Salah seorang sahabat pernah menceritakan pengalaman bulan-bulan pertama di Jerman yang pahit, sulit, serba berbeda, tapi lucu dan menarik untuk dikenang dan diceritakan kembali. Mungkin kita mengira hidup di Eropa itu asyik dan indah. Kenyataannya, kesulitan dan pengalaman mengenaskan pun tak pernah luput menimpa kita sehingga tak jarang kita mengalami shock, depressi, bahkan ada yang sampai gila ataupun bunuh diri.

Baca juga: Siapa bilang tinggal di Jerman itu selalu enak?

Nah, kisah ini diceritakan oleh Devi, teman sekelasku yang saat aku mengenalnya, dia sudah lebih dari 4 tahun tinggal di Jerman. Tentu saja Devi bukan nama aslinya. Saat aku bilang akan menuliskan kisahnya, dia minta agar jangan menyebutkan nama aslinya.

Devi berasal dari Tangerang dan ke Jerman untuk melanjutkan S2 nya di Berlin, beberapa tahun silam. Meskipun saat di Indonesia, dia tinggal dekat ibu kota dan sempat menikmati fasilitas seperti trans-jakarta, kereta kommuter, dsb, Devi mengaku tetap saja sedikit bingung saat berada di Jerman untuk pertama kali. Ditambah kemampuan bahasa Jermannya yang masih terbatas, membuatnya sulit untuk bertanya kalau kesulitan melanda.

Suatu hari, Devi berinisiatif melancong ke Frankfurt am Mainz sendiri. Rencananya, dia ingin mengunjungi salah seorang teman Indonesia yang tinggal di daerah dekat Frankfurt. Kebetulan saat itu ada diskon tiket kereta one-way Berlin-Frankfurt yang lumayan murah. Berangkatlah dia ke Frankfurt tanpa pikir panjang.

Devi dan temannya menghabiskan menghabiskan akhir pekan di Frankfurt. Temannya pulang ke desa tempat dia tinggal dan Devi pun kembali ke Berlin. Tapi, malapetaka terjadi.

Devi sudah berencana menumpang mobil seseorang dan ikutan membayar bensin, dari Frankfurt balik ke Berlin. Di Jerman, menumpang dari satu kota ke kota lainnya ini sudah biasa dilakukan dan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Yang punya mobil jadi hemat bensin, yang menumpang jadi hemat biaya -karena harganya biasanya dibawah standart harga bus atau pun kereta api-. Applikasi yang terkenal adalah mitfahrgelegenheit atau bla bla car.

Nah, hari itu, pengendara mobil tumpangan Devi tiba-tiba membatalkan rencananya ke Berlin. Sehingga mau tak mau, Devi harus naik kereta atau bus dari Frankfurt. Tak masalah bagi Devi, karena toh masih ada bus dan kereta yang bisa membawanya pulang. Masalahnya adalah, kartu ATM nya tidak bisa digunakan untuk membeli tiket di mesin penjual tiket. ATM itu juga tidak berfungsi saat digunakan membayar di loket. Sedangkan Devi telah menghabiskan semua uang cash yang dia punya selama jalan-jalan.

Devi pun segera menghubungi temannya untuk meminta bantuan. Sial! karena musim dingin dan suhu di bawah 1 derajat, rupanya hpnya mati sejak dia masuk stasiun tadi pagi. Devi pun mondar-mandir mencari colokan untuk men-charge hpnya. Setelah hp menyala kembali, Devi ternyata kehabisan pulsa untuk menghubungi temannya. Sehingga dengan putus asa di termenung di depan pusat informasi sambil meratapi nasib. Bagaimana dia bisa membeli pulsa kalau kartu ATM nya tidak bisa digunakan. Meminta tolong orang? Malu dan takut dicurigai.

Hampir 8 jam, Devi hanya mondar-mandir di sekitar tempat informasi itu. Karena CCTV di Stasiun selalu aktif, Devi pun terpantau dan dicurigai oleh polisi.

Waktu menunjukkan pukul 22.30 saat dua orang polisi mendatangi Devi. Saat menceritakannya padaku, Devi tertawa sambil berkata, “Mungkin mereka mikir gue ada rencana jahat kali, ya. Udah pakai jilbab, berjam-jam mondar-mandir di satu tempat dan megangin hp. Jangan-jangan mereka mikir gue komplotan teroris, makanya mereka nyamperin gue.”

Devi pun menceritakan kesulitannya dengan bahasa Jerman yang terbata-bata. Untungnya polisi yang baik itu segera mengerti. Dengan sigap, salah seorang dari mereka menenangkan Devi, dan satu orang lainnya menelepon petugas yang akan berada di kereta menuju Berlin.

Kereta regional yang dinaiki Devi itu adalah kereta terakhir menuju ke Berlin hari itu. Jika pertolongan polisi tidak datang tepat waktu, kemungkinan Devi harus menginap di stasiun malam itu.

Saat di dalam kereta, petugas pun menemui Devi yang tak memiliki karcis. Dengan berdebar, Devi menjelaskan bahwa seorang polisi sudah menelepon petugas di kereta tersebut. Petugas itu meminta kartu identitas Devi dan mencocokkan bahwa orang yang dimaksud polisi tersebut memang Devi yang membutuhkan pertolongan. Huufft, akhirnya Devi pun sampai di Berlin tengah malam. Dingin, lapar dan lelah.

Kami sangat salut terhadap kesigapan polisi Jerman yang benar-benar membantu orang yang kesusahan.

 

*

Di Jerman, kita boleh mengalami kejadian seperti Devi maksimal 3 kali saja. Tentu saja kita tidak boleh berpura-pura karena satu kali kita dibantu seperti itu, nama kita sudah tercatat satu kali di pusat DB Bahn, sehingga kita tidak bisa terus-terusan minta gratisan. :).

Semoga kisah Devi kali ini sedikit memberi inspirasi dan pengetahuan tentang Jerman. Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *