Yang belum pernah menginjakkan kaki di Jerman, pasti pernah donk terbayang-bayang benua Eropa yang diliputi salju seperti di film-film. Trus kita kepoin IGnya vlogger-vlogger Indonesia di mancanegara atau orang-orang Indonesia di Luar Negeri yang rata-rata menyuguhkan pesona kegembiraan seolah-olah hidup mereka nggak ada susah-susahnya.

Tiga tahun meneliti tentang arus migrasi orang Indonesia ke Jerman dan banyak berkecimpung dengan teman-teman PPI atau AFA di Jerman membuatku sadar satu hal: Well, hidup di Jerman gini amat yah! Aku ikut menangis ketika mendengar curhatan pahit salah satu au pair yang diusir gf nya, atau azubi yang merasa terasing di kelas berufschulenya. Begitu pun aku ikut senang ketika mendengar keberhasilan salah satu teman yang berhasil menduduki peringkat pertama di kelas ausbildungnya, bahkan mengalahkan orang Jerman yang ada di kelasnya. Haru biru perjalanan hidup di Jerman tak pernah luput dari tangis dan tawa.

Lama-lama saking banyaknya curhatan maupun keluhan atau cerita yang datang, aku berani menyimpulkan bahwa keberhasilan pemuda yang datang ke Jerman sebenarnya terletak pada satu hal: EKSPEKTASI. Banyak orang yang datang ke Jerman dengan ekspektasi kaya mendadak tanpa skill dan usaha yang maksimal, kemudian belum sampai masa uji cobanya selesai, sudah pulang habis ke Indonesia karena harapan sebelum ke Jerman, sama sekali nggak sesuai dengan realita yang dia terima setelah kedatangan.

Di bawah ini adalah daftar ekspektasi yang keliru dan sebaiknya kalian luruskan dulu sebelum datang ke Jerman supaya saat di Eropa nanti tidak menyesal dan ingin cepat balik ke Indonesia:

  1. Pengen Kaya mendadak

Well, aku bisa mengerti bahwa membantu orang tua di tanah air menjadi salah satu tujuan utama kita merantau ke luar negeri. Aku pun juga demikian. Memperbaiki taraf hidup dan berpikir bahwa suatu saat bisa membantu banyak orang miskin di Indonesia adalah salah satu cita-citaku. Namun, sebelum pergi ke Jerman, aku tak bercita-cita setinggi itu. Mimpiku sederhana kala itu: Melihat Eropa seperti yang ada di bukunya Astrid Lindgren, entah bagaimana caranya. Saat sudah kesampaian, baru aku mulai merajut mimpi-mimpi lain, salah satunya ya membantu orang-orang. Menulis blog adalah salah satu upayaku untuk mewujudkan mimpi itu. Hhehehe.

Baca juga: Cinta Itu datangnya tak pernah salah waktu, apalagi salah kamar!

Menjadi kaya dengan datang ke Jerman merupakan ekspektasi yang berlebihan. Terutama jika kalian akan datang ke Jerman sebagai au pair, FSJ dan Ausbildung. Menurut pengalamanku, kalian bisa benar-benar bebas secara finansial serta membantu keluarga, termasuk membeli properti di Indonesia, setelah lulus ausbildung dan bekerja secara professional di Jerman. Untuk itu, kalian nggak bisa kaya mendadak, tapi harus menunggu 5-8 tahun dulu. Kalau nggak percaya, tanyakan pada yang lain. Pengecualian pada orang yang bekerja secara professional di perusahaan multinasional seperti Air bus atau Luftansa yang memang sudah direkrut oleh perusahaan dari Indonesia. Untuk itu, mungkin 1-2 tahun baru bisa mengantongi pundi-pundi euro. Ingat, meski gaji di Jerman puluhan kali lipat dari gaji di Indonesia, biaya hidup di Jerman pun juga puluhan kali lipat!

Baca juga: Mengapa Meskipun Jam Kerjanya dikit, Jerman Jauh Lebih Produktif dibandingkan Dengan Negara Lain?

2. Ngikutin Teman atau Influencer dan jalan-jalan di Eropa

Iming-iming hidup di Eropa yang serba mewah biasanya kita dapat saat melihat you tube, instagram teman atau influencer yang memposting indahnya hidup di luar negeri. Harusnya kita sadar betul bahwa postingan mereka pasti diwarnai duka yang nggak mungkin mereka postingkan. Sama seperti kita yang nggak mau sambat di sosmed dan cenderung pengen dapat like sebanyak-banyaknya dari followers, seperti itu pun mereka juga. Jadi, percayalah, kehidupan jalan-jalan mereka adalah secuil dari rangkaian kisah mereka di luar negeri. Memang indah, tapi lihat donk perjuangan mereka juga. Di baliknya pasti ada perjuangan yang luar biasa berat untuk memikulnya. Untuk dapat libur jalan-jalan, kita harus bekerja full, atau bagi yang mahasiswa, harus ekstra menyelesaikan tugas yang bejibun dulu. Saat bekerja dan belajar yang berat itu tentu saja tidak di update tapi percayalah, di Jerman ada harga dari setiap peluh keringat yang kita keluarkan, jadi nggak selamanya enak dan jalan-jalan doank. Kalian juga harus siap! Mau jalan-jalan di Eropa? Siap-siap kerja keras yang menyertainya juga!

Baca juga: 8 Hal Yang Harus Diperhatikan untuk Bekerja Bersama Orang Jerman!

3. Ngikutin Pacar atau Pasangan

Agak riskan juga aku mencantumkan poin ini kaarena mengikuti pasangan kalian adalah hak mutlak yang bisa kalian dapatkan berdasarkan cinta dan ketulusan. Namun, aku sering banget mendapat curhatan dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang dulunya kerja di Bali, terus datang ke Austria atau Jerman ngikutin pasangannya setelah nikah tanpa ada aktifitas apapun selama 3 bulan. Rata-rata komentar mereka: Sumpah aku mati bosan dan kangen banget ama terasi. Hhehehe :D.

Baca juga: Cari Bule Lewat Dating Sites? Perhatikan 10 hal Berikut!

Cerita lain dari temanku yang datang ke Jerman lewat jalur au pair yang mana dia bela-belain nyari host family di daerah yang dekat dengan kampus pacarnya waktu itu. Setelah 2 bulan di Jerman, bukannya langgeng sama si doi, mereka malah putus karena orang Jermannya pengen fokus kuliah.

Baca juga: Pacaran Dengan Orang Jerman? Romantis Nggak sih?

Jika kalian ada niat ngikutin pasangan, kumpul keluarga dengan pasangan yang sudah tinggal di Jerman, usahakan ada aktifitas yang membuat kalian senang. Sungguh, tanpa orang yang bisa kalian ajak curhat dan ngrumpi serta tanpa adanya abang tukang bakso dan nasi goreng ataupun gojek di sekitar kita, ditambah hawa dingin menyengat tulang saat winter, kita akan merana. Ga percaya? Cobain aja!

Baca juga: Pacaran Dengan Cowok Jerman? Siap Bayar Sendiri-sendiri!

4. Lari Dari Kenyataan

LOL. Ini juga sebenarnya salah satu alasanku untuk keluar dari Malang dan kabur dari segala sesuatu yang mengingatkanku pada mantan tunanganku waktu itu. Yang akhirnya aku sesali dan aku luruskan ekspektasiku lagi setelah di Jerman. Mengapa? Karena ekspektasiku kala itu, aku ingin lari, ingin membuktikan bahwa aku mampu tanpanya, bahwa kehidupanku akan membaik. Kenyataannya, aku capek sendiri dan mereka juga nggak tau bahwa aku ngos-ngosan dalam proses pembuktian itu. Awal di Jerman, aku sering sedih, waktu itu musim dingin, bukan karena host family nya gak enak, tapi karena aku kecewa, mantanku dan istrinya waktu itu bahagia-bahagia saja. Wkkkkk. Plliss jangan bodoh seperti diriku.

Baca juga: Sebelum jadi au pair: Semua berawal dari patah hati!

Temanku ada juga yang kabur dari tugas akhir kuliahnya dan pada akhirnya di tengah-tengah jalan saat dia FSJ, dia sadar dan kembali ke Indonesia untuk menuntaskan apa yang telah dia tinggalkan. Saranku, selesaikan apa yang menjadi tanggungan di Indonesia sebelum berangkat ke Jerman. Seriusan, ada banyak banget teman yang curhat padaku menyesali keputusan mereka nggak selesai kuliah dulu, sehingga harus ribet pulang dan urus segala sesuatu mulai dari awal lagi.

Baca juga: 10 Alasan Orang Jerman Membenci Musim Dingin

5. Pembuktian dan Pengakuan dari Masyarakat

Pernah nggak kita merasa disepelekan lalu kita berpaya sekuat tenaga untuk membuktikan kepada mereka bahwa kita bisa lebih sukses dari mereka. Sedihnya, kadang mereka udah lupa pernah nyakitin kamu dan jerih payahmu untuk membuktikan kepada mereka jadi kayak lelucon buat hidupmu sendiri belaka. Hidup di Jerman itu berat loh! Jika tujuan kamu supaya menaikkan derajatmu di mata masyarakat, memang bisa, karena jika kamu tinggal di lingkungan masyarakat kampung yang jarang banget orang2nya ke luar negeri, sukseslah kamu diakui sebagai orang hebat. Tapi lama-lama akan capek juga dan hal ini nggak akan ada artinya jika kamu terseok-seok menangis menderita sendiri di tanah rantau. Jadi, natural saja.

Baca juga: Kuliah di Jerman? Gratis Tapi Mahal

6. Nyari Pasangan Hidup

Sah-sah saja donk kita sambil menyelam minum air, sambil di Jerman, sambil nyari jodoh. Tentu saja, aku pun dapat jodoh ketika di Jerman dan meski poin ini nangkring di sini, tapi aku nggak melarang siapapun untuk nyari jodoh. Hanya saja ekspektasi nyari jodoh ketika kalian berangkat ke Jerman sebagai au pair, FSJ atau ausbildung ini nantinya akan membuat kalian capek sendiri. Ya kalau jodohnya cepet ketemu, kalau nggak, program yang kalian jalankan akan berantakan karena kebanyakan nge-date, kencan dan lupa akan tugasnya. Ada banyak kenalan yang belum juga sampai Jerman udah siap dating dengan pria Jerman, dan banyak juga fokusnya memang nyari jodoh. Begitu datang, 3 hari kemudian pergi kencan. Meskipun orang Jerman juga ngliatnya echt banget gitu, ada au pair baru 3 hari datang langsung nge date dengan orang asing.

Baca juga: Mengapa Kita Harus Hati-Hati menjalin hubungan dengan bule yang sudah kenal budaya Indonesia?

Ujung-ujungnya, sebagian dari mereka malah bangkut kebanyakan kencan, nggak konsen sama les bahasa dan program yang dijalani dan kasus paling parah, depresi karena sakit hati. Hiks.

Jadi sebaiknya apa tujuan atau ekspektasi kita datang ke Jerman?

Tujuan yang paling baik, menurutku (boleh juga punya pendapat lain) adalah untuk belajar. Ingat janji kita kepada embassy saat mengurus visa ke Jerman? Belajar bahasa dan budaya. Apapun yang menyertainya, jika itu penderitaan karena pekerjaan terlalu berat dan harus gonta ganti gf, jika tujuan kita belajar, maka dari pengalaman tersebut, kita akan belajar bahwa sukses memang dibangun dari proses kerja keras yang lama dan nggak ada yang instan.

Baca juga: Belajar Bahasa Jerman? Jangan Takut Salah Grammatik!

Jika di dalam perjalanan di Jerman kita mengalami diskriminasi, sakit hati dan terluka karena berinteraksi dengan orang Jerman, proses belajar untuk menerima perbedaan dan menjadi pribadi yang tumbuh dewasa dan tidak egois akan datang kepada diri kita. Lagi-lagi kita akan belajar dari sana, ya kan?

Baca juga: Yang Lain Cepet Banget Ke Jerman? Mengapa Aku Belum juga Berangkat?

Jika dalam perjalanan tinggal di Jerman kita bisa jalan-jalan, bisa kenal orang baru, bisa dapat jodoh, bisa bantu keluarga di rumah dan bebas secara finansial, kalau tujuan awal kita adalah belajar, maka dari sana kita akan belajar bahwa memang ada hasil maksimal dari proses kerja keras kita. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri, kalau kita memang kerja keras, ulet, konsisten, dan nggak gampang nyerah, pasti kesuksesan akan menyertai. Semua hanya masalah waktu saja.

*

*
Follow instagram: @resep.anak.rantau  

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

 

Comments

  1. Hai Girindra, itu yang pengen ke Jerman pengen kaya mendadak apa ga takut seperti nasib Jessica Iskandar dapat bagsawan Jerman malah pernikahannya dibatalin si cowo 😀 . Mengenai mencari pasangan hidup pernah ku baca postingan seorang bloger di negara tetangga kalau au pair asal Indonesia malah fokus ngejar bule nya ketimbang tugasnya sebagai au pair, bikin malu kan klo sampai gf nya tulis pengalaman di media khusus au pair gitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.