Bafög adalah singkatan dari BundesAusbildungrderungsGesetz, yakni bantuan kepada pelajar yang ingin melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah atau pelatihan kerja (ausbildung), namun terkendala dana, dengan kata lain pedapatan orang tuanya dirasa tidak mencukupi untuk membiayainya kuliah.

Bantuan ini bukan beasiswa yang diberikan seluruhnya secara cuma-cuma, melainkan berupa pinjaman yang harus dikembalikan ketika sang penerima sudah lulus dan bekerja. Pinjaman yang diberikan pun terbilang pas pasan untuk kantong pelajar dan mahasiswa, oleh karenanya penerima Bafög juga diperbolehkan bekerja sambilan sembari kuliah. Saat sudah mampu mengembalikan, pinjaman tersebut dikembalikan hanya separuh dari total pinjaman. Jadi misalnya per bulan kita dapat pinjaman 600 euro/bulan selama 4 tahun, saat sudah bekerja kita mengembalikan sebesar 300 euro/ perbulan sampai pinjamannya lunas. Besarnya bantuan ini tergantung banyak faktor. Contohnya jumlah saudara, penghasilan orang tua, dsb.

Penerima Bafög ini ternyata bukan hanya orang Jerman. Seorang teman Indonesia yang satu kelas denganku buktinya juga bisa menerima pinjaman dari pemerintah Jerman ini. Nah, pertanyaannya, bagaimana bisa?

Siapa saja yang berhak menerima Bafög?

* Mahasiswa atau Azubi fulltime yang masih menggantungkan hidup dari gaji orang tuanya, sedangkan orang tua tidak punya cukup pendapatan untuk membiayai kuliah anaknya. Pelajar mulai kelas sepuluh juga bisa mendapatkan pinjaman ini dengan berbagai persyaratan, contohnya: mereka yang terpaksa tinggal jauh dari ortu, dan untuk kasus seperti ini, penerima Bafög tak perlu mengembalikan pinjamannya. Atau kalau dia dapat Bafög lagi setelah lulus Gymnasium (SMA), lalu melanjutkan ke Universitas selama 4 tahun, pinjaman separuh yang dikembalikan hanyalah pinjaman saat dia masuk Universitas, bukan sejak dia kelas sepuluh (Sumber: Bafög-rechner). Untuk persayaratan lebih lanjut, baca persyaratan Bafög untuk pelajar (dalam bahasa Jerman)

* Orang Jerman yang saat menempuh pendidikan, tidak tinggal dan tidak tergantung kepada orang tuanya, terlebih kalau dia punya tanggungan anak atau istri.

* Azubi (pelaku ausbildung) yang tidak dibayar oleh pihak perusahaan. Untuk lebih lengkapnya tentang ausbildung, baca: Apa itu Ausbildung di Jerman?

* Bukan Orang Jerman dengan syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku (aku jelaskan di bawah)

* Maksimal umur penerima Bafög adalah 30 tahun untuk mahasiswa S1 dan Azubi (saat mendaftar kuliah atau Ausbildung, bukan mendaftar Bafög), sedangkan Master (S2) diberi kelonggaran hingga umur 35 saat mendaftar kuliah. Namun, pemberian Bafög juga ada batasnya, kita tidak boleh molor dan harus lulus tepat waktu, dibuktikan dengan nilai dan perkembangan belajar.

Nah, kelima poin diatas merupakan info siapa yang bisa menerima Bafög. Kalian tentunya sudah penasaran bagaimana orang Indonesia atau orang non-Jerman bisa menerima pinjaman ini juga.

Berdasarkan kutipan Das Gesetzt (§ 8 BAföG), Bafög juga diberikan kepada orang asing yang:

a. Sudah lama sekali tinggal di Jerman. Ada yang menyebutkan bahwa peraturan baru, kalau kita sudah tinggal lebih dari 15 bulan di Jerman, kita bisa mengajukan Bafög. Menurut praktisku, pemerintah Jerman tak akan sedermawan itu kepada non-Jerman dalam mengeluarkan Bafög.  Buktinya aku sudah lebih dari 2 tahun tinggal di Jerman saat aku konsultasi kepada salah satu petugas Bafög dan bertanya apakah aku bisa mendapatkan pinjaman tersebut. Mereka menegaskan bahwa aku tidak bisa mendapatkan Bafög karena meski sudah tinggal lama di Jerman, aku hanya kerja sebagai Au pair dan FSJ, di mana keduanya tak harus membayar pajak.  Mungkin kalau kita sudah tinggal lebih dari 15 bulan di Jerman, bekerja fulltime dan telah membayar pajak, menyumbang pembangunan (pajak), kita bisa dipertimbangkan untuk dapat Bafög. Sumber yang lain menyebutkan bahwa minimal 4 tahun tinggal di Jerman untuk bekerja, kita bisa mengajukan Bafög ketika memutuskan untuk kuliah lagi. Kasus terakhir lebih masuk akal karena pekerja punya hak dari pajak yang mereka bayarkan termasuk tunjangan pendidikan.

Dalam kutipan tersebut, dijelaskan pula bahwa sebagai warga negara EU akan lebih mudah menerima Bafög dibanding yang bukan EU. Seperti dalam kasus apapun di Jerman, entah itu dapat Bafög, tunjangan pengangguran, atau pun perpanjangan Visa, semua tergantung keberuntungan dan pegawai pemerintahan yang mengurusi dokumen kita. Contohnya kasus yang sama, aku dan seorang temanku sama-sama mendaftar uang pengangguran selama 2 bulan sebelum memulai kuliah. Temanku dapat tapi aku tidak dapat, karena kita daftar di Agentur der Arbeit yang berbeda. Kasus yang lain, pengurusan perpanjangan Visa. Dengan gaji yang lebih besar, temanku tidak diberi perpanjangan visa karena dia kebetulan tinggal di daerah yang pegawai imigrasinya seret buat keluarin Visa, sedangkan temanku yang lain dengan gaji yang lebih kecil bisa dapat Visa karena dia tinggal di wilayah lain dengan petugas yang lain pula.

b. Pemegang Visa jangka panjang

c. Pemegang Visa seumur hidup

d. Bekerja sebagai wiraswastawan yang berhak mendapatkan tunjangan pribadi berdasarkan undang-undang EU

e. Menikah dengan orang EU. Jika kalian menikah dengan orang EU (misalnya orang Prancis) yang tinggal dan bekerja, maupun sedang mencari pekerjaan di Jerman, kalian berhak mendapatkan hak dari sang istri atau suami untuk mendapatkan Bafög tersebut.

Baca juga: 8 Keuntungan Yang diberikan Pemerintah Jerman kepada pasangan yang menikah

f. Menikah dengan orang Jerman. Nah, teman Indonesia aku tersebut menikah dengan orang Jerman. Istrinya kebetulan sudah pernah bekerja freelance ditambah mereka punya anak. Jika pasangan punya anak, artinya ada tanggungan lebih yang harus dibayar, jadi kesempatan mendapat Bafög jauh lebih besar. Terlebih jika pasangan orang Jerman tersebut berpenghasilan rendah.

g. Salah satu orang tua merupakan warga EU. Jika ayah atau ibu merupakan warga negara EU yang sedang atau mencari kerja di Jerman, kita bisa dapat hak untuk mengajukan Bafög. Logikanya, orang tua kita meski bukan orang Jerman, tapi warga EU yang akan bekerja di Jerman dan tinggal untuk waktu yang lama karena anaknya menempuh pendidikan di Jerman, jadi mereka toh akan membayar pajak, dan sumbangsih inilah yang nantinya akan menjadi hak kalian untuk mendpat Bafög juga. Adil bukan?. Satu syarat lagi, kita harus tahu bahwa orang tua kita salah satu warga EU sebelum umur 21. Tidak bisa kita dapat Bafög kalau kasusnya kita tidak tahu bahwa kita punya ortu warga EU sebelum umur 21. Dan di umur 21, kita baru tahu (misalnya kita diadopsi orang Amerika atau orang Indonesia dulunya, dan baru tahu kalau ayah/ibu kita ternyata orang EU di umur 21).

h. Anak dari orang tua yang tinggal dan bekerja di Jerman selama 3 tahun dalam 6 tahun terakhir.

i. Pelajar yang sebelumnya bekerja di Jerman, dan lalu memutuskan untuk melanjutkan sekolah atau Ausbildung untuk memperbaiki skillnya. Tentunya jurusan yang diambil harus sesuai dengan pekerjaannya tersebut.

*

Sudah tahu apakah kalian berhak mendapatkan Bafög atau tidak? Agar tidak penasaran, aku cantumkan sumber yang bisa kalian baca sendiri (dalam bahasa Jerman), termasuk cara menghitung Bafög yang bisa kalian klik dari link di bawah ini:

Bafög-Rechner

Menghitung Bafög (Bafög-rechner)

My Stipendium: Bafög für Ausländer

*

Semoga artikel ini bermanfaat buat kalian yang sedang bingung dan mencari tahu tentang Bafög, yang sedang tidak dalam pencarian, paling tidak bisa menambah pengetahuan tentang Jerman.

Baca juga: 7 Hal Seputar Pajak di Jerman

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

Comments

  1. Apa kabar neng indra ? Masih semangatkan ngeblognya? Kapan pulang ke indo saya pengen ketemu langsung sama neng indra,

    Saya belum tahu banyak tentang Bafog, saya nyimak aja penjelasan di atas soal Bafog

    1. Hallo Mang Trikpos, saya bisa memaklumi, saya sendiri jarang sekali bw akhir-akhir ini semenjak pindah blog ke wp…

  2. waw….sebuah kesempatan serta peluang untuk terus melanjutkan studi meskipun udah mepet soal biaya bisa dibantu melalui Bafög, sungguh sebuah kebijakan yang patut dicontoh oleh dunia pendidikan kita…meskipun kita berhutang, kalau bisa lulus dan baru bayar mah mau dong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *