“Mas, tinggal di mana?” tanya salah satu ibu-ibu yang dia temui di Wisma KBRI Berlin saat upacara hari Kemerdekaan Agustus beberapa tahun silam.

“Di Schwarzwald, Bu!” jawabnya. Schwarzwald atau Black Forest adalah sebuah distrik di Jerman Selatan yang letaknya cukup jauh dari Berlin.

“Wah cukup jauh juga, ya!. Di Jerman ngapain, Mas?”

“Au Pair, Bu!”

“Oh, ‘CUMA’ Au Pair?”

“Ya, C-U-M-A Au Pair!”

*

Namanya Windi Martanto. Salah satu mantan Au Pair yang saat aku menuliskan ini sedang menempuh Ausbildung di Teknik Industri di sebuah perusahaan tak jauh dari Kota tempat dia tinggal saat menjalani au pair dulu, di Schwarzwald. Aku tak mengenal Windi sangat akrab namun sering menonton Channel Youtube-nya yang niche-nya juga tentang Jerman dan seluk beluknya. Kami sempat ngobrol panjang lebar saat dia ingin bertanya tentang cara menambahkan subtitle pada Video youtube-nya.

Aku tak tahu mengapa aku ingin sekali langsung menulis kisahnya 5 menit setelah aku menutup telpon dengannya. Ya, 5 menit yang lalu dia menceritakan kisahnya padaku. Kisah yang membuat hatiku trenyuh dan berpikir, “Wow….kisahku, pencapaianku, bukanlah apa-apa kalau dibandingkan dengan dia.” Aku merasa tergugah dan mendorongnya supaya dia menuliskan kisahnya secara lengkap suatu hari nanti. Namun, sebelum ingatan di kepalaku tentangnya menguap, aku ingin sedikit menuliskan kisah Windi yang sangat menginspirasiku. Semoga kisah ini menginspirasi kalian juga.

*

“Ya, cuma Au Pair saja, Rin! Kita di Jerman yang memulai perjuangan dari au pair selalu dibilang ‘CUMA’!” kata Windi di telepon.

“Aku tahu, Win! Aku sempat ketemu teman-teman au pair yang lain yang menceritakan kisahnya padaku bahwa mereka harus selalu berpura-pura untuk menjadi anak kuliah atau mahasiswa atau studkol supaya lawan bicaranya yang sama-sama dari Indonesia tidak memandang mereka sebelah mata!”

Aku sendiri pun sudah capek menjelaskan kepada bapak-bapak perwakilan Indonesia yang kadang aku temui saat rapat AFA, bahwa au pair itu sama sekali beda dengan domestic workers, beda dengan ‘babu’. Ada yang akhirnya mengerti, ada yang pura-pura mengerti, banyak yang nggak peduli juga, yang jelas, au pair ya ‘CUMA’ au pair. Bukan seorang yang sangat brilliant sehingga mampu meraih beasiswa untuk ke Jerman, bukan seorang yang kaya raya yang mampu menghidupi kebutuhannya di Jerman, namun seorang yang ‘CUMA’ mencari keberuntungan dalam meraih apa yang mereka impikan. Ya, ‘CUMA’ au pair yang kalau beruntung ya bisa lanjut tinggal, mungkin dapet jodoh orang Jerman lalu menetap di Jerman, kalau nggak ya lanjut FSJ dan akhirnya ausbildung di jurusan-jurusan yang nggak diminati orang Jerman atau warga EU.

Namun, di titik kelelahan itu, aku berpikir ulang, ‘Buat apa capek-capek meyakinkan orang lain! It’s not about them! It’s about us!’ Biarkan saja mereka berpikir apa, memandang kita sebelah mata, ngapain kita berusaha merubah pikiran orang lain. Menjadi babu juga sama mulianya dengan menjadi presiden, sama-sama melayani orang, bedanya jumlah yang dilayani saja, tapi sama-sama pelayan juga. Tak ada yang salah dengan pekerjaan apapun, yang salah adalah cara pandang manusia itu sendiri.  Kita bahagia dan sukses dengan cara kita sendiri. Pembuktian itu bukan untuk mereka, tapi untuk mimpi kita masing-masing. Biarlah mereka masih menganggap kita ‘CUMA’ au pair, kita sendiri yang tau bahwa menjadi seorang au pair itu adalah prestasi luar biasa yang nggak semua orang bisa mencapainya.  Pemuda yang berani mengambil langkah menjadi seorang au pair berarti berani mengambil resiko membaur dengan budaya orang asing, bekerja keras memahami bahasa serta budaya keluarga tersebut. Ketika mahasiswa yang datang ke Jerman (boleh) atau (bisa) memilih apakah mereka ingin tinggal dan berinteraksi dengan sesama orang Indonesia atau orang Jerman, au pair tidak punya pilihan lain selain bersama orang Jerman, sehingga integrasi budaya mereka jauh lebih dalam. Ketika mahasiswa yang mampu membiayai akomodasi dan makan makanan Indonesia yang selalu kita rindukan sewaktu-waktu, au pair tak ada pilihan lain selain harus sering-sering makan makanan khas Jerman yang terkadang tak cocok di lidah. Ketika mahasiswa penerima beasiswa itu masuk Universitas andalan karena kepintaran atau kekayaan, au pair, sekalipun Universitas itu tak mempunyai nama, namun proses itu merupakan pembelajaran di Universitas kehidupan yang membuat kita belajar, merenung, menangis, bertumbuh dan yang paling penting memperbaiki kualitas diri. Coba tanyakan mahasiswa Indonesia yang langsung datang ke Jerman bagaimana mendidik anak ala orang Jerman dan apa yang bisa kita petik dari didikan orang tua dan interaksi keluarga di negara yang terkenal dengan teknologinya ini? Hanya au pair yang bisa menjawabnya, hanya mantan au pair yang pada akhirnya punya anak bisa mengaplikasikan didikan orang tua Jerman kepada anak-anak mereka. Memang kelihatannya ini tidak relevan dengan perkembangan negara, namun, bukankah anak-anak kita adalah masa depan bangsa? Dan jika kita mau menelaah apa yang telah au pair pelajari dari Universitas kehidupan dengan menjadi au pair itu sendiri jauh, jauh, jauh lebih berharga ketimbang sebuah ijazah lulusan Harvard sekalipun.

Kembali ke cerita Windi. Meskipun sering juga dianggap remeh, namun kisahnya membuktikan bahwa seberat apapun cara yang kita tempuh dalam mencapai mimpi itu, asalkan kita masih mau berusaha, tak akan ada yang mustahil. Windi adalah salah satu mantan Au Pair yang seperti kebanyakan au pair lainnya, lanjut tinggal di Jerman sebagai FSJ, lalu menjalani Ausbildung.

*

Aku belum pernah menemukan orang Indonesia yang menempuh Ausbildung di bidang Teknik Industri. Salah satu pengurus AFA, mantan au pair juga, melanjutkan kuliah S2 di Teknik Industri. Namun, kuliah tidak sama dengan Ausbildung. Pastinya banyak orang Indonesia lain yang kuliah di bidang Teknik di Jerman, namun, Windi adalah satu-satunya orang Indonesia yang berjuang sampai titik darah penghabisan untuk bisa Ausbildung di bidang ini. Jurusan untuk Ausbildung memang lebih dari 350 sektor, namun dari ratusan sektor tersebut, pemerintah Jerman memilah beberapa jurusan yang bisa diisi oleh Ausländer (orang Asing). Kebanyakan perusahaan memprioritaskan orang Jerman terlebih dahulu, prioritas kedua adalah Warga negara EU, jika dirasa tidak ada orang Jerman atau warga EU yang mau mengisi kekosongan tersebut, barulah orang dari luar Jerman atau EU boleh mengisinya. Itulah sebabnya banyak sekali orang Indonesia atau orang dari negara berkembang bekerja sebagai perawat di RS, di Panti Jompo, Asisten dokter, dsb. Karena Jerman amat sangat kekurangan tenaga di beberapa sektor tersebut dan meskipun ada banyak orang Jerman juga yang mengisinya, namun kekurangan tenaga ahli itu masih belum tercukupi dan akan bertambah setiap tahunnya karena kualitas hidup orang setelah pensiun di Jerman termasuk cukup tinggi. Orang sepuh akan hidup lama sehingga Jerman membutuhkan banyak perawat untuk merawat manula, orang sakit, dsb. Selain itu, ada banyak alasan lain mengapa sektor-sektor tersebut terbuka bagi orang dari negara berkembang yang nggak bisa aku jelaskan satu persatu di sini. Yang paling penting juga adalah alasan birokrasi, kalau aturannya udah seperti itu, pihak Imigrasi akan ngotot mati-matian untuk mempertahankan tegaknya birokrasi tersebut.

Windi adalah saksi hidup dari beratnya perjuangan melawan birokrasi di Jerman tersebut. Background kuliah Teknik Industri yang dia jalani saat Indonesia membuatnya ingin melanjutkan Ausbildung di bidang Teknik pula. Dia telah berusaha keras untuk bisa terbang ke Jerman sebagai Au Pair. Sebagai pria, kesempatan menjadi au pair tentunya tidak semudah wanita, dimana banyak orang yang meragukan apakah pria bisa telaten menjaga anak-anak mereka. Namun Windi mampu mendapatkan kesempatan itu dan memulai hidup di Jerman sebagai Au Pair.

Setelah Au Pair, Windi melanjutkan ke Program FSJ dan bekerja sebagai relawan di sebuah kota kecil di Schwarzwald. Meskipun pikiran tentang Ausbildung di jurusan yang dia impikan sudah ada bahkan sebelum datang ke Jerman, Windi memutuskan untuk melamar ke lebih dari 100 perusahaan di seluruh kota di Jerman beberapa bulan menjelang akhir program FSJ. Dengan keyakinan dan tekat yang kuat bahwa dia nggak mau bekerja di Jerman ‘nyebokin’ orang mulu di panti jompo atau rumah cacat, Windi bersikeras untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, yang telah dia tempuh di Indonesia juga.

“Aku tau kalau untuk masuk jurusan ini bakal susah banget, masalahnya pemerintah hanya menginjinkan orang Jerman atau orang asing yang lahir dan besar di Jerman untuk Ausbildung di bidang ini. Sedangkan lu tau sendiri, gue bukan salah satu dari kedua kategori di atas.” kata Windi.

Dari banyaknya perusahaan yang menerima lamarannya, Windi berhasil diinterview puluhan perusahaan. Artinya, banyak perusahaan yang tertarik dengan riwayat hidup dan pekerjaannya dan dia pun tetap optimis bahwa dari puluhan perusahaan tersebut pasti ada salah satu yang menerimanya.

“Bayangin, gue nglamar ke semua kota di Jerman, di Berlin, Hamburg, München. Semua perusahaan besar, bonafit yang menerima azubi. Tak terkecuali. Yang bikin gue tetap berpikir positif adalah mereka ngundang gue untuk interview, test dan gue masuk sampai ke tahap magang beberapa hari di perusahaan tersebut” lanjutnya.

“Wah, berarti lamaran kamu cukup meyakinkan mereka juga, ya?” komentarku.

Diundangnya Windi ke puluhan perusahaan tersebut nyatanya hanya berbuah sakit hati dan menghancurkan harapannya. Rela mengambil ijin cuti dari kerja FSJ-nya dan mengeluarkan banyak uang untuk mendatangi perusahaan satu persatu sampai berhasil magang beberapa hari di perusahaan tersebut nyatanya tak membuahkan hasil yang dia harapkan. Nihil.

“Gue putus asa. Lu tau kenapa mereka akhirnya nolak gue setelah sampai tahap akhir? Karena mereka nggak mau melawan birokrasi dan nggak mau ribet-ribet memperjuangkan orang asing untuk masuk di perusahaannya! Sialan nggak sih!”

“Aduuh, padahal sebelum ngundang, harusnya mereka tahu donk bahwa kamu orang asing dan akan melalui proses itu?” kataku.

Windi sempat berpikir untuk menyerah. Masa FSJ sudah hampir berakhir dan dia mempertimbangkan kembali pilihannya untuk mengejar harapan bekerja di perusahaan.

“Mungkin gue emang harus kerja di panti jompo aja!” pikiran itu selalu bergelut sampai suatu hari di tengah keputus asaannya, Windi menemukan potongan koran yang berisi rubrik lowongan ausbildung.

“Gue udah males, Rin mau nglamar-nglamar. Toh gue tau bahwa pada akhirnya mereka juga akan menolak dengan alasan birokrasi. Hal yang nggak bisa aku rubah. Mau gimana lagi,”

Selma Lagerhof mengatakan: “Kurz bevor die Sonne aufgeht, ist die Nacht am dunkelsten”

Artinya: Saat-saat sebelum matahari terbit, adalah saat-saat malam yang paling gelap.

Kisah Windi adalah kisah yang paling tepat untuk menggambarkan peribahasa itu. Bahwa saat kita merasa sedih banget, putus asa, dunia gelap banget, itu artinya saat-saat puncak di mana titik terang dan bahagia akan segera muncul.

Di tengah kekalutan dan keputus asaan yang melanda, Windi tetap menggunting potongan iklan lowongan kerja itu dan meskipun dengan setengah hati melangkah, dia tetap melamar ke perusahaan tersebut.

“Saat itu gue mikir, ya udah lah ya. Kalau ketrima syukur, kalau nggak ya udah biasa, toh udah ditolak berkali-kali juga. Udah kebal”

Lowongan kerja terakhir yang bahkan ditemukannya secara tidak sengaja tanpa mencari-cari, rupanya titik terang, mentari yang ditunggu-tunggu Windi. Bos perusahaan tersebut memperjuangkan Windi mati-matian. Mulai dari interview sampai pengurusan perijinan Visa, semua dibantu.

Selama delapan minggu setelah perusahaan itu menginginkannya untuk menempuh Ausbildung, Windi harus melalui kepahitan-kepahitan yang sudah dia bayangkan sebelumnya: Berkutat dengan birokrasi. Pihak Imigrasi dan Dinas Tenaga Kerja menolak karena jurusan tersebut dinilai bukan untuk orang dari negara berkembang. Bos perusahaan itu sampai harus bertengkar dan ngotot dia hanya ingin Windi yang kerja di sana. Apa yang terjadi?

Bosnya dikasih list oleh DEPNAKER (Arbeitsamt) daftar orang-orang Jerman yang masih membutuhkan lowongan ausbildung ini dan meminta pimpinan perusahaan itu untuk memanggil orang-orang Jerman itu terlebih dahulu sebelum dia memutuskan untuk memperkerjakan Windi.

Pemuda Jerman yang butuh Ausbildung pun dipanggil, di tes, di suruh magang beberapa hari sama seperti yang Windi lakukan. Namun, Sang Bos menilai bahwa ketertarikan mereka di bidang yang akan mereka jalani tak sebesar Windi. Beliau takut bahwa nantinya mereka akan menyerah dan pindah jurusan. Karena ketertarikan akan bidang yang akan kita jalani dalam menempuh Ausbildung ini juga sangat penting, bukan sekadar coba-coba saja, kalau sudah nggak cocok pindah jurusan. Bos perusahaan itu pun tidak ingin menerima beberapa pemuda Jerman yang disarankan Depnaker dan masih bersikeras mempertahankan Windi untuk masuk ke perusahaannya.

Delapan minggu menanti, Windi tak mau lagi berharap. Telepon genggamnya berdering sepanjang hari tapi dia enggan mengangkatnya. Rasanya sungguh tak adil untuk dijalani, hanya karena kita dari negara berkembang? Kualifikasi tak dinilai lagi? Windi semakin terpuruk.

Sekitar pukul 9 malam, hp Windi masih terus berbunyi dan akhirnya dia ingin mengangkatnya, hanya karena dia tidak mau telepon itu berdering terus selama dia tidur nanti.

“Ternyata itu dari bosku, Rin! Aku dapat kontrak dari IHK! Aku diijinkan oleh DEPNAKER! Ya Tuhan, rasanya malam itu perasaanku campur aduk. Perjuanganku untuk masuk ke perusahaan itu membuahkan hasil. Kamu nggak bisa bayangin betapa senangnya aku saat itu!”

Hatiku pun ikut meledak, trenyuh, haru dan senang bercampur jadi satu. Aku belum pernah mengobrol dengan Windi sebelumnya tapi kali pertama saja dia sudah memberi inspirasi yang luar biasa buatku. Aku salut, sangat salut.

“Ini udah tahun terakhir Ausbildungku dan aku udah ditawari untuk lanjut kerja di perusahaan itu, Rin. ”

“Kamu mau?”

“Belum tahu, sih. Aku sebenarnya ingin bekerja di perusahaan yang lebih besar dengan gaji yang lebih besar pula. Tapi jika aku ingat bosku dan perjuangannya untuk mempertahankan aku saat itu, selalu membuatku berat untuk melangkah. Bayangkan ya, saat kontrak itu jadi, bosku telpon aku untuk tanda tangan kontrak kerja itu. Namun karena aku udah keseringan cuti kerja aku bilang aku nggak bisa ngambil libur. Sedangkan tempat FSJ ku dulu tuh jauh banget dari perusahaan, sekitar 2 jam lah kalau naik mobil, aku nggak bisa ke sana. Eh, tau nggak Bosku malah tanya alamat FSJ ku di mana. Beliau nganterin kontrak kerjaku itu cuma untuk aku tanda tangani, menempuh perjalanan 2 jam cuma untuk tanda tanganku doank lalu balik.”

“Kenapa nggak pakai pos saja coba?” tanyaku.

“Ya itu dia. Mungkin supaya urusannya lekas selesai hari itu juga. Kan udah delapan minggu kita berdua menunggu kontrak itu. Makanya, dari situ, aku tuh merasa berhutang budi banget.”

*

Kami mengakhiri pembicaraan di telepon karena selain aku harus menyelesaikan tugas (yang akhirnya nggak selesai karena aku lebih memilih menulis kisah Windi :), aku juga sudah tak tahan untuk ke toilet. Hhehhe. Takut hp nyemplung, aku tutup saja percapakan kita dan membiarkan Windi berkutat dengan proyek Youtube dan pilihannya untuk bertahan atau pindah ke perusahaan lain saat lulus nanti. Yang jelas, satu jam kami berbincang, satu gunung inspirasi yang aku dapatkan.

Semoga kalian terinspirasi juga dan jangan menyerah, titik terang saat kita menyusuri lorong kelam kehidupan itu pasti akan datang. Pasti! Percayalah 🙂

Kisah Windo Martanto bisa kalian tonton lebih lanjut dengan

Subscribe Channel Youtube nya: Windi Martanto

Instagramnya: @windi.martanto

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Baca juga: Kuliah di Jerman: Gratis tapi Mahal

Liebe Grüße

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.