Pertanyaan apa ini? :D. Tentu saja rasanya sama saja dengan punya pasangan orang Indonesia atau orang Negro, orang Cina atau orang manapun. Yang bikin beda kan perasaan dan selera masing-masing.

Sebelum Menikah Dengan Orang Bule

Sungguh aku tidak pernah punya pikiran bakal bersuami orang Jerman. PERTAMA, waktu aku kecil, aku benciiiiiii sekali sama bule dengan satu alasan: Bapakku meninggalkan ibu karena tergila-gila mencari wanita bule di Bali. Dalam hati aku bersumpah aku akan membenci bule seumur hidup (lebay juga sih, waktu itu :D). Tapi kalian pasti bisa merasakan bagaimana seorang gadis kecil yang melihat perjuangan ibunya membesarkannya dan adiknya seorang diri, sedangkan sang bapak punya pacar orang bule.

Sampai umurku 25, aku tak pernah punya pikiran akan mencari orang bule. Aku sempat punya pacar orang Indonesia, teman sekelas saat SMA, lalu saat kerja di Gresik, kemudian mantan tunangan yang meninggalkanku saat itu. Artinya, aku memang mencari pasangan orang Indonesia. Sampai akhirnya memang nasib merubahku. Tunangan meninggalkanku dan menghancurkan segala mimpi yang kita bangun bersama menjadi kepingan debu. Dua tahun setelahnya pun, aku masih tak punya keinginan untuk mencari orang bule. Aku single selama 2 tahun dan memang sedih. Setidak laku kah itu aku buat orang Indonesia setelah dicampakkan tunangan? Saat itu, bapak masih punya pacar orang Prancis dan sejak umurku 18 tahun, aku mulai bisa menerima bahwa memang kehidupan bapak dan bule tak bisa dipisahkan, dan lagi pula pacarnya itu sangat baik dan sering membantuku.

Suatu hari, akan ada satu titik dimana kehidupan itu akan berubah. Seperti titik yang terjadi pada ibuku yang dihamili bapak saat umur beliau 16 tahun, kehidupan beliau yang semula baik baik saja menjadi terguncang, kejadian demi kejadian menyakitkan terjadi, hingga ibu menemukan bapak tiriku di umur 28 tahun yang juga mengubah hidup kami jadi sedikit lebih baik. Nah, titik perubahanku saat itu adalah ketika tunanganku meninggalkanku. Aku tak pernah mendapat guncangan hidup sehebat saat ditinggal pergi tunangan seperti saat itu. Memang sebelumnya pernah diselingkuhin pacar dan sempat gonta-ganti pacar sebelum bertemu dengannya, tapi yang namanya tunangan itu, pastinya lebih serius, kalau ditinggal, sakitnya pun terasa lebih pedih.

Aku masih ingat betul, saat-saat aku terbangun di malam hari dan menangis, lalu paginya datang berjongkok kepada ibu untuk meminta maaf, barangkali aku sebagai anak sudah sangat menyusahkan sehingga dikutuk dengan kepedihan hati. Ibuku juga sering menangis untukku. Ibu sering berkata, “Lebih baik dia menyakitiku dari pada aku melihat anakku disakiti seperti ini.” Kami sering menangis bersama dan menghibur diri lagi bersama.

Sungguh 2 tahun itu merupakan tahun-tahun dimana titik kehidupanku berubah. Bayangkan, tadinya aku berpikir, “Ah, sebentar lagi aku akan menikah di umur 24. Perfect banget, nggak ketuaan, juga nggak terlalu bocah.” Eh pas ditinggal di umurku yang hampir 24 itu, aku jadi berpikir lagi, “Bagaimana kalau umurku sudah lewat 25 dan aku belum laku-laku? Bagaimana kalau titel perawan tua itu menghinggapiku? Ahhh…”

Salah satu sahabat baikku yang sering kuceritakan, Agus, pernah mengatakan padaku, yang juga disetujui ibu, “Menikah itu bukan masalah umur. Janganlah takut menikah di umur tua. Banyak orang menikah muda, lalu bercerai setelah merasa tidak cocok. Jangan menikah karena terlalu bernafsu untuk menikah, atau terlalu menjaga citra diri di dalam masyarakat, menikahlah karena cinta, menikahlah karena Tuhan yang sudah mempertemukan jodohmu. Maka kamu akan bahagia.”

Sejak saat itu, aku tak pernah risau akan umurku dan status single yang menyandangku selama lebih dari 2 tahun. Hingga akhirnya, aku bisa berangkat ke Jerman. Baca kisah selengkapnya tentang liku-liku perjalananku sebelum ke Jerman: Semua Berawal Dari Patah Hati

Suami Bule, Mengapa?

Baca juga: Berpacaran dan Menikah dengan Orang Jerman

Tentunya ada orang yang memiliki tipe pasangan idealnya sendiri-sendiri ya. Contohnya, ada orang yang suka pasangannya kurus, gemuk, berambut lurus, orang bule, orang cina, dsb. Tapi percayalah, aku tak punya tipe apapun dalam memilih pasangan. Bahkan seumur hidup, aku tak pernah sekalipun nge fans sama artis. Kalau pun aku suka pemusik, aku pasti suka lagunya, bukan penyanyinya. Sampai saat SMP, aku sering sekali berpura-pura menyukai salah seorang personil F4 (aku lupa siapa), agar aku tidak dianggap kuper, padahal aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang artis itu, aku hanya ingin mengimbangi teman-teman yang gencar mengumpulkan binder, koleksi apapun tentang artis kegemarannya.

Begitupun dengan bule. Aku mencintai suamiku karena aku mencintainya, dan bagiku tak ada alasan untuk mencintai seseorang. Aku tak bermaksud memperbaiki keturunan, memperbaiki nasib, taraf hidup, untuk tinggal di Eropa, atau untuk hal-hal lain. Sebelum bertemu dengannya, seperti yang aku ceritakan, aku juga pernah suka pada orang Indonesia, dan juga beberapa orang bule lainnya.

Bule adalah manusia biasa, dia bisa lucu, bisa nyebelin, aku pernah disukai sama orang Jerman yang tolol dan nggak nyambung sama sekali, saat di Jerman pun, aku sering berpikir untuk menikah dengan orang Indonesia, orangAfrika, orang Jepang, atau orang mana pun yang penting mencintaiku dan aku mencintainya. Untukku chemistry dan keterikatan rasa itulah yang terpenting, bukan asal usulnya, bukan bagaimana rupa wajahnya, atau background keluarganya. Aku memikirkan bibit bobot bebet seperti yang diajarkan tradisi Jawa, namun, apalah arti semua itu kalau sang suami ternyata tak setia?

Satu cerita singkat saja dari seorang teman yang menikah dengan seorang pria keturunan Palestina. Mereka berdua bertemu di Jerman dan akhirnya menikah sampai punya anak satu. Nggak taunya, setelah anak mereka lahir, diketahui bahwa sang pria ternyata sudah beristri dan punya beberapa anak sebelum dia ke Jerman dan menikahi istri dari Indonesianya itu. Akhirnya, orang tua sang wanita marah besar dan menyuruh anaknya pulang dan bercerai dari suaminya. Itu kan parah banget.

Ada juga beberapa kejadian serupa yang terjadi dengan orang Bule. Bahkan aku bertemu dengannya di Bali. Salah satu pria asal Swiss punya pacar orang Bali, sedangkan di Swiss, dia punya istri, dia ceritakan itu dengan lantangnya kepadaku di depan pacarnya pula.

Tentu saja, di semua negara, di semua etnik dan tradisi ada orang baik ada pula orang jahat. Kita tidak boleh bilang, orang Indonesia itu cenderung seperti ini seperti itu, sedangkan orang bule itu seperti ini seperti itu. Karena sifat orang dan kebajikan hati itu tak tergantung dari negara asal.

Jadi kesimpulannya, bagaimana rasanya menikah dengan orang Bule? Bahagia, karena aku tahu aku mencintainya dan dia pun demikian adanya.

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Comments

  1. Saya punya suami orang Indonesia, padahal selera saya bule, mbak hehehe…
    pernah sih iseng-iseng pacaran online dengan orang Italia tapi nggak jodoh. Disyukuri apa yang didapatkan sekarang 🙂

    1. Mbak Intan, yang paling penting kan rasa cintanya. Bule kalau hatinya nggak baik dan nggak setia, apa gunanya? Semua orang di dunia terlahir dengan kharakternya sendiri2, entah itu bule atau siapapun, mereka semua terlahir unik. Benar, disyukuri kedamaian dalam kehidupan rumah tangga yang harmonis dan anak-anak yang terlahir dari cinta kalian. Itu yang paling penting 🙂

  2. dear mbak e

    selamat ya sebelumnyaa, semoga kalau sudah menikah, tidak lupa akan masakan indonesia yang lezat itu..

    mbak mau tanya, mana lebih baik, belajar dasar jerman dulu di negara asal sampai tahap awal, lanjut ke jerman untuk BFD sambil memperlancar bahasa, atau langsung daftar kuliah?

    mohon saran nya ya mbak.

    thanks in advance

    1. Hallo Jeffri,
      aku tentu saja tidak bisa memutuskannya untuk kamu, itu kan pilihan besar dalam hidup kamu. Menurut aku sih, paling gampang jadi Au pair atau FSJ( BFD) dulu, tapi integrasi dengan org Jerman langsung juga nggak mudah. Kalau mau paling enak dan kebetulan punya dana, langsung kuliah malah lebih baik.

  3. Lama nggak mampir, eh dirimu udah nikah ya dengan Mamas Bule. Alhamdulillah… Bahagia untuk dirimu, mamas bule, dan juga ibu di negeri ini tentunya, Moga dimudahkan semua langkah kalian di sana ya…

    BTW laku dan tidak laku hanya untuk dagangan, sedangkan dirimu nggak jual diri kan. So stop to say “enggak laku” pada diri sendiri atau orang lain yang belum menikah 😀

  4. aku mgkin orang paling insecure… ya ngerti, itu semua trgantung pribadi masing2… klo orangnya baik dan waras ya baik2 aja…tp ttp jd bkin parno dan curiga.. how long I need to get to know someone before I let him tame this cold heart. Seringnya, fakta paling menyakitkan terkuak setelah menikah.. setelah menikah barulah ketauan udah punya istri, dulu begini..dulu begitu.. masih pacaran yg ditonjolin yg manis2… jd bkin curiga ini itu… ini orang jangan-jangan deketin cma mw seneng2nya aja, jangan2 udah pny istri, jangan2… aaaakkk kebanyakan jangan2… Maaakk…. lama2 jd gila hahahhah but I do that to protect myself because I know how weak I am, because I know it will take a very long time for me to get up after a heart break. Seringnya, aku jutek tiap ada cowok yg deketin.. trmasuk ke 1 cowo yg prnah aku suka… yah dia gmpang mental kyak klereng.. hahahahha

  5. Saya jadi membaca tulisa yang lainnya. Sangat menginspirasi, tentunya bukan tentang mencari pacar atau suami bule karena saya sendiri sudah menikah. Tapi saya terinspirasi dengan bagaimana cara menghadapi bullying hingga patah hati dna mengubahnya menjadi motivasi 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *