Artikel ini merupakan jawaban dari banyak email yang masuk seputar Au Pair dan prosedur pendaftarannya. Sebelum aku menjabarkan riciannya, ada salah satu email yang bertanya, apakah lowongan au pair di Jerman selalu ada? Jawabannya, IYA. Mendaftar atau melamar au pair melalui website, (contohnya aupairworld.com ) artinya kita bertanya kepada sebuah keluarga atau dengan kata lain menawarkan diri kepada keluarga tersebut bahwa kita tertarik untuk menjadi au pair mereka. Mendaftarkan diri menjadi au pair lewat situs ini, berarti kita mengurus semua persiapannya sendiri dan berkomunikasi dengan calon host family kita personally (tanpa agen atau perantara).

Data terakhir yang aku cek dari keluarga Jerman yang sedang mencari Au Pair lewat situs au pair world: sebanyak 10694 keluarga, dan 181 keluarga sesuai dengan kriteriaku (perempuan, asal Indonesia)

Keluarga penerima Au Pair bukanlah sebuah perusahaan, dimana kita harus melamar secara resmi. Semua kita lakukan secara casual, santai, interview lewat skype pun bisa kita lakukan dengan serius tapi santai. Selama ada keluarga yang mencari au pair, selama itu pula lowongan itu ada.

Nah, berikut ini adalah prosedur menjadi au pair lewat jalur mandiri seperti yang aku lakukan dulu. Note: prosedur ini adalah pengalaman pribadiku, jadi mungkin berbeda dari pengalaman au pair yang lainnya.

1. DAFTAR DI SITUS PENYALUR AU PAIR

Poin pertama ini bisa jadi poin kedua kalau kalian tidak bingung mau di negara mana jadi au pairnya. Aku dulu masih belum yakin mau di Jerman, di Prancis, di Belanda, Norwegia, Swedia, atau di Denmark. Yang jelas aku hanya ingin ke Eropa, terserah itu di mana. Oleh karena itu aku mendaftar dulu, membuat profil di www.aupairworld.com, dan mencari-cari keluarga yang sesuai.

Tips membuat profil: Sertakan beberapa foto dengan anak kecil. Buat profil seramah dan sejujur mungkin (Bahasa Inggris juga nggak apa-apa kalau belum bisa bahasa dari negara tujuan).

Tips lain:* jangan pasiv!! Kalian harus aktif mengirim pesan kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan au pair. Tapi juga jangan terlalu banyak mengirim pesan, bisa-bisa situs ini mendeteksi scammer. Mungkin 10 keluarga per hari, lalu tunggu respon mereka. Kemudian kirim pesan lagi.
* jangan mudah menyerah! Aku dulu baru seminggu sudah dapat keluarga, tapi temanku ada yang sampai 2 tahun baru dapat, ada yang 6 bulan kemudian baru dapat. Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri, jadi jangan putus asa, terus mencoba!
* usahakan hanya keluarga yang cocok denganmu. Kalau mereka punya terlalu banyak anak, sedangkan kalian hanya sanggup mengasuh maksimal 3 anak, sebaiknya cari yang anaknya sedikit!
* Ingat! Orang Indonesia tak bisa menjadi au pair di negara-negara tertentu, contohnya di Inggris, Amerika dan Australia (kecuali mereka menggunakan visa yang berbeda, contohnya ke Australia bisa mengusahakan untuk apply visa work and travel, dsb). Jadi jangan terkecoh dengan tawaran menjadi au pair di negara-negara tersebut. Teman dekatku pernah sampai tertipu dengan mengirim uang hingga 8 juta ke calon host family. Ingat! Tak ada host family yang meminta identitas paspor dan meminta uang. Jadi, kita wajib waspada terhadap penipuan.

2. INTERVIEW

Interview dengan host family ini sifatnya sangat non-formal, seperti memperkenalkan diri satu sama lain, memperkenalkan calon anak yang akan kita asuh, bertanya tentang tugas-tugas, dsb.

Untuk lebih jelasnya, silakan cek di artikel tentang interview au pair: Video Call Au Pair dan Interview di Kedubes

Setelah selesai video call, beberapa hari kemudian kita bisa bertanya apakah mereka memilih kita menjadi au pair mereka. Kalau memang iya, kita bisa lanjut ke step berikutnya, kalau tidak, kita harus balik ke poin pertama, yakni mencari host family lagi.

3. Pengurusan Kontrak, Asuransi dan Kursus Bahasa

Poin ini sebenarnya diurus oleh host family, namun kita juga sedikit ikut campur memberikan informasi. Usahakan meminta host family untuk mengirim kontraknya sesegera mungkin ke Indonesia agar saat mengajukan visa, kontrak itu sudah di tangan. Pengalamanku dulu, host family mengirim lewat dhl dari Jerman ke Indo memakan waktu 3 bulan (ada juga yang satu minggu sudah datang dikirim lewat dhl juga). Jadi, lebih cepat lebih baik, bukan?

Note: Kesepakatan antara kalian dan host family harusnya tinggal satu rumah. Jika kalian disewakan apartemen sendiri atau tinggal terpisah, minta host family untuk tidak menulisnya di kontrak, karena banyak au pair yang ditolak visanya karena tidak tinggal serumah.


4. KURSUS BAHASA

Poin ke-empat ini tak berlaku apabila kalian sebelumnya sudah belajar bahasa negara tujuan atau sudah memiliki sertifikat yang diminta pihak kedubes. Karena aku dulu masih belum yakin mau au pair di negara mana, jadi aku tak mau rugi kursus bahasa terlebih dahulu. Jadi, setelah mendapat keluarga di Jerman, aku mulai kursus bahasa Jerman.

Info dan tips: Aku dulu kursus murah di guru bahasa Jerman di SMA adikku. Membayar 500 ribu untuk 8 kali pertemuan. Beliau mengajariku basic-basic bahasa Jerman (grammar, artikel, dsb), sisanya aku rajin nonton youtube dan download soal-soal ujian A1 bahasa Jerman di web goethe insitut, lalu latihan sendiri setiap hari. Perbanyak kosa kata, masalah grammar memang penting, tapi untuk persiapan A1, menurutku memperkaya pembendaharaan kosa kata akan lebih bermanfaat. Setelah lulus ujian A1, jangan berhenti belajar dan begitu tiba di Jerman, kita akan terlatih menggunakan kosa kata yang telah kita hafalkan dengan grammar yang telah kita pelajari (usahakan sebisa mungkin berbicara menggunakan bahasa Jerman dengan host family)

5. Membuat Paspor

Poin ini menjadi tidak penting dan tidak berada di prosedur ini jika kalian sudah memiliki paspor. Tapi aku dulu mengurus paspor sembari kursus bahasa Jerman. Untuk membuat paspor, sebenarnya tidaklah susah, cek saja di google cara membuat paspor, pasti banyak info.

6. UJIAN A1

Poin ini juga bisa di skip kalau kalian sudah punya sertifikat A1 dari goethe institut.

7. Membuat janji untuk apply Visa

Ini poin yang amat penting. Jika kalian sudah punya sertifikat A1 dan paspor, tempatkan prosedur ini setelah pengurusan kontrak. Saat host family mengirim dokumen yang dibutuhkan, segera saja bikin janji di kedubes Jerman. Bikin termin atau janji di kedubes sangatlah mudah, hanya janjinya saja yang selalu penuh, jadi harus kita lakukan jauh-jauh hari. Sudah tahu website kedubes? Kalau belum, silakan klik di sini

8. Persiapan Apply Visa

Membuat Motivation Letter, Lebenslauf (CV), dan latihan untuk wawancara di kedubes juga penting untuk dipersiapkan.
Penting untuk dibaca: Dilarang melakukan 5 hal ini dalam menulis motivation letter Au Pair dan FSJ ke Jerman

Contoh motivation letter untuk FSJ bisa kalian lihat di sini

9. Membuat Asuransi perjalanan

Saat aku berangkat menjadi au pair dulu, asuransi kesehatan yang diurus oleh host family saja sudah cukup. Namun syarat terbaru untuk berangkat ke Jerman, kita harus punya asuransi perjalanan juga. Cek bagaimana membuatnya dan pengalamanku membuatnya saat aku apply visa FSJ dari Indonesia dulu: Pengalaman bikin asuransi perjalanan

10. Apply Visa

Untuk apply visa, sayangnya kita harus datang sendiri ke Jakarta. Bagi yang tinggal di Jakarta, pastinya tak perlu repot-repot booking tiket pesawat dan hotel ya :). Jangan lupa membawa semua dokumen yang diperlukan. Apa saja itu:
Untuk dokumen-dokumen pengajuan visa au pair, silakan cek laman kedubes Jerman di sini! Jangan sampai ada satu dokumen pun yang tertinggal!
Saat apply visa, kita juga diwawancarai oleh native Deutsch speaker. Jadi persiapkan diri anda! :D. Pengalamanku wawancara di kedubes, bisa dibaca di: Video Call Au Pair dan Interview di Kedubes

11. Menunggu Visa disetujui

Sambil menunggu visa disetujui, teruslah optimis dan perbanyak belajar bahasa Jerman, juga mengenal budaya Jerman dengan banyak membaca atau nonton you tube agar kita tidak terlalu shock saat berada di sana.

12. Visa di-ACC? Pesan tiket pesawat!

Saat visa sudah di tangan, aku baru pesan tiket pesawat. Saat itu aku tidak mau menanggung resiko visa ditolak dan kehilangan ratusan euro buat tiket pesawat. Tiketku dibelikan oleh host family saat itu. Saat sudah sampai di Jerman, aku menggantinya 50% dari gajiku di bulan ke-10.

13. Persiapan berangkat ke Jerman

Luangkan waktu sebanyak-banyaknya bersama sahabat dan keluarga sebelum terbang ke negeri nun jauh di sana. Pastikan membawa jaket (Jerman banyak dinginnya ketimbang panasnya), jangan membawa barang-barang yang tak akan kamu butuhkan dan bisa dibeli di Jerman dengan mudah (contohnya: membawa beras, piring, gelas :D)>>serius temanku ada yang bawa barang-barang tersebut loh!.

14. Berangkat!!!

Yeeeay, siapkan nyali untuk mengarungi tanah biru yang menawan hati! Selamat datang di Jerman 🙂

Prosedur pendaftaran au pair ini kubuat dari pengalamanku sendiri yang kemungkinan berbeda dari pengalaman au pair-au pair yang lain. Kalau kalian ingin tahu kisah lebih lengkapnya bagaimana aku menemukan program ini sampai berangkat, silakan di baca di kisah au pair part 1: Semua berawal dari patah hati.

Semoga artikel ini bermanfaat. Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Viele Grüße aus Hamburg (Salam dari Hamburg)  

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *