Cerita sebelumnya:
Hari pertama di München
Aroma Musim Dingin 

Keraton di belakang Castil Nymphenburg

Sejak pertama datang di keluarga ini, aku tak pernah sekalipun menganggap bahwa aku bekerja. Aku merasa kehadiranku di tengah-tengah keluarga ini adalah sebagai ibu kedua dari Amy dan Zoe. Nadja pun membenarkannya. Tiap kali bangun di pagi hari, aku langsung teringat si kembar. Apakah mereka sudah bangun, apakah Nadja sudah memberinya sarapan, apakah mereka baik-baik saja? Aku selalu merindukan mereka seperti anakku sendiri. Seringkali Nadja bilang, “Indra, kamu tak harus selalu bersama mereka, biarkan saja mereka bermain sendiri!” . Aku sedikit sedih dan berkata, “Kamu punya waktu seumur hidup yang akan kau habiskan bersama si kembar, sedangkan aku hanya tahun ini saja, Nadja! Biarkanlah aku menikmati waktuku bermain bersama mereka!”

Nadja begiu terharu mendengarku berkata seperti itu dan membiarkanku menciumi si kembar dengan aroma mulut dan badannya yang tak keruan tapi semakin membuatku selalu jatuh cinta pada mereka.

Di München, kami tinggal di sebuah gedung apartemen berlantai tiga yang suasananya sangat nyaman. Untuk menuju ke haltebus, hanya diperlukan waktu 7 menit jalan kaki dengan kaki yang kecil dan gaya jalan ala Indonesiaku yang santai. Orang Jerman mungkin hanya butuh 4 menit saja ke halte itu. Nama halte bus itu adalah Unterföhring, Kanal (mungkin karena letak haltenya yang dekat sungai kecil).

Selain halte bus tersebut, stasiun kereta Subway (yang nama stasiunnya juga Unterföhring) bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 15 menit. Hal ini merupakan sebuah kemudahan bagiku yang ingin ke kota karena bus datang tiap 10 menit sekali, dari pukul 4 dini hari hingga pukul 11 malam. Meski demikian mudahnya menjangkau angkutan umum tersebut, sampai 3 minggu aku berada di München, tak sekali pun aku berani mencoba menaiki bus dan kereta Subway tersebut. Sampai suatu hari, Nadja berkata padaku, “Indra, minggu depan, kamu sudah mulai sekolah bahasa Jerman, aku tentu saja tidak bisa mengantar-jemputmu untuk les ke kota dengan mobil! Kamu harus berangkat ke sana sendiri!”

Rasanya bagai disambar petir aku mendengar Nadja bicara, sampai aku tak bisa menelan makanan yang kukunyah di meja makan itu.

“Tapi aku tak bisa naik bus, Nadja!”

“Naik bus itu mudah, Indra! Kamu masih punya waktu untuk mencobanya akhir pekan ini! Coba jalan-jalan sendiri ke kota dengan bus dan kereta bawah tanah!”

“No! Aku tak bisa, aku takut! Aku maunya nginthil (ngikut kemana pun) kamu saja!”

“Apa yang kamu takutkan?” tanya Nadja dengan sabarnya menghadapi kelakuanku yang seperti bocah.

“Selama ini, aku selalu ikut kalian pakai mobil ke mana pun. Aku tak khawatir akan tersesat atau diculik orang! Kenapa aku harus les di kota? Kenapa tak di sekitar Unterföhring saja?”

“Justru itu lebih baik bagimu kalau kau mulai sekarang mencoba kemana-mana tanpa kami! Bagaimana kamu akan bisa berkeliling Eropa yang luas ini kalau dari Unterföhring ke München saja kau takut, Indra?” celetuk Robert yang ada benarnya juga.

Meskipun aku tahu mereka melakukan ini untuk melatih kemandirianku, rasanya tetap saja seperti mereka membuangku. Meskipun kenyataannya tak setragis itu. Toh naik bus dan kendaraan umum dengan lalu lintas yang mematikan seperti di Jakarta sudah pernah kulalui, diturunkan tepat di tengah-tengah jalan oleh kopaja dan hampir ketabrak bajaj sudah kulampaui, masak iya aku harus takut naik bus di Jerman?

Seusai makan malam, mama papa Anabel (tetangga kami) datang untuk sekedar berbincang dan makan camilan kue kering. Aku duduk membeku di pojokan melihat layar TV berukuran 10 kali lipat TV hitam putihku di Batu itu. Mataku memang tertuju pada layar itu, namun pikiranku masih melayang memikirkan bus di Halte Unterföhring yang kurasa akan menyesatkanku jika aku menaikinya. Robert, Nadja, serta tetangganya itu menikmati tontonan yang bahasanya sama sekali tak kumengerti. Tak masalah bagiku, toh konsentrasiku hanya ada di bus-bus di Unterföhring. Apapun yang kulihat saat itu, semua seperti gambar bus yang membawa seseorang menuju perjalanan antah berantah.

Aku sungguh lebay. Tapi ini sebuah kenyataan yang aku alami karena paranoid berada di lingkungan baru. Akhirnya di sela-sela iklan, kuberanikan diri bertanya kepada Nadja,

“Nadja, hmmm,,,soal naik bus!”

Tak hanya Nadja, Robert dan dua orang lainnya turut mendengarkanku. Aku jadi semakin gugup.

“Aku bingung. Nanti kalau kita naik, kita harus melambaikan tangan atau bagaimana?”

Angkot di batu memang dicegat dengan melambaikan tangan, jadi kupikir bus di Jerman juga begitu. Nadja mengerutkan alisnya.

“Lalu, ada kondektur? Aku bayar karcis ke kondektur apa ke supir?”

Mereka semakin tercengang mendengar pertanyaanku.

“Dari mana kita tahu kalau bus itu tidak akan menyesatkan kita?”

Robert tertawa sampai memegangi perutnya. Akhirnya Nadja angkat bicara, “Indra, kalau kamu tiba di halte itu, kamu akan lihat tulisan besar: Halte Unterföhring, Kanal. Nah nanti di bawahnya, kamu akan lihat tulisan : richtung Studentenstadt (arah Studentenstadt). Kamu jangan sampai salah menunggu di halte yang arah Ismaning, karena kamu harus ke Studentenstadt dan naik kereta bawah tanah dari sana menuju ke kota.”

Karena Nadja melihatku semakin pusing, dia memintaku mendownload applikasi MVV yakni aplikasi transportasi umum di München yang bisa menunjukkan jalan kepada kita dari tempat di mana kita berdiri sampai alamat tujuan kita. Tinggal ketik saja, app akan menunjukkan sendiri.

“Lihat ini, Indra! Aku ketik alamat rumah kita. Nah, kamu ingin jalan-jalan ke mana Sabtu besok?”

“Ke Castle Nymphenburg!” jawabku. Sudah beberapa hari yang lalu aku melihat-lihat buku panduan wisata kota München yang diberi Nadja, dan kulihat, kastil itu amat megah dan indah. Aku ingin ke sana.

“Bagus, ketikkan saja di kolom tujuan nama kastil itu…” kata Nadja sambil mengetikkannya di layar hpku.

Ajaib. App tersebut langsung menunjukkan bus apa saja, ganti kereta di mana, berikut estimasi waktu yang akan aku tempuh dari sini ke sana. Aku terbelalak seperti monyet melihat pisang. Aku berpikir kalau saja aku datang ke Jerman setelah gojek, grab dan uber udah merajalela di Indonesia seperti sekarang ini, mungkin aku takkan terlihat setolol itu.

Aku merebut smartphone pemberian Nadja itu dari tangannya, lalu menimang-nimangnya sebentar sebelum aku memencet tombol home. Oh, kalian tak bisa bayangkan kekagumanku pada teknologi yang tak aku utarakan pada Nadja saat itu. Aku senaaang sekali, pandangan mataku seperti orang kesambet, lebih tepatnya kesambet cinta. Apa sih, cinta kok pada app MVV.

Di jeda komersial berikutnya, aku kembali mengganggu mereka dengan bertannya, “Nadja, kira-kira kalau aku mau berhenti saat naik bus, aku harus bilang ke supirnya KANAN atau KIRI? Kan kalau di Indonesia kita bilang, Kiri…kiri…kiri Pak! Di sini, kanan…kanan…kanan Pak? Atau gimana?”

Kontan saja keempat orang yang ada di ruang tamu tersebut tertawa terbahak-bahak sampai mereka menyadari bahwa Amy dan Zoe tidur di sebelah ruangan itu, sontak mereka menutup mulut tapi masih menahan tawa karena pertanyaanku. Aku dibiarkan saja linglung. Sungguh, saat itu pertanyaan itu tulus murni dari dalam hatiku, muncul karena kebingungan dan ketakutanku.

Akhirnya Nadja menjelaskan semuanya, bahwa aku tak perlu melambaikan tangan saat melihat bus, karena bus di Jerman hanya akan berhenti di halte-halte, bukan di sembarang tempat. Meskipun kita melambaikan tangan sampai tersambar kendaraan lalu lalang pun, bis tak akan berhenti. Tak ada kondektur di dalam bus. Tapi kalau kita tak punya tiket, kita bisa beli langsung di supir dengan menyebutkan tujuan kita. Lalu untuk turun, kita tak perlu bilang kiri atau kanan, karena tombol stop ada di seluruh penjuru bus. Tinggal pencet saja.

Meskipun aku amat tegang, rasa penasaran membuatku memberanikan diri naik bis akhir pekan itu. Tujuannya tentu saja Kastil Nymphenburg. Nadja memberiku tiket baris yang isinya 10 strip dan sudah dia gunakan 2 saja. Sisanya 8 strip bisa aku buat pulang pergi kastil. Satu lagi masalah baru. Apa-apaan ini tiket strip?

Kata Nadja, aku hanya perlu melipat satu strip di tiket yang berbentuk panjang itu lalu memasukkannya di sebuah mesin kecil yang biasanya ada di belakang kemudi supir. Setelah berbunyi ‘cekrik’ seperti orang dipotret, artinya, tiket itu sudah sah digunakan untuk berkendara dengan tujuan jarak dekat. Kalau jarak jauh, kita harus melipat 2-5 strip (tergantung jarak dan zona nya).

Aku bingung tapi juga malu untuk bertanya lagi kepada Nadja. Akhirnya, aku nekat naik bis. Satu dua bis berlalu di hadapanku, tapi aku tak berani naik. Aku hanya menunggu kedinginan di halte itu sendiri. Aku menunggu salah seorang yang naik bus yang (mungkin) kebetulan punya tiket strip dan melihat dari luar, apa yang dia lakukan di bis itu. Tapi sampai bus kelima, orang-orang yang tadinya menunggu bersamaku semua masuk dan langsung duduk. Sedangkan aku berjinjit di luar bus dan melihat-lihat apa ada mesin kecil, apa ada orang yang memasukkan selembar karcis sebelum duduk.

Aku tak mau membeli karcis lagi. Bukan karena mahal, tapi malu dan takut bagaimana cara mengucapkan Schloß Nymphenburg dengan baik dan benar kepada supir agar dia memberi tiket yang tepat untukku. Terkadang beberapa penumpang bus memandangku aneh dari dalam. Mungkin pikirnya aku tak punya tiket. Tapi mengapa aku jingkat-jingkat, berjinjit-jinjit melihat penumpang di dalam?

Akhirnya ada seorang wanita tua yang masuk ke dalam bus dengan pelan. Aku berdiri di pinggir bus dan melihatnya memasukkan karcis yang sama dengan yang aku punya. Oh, begitu rupanya, itu rupanya mesin kecil tempat aku seharusnya memasukkan karcis. Di bis berikutnya, dengan jantung berdegup, aku masuk bis dan memasukkan karcis ke mulut mesin itu. ‘Cekrik’. Yeeeay aku berhasil.

Sepanjang perjalanan, aku tak henti memandangi app yang telah diunduh Nadja. Mencocokkan halte-halte yang kulalui dengan yang ada di app. Semua cocok. Gila, batinku!

Saat turun di Stasiun kereta bawah tanah, Studentenstadt, aku tak mengalami kesulitan yang berarti. Ada plat biru penunjuk jalan U6 ke arah Klinikum Großhadern, yang memudahkanku menemukan underground train yang tertera di app itu. Aku pun masuk ke dalam kereta.

Meskipun banyak tempat duduk, aku memilih untuk berdiri dan memegangi hpku dengan tegang, serta mengecek apakah kereta ini membawaku ke stasiun-stasiun yang tertera di app. Luar biasa! Semua sama persis. Tiap kereta berhenti. Aku celingukan melihat stasiun apa ini, oh Odeonplatz, Oh Marienplatz. Semua sama dengan yang ada di app. Aku cekikikan sendiri di dalam kereta, tak peduli banyak orang di sana. Kupeluk smart phone itu dan kuelu-elukan barang yang sistemnya lebih jalan ketimbang otakku sendiri.

Aku tegang menantikan kereta ini turun di Sendlinger Tor. Di app tertera stasiun itu, namun aku masih saja belum percaya kalau kereta ini bisa sampai di sana. Dan taraaaa….Sendlinger Tor. Sambil berdesak-desakan turun dengan penumpang yang lain, aku celingukan lagi mencari Tram yang akan membawaku ke kastil itu. Rupanya petunjuk arah di stasiun ini pun sangat memudahkan kita menemukan di mana tram arah ke sini dan ke sana. Dan  yang lebih menakjubkannya lagi, semua sesuai dengan apa yang aku lihat di app. Omaigat!

Hari itu, kalau kuingat sekarang, aku merasa seperti orang konyol, manusia purba yang datang ke jaman yang serba canggih. Kupikir, aku akan tersesat, atau paling tidak harus tanya-tanya kenek, polisi atau siapapun, nyatanya? Tak perlu! Semua serba mudah dan indah!

Akhirnya tiba juga di kastil yang megah. Sengaja tak kuceritakan apa dan bagaimana aku di kastil Nymphenburg itu, karena kisah ini saja sudah terlalu panjang :D. Intinya adalah perjalananku ke sana, bukan kastilnya, hehhe 😀

Saat pulang, aku menghadiahi diriku sendiri dengan makan mie ramen di restoran Jepang. Perjalanan menuju ke rumah pun ternyata sangat mudah. App yang saat itu kuanggap dukun bahkan bisa mendeteksi restoran-restoran dan menginformasikan kepadaku harus naik apa untuk pulang.

Nadja menanyakan bagaimana pengalaman pertamaku naik transportasi umum di Jerman. Kujawab dengan senyam senyum sendiri. Lalu kuberikan lagi karcis strip yang diberikan Nadja padaku tadi pagi.

“Indra, kamu nggak menggunakan karcis ini?”

“Doch (tentu saja) aku menggunakannya saat berangkat!”

“Mana capnya?” tanya Robert.

Kurebut karcis itu dan kutunjukkan bahwa aku sudah memasukkan ke mulut mesin saat berangkat.

“Ya ampun, Indra! Kebaliiik!!! Harusnya kamu lipat bagian ini, bukan belakangnya! Dan saat pulang, kamu nggak masukin ke mesin?”

“Aku lupa saking tegangnya!”

Padahal, aku lupa saking kekenyangan makan ramen. Kata mereka, untung saja tak ada petugas kontrol. Kalau sampai ketahuan aku tak memasukkan karcis itu, bisa didenda 40 euro. Uh aku selamat!

Bersambung…..

Comments

  1. Hahahaha semangaaat, untung enggak pas ada pemeriksaan random! Jangan takut nyasar ya, mungkin justru dengan nyasar, Indra justru dapet cerita-cerita lucu yang bisa dijadikan bahan blog.
    Aku pernah kok, nyasar… bedanya aku naik kereta. Dari Belgia, mau ke Switzerland, dan tentunya lewat Jerman. Tapi aku ketiduran di kereta, dan waktu bangun, aku panik sekali dan bodohnya langsung turun di stasiun berikutnya (karena aku takut waktu itu stasiunku udah kelewatan karena ketiduran). Alhasil nyasar deh di suatu kota antah berantah di Jerman. Ha ha… maklum, masih usia 18 dan bego-bego begitu lah.

  2. OMG Girindra seru banget deh ceritamu 😀 . Klo aku belum tahu ttg Jerman mungkin aku sama bingungnya ngebayangin bus di tanah air. Nah aku malah ketawa ngakak baca ceritamu deh haha 😀 . Pengalaman pertama naik bus pasti ga bisa terlupakan ya. Eh untung aja kau ga sadar/ga tahu mengenai karcis itu, aku pernah salah beli karcis, dan ada petugas kontrol, untungnya aku duduk disamping kaca dan pura2 bego. Petugasnya sibuk ngecek tiket penumpang2 di bangku sembrang dan sebelahku aja, sedangkan aku ga diminta perlihatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *