Cerita tentang ajaibnya pengalaman hamil muda bisa dibaca dulu: Hanya Hamil 13 Minggu

Aku hanya harus membawanya selama 13 minggu, lalu merelakannya untuk pergi. Setiap menjelang  dan bangun tidur adalah momen yang paling sedih buatku saat ini. Aku tahu di luar sana, banyak kisah kehilangan anak yang lebih menyedihkan, namun siapa yang bisa mengelak kesedihan, sekecil maupun sebesar apapun alasannya.

Kami mulai menyimpan Mutterpass (Buku Ibu Hamil) dan foto-foto USG yang diberikan dokter agar tak menambah luka dan kesedihan. Setelah mengalami gejala-gejala ekstrim di awal kehamilan, kami merasa sangat senang di minggu ke 12 karena memang hormon ajaib itu tiba-tiba saja merubah gejalanya di tubuhku. Semua gejala mual dan muntah hilang. Aku bahkan bisa masak dan bikin tumpeng selama 9 jam di dapur. Makan tanpa henti dan enak sekali rasanya. Rasa mual kadang muncul, tapi sudah tidak muntah, aku mulai enerjik dan bersemangat lagi. Namun itu hanya berlangsung 4 hari.

Di Minggu ke 12 plus 5, kami periksa kehamilan. Sang dokter memutar-mutar alat USG di perutku sembari tersenyum. Aku dan suami berpegangan tangan dan senang sekali melihat buah hati di layar hitam putih besar dihadapan kami yang terhubung dengan layar USG. Beberapa menit memeriksa, sang dokter mulai merasa gelisah. Dia berkata, “Hmm, si baby telungkup mulu dan nggak mau gerak, sehingga aku susah menemukan dan memeriksa kakinya. Yang satu sudah terlihat tulangnya, yang satunya nih ketutup terus.”

Akhirnya aku disuruh melompat-lompat kecil agar si bayi bisa pindah posisi. Tetap nihil. Akhirnya sang dokter memanggil salah satu rekan kerjanya untuk membantu melihat. Kami masih saja tidak merasa aneh, hanya berpikir mungkin si posisi bayinya memang susah untuk dilihat. Lagi pula toh bayinya ada, itu saja sudah membuatku lega. Apa yang bisa diharapkan dari hamil 3 bulan, melihat bayi jalan-jalan sehat di rahim? Nggak kan.

Ketenanganku berubah menjadi ketegangan saat dokter yang lainnya bilang kepada dokterku, “Kamu sudah bilang sesuatu belum?”

Deg. Ada yang tidak beres. Akhirnya kami didudukkan di ruangan lain untuk diberi penjelasan.

Di minggu ke 12, semua organ bayi harusnya sudah terbentuk. Namun bayi kami, hanya satu kakinya saja yang tumbuh, kaki kanannya tak terbentuk. Aku tidak percaya. Aku masih tetap tenang. Lagi pula, itu kan layar buram, bagaimana mungkin bisa lihat bayi yang ukurannya masih sebesar tomat? Bisa aja bulan depan terbentuk.

Aku diam membisu. Sang dokter merujuk kami ke Prenatal Center, tempat USG yang menangani dan melihat lebih detail perkembangan bayi. Dua hari berikutnya adalah appointment yang disediakan untuk kami.

Sesampainya di rumah, kami masih tenang. Aku dan Tobi berpikir, sekalipun bayi kami cacat, hanya punya satu kaki, kami akan menyambutnya dengan suka cita. Di Jerman, aku juga bekerja bersama orang cacat. Memiliki anak cacat fisik maupun mental tak ada masalah buat kami. Bahkan kami menolak untuk melakukan test down syndrom pada bayi ini, karena sekalipun anak kami akan memiliki down syndrom, kami akan tetap menerima dan mencintainya sepenuh hati. Terlebih, ini hanya kehilangan satu kaki. Masih banyak kasus cacat tak punya tangan dan kaki dan bisa hidup bahagia. Selama dua hari kami tak merasa ada perubahan yang berarti, aku masih berbicara sama bayi ini dan senang bisa hamil, terlebih gejala mual muntah sudah hilang.

Dua hari kemudian, kami datang ke Prenatal Center untuk pengecekan ulang. Dokter yang menanganiku tersebut membenarkan pernyataan ginekologi-ku bahwa bayiku hanya punya satu kaki. Aku dan suami yang sudah tahu sedikit tenang. Namun, beberapa detik kemudian, kami harus menahan tangis karena sang dokter menambahkan hasil pemeriksaan lain.

Tak hanya satu kaki yang tumbuh, kaki kiri yang harusnya bisa ditekuk dan bergerak-gerak hanya lurus dan telapaknya bengkok. Jantungnya bergeser jauh ke kiri dan difragma yang harusnya sudah terbentuk, tidak ada alias tidak bertumbuh, sehingga isi organ yang di kemudian hari akan bertumbuh menjadi isi perut naik ke atas. Detak jantungnya pun tidak normal karena pertumbuhan jantungnya buruk, mereka belum bisa memeriksa perkembangan otak, karena otak yang sudah terbentuk akan menyesuaikan fungsi kembangnya di minggu-minggu ke depan. Yang mereka temukan adalah organ tubuh cacat, sakit, dan jantungnya juga cacat.

Kami bertanya mungkinkah organ tersebut membaik atau bergeser di bulan-bulan yang akan datang?. Sang dokter memastikan tidak bisa, karena di minggu ke 12 semua organ sudah terbentuk sempurna dan akan berkembang dan terus berkembang di bulan-bulan mendatang. Jika di minggu ini organnya cacat, selanjutnya entah akan memburuk atau bahkan meninggal.

Di ruang tunggu itu, baru pertama kali aku melihat suamiku menangis. Aku heran, aku belum begitu merasa sedih, karena aku terus berpikir, “Heloooo, aku melihat anakku di layar buram itu. Terlihat sama dan sempurna seperti gambar USG yang lainnya. Dari mana mereka berkesimpulan kakinya bengkok lah, perutnya ini lah itu lah. Nggak waras!”. Namun, melihat suami menangis, rasanya sedih sekali. Suamiku biasanya yang menenangkan dan selalu optimis menghadapi aku yang over sensitiv dan sering menangis. Aku jadi tercenung menatap ubin kayu di ruang tunggu itu dan perlahan-lahan air mataku menitik.

Sekitar 15 menit kemudian, kami berbicara dengan ahli genetik yang akan meneliti kromosom kami. Di sana kami dijelaskan bahwa aku akan dibiopsi, yakni diambil cairan dari plasenta yang akan diteliti kromosomnya. Mengapa bayinya cacat, apakah kromosomnya tidak terbentuk sesuai jumlah normal, apakah ada kromosom yang patah, dsb. Selain itu, sampel darah juga diambil untuk memastikan apakah tumbuhnya bayi ini dikarenakan faktor lain selain kromosom? Misalnya makanan, faktor keturunan, dsb.

Sekitar 30 menit, kami ditanya latar belakang dan riwayat kesehatan kami berdua. Apakah ada salah satu anggota keluarga yang cacat fisik ataupun mental, apakah ada yang sakit parah, keguguran, dsb. Dari keluargaku dan keluarga suamiku tak ada riwayat anak terlahir cacat, atau sakit parah. Semua keponakan sehat. Bahkan aku yang dulu sempat dipijat, dicoba untuk digugurkan dengan minum obat dan alkohol tetap selamat dan sehat sampai lahir bahkan sampai sekarang.

Setelah dijelaskan tentang kromosom, tanya ini itu, aku harus dibaringkan untuk melakukan sonogram yang mendeteksi kontraksi pada kandungan selama kurang lebih 15 menit, kemudian berpindah ruangan untuk melakukan biopsi. Di sana, aku disuntik di bagian perut dan diambil cairan dari dalam plasenta untuk diteliti. Setelah itu ambil darah dan harus menunggu lagi.

Kurang lebih 30 menit menunggu, dokter pun berbicara kembali kepada kami, bertanya bagaimana keadaan kami. Tentu saja kami sedih. Kemudian beliau menyarankan untuk melakukan terapi psikis, yakni berbicara kepada konsultan atau lebih tepatnya psikiater untuk mendapatkan pandangan tentang bagaimana menangani perasaan ini, juga gambaran tentang kemungkinan mempunyai anak cacat, dsb.

Dokter tidak menyarankan apapun selain memberikan gambaran dan informasi yang dia dapatkan. Namun,  di akhir pembicaraan, aku merasa aku seperti akan kehilangan. Saat beliau berkata, “Ini sudah hampir minggu ke 13, jika anda memutuskan untuk menggugurkannya, anda hanya punya waktu 2 hari untuk berpikir yakni sabtu dan minggu besok. Karena senin, anda harus bertemu dengan dokter kandungan kembali dan sudah memasuki minggu ke 14 yang artinya, sudah dilarang bagi dokter untuk menggugurkan bayi tersebut (sesuai hukum). Jika bayi anda tidak bertahan setelah minggu ke 14, akan membahayakan anda karena dia meninggal di dalam, dokter tidak akan melakukan oprasi, tapi anda harus menjalankan prosedur seperti melahirkan normal dengan bantuan obat. Seperti proses kelahiran normal, sakit, beresiko tinggi, dan bayinya meninggal.”

Aku mendadak mual, muntah, stress dan tak nafsu makan lagi sepulang dari Prenatal Center, hanya sedih, menangis, dan berpelukan dengan suami saja. Suami juga bercerita kepada orang tuanya di telepon sambil sesenggukan yang membuatku semakin tak berhenti menangis.

Kami harus dihadapkan fakta bahwa anak kami tak hanya akan cacat namun akan sakit keras yang jika dia bisa bertahan hidup, satu hal pertama yang harus dia lakukan adalah oprasi jantung dan implantasi organ lainnya. Sanggupkah kami melihat seseorang yang kami cintai harus selalu sakit, oprasi, yang bisa saja meninggal dan tidak mampu bertahan hanya karena kami terlalu egois menginginkannya ada untuk menjadikan kami sebagai keluarga sempurna dengan kehadiran seorang anak.

Baru saja kami lega dan bahagia gejala hamil muda berakhir, tiba-tiba berita ini membuat kami terguncang dan merubah semuanya. Sedih, hanya sedih. Aku lalu curhat kepada salah seorang adik sahabat yang pernah mengalami hal yang sama dan memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Di kehamilan yang kedua pun, bayinya meninggal sendiri saat usia 4 bulan. Baru di kehamilan ke 3, mereka berhasil mendapatkan buah hati yang cantik.

Aku (lagi-lagi) merasa terhibur dan tak sendiri. Aku baca-baca dan liat video, ribuan orang mengalami hal yang sama, keguguran, menggugurkan kandungannya, gagal berkali-kali, sampai akhirnya punya buah hati.

Akhirnya di hari senin setelah ketemu dokter kandungan, kami memutuskan untuk merelakannya pergi. Mungkin ini yang terbaik untuknya dan untuk keluarga kami. Dua hari kemudian, aku menjalankankan oprasi untuk meluruhkan kandungan ini. Aku tak ingin bercerita banyak dan lebih lanjut karena hanya akan membuatku sedih dan menangis.

Aku dan suami saat ini memutuskan untuk menunggu sampai kami siap lagi. Setelah hampir 14 minggu mengalami haru biru, kami sedikit banyak merenung dan terus berpikir positif tentang hidup. Kami jadi merasa semakin mengasihi, mencintai dan bersyukur diberi cobaan di usia pernikahan kami yang masih sangat baru ini.

Yah, kembali ke paragraf awal cerita sebelumnya. Mungkin memang rencana kami, kesiapan kami, tidak seturut dengan rencanaNya. Tapi biar bagaimanapun, kami percaya renacanNya lah yang paling indah buat kami. Seperti saat ini kalau aku melihat betapa sedihnya diriku 6 tahun lalu saat patah hati, aku berpikir, “OOoooooh ini toh rencanaNya yang tak sesuai dengan rencanaku.”. Pasti suatu saat aku akan menyadari dan kami akan berkata juga, “Ohhhh, ini toh rencanaNya dibalik semua kejadian itu”.

Sampai di sini dulu cerita hamil yang hanya diijinkan 3 bulan saja. Semoga teman-teman semua sehat dan tetap semangat, saling mendoakan dan tetap berjuang meraih mimpi :). Sampai ketemu lagi 🙂

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Comments

  1. Terharu biru membacanya…. jadi ingat saat hamil m3nginjak usia 3 bulan aku pendarahan dan semua nyaris… tapi Tuhan menjadikan semuanya kembali baik.. tetap semangat.. dan ayo bangkit lagi…

  2. Kamu wanita yang luar biasa..selalu mampu melihat sisi positif dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa sedih yg kamu alami.Tapi justru itu yang membuat kamu semakin kuat.Tetaplah menjadi wanita yang luar biasa ya..GBU.

  3. Beberapa waktu yg lalu mas Plent menceritakan kalo kamu sdh hamil, aku bahagia mendengar berita itu. Bayanganku seperti yg kita khayalkan dulu, mempunyai bayi bule yg lucu. Tak di sangka dia pergi duluan. Yaa,, semoga malaikat kecilmu bahagia di sana, dan bisa bermain bersama babymoy q. Tetap semangat, mgkn Tuhan mempersiapkan kado yg lbh indah drpd yg ini.

  4. Saya nangis baca ini, teringat beberapa tahun lalu keponakan saya meninggal di dalam kandungan. Membaca ini membuat perasaan itu hadi lagi. but it’s a life, Allah punya takdir baik untuk hamba-Nya. Keep strong mba, sekarang kakak saya sudah punya anak lagi. Semoga nanti diberikan kesempatan lagi ya. Semoga sehat selalu mba,

  5. Sebelumnya, aku kagum dengan tata cara/sistem (aduh apa kata yang tepat ya) rumah sakit di Jerman. Dari mualai awal kakak diperiksa, sampai terakhir si dokter menyampaikan kakak harus konsultasi ke psikiater.

    Dari cerita kakak, terlihat sangat teratur dan bijak.

    Akupun sering dan banyak banget lihat video seperti Barcroft TV atau Born Different. Yang kudapati bukan sedih2an, malah semangat hidup dan bahagia mereka menjalani hidup.

    Dan tak lupa takjub ku untuk kakak 🙂
    Pengalaman pahit memang kadang–justru–bikin kita makin kuat dikemudian hari. Meski pada saat kejadian itu rasanya ga sanggup lagi, hehe. Dari pengalaman ditinggalin tunangan, mental kakak jadi positif dengan adanya kejadian ini 🙂

    1. Hasilnya tidak ada yang janggal. Jadi, kemarin cuma kurang beruntung saja. Kata dokternya, semua baik2 saja. Makasiy Cori

  6. Mbaak girin yang kuat yaa, rencana Allah pasti lebih indah dari semua yang kita rencanakan. Semogaa Allah senantiasa menguatkan mbak dan keluargaa, sedih bacanya :'( Janji Allah akan mengganti yang hilang dengan kebaikan yang lebih membahagiakan, semangat ya mbak ;’) #pelukjauh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.