Teringat pada satu pertanyaan salah satu anak Au pair saat acara peresmian AFA silam, “Kak, gaji au pair kan sedikit dan kerjanya kan banyak, bagaimana ya cara mengatur waktu dan keuangan saat au kita jadi au pair?” Pertanyaan seperti ini sering muncul dan mungkin masih menjadi pertanyaan bagi banyak calon au pair yang berdatangan ke Jerman. Oleh karena itu, di tulisan ini, aku akan membahas sedikit tips yang aku dapatkan baik dari teman, maupun mempraktekkannya sendiri saat menjadi au pair dulu.

Pertanyaan dari salah satu calon Au Pair yang juga aktif di AFA.

Uang saku Au Pair hanya 260?

Yup, gaji atau istilahnya uang saku au pair di Jerman memang hanya 260 euro per bulan. Tapi siapa sangka gaji itu bisa berkurang dan bertambah. Memang secara resmi, keluarga hanya boleh memberi uang saku kepada au pairnya sebanyak 260 euro saja. Namun, fakta di lapangan?

Sebelum aku berangkat ke Jerman, tentu saja aku sangat naiv dan membayangkan betapa 260 euro itu kalau di rupiahkan bisa lebih besar dari gaji pegawai negeri di Kota Batu (saat itu). Saat sudah di Jerman, aku pun tidak merasa gaji itu terlalu kecil. Pertama, aku bukan orang yang suka shopping, aku makan numpang di rumah host family, kursus Bahasa Jerman yang pertama dibayarkan, setelah itu aku tidak mau kursus lagi, dan tiket kereta dibayarkan 50%. Aku orang yang boros dalam hal makanan, aku banyak menghabiskan uangku untuk makan saat akhir pekan. Meskipun demikian, 7 bulan setelah menjalani au pair, aku tetap bisa keliling Eropa  dari gaji au pair yang aku dapatkan.

Begini caranya:

Saat video call dengan host family (saat masih di Indonesia), aku sudah bercerita kepada mereka bahwa cita-citaku adalah keliling Eropa, pergi ke Swedia dan menyaksikan sendiri kota yang aku impi-impikan sejak kecil (kota khayalan Bullerbyn di Swedia). Aku sudah berpesan kepada mereka bahwa aku minta hari liburku satu bulan penuh dijadikan satu dan aku ambil satu bulan di musim panas. Mereka pun setuju.

Saat sudah menjadi au pair, aku banyak curhat ke mereka, bahwa aku ingin sekali keliling Eropa, tapi aku nggak yakin dengan gajiku yang cuma segitu bisa nabung dan cukup untuk keliling Eropa. Tentunya aku curhat sebagai keluarga atau teman yang kesusahan, bukan memojokkan mereka karena memberi gaji yang kecil. Akhirnya host family ku sepakat untuk membantuku.

Di bulan ke tiga. Aku memutuskan untuk tidak mengambil les bahasa Jerman, karena mahal dan aku hanya di support 50 euro per les. Jadi, mereka hanya membelikanku buku untuk belajar sendiri (lagi pula tempat les jauh). Aku belajar bahasa sendiri dan menabungkan uang 50 itu untuk travelling.

Selain itu, gf (gast familie) menawarkanku untuk bekerja sambilan. AU PAIR TIDAK BOLEH NEBENJOB (kerja sambilan). Memang benar. Tapi perlu diingat, Au Pair tidak bekerja di perusahaan yang saklek, kita bekerja bersama satu keluarga (yang kalau cocok bisa jadi teman atau bahkan keluarga kita sendiri), jadi mereka pun punya hati nurani dan kepekaan untuk membantu sesama. Aku neben job di keluarga itu sendiri, putzen (bersih-bersih) dan babysitten (jaga anak) di luar jam kerjaku.

Jadi setiap selasa pagi, saat anak-anak dan ibunya pergi ke playgroup, aku membersihkan rumah selama 2,5 jam. Dan dibayar 25 euro. Kemudian, seminggu 3 kali aku jaga anak mulai dari pagi (karena aku tidak les), yang dibayar 15 euro per hari. Jadi per minggu, aku mendapat tambahan 70 euro. Dengan demikian, satu bulannya gajiku:

Gaji bersih: 260 + gaji tambahan : 280 = 540 euro

Aku hanya mengeluarkan untuk tiket kereta (40 euro untuk tiket bulanan, karena tiketnya iuran ama gf 50%) dan jalan-jalan dengan sesama teman au pair tiap akhir pekan, aku jatah pokoknya perminggu tak boleh lebih dari 20 euro tiap akhir pekan. Jadi, kalau secara matematis, aku masih bisa menabung sedikitnya 350 per bulan.

Saat aku keliling Eropa, aku ingat aku punya uang sekitar 900 euro, yang artinya matematisku salah karena harusnya selama 4 bulan, tabunganku lebih dari itu, aku memang boros. Uang itu tentunya sangat sedikit, tapi aku merencanakan travelling itu jauh-jauh hari sebelumnya (2-3 bulan sebelumnya) dengan couchsurfing, kenalan yang aku punya, cari tiket yang termurah, nebeng mobil (hitchike dari satu kota ke kota lain) dan travelling dengan sahabat, di mana makan kita bagi dua, dsb.

Baca juga: apa itu couchsurfing?

Total keseluruhan yang aku habiskan untuk travelling adalah 325 euro selama 30 hari dari Jerman-Belanda-Belgia-Prancis-Swiss-Ke Jerman lagi lalu ke Swedia. Tentunya selama travelling banyak sekali hal yang dihadapi, mulai dikasih belas kasih oleh bapak ibu yang tak tega kepada kami, dikibuli oleh bapak-bapak cabul, numpang di truk kontainer, ketemu dengan orang yang sangat baik hati, hampir diperkosa, naksir sama gay, dan hal-hal seru lainnya.

Sebagian dari cerita haru biru itu telah aku tuliskan, yang bisa dibaca mulai dari: Berlin dan kenangan yang mengendap di sana

Oke, kembali ke hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatur keuangan kalian saat menjadi au pair. Saat menjadi au pair, gf ku sadar sepenuhnya bahwa aku tak boleh kerja di tempat lain, karena bisa membahayakan keberadaanku di Jerman kalau kerja gelap. Namun, karena aku dan gf sudah seperti teman, kadang dia merasa aku ini seperti anaknya (meskipun aku dan sang ibu seumuran, loh). Aku sering curhat masalahku, dan kebetulan dia juga memikirkannya dan mencari solusi bersama. Jadi, kadang ada temannya atau tetangganya yang butuh babysit saat malam hari (di mana aku sudah selesai bekerja), aku boleh babysit di sana.

Namun, aku sadar sepenuhnya bahwa karakter masing-masing orang Jerman itu tidak sama. Ada gf yang baik, ada juga yang benar-benar saklek. Aku sudah mendengar puluhan cerita dari teman yang memang hidupnya serba pas-pas an saat jadi au pair, karena sebanyak apapun mereka kerja di keluarga tsb, gajinya ya itu itu aja. Semua tak terlepas dari faktor untung dan sial.

Ada beberapa kawan yang luar biasa sekali pengalaman au pairnya, serta mendapat gaji yang lumayan, neben job di keluarga tersebut, apartemen mewah dan terpisah sehingga bisa ngundang banyak teman-teman Indonesianya (termasuk aku :P).

Sebut saja salah satu kawan itu, Nata. Dia dapat gaji bersih 260. Karena tidak tinggal bareng keluarganya, dia dapat 100 euro tambahan untuk uang makan. Bahkan dia dapat tiket kereta GRATIS selama setahun, les dibayarin, sampai-sampai pulsa hp dibeliin tiap bulan, tiket pesawat ke Jerman dibayarin, dan sering dikasih uang tambahan oleh nenek si bocah, kalau kerja di luar jam kerja dikasih tambahan. Kerjanya cuma jam 3 sore sampai jam 7 malam. Kurang enak apa coba :D.

Temanku yang lain, ada yang memang sebelum berangkat ke Jerman nego dulu sama gf bahwa dia ingin kalau kerja di luar jam kerja, dapat gaji 10 euro per jam, dan gf setuju. Tentunya tanya nya dengan baik-baik.

Tentu saja, kita akan sangsi dan takut menyinggung gf kalau kita tanya ini itu padahal kita belum tahu sifat mereka. Kesannya kok kita mata duitan. Beberapa hal ini, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan:

1. Orang Jerman itu suka diskusi, terus terang dan transparan, terlebih dalam hal keuangan dan hak yang menyangkut uang orang lain. Awalnya aku memang takut kalau nagih uang saat mereka lupa. Namun, Nadja (gf ku) selalu bilang, “Indra! kamu harus ingatkan kami kalau kami lupa menghitung jam kerja kamu yang lebih! Itu kan hak kamu sudah membantu kami, dan kewajiban kami untuk memenuhinya!”. Jadi, aku slow aja kalau mau nagih uang.

Baca juga: 5 cara agar host family tertarik padamu!

2. Memang lebih baik semua pertanyaan di-clear-in sebelum berangkat ke Jerman, agar gf selalu ingat maksud, tujuan, harapan dan impian kita. Misalnya, seperti diriku yang selalu menekankan ingin keliling Eropa dan berusaha keras untuk itu. Mungkin mereka malah terkesan karena kegigihan dan semangatku untuk mencapai mimpiku itu, sehingga mereka ingin membantu.

Baca juga:5 Cara Memilih Host Family

3. Aku sudah banyak berbincang dengan mantan au pair. Kebanyakan dari mereka (termasuk aku) pernah mengalami masalah dan hampir ganti keluarga, nangis dan merana. Namun, satu hal yang aku tekankan di sini. Tak ada kehidupan yang sempurna. Sekalipun gf ku sangat baik, mereka toh juga manusia yang terlahir di budaya dan bahasa yang berbeda. Jadi, manusiawi banget kalau mereka kadang menyinggung perasaan kita. Yang harus aku ingatkan di sini kalau kalian mau aman: ANGGAP MEREKA KELUARGA! Aku pernah mendengar salah satu mantan Au Pair cerita, bahwa KALAU KITA MENGANGGAP HOST FAMILY SEBAGAI MAJIKAN, KITA MEMPOSISIKAN DIRI KITA SEBAGIA PEMBANTU. Namun, kalau kita menganggap keluarga tersebut sebagai keluarga, kita akan dengan senang hati membantu mereka, bersih-bersih kalau ada yang kotor, membantu dan ringan tangan meski bukan tugas kita, curhat dan cerita kalau ada masalah, dengan harapan mereka juga mau mengerti. Kadang mereka juga sharing masalah mereka, lalu kita pikirkan solusinya bersama, seperti seorang teman atau keluarga yang berdiskusi. Dari situ, kita jadi tidak merasa asing. Kalau kita mencari keluarga yang baik dan sempurna: TIDAK ADA! Yang harus kita lakukan adalah menyesuaikan diri kita. Kalau kita nganggap mereka keluarga, tapi mereka nganggap kita pembantu, bagaimana? Kembali ke poin pertama: Diskusikan, bicarakan baik-baik, kalau mereka tidak mau, lihat poin di bawah ini:

4. Bukan hanya KAMU YANG BUTUH MEREKA! MEREKA JUGA BUTUH KAMU!! Percaya tak percaya, gf sebenarnya takut kehilangan kamu. Masalahnya, bayangkan untuk mendatangkan kamu ke Jerman, mereka harus meluangkan waktu, tenaga, uang yang tak sedikit dengan menanggung resiko yang tak ternilai dengan uang: ANAK MEREKA. Kalau mereka ingin ganti au pair, artinya mereka harus mulai dari nol lagi, mencari, berkenalan, membuat kontrak, mengundang, membantu ini itu, dsb. Kan mendingan menyelesaikan urusan dengan au pair yang lama. Coba saja kalian bilang hal yang paling menggertak, misalnya, “Aku ini sudah menganggap kalian keluarga aku, anak kalian sebagai adik aku, bisa saja aku menganiaya anak kalian seperti kalian memperlakukan aku! Tapi tak aku lakukan, apa yang aku lakukan memang tak bisa dilihat dari materinya, tapi rasa sakit karena kesalahanku yang kalian besar-besarkan ini membuat aku berpikir bahwa aku ini tak lebih dari seorang au pair dan pembantu, bukan bagian dari keluarga ini, dan karenanya, aku ingin mencari keluarga lain yang lebih menghargai keberadaanku di tengah-tengah mereka”. Wow, kalau mereka tak luluh, berarti mereka batu :D. Dulu, gf ku sampai nangis dan meminta maaf padaku. Lalu kami nangis bareng :D. Kalau kalian memang tak dihargai, berarti move on dan pindah ke keluarga lain adalah solusinya, namun jika masih bisa diselesaikan dengan baik-baik, ya sebaiknya diselesaikan.

Baca juga: Video call au pair dan interview di Kedubes Jerman

Nah, semoga artikel ini sedikit membuka pikiran kita tentang bayangan menjadi au pair dan trik-trik membagi waktu serta mengatasi masalah keuangan selama menjadi au pair. Kalau ingin tahu cara aku mengumpulkan uang saat FSJ, baca: Rincian biaya hidup paling murah di Jerman.

Semoga informasi ini bermanfaat. Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Liebe Grüße

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.