa membeli 100 hem batik bapak di Batu. Mereka boros sekali, batinku.

Kami makan siang di sekitaran Marienplatz. Nadja membawa bekal untuk Amy dan Zoe yang hanya perlu dipanaskan di microwave 30 detik. Kami memesan makanan, Nadja menyuapi Amy, Robert menyuapi Zoe, aku menyuapi diriku sendiri. 😀

Malam harinya,

Setelah mandi dan siap untuk makan malam, aku kembali membuntuti mereka yang mengantarkan Zoe dan Amy untuk tidur. Mereka hanya diganti saja popoknya, dilap pantatnya dengan tisu basah, kaos dalam masih bersih jadi tak perlu diganti, lalu memakai piyama dan dimasukkan ke mantel tidur musim dingin yang tebal pengganti selimut. Mereka dikasih sebotol susu, lalu ditidurkan di ranjang masing-masing, dikasih dot, dan sebotol air putih siap kenyot kalau suatu saat haus. Lalu mama papa mematikan lampu, dan memasak di dapur.

Kudengar Amy dan Zoe masih meringik, sedikit menangis tapi Nadja dan Robert membiarkannya. Kata Robert, “Kalau nangisnya nggak kenceng, tandanya nangis karena ngantuk, biarin aja, lama-lama juga tidur sendiri!”. Dan memang mereka akhirnya diam dan tidur. Jadwal tidur mereka pun sudah ditentukan. Yakni, selesai main pukul 17.45, makan malam pukul 18.00, selesai makan dan beres-beres mainan (meskipun mereka masih belum bisa jalan, setelah makan, mereka sudah diajarkan untuk merangkak-rangkak mengambil mainan dan memberikannya kepada kami untuk dibereskan). Beberapa bulan setelahnya, saat sudah bisa jalan mereka terbiasa membereskan mainannya sendiri dan tahu di mana tempat mainan-mainan itu harus ditata dan dibereskan seperti sebelum dimainkan. Semuanya selalu selesai pukul 19.00 dan si kembar selalu tidur paling lambat pukul 20.00 setelah diletakkan di ranjang masing-masing.

Pukul 19.00 Nadja dan Robert mulai masak dan menyiapkan makan malam untuk kami bertiga. Di situlah aku tahu bahwa mereka memakai kompor induksi tanpa api, yang segera panas ketika dinyalakan dan segera dingin ketika dimatikan sehingga tak berbahaya dan tak mudah mengundang kebakaran. Ah, aku katrok sekali. Lebih katrok lagi ketika aku mulai membantu mereka mencuci alat-alat masak. Robert bilang, “Indra, ngapain kamu cuci semua? Nggak usah, duduk aja sambil main laptop atau hp. Toh nanti ada mesin pencuci piring!”

Aku melongo sejenak. Sumpah, jangan gregetan ya kalau aku emang kampungan, aku berusaha menceritakan kisahku secara jujur.

“Apa? mesin cuci? Masak piring-pring ini masuk mesin? Apa nggak pecah?” tanyaku.

Robert dan Nadja ngakak. “Bukan mesin cuci baju yang berputar-putar, Indra! Tapi mesin pencuci piring!”

“Emang ada?” tanyaku masih tak percaya.

“Nah, di depan lututmu itu!”

Aku segera menunduk dan menatap kotak besi seukuran mesin cuci. Nadja membuka pintunya dan kulihat di dalamnya terdapat rak-rak piring, gelas dan tempat sendok. Robert meletakkan piring, panci, baskom ke dalamnya dan menutupnya kembali. Aku protes.

“No way! Aku nggak mau barang-barang ini rusak dan hancur!”

“Hhahaha, nggak akan! Kita tiap hari nyuci pakai ini!”

“Noooo!!!”

“Indra, percaya deh! Piring-piring ini nggak akan hancur dan baskom nggak akan meleleh, mereka sudah didesain untuk suhu di mesin pencuci piring. Mereka nggak akan campur aduk jadi satu di dalam! Lagi pula, kalau kita mencuci manual lebih boros air, tenaga, waktu, dan sabun! Biar saja kamu santai, mesin ini yang mengerjakannya buat kita! Okay?” kata Nadja dengan sabarnya menghadapiku.

Akhirnya aku pun menyerah dan di hari-hari selanjutnya aku malah malas mencuci piring, semua aku masukkan saja ke sana. Sungguh praktis dan ternyata bersih juga, meskipun nggak wangi lemon seperti saat aku mencucinya dengan sunlight 😀

Begitulah minggu-minggu awalku di München dan kekonyolanku yang masih belum berakhir. Sebaiknya aku lanjutkan di kisah berikutnya ya 🙂

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Salam dari Hamburg 

Comments

  1. Ternyata di jerman kerjasama dalam keluarga solid juga ya? saya selalu berpikir para bapak akan egois dengan pekerjaan RT yg biasanya dikerjakan oleh para ibu seperti pada umumnya di Indo (tidak semua lho ya…) menarik sekali artikelnya saya sangat suka mempelajari cara hidup sehari-hari budaya dari negara lain. Ayo terus menulis cerita yang lain ya…? saya tunggu….

  2. wahhaahaha, keluarganya lucu banget ya bakal betah itu disana.. saya dulu waktu pertama kali mikir mesin pencuci piring tidak pernah nyata, dan bikin piring pecah, ternyata ngga yah hahahha..

    berati kebiasaan saya mandi sekali 2 hari ini seperti budaya jerman yah wkwkkw

  3. Wkwkwkwk kakak! Tahu tidak? [?]
    malah waktu pertama kali domisili di Malang, aku tuh mandi 5 kali sehari!! Berkeringat dikiiit aja langsung risih. Mungkin kalo aku di sana udah di deportasi kali ya soalnya boros air banget xDDD

    Trus pernah denger juga kalo di Jepang, mereka mandinya malam mau tidur….pagi mau kerja ga mandi xD
    cuci muka sama sikat gigi doang…ckckckc. Aku gak bisa begitu tuh >.<

    Nah kalo kakak nih kalo di sana, pas musim dingin, pola mandinya gimana xD

  4. Ha ha, aku selalu terhibur baca “kekatrokan” mu (meskipun menurutku itu bukan “kekatrokan”… memang di Indonesia jarang sekali ada dish washer—daya listrik aja kadang naek turun sendiri mau gaya-gaya pake washing machine segala hahaha—maka aku engga heran kalau ada yang ga ngerti cara pakainya).

    Kalau baby powder itu… terus terang aku juga sedikit khawatir dgn pemakaian berlebihan di Indonesia, kayanya hampir semua orang yg aku kenal dan punya bayi itu selalu makein baby powder ke babynya.. padahal baby kulitnya jauh lebih sensitif, belum lagi bahaya pernafasan, resiko kanker ovarium, dsb. kalau bedaknya sering-sering kehirup anak. Yah semoga saja asalkan berhati-hati dan gk berlebihan, tidak akan bermasalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *