Di luar sana, banyak yang membayangkan betapa enaknya kerja dan hidup di luar negeri. Hidup di Eropa adalah mimpi terbesarku sejak kelas 6 SD dan tak kusangka telah lebih dari 5 tahun aku hidup dan bersemayam di dalam mimpi itu.

Lima tahun lalu, tepat di bulan Januari, aku datang dan menghirup dinginnya kota München yang hingga sekarang masih sering terbayang dalam kenangan saat tak sengaja menatap foto yang terpampang di tembok dapur, foto si Kembar yang kuasuh saat aku menjadi au pair dulu. Tak kusangka, 5 tahun telah begitu cepat berlalu.

Lima tahun berada di dunia mimpi ternyata tak seindah yang aku bayangkan. Lama kelamaan, aku merasa Jerman bukanlah alam mimpi lagi, melainkan inilah hidupku yang nyata, yang penuh dengan lika-liku, yang sering menghantamku dengan kekecewaan dan kegagalan. Meski ratusan pesan kuterima setiap harinya dari pemuda Indonesia yang sedang gencar-gencarnya ingin pergi ke Jerman, tak serta merta membuatku bersyukur dan ingin bertahan tinggal di sini.

Aku bertanya pada suamiku (Tobi), apakah mimpi terbesarnya dalam hidup?

Mimpi Tobi adalah bertandang ke Vietnam yang telah dilakukannya 5 tahun yang lalu. Waktu itu, satu bulan menjelang Natal 2013, Tobi berangkat ke Vietnam, tanpa tiket balik ke Jerman. Dia sudah berpamitan kepada orang tuanya bahwa dia akan kembali dalam waktu yang lama. Saat Tobi ke Vietnam, saat itu lah (sebulan kemudian), aku ke Jerman. Namun, aku bertahan di Jerman sampai 2 tahun berikutnya (saat kita bertemu di Hamburg) dan Tobi nyatanya hanya bertahan 3 bulan di Vietnam (April 2014, dia kembali ke Hamburg).

Aku bertanya kepada diriku sendiri mengapa aku tidak merindukan Indonesia namun juga tidak begitu bahagia tinggal di Jerman?

Aku tergerus roda dan ritmus kehidupan orang Jerman yang serba cepat, tepat dan tak pernah berhenti. Setiap harinya, ada saja sesuatu yang harus aku selesaikan, saat sudah menyelesaikan satu hal, tiba-tiba saja muncul hal lain yang menunggu untuk dibereskan, saat sudah selesai satu, muncul yang lain. Aku begitu menikmati kesibukanku namun aku sangat lelah berlari.

Tobi tak jauh berbeda denganku, hidupnya laksana robot yang setiap harinya hanya ke kantor, bekerja dengan komputer dan meeting dengan rekan kerja atau pun client, pulang ke rumah, makan, nonton film denganku lalu tidur, di akhir pekan, kita berenang atau jalan-jalan ke kota lain. Itu-itu saja.

Aku bersyukur hidup kami serba berkecukupan, kami punya mimpi untuk membangun rumah dari sebuah container yang modern di Jerman. Itu lah sebabnya kami mulai irit dan menabung. Namun ketika kami menelaah kehidupan kami di Jerman, ada satu hal yang kurang: rasa damai dan sejahtera di hati.

Suatu kali, Tobi berkata padaku, “Deutschland ist ein stressiges Land!” (Jerman itu negara stress (dengan tingkat stress yang tinggi).

Aku sadar hal itu. Mau tak mau, kalau orang sudah hidup di sini, dia akan terpengaruh juga. Sebahagia dan se-positiv apapun orang, pasti ikut gelombang stress tersebut. Di Jerman, tak terbayang susahnya membuat janji dengan teman, harus ngepasin jadwal lah, harus liat mood, harus liat kalender, dsb.

Di Jerman, bukan orang yang mengatur waktu, tapi waktu lah yang mengatur orang. Kita tunduk pada waktu, jadwal, dan janji.

Akhirnya, aku dan Tobi memutuskan untuk berhenti dari ritmus ini. Kami berpikir, buat apa kita hidup di negeri kaya, namun hati tak bahagia? Buat apa penghasilan melimpah ruah, namun nurani tak sejahtera? Bukan, itu bukan tujuan hidup kita.

*

Kita akan pindah dan memulai hidup baru di Indonesia. Tak tahu berapa lama, tak tahu di kota apa, yang jelas, tahun ini kita akan mencoba memulai petualangan baru. Petualangan mencari arti hidup dan makna bahagia bersama.

Lima tahun di Jerman, akhirnya aku bisa katakan: ‘Good Bye, Germany!’

Suatu hari nanti, semoga kita bisa kembali dengan hati baru dan kesiapan menjalani hidup di sini (lagi)….

*

Aku dan Tobi akan pulang Agustus 2019 dan bekerja di sebuah kota (belum tau kota apa yang akan kita pilih). Kami juga belum tahu mau bekerja apa, entah mau membuka kursus bahasa Jerman dan konsultasi anak-anak yang mau au pair, FSJ, Ausbildung atau kuliah, atau  jasa penerjemah Indonesia-Jerman, ataukah membuka restoran (karena aku suka masak), atau membuka jasa perjalanan wisata untuk turis Jerman yang akan ke Indonesia, atau bisnis kirim barang (Jerman-Indonesia). Yang jelas, kami akan hidup layaknya orang Indonesia, tinggal di rumah kontrakan, makan minum dan berinterkasi dengan orang lokal, bukan hanya berlibur. Kami juga ingin bekerja supaya mendapat penghasilan meskipun tak sebanding dengan gaji orang Jerman pada umumnya.

Apakah pembaca Denkspa punya ide dan saran?

Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang) Tempat kami tinggal nanti, akan kami kabari lagi. Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih).

Comments

  1. Hai Girindra, kalau aku malah betah banget di Jerman, sampai 8 thn baru liburan ke tanah air. Saat sdh 2 bulan di Indonesia malah bosan, dan kangen dg anggrek2ku haha 😀 . Eh coba contact stasiun tv vox deh https://www.instagram.com/goodbyedeutschland.vox/ kali aja kepindahanmu dan Tobi ke Indonesia bisa diliput juga. Aku baru sekali (klo ga lupa) prnh nonton org Jerman yg pindah ke Indonesia. Aku selalu mengikuti tayangan goodbyedeutschland, seru lihat org2 Jerman pindahan dan kehidupannya diceritain di tv 😀 . Dari org biasa, banyak yg jadi terkenal.

    1. Wah mbak Nella, makasiy banyak ya supportnya… hehhe, mbak Nella punya Ben sama Marie sih, jadi enak ada hiburan, wkkkk…

  2. Sptnya mbak bnr2 mengalami tingkat kejenuhan yg memuncak shg ingin melepaskan itu semua entah sementara maupun selamanya. Baik buruk plg ke Indonesia selalu ada. Sy org Kepanjen Malang jd kita sbnrnya tetangga. Yg bs sy beri info sdkt adl, kota Malang skr sangat macet gk spt 5 thn lalu. Kota Batu jg gk sedingin dulu. Sy krg tahu perbandingannya dg Hamburg tp yg jls mbak siap2 aja dg kondisi kota Malang saat ini. Semoga rencana mbak berjalan lancar, amin.

    1. Halo Alfred, terima kasih atas info dan tanggapannya. Saya dan suami belum berencana tinggal di Kota Malang atau Batu untuk selamanya, tapi mungkin juga di sana. Benar, baik buruk pasti ada di semua tempat. Kita mau mencoba tinggal di Indonesia mungkin setahun dua tahun, jika memang dirasa tidak betah atau tidak ada kemujuran, kami akan balik lagi ke Hamburg atau ke Jerman di kota lain. 🙂

  3. Jadi pengen ketemu kakak secepatnya… Hehehe.. Semoga apapun keputusan kakak ini yg terbaik dan dapat membawa dampak positif bagi kakak dan org sekitar 🙂

  4. Hallo Girindra, salam kenal dari BSD-Jakarta. Herzlich Willkommen (bald) in Indonesien 🙂 Sukses berkarya di tanah air tercinta yaa, Mungkin suatu hari kita bisa bertukar pikiran tentang (kursus) bahasa Jerman, pendidikan dan AFA di Jerman. Schöne Grüße an Tobi auch!

    1. Hi Rina,
      Terima Kasih banyak atas doanya. Pasti jika Tuhan menginjinkan, kita akan bertemu dan bertukar pikiran.
      Salam

  5. Halo mba, berharap selepas pulang ke Indonesia bisa membuka tempat kursus bahasa jerman, bagi teman2 yg punya mimpi bisa tinggal di jerman bisa sharing ke mba nya tentang pengalaman yg sudah di dapat, Thanks

  6. Hi kak Girindra,

    Aku Suma Barus, perempuan 20 tahun asal Sumatera Utara yang sekarang tinggal di Jakarta.
    Di Jakarta aku bekerja di perusahaan start up dan ambil kuliah kelas karyawan di akhir pekan dan kini sudah semester 4, jadi rutinitas yang nonstop tapi aku masih enjoy dan bersyukur dengan ini karena alesan ingin bantu meringankan beban orang tua dengan tidak bergantung kepada mereka dan aku juga punya cita – cita mau bantu adikku sekolah, dan bantu orang banyak,karena bagiku bagaimana aku merasa fully content terhadap diri sendiri ketika aku bisa bantu orang dan bisa bersyukur.
    Aku baru – baru ini menemukan blog kakak karena searching di internet seputaran au pair (aku ada ketertarikan menjadi au pair setelah lulus kuliah (sebenarnya mau sekarang saja/tidak usah menunggu lulus kuliah, namun mengingat “saya punya prinsip harus menyelesaikan apa yang sudah saya mulai” jadi kuputuskan untuk lulus kuliah dulu))
    Aku sangat senang, mendapat banyak ilmu dari blog kakak, terima kasih kak.
    Untuk rencana kakak pindah ke Indonesia, apapun rencananya semoga dari itu kakak bisa menemukan apa yang selama ini kakak cari atau butuhkan.
    Kalo mau jadi agen AFA aku sangat setuju dan ingin nanti menjadi salah satu client kakak heheheheh.

    1. Terima kasih Suma Barus atas motivasinya, semoga bisa bersua suatu hari nanti…. wkkk aku pernah mencoba mau menjadi agen penyalur AFA, tapi lama kelamaan stress juga ngurusin orang dan kurang damai di hati. Jadi aku ga mau lagi jadi agen, yahh semoga kami bisa menemukan apa yang menjadi cita-cita kami…kamu juga…aaamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.