Jika kita berpikir bertemu pasangan (baik bule maupun bukan) lewat dating sites itu hal yang memalukan, berarti pikiran kita belum sepenuhnya terbuka. Helloooww?? Kalau jodoh itu seperti rejeki, kadang bisa datang tanpa dinanti, tapi juga kadang tak kunjung tiba kalau tidak dicari. Kita nggak pernah tau dari mana sumber rejeki kita, begitu pun dengan jodoh, meskipun sudah tertulis, kita nggak pernah tau kapan ketemu dengan siapa dan lewat jalur apa.

Dulu sebelum ketemu Tobi, aku tak pernah kenal yang namanya dating sites, meskipun pernah dengar, tapi belum pernah coba, karena seperti kebanyakan orang yang sok idealis, aku berpikir bahwa kalau jodoh itu pasti ketemu dan dipertemukan dengan cara yang indah, bukan dipaksakan lewat sebuah portal. Namun, tak banyak yang bisa mengerti dan merasakan betapa susahnya hidup di Jerman yang dinginnya menusuk dan orangnya ikutan dingin, betapa kesepiannya meskipun dikelilingi orang-orang terdekat yang baik dan perhatian. Terlebih umurku waktu itu sudah >25 dan sebagai manusia lainnya, aku juga membutuhkan pasangan.

Lagi pula, ini bukan tahun 60 an yang semua serba kolot, teknologi juga harus dimanfaatkan semaksimal mungkin donk. Orang Jerman pun sangat terbuka dengan dating sites, ada yang menggunakannya untuk menambah teman ngobrol, teman plus plus, ada juga yang serius mencari pasangan.

Akhirnya aku mencoba dating sites yang paling populer: Tinder dan nggak berhasil, banyak ketemu cowok nggak serius dan akhirnya aku berhenti maen tinder setelah dua bulan.

Baca juga: Dating sites cari bule yang recommended

Di Bulan ke empat, temanku yang datang jadi au pair di Hamburg menyarankan untuk mencoba dating sites: Ok Cupid, katanya sih bagus dan ada di Indonesia juga. Aku pun mencobanya dan setelah 2 minggu log in, aku bertemu Tobi.

Meskipun tak banyak dating sites yang aku coba, aku belajar banyak hal dari pengalaman tinder dan ok cupid, selain itu, karena aku cerita ke teman-teman yang lain, mereka jadi terbuka padaku untuk menceritakan kisahnya dan aku juga belajar dari mereka bagaimana menjalin hubungan dengan bule yang mereka temui dari dating sites, ada yang sukses, ada juga yang gagal. Nah, ini dia tips yang akan aku bagikan kepada kalian.

Baca juga : Pacaran sama Orang Jerman? Romantis nggak sih?

  1. Jujur Dan Jadi Diri Sendiri

Aku pernah mencoba gaya-gayaan dengan pakai nama alay, gaya pesan yang super cool dan super jual mahal serta jadi orang lain biar bisa ngepasin sama karakter orang yang aku temui, meskipun itu nggak jadi diri aku sendiri, tapi ujung-ujungnya gagal juga. Aku lebih sering mengalah dan menerima karena aku terlalu takut dia pergi. Akhirnya meskipun aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya, dianya pergi juga karena salah satu dari kami hanya berpura-pura dan nggak jujur.

Tips: Mencari jodoh lewat jalur apapun, meski ketemu dia secara langsung atau lewat dating sites, usahakanlah jujur di awal pertama pertemuan. Jangan memulai sesuatu dari kebohongan, karena suatu saat kita akan kualahan menutupi kebohongan pertama dengan kebohongan lain. Kalau dia yang kita ajak chatting nggak mau berkomitmen dan pengen maen-maen doank tapi kalian pengen serius, buang. Jangan buang-buang umur dengan menanti dia berubah. Tapi kalau kalian memang sejalan dari awal, ya monggo lanjut.

Begitu pun menulis profil dan saat chat pertama kali. Ushakan apa adanya saja, kita memang bisa jaga-jaga untuk tidak baper saat ternyata bohong sama kita dan berpura-pura, tapi kalau ternyata orang yang kita ajak chatting itu orang baik dan jujur trus kita yang bohong? Kita akan menyesal setelah dia menemukan bahwa kita tidak jujur dari awal dan meninggalkan kita karena nggak sreg dengan kebohongan.

2. Profil

Orang yang niat biasanya akan mengisi profil dengan baik dan menarik. Tapi kita juga harus jeli melihat profil mereka, apakah jujur dan apa adanya atau terkesan dibuat-buat. Jangan memilih profil yang menampangkan keindahan bagian tubuh. Mereka yang kayak gitu biasanya nyari fun doank. Cari yang simple tapi tetap niat, jangan yang alay. Begitu pun dengan kalian, buat profil yang biasa aja jangan terlalu heboh dan dibuat-buat. Boleh tuh diedit dan dipilih foto yang paling cantik, atau paling langsing, tapi siap-siap ya kalau ada yang bilang: ‘Di Foto, kamu terlihat kurus, kok aslinya gendut?’ wkkkkk. Sumpah temenku ada yang digituin saking frontal bule nya.

Menggunakan portal berbayar atau nggak juga bisa menjadi penilaian, tapi bukan berarti orang yang memakai portal berbayar akan jadi orang baik dan perhatian. Namun, kita bisa melihat betapa seriusnya dia mencari jodoh dan biasanya mereka loyal orangnya karena rela mengeluarkan uang untuk hal yang bisa didapatkan dengan gratis.

3. PESAN

Menurutku, pesan adalah FAKTOR YANG PALING DOMINAN DAN MENENTUKAN sebelum kita ketemu dan bicara dengan orangnya secara langsung. Seriously, dari pesan yang dia kirim ke kita atau kita kirim ke dia dan cara dia membalasnya, menentukan banget karakter orangnya.

Tobi tidak terlalu niat membenahi profilnya, namun gaya penyampaian pesannya kepadaku membuatku luluh, bagaimana dia bertanya, tertarik pada profilku yang diutarakannya, bagaimana dia menjelaskan apa yang kurang aku mengerti, dsb, semuanya serba ‘klik’, makanya kita lanjut.

Kisah lucu: Bahkan temanku ada yang konsultasi padaku saat dia menerima beberapa pesan dari beberapa bule Jerman yang berbeda-beda, aku lihat gaya pesan mereka, dan aku pilih satu lalu aku bilang pada temanku itu: “Cowok ini saja! Gaya pesannya ‘klik’ banget”. Eh temanku itu nurut apa kataku, mereka akhirnya jadian dan menikah beberapa bulan kemudian. Bahkan suaminya berterima kasih padaku karena aku yang memilihkan dia pada temanku saat itu. Sumpah aku nangis saat suaminya yang baik itu bilang kayak gitu ke aku. 🙁

Instinct ku melihat pesan dari dating sites ini bukan bakat, sungguh, aku bisa melihat karena aku pernah mengalaminya, dan kalian pun kalau sudah mencoba dating sites, pasti bisa membedakan mana pesan orang baik, copy paste, orang yang maen-maen doank.

Baiklah, aku kasih tips:

Copy paste pesan biasanya panjang, terlihat wow dan terlihat tertarik banget sama kita, tapi ga ada intisari yang ada kitanya, yang menunjukkan dia membaca profil kita, dia cuma message ke banyak cewek dan untung-untungan aja kalau dibalas ya lanjut, kalau nggak ya ga apa-apa, ga rugi ngetik, Contoh pesan itu misalnya: Hallo cantik, apa kabar, nama aku B****, aku dari *****, aku kerja di *****, aku suka banget ama kucing dan kalau liburan biasanya aku ke tempat yang banyak mataharinya, aku lihat profil kamu menarik banget (tapi ga dijelaskan menariknya kenapa), kamu juga terlihat cantik, aku pengen kenal lebih lanjut sama kamu, boleh kah aku kontak kamu, bla bla bla…..?

Maen-maen: orang yang goalnya cuma have fun saja lewat dating sites, dia juga kagak niat bikin pesan. Biasanya mereka akan ngirim pesan ke kita kayak gini: Hallo cantik, apa kabar!, atau halo manis, kamu lucu deh, dsb. Singkat-singkat dan terkesan cabul.

Orang yang potensial ‘baik’. Aku tulis disini potensial karena belum tentu juga dia baik, namun kalau dia menunjukkan iktikat baik untuk mengirimi pesan yang intensionalnya ke kita dan nggak copy paste, boleh tuh ditindak lanjuti, lihat pesan tersebut, biasanya gak panjang banget, nggak pendek banget, ADA NAMA KITA, ada sesuatu yang menjelaskan tentang kita dan memperkenalkan dirinya dengan sopan. Misalnya: Halo Maria, nama aku *****, aku tinggal di Hamburg sama kayak kamu, aku lihat kamu suka makan pizza, wah, sama aku juga, sayangnya aku nggak suka masak pizza, kalau kamu? Kamu bisa bikin pizza? Aku salut banget loh sama kamu yang kerja di *****, padahal kerja di situ kan susah (setahuku). Kalau boleh tau, kamu udah lama tinggal di Hamburg? Kamu bisa bahasa Jerman? dsb….

See, lihat perbedaannya. Tapi eittttsss, tunggu dulu, ini ga mutlak loh, karena aku pernah disms cwo pakai bahasa Indonesia yang sms nya gayanya mirip dengan gaya sms orang baik, nggak taunya dia brengsek dan nge date ama orang Indonesia lainnya di kota yang sama. Hufft. Jadi, di sini kita harus lebih jeli lagi.

Baca juga: Megapa kita harus hati-hati menjalin hubungan dengan Bule yang sudah mengenal Budaya Indonesia?

*SAAT KETEMU DIA*

Baik kopdar maupun lewat skype, bicara dan sms an itu beda. Perhatikan hal berikut saat bicara sama dia:

4. Jangan nilai dia karena perbedaan fisik antara profil dan realita

Suatu kesalahan besar dan kekanak-kanakan kalau kita langsung judge orang berdasarkan fisiknya. Sebelum kita judge fisik dia, berkaca dan bertanya pada diri sendiri: Apakah aku cantik laksana bidadari? Apakah aku artis? Apakah aku multimilioner? Apakah aku sempurna? Apakah fisikku bisa dirubah? NOWAY. Jadi, berilah kesempatan untuk bicara dengannya dan nilai dari pembicaraan kalian tersebut!

Baca juga: Kehidupan Rumah Tangga di Jerman

5. TERTARIK DAN TERPAUT sama karakter?

Nggak cuma orang bule, orang manapun akan suka kalau kita engaged sama pembicaraan yang sedang berlangsung. Hal itu menandakan bahwa kita tertarik dan terpaut sama topik yang dibicarakan dan penasaran sama segala sesuatu. Jangan diem dan nunggu ditanya mulu. Perempuan yang atraktiv di mata bule itu bukan yang tersipu malu dan pendiam, tapi yang lincah, enak di ajak ngobrol, nyambung dan smart. Cantik bukan jaminan di mata bule kalau kitanya bego.

Baca juga: 5 Alasan Bule susah Belajar Bahasa Indonesia (Di Indonesia)

6. Bisa Ngepasin Diri

Alangkah baiknya kalau kita sudah tau sedikit banyak tentang budaya orang yang kita ajak kenalan tersebut sehingga obrolan lebih nyambung, namun tau masing-masing budaya belum tentu jaminan kita akan nyambung dan jadi jodoh. Justru keterampilan ngepasin diri sama budaya dan karakternya itu yang bikin jodoh. Namun, sekali lagi kalau emang nggak cocok dari awal, ya nggak usah pura-pura dan berusaha ngepasin mulu.

Ngepasin diri yang aku maksud di sini bukan ngepasin prinsip hidup ya, tapi ngepasin hal-hal kecil yang bisa membuat masing-masing pihak menjadi nyaman satu sama lain. Misalnya: bukan ngepasin diri untuk akhirnya nggak punya anak karena dianya nggak mau punya anak, bukan ngepasin diri untuk nggak mau nikah seumur hidup karena dianya nggak mau nikah,

Tapi ngepasin diri untuk mengerti bahwa dia nggak bakal sms tiap detik tiap waktu karena emang budaya pacaran orang bule emang ga seintensiv orang Indonesia dari segi sms an, atau ngepasin diri kalau dia vegetarian, atau kalau dia kurang peka dan terlalu to the point, dsb.

Penting: Saat kita mulai menjalin hubungan, jangan terlalu melihat dari sisi kaliannya saja, tapi posisikan dari sisi dianya juga. Betapa susahnya menjalin hubungan dengan kamu yang beda budaya, yang suka makan pedas, yang cerewet (mungkin), yang nasionalis dan terlalu membanggakan Indonesia, dsb. Lalu pikirkan ulang seperti ini, “Oh iya, ya aku ini toh juga nggak sempurna dan aku tau dia udah berusaha ngepasin dirinya dengan budaya serta karakterku”. Dengan begitu kalian akan lebih bisa menerima dan nggak terlalu menuntut.

Baca juga:Pacar atau suami bule, gimana rasanya? 

7. Jangan Naiv!

Mentang-mentang chattingan ama bule, apa aja diturutin dan dibela-belain. JANGAN NAIV! Bule juga manusia biasa, nggak ada bedanya ama orang Indonesia, orang Cina, orang Negro. Kalau dia brengsek dan kalian tau itu! BUANG!!

Percaya deh, aku pernah ngalamin dan banyak mendengar curhatan seputar bule yang suka main-main tapi kitanya pertahanin aja. Ujung-ujungnya yah cuma nyakitin diri sendiri dan buang-buang waktu.

8. Ternyata DIA nggak sesuai dengan apa yang aku harapkan?

Apakah kalian sudah menilai dan memberikan kesempatan dari hati ke hati untuk berbicara? Kalau hanya dari pertemuan pertama sudah tahu jelas bahwa kalian nggak cocok, kalian BERHAK bilang terus terang bahwa ada sesuatu yang nggak pas. Atau kalau nggak nggak usah sms an dan perlahan menghilang saja perlahan-lahan.

Kisah lucu: Temanku agak gokil juga. Mentang-mentang dia udah tau bahwa bule itu frontal (terlebih orang Jerman), saat dia udah ketemu beberapa kali dengan seseorang dan obrolan mereka ternyata nggak nyambung, dia sms kayak gini coba: Sorry, aku nggak tertarik lagi padamu!. Saat aku ceritakan pada suami, suamiku shock betapa frontalnya temanku itu. Wkkkk. Orang Jerman meski terkadang kaku, direct dan frontal, tapi mereka juga punya hati. Memang ga salah juga sih temanku bilang seperti itu, namun ada baiknya kalau kita bilangnya agak lunak, misalnya, “Sorry ya, setelah ketemu dan ngobrol beberapa kali sama kamu, kayaknya ada sesuatu dalam diriku yang nggak cocok sama kamu dan aku nggak dapat chemistry itu. Bukan salah kamu kok, tapi aku takut kalau kita terusin, malah makin nggak cocok, semoga kamu menemukan pasangan yang lebih cocok sama kamu.”

Baca juga: / Definisi Hubungan Percintaan Menurut Orang Jerman

9. Bagaimana memutuskan kalau ternyata nggak dapat chesmistry nya?

Kalian bisa bilang terus terang, bisa lewat sms atau bisa nggak balas sms nya sama sekali. Tapi yang paling baik sih bilang terus terang dan jelasin meskipun lewat sms. Kalau dia masih kontak dan minta ketemuan, terserah kalian mau memberi kesempatan atau tinggalin, cuekin, blokir saja. Kalau aku, jika sudah tau nggak bakal berjalan dan nggak dapat chemistry-nya aku bakal tinggalin aja. Soalnya kalau aku masih berhubungan sama dia, aku akan memblokir cowok lain yang lebih baik yang akan masuk ke kehidupanku.

10. Kalau cocok tapi belum ada rasa?

Tau tidak? Aku dan banyak temanku yang kenal pasangannya lewat dating sites, rata-rata memang nggak ada rasa di bulan-bulan pertama. Terlebih  jika kita perempuan. Perempuan itu jatuh cinta dari apa yang didengar dan dirasakannya, laki-laki jatuh cinta dari apa yang dilihatnya. Makanya, banyak perempuan jatuh cinta lebih telat daripada pria. Tapi jika wanita udah jatuh cinta dia akan mati-matian mempertahankan pria yang dicintainya.

Jatuh cinta itu butuh waktu, butuh kesempatan buat hati memenuhi bulir-bulir rasa yang baru berkembang itu. Jika kita tau dia orang baik, dia menerima kita apa adanya, dia adalah sosok yang kita tunggu, bisa jadi pendamping yang baik, berilah kesempatan untuk hatimu, berilah waktu. Jika dia memang baik dan jodohmu, maka mengalir saja, toh jodoh ga akan lari kemana.

TIPS PENTING:

TENTANG SEX DENGAN BULE SEBELUM NIKAH

Jika kalian berprinsip sex sebelum nikah itu tak boleh dilakukan karena alasan agama, jaga prinsip itu baik-baik. NAMUN!! Banyak bule (terlebih pria, meskipun nggak semua), nggak mau menerima prinsip hidup itu. Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Kenali orangnya, jika dia ketahuan brengsek dan buru-buru pengen tidur doank, udah tinggalin aja.

Tapi kalau dia sebenarnya baik, kalian bisa pakai Tips dariku yang dipakai oleh temanku saat bertemu pacarnya dulu (saat ini sudah jadi suami): Jangan berkata: ‘Aku nggak mau sex sebelum nikah, agamaku melarangnya’. Kalimat ini membuat kalian terlihat sangat fanatik dan close minded.

Sebaiknya bilang: ‘Aku nggak mau SEX karena aku ingin melakukannya dengan orang yang istimewa di waktu yang istimewa dan saat aku sudah benar-benar siap, bisa jadi itu dengan dirimu, tapi aku menunggu sampai siap.”. Kalimat ini akan lebih bisa diterima oleh bule dan dalam pengenalan berikutnya, kalian pertahankan saja tidak mau sex dengannya sambil jelasin pelan-pelan tentang agama, dsb. Jika dia orang baik dan mencintaimu, dia pasti akan mengerti, jika tidak, ya udah masih banyak kok yang mau ngerti.

Kalau sex sebelum nikah itu ga masalah buat dirimu, ya ga ada masalah.

Baca juga: 9 Ciri Cowok Jerman yang serius menjalin Hubungan

*

*
Follow instagram: @resep.anak.rantau  

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.