Opini guest blogger: @abigailtessa  (www.ceritavoneropa.com)

Lain negara, lain cerita.

Demikian juga halnya kultur dan kebiasaan ketika tinggal di Indonesia pun bisa saja juga berubah ketika tinggal di Jerman.

Pergi ke Eropa untuk pertama kali bisa jadi cerita menyenangkan tersendiri, akan tetapi bisa juga menjadi momok dan beban pikiran bagi diri sendiri. Apalagi kalau bukan karena perbedaan budaya dan sikap orang sekitar. Apa yang menjadi kebiasaan dan dianggap normal di Indonesia bisa saja dianggap aneh di Jerman, dan sebaliknya.

Tidak sedikit yang memilih untuk pulang di tengah-tengah program dengan alasan tidak betah atau diputus kontrak. Pulang ke Indonesia tentunya bisa juga menjadi salah satu pilihan terbaik. Akan tetapi sangat disayangkan kalau waktu dan uang yang sudah kita investasikan untuk kursus bahasa, biaya visa, dsb harus hangus karena kita tidak bisa berintegrasi dengan budaya setempat.

Baca juga: Perhatikan 8 hal ini untuk kerja bersama orang Jerman!

Berikut ini tips yang mungkin bermanfaat untuk bisa survive di Jerman:
MEMILIKI KEMAMPUAN BAHASA YANG CUKUP

Tidak sedikit orang Indonesia yang pergi ke Jerman melalui agen dan diberikan syarat bahasa A2 untuk mengikuti Ausbildung. Apakah itu cukup? Menurut saya tidak.

Ketika melamar untuk FSJ, saya hanya memiliki sertifikat bahasa A2. Bersyukurnya, saya cukup lancar ketika diwawancara. Walaupun begitu, saya sadar kalau level A2 itu kemungkinan tidak akan cukup untuk keseharian saya di Jerman. Jadilah saya kembali belajar dan mengikuti ujian untuk bahasa Jerman B1.

Baca juga: Sertifikat A1 untuk FSJ dan BFD, sebenarnya cukup atau tidak?

Setelah lulus, saya menyadari bahwa ada perbedaan yang bisa saya lihat dari level A2 dan B1. Ketika masih di level A2 tentunya isi percakapan saya lebih terbatas. Saya pun merasa lebih tenang dengan level bahasa B1, walaupun masih jauh dari sempurna. Terkadang belajar bahasa juga akan beda hasilnya dengan yang sudah terbiasa di Jerman, misalnya lewat program au pair.

Belajarlah bukan hanya sekedar untuk lolos ujian, tapi juga mengerti apa yang sebenarnya sedang diujikan di setiap level. Cobalah memperkaya kosakata kalian dengan metode kalian masing-masing.

Lebih baik kalian lama di Indonesia, tapi benar-benar menghabiskan waktu untuk belajar bahasa hingga kalian merasa siap. Daripada kalian ingin cepat-cepat sampai ke Jerman, tetapi malah banyak merasa kebingungan.

MENTOLERANSI PERBEDAAN

Orang Jerman umumnya sangat menghargai perbedaan dan pendapat orang. Mereka biasanya tidak akan mempertanyakan keyakinan kita. Malah terkadang orang Indonesia sendiri yang lebih sering menghakimi keyakinan satu sama lain. Kamu apa beragama A? Kalau iya kok tidak melakukan B? dsb. Sangat sedikit kemungkinan orang Jerman mempertanyakan hal tersebut.

Sehingga, sangat penting juga bagi kita para pendatang untuk menghormati si pemilik rumah, alias orang Jerman itu sendiri.

Misalnya saja, di Indonesia tinggal bersama sebelum menikah adalah hal yang sangat tabu. Bahkan ada istilah tersendiri untuk memberikan konotasi negatif seperti kumpul kebo.

Akan tetapi, ada juga keluarga di Jerman yang sudah memiliki beberapa anak dan menjadi tua bersama, tetapi tidak pernah menikah. Ketika misalnya kamu berkesempatan menjadi au pair di rumah keluarga tersebut, milikilah pikiran terbuka yang tidak menghakimi. Pandanglah mereka sebagai manusia pada umumnya dan berbaik sangka lah. Kalau kalian malah menghakimi dan berkomentar pedas, yang ada kalian yang akan diminta angkat kaki dari rumah tersebut.

Terbuka terhadap perbedaan ini tentu saja bukan berarti kalian harus melakukan hal yang sama. Hormatilah apa yang dipercaya orang seperti halnya kalian ingin dihormati atas keyakinan kalian.

Baca juga: Orang Jerman VS orang Indonesia: Cuek atau SKSD?

BELAJAR BERADAPTASI

Kalau ada salah satu skill penting yang menurut saya harus dimiliki saat merantau, jawabannya adalah kemampuan untuk beradaptasi.

Semua orang tentunya berbeda-beda, ada yang bisa beradaptasi dengan cepat dan ada bisa beradaptasi lebih lambat. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah keinginan untuk beradaptasi itu sendiri.

Salah satu anak rantau Indonesia di Jerman pernah berkata, sebagai Azubi walaupun tidak memiliki nilai yang sempurna di kelas, asalkan rajin dan mau belajar saat bekerja, pastilah akan disukai juga dengan si pemberi kerja.

Kenapa? Karena keinginan dan usaha kalian untuk beradaptasi dengan tempat kalian bekerja pastinya akan jelas terlihat.

Seandainya kalian au pair, mulailah dengan mencoba berbahasa Jerman dengan anak asuh kalian. Bermainlah bersama mereka dengan tulus. Dengan begitu kalian benar-benar memperlihatkan ketertarikan kepada keluarga asuh kalian.

Belajarlah memilah sampah, perhatikan hal-hal kecil seperti menaruh piring ke dishwasher atau sekedar merapikan tempat atau area kalian tidur. Hal-hal ini pastinya akan terlihat juga oleh keluarga asuh kalian. Milikilah inisiatif untuk melakukan tugas kalian. Tawarkan bantuan apabila dirasa diperlukan.

Alih-alih menyimpan keluh kesah sendiri, cobalah untuk berbicara apabila ada yang dirasa terlalu berat untuk dilakukan. Jangan lupa untuk bicara dengan tenang dan pastikan keluarga asuh kalian punya mood yang tepat untuk diajak bicara. Jangan-jangan nanti mereka pulang kerja, sudah kalian sambut dengan keluh kesah kalian.

Baca juga: Kisah perjuangan Windi Martanto di Jerman

TEPAT WAKTU

Salah satu budaya Jerman yang populer adalah masalah ketepatan waktu. Sudah bukan rahasia lagi kalau kita orang Indonesia punya istilah Jam Karet. Budaya kita yang nggak enakkan sepertinya mencegah kita juga untuk jujur kalau sebenarnya kita kesal ketika seseorang datang terlambat.

Hal ini tentu saja berbeda di Jerman dan banyak negara Eropa lainnya. Ketepatan waktu itu sifatnya mutlak, karena waktu itu sangat berharga. Pernah nggak dengar kata-kata, ‘‘Kalau kamu mau memberi sesuatu yang berharga untuk seseorang, berilah waktumu. Karena dengan begitu kamu sebenarnya sedang membagi bagian dari hidupmu yang tidak dapat diulang dan diambil kembali‘‘.

Pakailah prinsip ini untuk belajar bahwa meskipun terlihat sederhana, menghargai waktu seseorang sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menghormati orang itu sendiri. Walaupun begitu bukan berarti kalian harus datang terlalu cepat. Datanglah misalnya 5 menit sebelum waktu temu atau Termin dimulai.

Hal ini juga berguna ketika kalian diundang ke rumah seseorang. Jangan sampai datang terlalu cepat, kalau yang punya rumah merasa tidak nyaman bisa jadi kalian disuruh menunggu di luar.

Baca juga: Orang Jerman: Termin!!Termin!!Termin!!

ATURLAH KEUANGANMU

Salah satu tantangan terbesar ketika merantau adalah mengatur keuangan. Bagaimana tidak? Punya uang saku atau gaji Eropa, sepertinya sayang kalau tidak dibuat foya-foya. Eitss, tapi jangan terlena. Bagaimanapun, menabung atau bahkan berinvestasi akan selalu kita rasakan manfaatnya di manapun berada.

Kalau kalian merasa cukup baik dalam mengatur keuangan, cobalah menabung sebagian besar dari uang saku atau gaji kalian. Kalau tidak, minimal kalian punya tabungan yang jumlahnya cukup untuk ongkos pulang ke Indonesia kalau terjadi apa-apa.

Secinta-cintanya kita sama Jerman, selama permanent residence alias izin tinggal tetap belum di tangan, kita harus sedia payung sebelum hujan. Tentu saja kita ingin mengharapkan yang terbaik, tetapi nggak ada salahnya untuk menabung untuk keadaan darurat.

Seandainya kalian hanya bisa menabung 100 Euro per bulan saja, dalam satu tahun kalian akan punya 1200 Euro. Jumlah ini saya rasa cukup untuk tiket pulang setelah masa kontrak atau malah untuk satu dua bulan lanjut hidup di Jerman ketika memulai kontrak atau masa visa baru.

Baca juga: Ijin Tinggal Tetap Vs Ganti Paspor di Jerman

DON‘T STAY ON YOUR COMFORT ZONE

Tips yang terakhir ini sangat simpel tapi terkadang sangat sulit juga dilakukan.

Terkadang, kita sudah jauh-jauh ke Jerman tapi merasa takut untuk memulai obrolan dengan orang sekitar. Rasanya lebih nyaman kalau ngobrol dengan orang Indonesia saja.

Silaturahmi dengan orang dari Indonesia memang menyenangkan, terkadang bisa mengobati rindu rumah dan juga mendapatkan teman sepenanggungan apabila kita bertemu orang yang tepat. Akan tetapi, kita juga harus mau membuka diri terhadap kenalan baru. Mungkin dari sekolah bahasa, tempat kerja, kampus, dan sebagainya.

Beranikanlah diri untuk menjelajah daerah tempat mu tinggal. Kalau di kota, mungkin bisa dengan menaiki transportasi umum dan memberanikan diri untuk tidak tersesat (kalaupun tersesat, kamu pun bisa mendapatkan pertolongan asalkan berani bertanya).

Ketika tinggal di desa, kamu bisa bersepeda, main ke hutan, atau sekedar menyapa orang yang berpapasan dengan kita. Biasanya sih, orang yang tinggal di kota kecil atau desa akan lebih ramah daripada penduduk kota besar.

Try things you haven‘t done in Indonesia! Berenang di danau terbuka, pergi ke suatu tempat sendirian, mengikuti program sukarelawan, dan sebagainya. Surprise yourself!

*

Walaupun tidak mudah, apabila kalian bersungguh-sungguh, pastilah ada jalan untuk kalian bisa survive di negara yang terkenal dengan orang yang serba kaku ini.

Hal-hal yang tadinya kalian anggap berat, lama-lama akan menjadi kebiasaan tersendiri. Malah mungkin akan membantu kalian di masa depan.

Datanglah ke Jerman dengan prasangka baik, tetapi juga bersiaplah untuk tantangan baru. Jangan biarkan kritikan atau tantangan yang kalian terima sebagai suatu beban. Terkadang, dari situasi yang paling berat lah justru kita akan punya banyak ruang untuk belajar.

*

Penulis: Abigail Tessa

IG: @abigailtessa

Subscribe youtube channel Tessa: Abigail Tessa

Kunjungi Website: http://ceritavoneropa.com/

 

CATATAN:

Semua gambar diambil dari https://www.pexels.com/.

Pexels mengizinkan penggunaan gambar secara bebas, untuk lisensi lebih lanjut:

https://www.pexels.com/license/ (All photos can be used and downloaded for free).

*

*
Follow instagram: @denkspa

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.