Opini guest blogger: @abigailtessa  (www.ceritavoneropa.com)

Au pair memang pada dasarnya adalah zona abu-abu. Mau dibilang pekerjaan, kita nggak punya visa kerja. Pelajar? Paling beberapa kali seminggu ikut kursus bahasa. Anak angkat? Lah kalau itu namanya (A)dopsi dong bukan (A)u pair.

Lantas sebenarnya apa sih au pair itu?

Bagi yang belum tahu,

(Sumber: Wikipedia)

Bahasa sederhananya, au pair adalah seseorang dari negara lain yang hidup sebagai bagian dari keluarga asuh. Au pair ini juga diambil dalam bahasa Perancis, yang artinya equal, alias win-win solution antara si au pair dan keluarga asuh. Au pair mendapatkan akomodasi, uang saku, dan kursus bahasa. Sedangkan keluarga asuh mendapatkan bantuan untuk memudahkan keseharian mereka.

Baca juga: 5W 1 H Kupas Tuntas seputar Au Pair

Meski begitu, praktik au pair yang tidak selalu lancar dan pandangan orang Indonesia yang terkadang negatif bagi orang-orang yang membantu pekerjaan di rumah orang di negara lain, membuat banyak au pair yang malu. Bahkan, sampai harus berbohong. Entah sekedar gengsi atau karena keluarga dan orang sekitar yang tidak menghargai.

Daripada Malu, Coba Pikirkan Hal Ini Lebih Dahulu:

UBAH POLA PIKIR

Sepahit-pahitnya ada yang melabeli kamu dengan sebutan ‘‘pembantu dan tukang bersih-bersih‘‘ di Eropa. Lalu kenapa?

Pernah nggak sih kepikiran? Kadang ada hal-hal yang sebenarnya itu hanya masalah pola pikir semata.

Misalnya saja kita berkata, ‘‘Pekerjaan yang benar itu yang menghasilkan uang banyak‘‘. Really?

Kalau kamu punya banyak uang hasil korupsi, apakah pekerjaan mu itu masih akan tetap menjadi identitas dan kebanggaanmu?

Pikiran tentang pekerjaan sebagai pembantu adalah suatu hal yang buruk sebenarnya ada di pikiran kita saja. Seolah-olah pekerjaan yang kita cita-citakan ketika kecil, seperti polisi dan dokter gigi adalah yang paling mulia.

Pada akhirnya, pembantu pun manusia. Tidak sedikit juga orang yang benar-benar bekerja sebagai pembantu dari Indonesia tapi bisa menjadi berkat bagi keluarganya. Bukankah itu lebih bermakna? Dari pada hanya pergi ke Eropa untuk senang-senang dan menghabiskan duit orang tua.

Coba ubah mindsetmu. Menurutku, sebaik-baiknya pekerjaan adalah pekerjaan yang bisa kita lakukan dengan baik dan sungguh-sungguh. Lebih baik lagi kalau bisa bermanfaat untuk orang sekitar.

Lagipula, kamu nggak akan jadi au pair selamanya. Bisa saja sih, misalnya kamu mau terus melanjutkan program au pair di negara lain seperti Austria dan Belanda. Itupun pilihan yang harusnya datang dari sendiri dan membuat kamu happy.

Saya percaya, ada saatnya jerih lelah kita memulai perjalanan sebagai program au pair akan tergantikan. Entah itu ketika kita akhirnya bisa melanjutkan kuliah, mendapatkan gaji lumayan setelah Ausbildung, atau bahkan menikah dengan orang yang kita cinta. Ada juga yang pulang ke Indonesia dengan bahasa Jerman yang lebih baik dan mendapatkan kesempatan untuk berkarir, sebagai guru atau bahkan di embassy.

Sekarang tugas utamamu hanya bersabar dan melakukan yang terbaik. Orang yang menghinamu karena kamu ikut program au pair pun akhirnya pasti diam juga.

Baca juga: Au Pair Tidak sama dengan pembantu dan tidak ada yang salah dengan menjadi pembantu!

AU PAIR BISA MEMBUKA JENDELA UNTUK BANYAK KESEMPATAN

Baca juga: Mau Tinggal Lama di Eropa? Au Pair di Jerman Aja!

Daripada pusing dan merana karena perkataan tetangga, lebih baik kamu fokus untuk mempersiapkan mimpimu. Kenapa kamu dulu ingin sekali ke Eropa sebagai au pair?

Kadang pasti ada saat lelah atau mungkin sekedar merasa rendah, karena harus memperkenalkan diri sebagai au pair saja. Saya pun pernah mendengar bahwa ada beberapa teman yang sampai malas main ke kedutaan besar, hanya karena tidak ingin memperkenalkan diri sebagai au pair saja. Maklum, walaupun sudah sampai Eropa, masih banyak kok orang Indonesia yang memandang rendah au pair dan menganggapnya sebagai tukang bersih-bersih semata.

Baca kisah Windi Martanto: Selalu ada terang ditengah keputusa asaan.

Kamu boleh sedih, tapi jangan lama-lama.

Jangan sampai kamu bersedih hati sampai lupa tujuan utamamu untuk sampai ke Benua Biru ini. Mau kuliah? Buruan cek kesempatanmu. Persiapkan dokumen, nilai IELTS atau TestDAF. Percaya deh, hal-hal ini bakal bikin kamu sibuk sampai lupa atas kata-kata negatif yang dikatakan orang. Butuh uang untuk deposit? Belajarlah mengatur uang dan menabung, kalau perlu cari bantuan. Siapa tau kamu malah dapat sponsorship dari host family atau orang lain yang peduli.

Mau FSJ? Buruan cari tempat FSJ. Jangan lupa persiapkan juga CV (Lebenslauf) dan Motivationsschreiben mu!

Mau Ausbildung? Ini juga ga kalah ribet. Kemungkinan kamu harus menyetarakan ijazahmu. Penyetaraan ini disebut dengan proses Anerkennung.

Mau cari jodoh orang Jerman? Bisa juga. Tapi jangan lupa untuk tulus dan hanya mengedepankan visa semata.

Banyak kan jalanmu setelah au pair?

Dari pada malu memikirkan status au pair, lebih baik kamu memikirkan langkahmu selanjutnya di Jerman.

Kalau kamu masih terus bingung dan ragu, konsultasi di denkspa bisa jadi solusi buat kamu. Kamu bisa cek penawarannya di poster ini:

POCKET MONEY VERSI EROPA

Sekalipun kamu dibilang pembantu, kamu mungkin saja memiliki tabungan yang lebih banyak daripada si penghina yang mungkin bekerja sebagai karyawan di Jakarta. UMR ibukota misalnya sekitar Rp4.000.000,-. Tetapi kemudian harus dipotong dengan banyak hal seperti uang untuk tempat tinggal (kos-kosan), makan, internet, dan sebagainya.

Sedangkan kamu bisa menerima kurang lebih 260 Euro, terkadang kamu bisa menerima lebih. Semua uang itu, kalau kamu sanggup, bisa kamu simpan. Lapar? Tinggal ambil makanan di kulkas host family. Mau internetan? Ada wifi. Apa nggak kurang nyaman hidupmu?

Saat jadi au pair saya malah belajar banyak tentang mengatur keuangan dan menabung. Bersyukur karena saat itu beban biaya hidup saya tidak besar, karena sebagian besar ditanggung host family. Saya bisa hidup nyaman di negara orang.

Nggak usah malu, lebih baik kamu sisihkan saja pundi-pundi Euro mu. Mungkin saat ini kamu dapat 260 Euro. Beberapa tahun kemudian ketika kamu selesai Ausbildung, misalnya, kamu bisa mendapat gaji bruto 2500 – 3000 Euro (bahkan lebih).

Orang yang pernah menghinamu dengan sebutan ‘‘tukang bersih-bersih Eropa‘‘ mungkin saja harus bekerja beberapa bulan atau bahkan satu tahun untuk mendapatkan uang sejumlah itu.

 

MEREKA YANG BAIK PASTI AKAN MEMBERIKAN SUPPORT

Merantau jauh ke luar negeri memang memberikan kita kesempatan untuk ketemu banyak orang baru. Tetapi, itu juga berarti kita akan meninggalkan banyak teman lama. Jauhnya jarak dan besar nya perbedaan waktu sudah pasti akan membuat kita semakin berjarak, bahkan dengan orang yang tadinya kamu anggap teman dekat.

Tidak sedikit dari mereka yang mungkin akan berkata ‘‘Ih, nanti kamu disiram air panas‘‘ atau ‘‘Jaga anak orang? Babysitter kali!‘‘. Perkataan dan komentar yang mungkin akan menyakiti kalian dan membuatmu semakin berjarak.

Kabar baiknya, nggak sedikit juga orang baik berpikiran terbuka yang akan memberi mu support atau bahkan kata semangat. Mama saya misalnya, malah bangga karena anak semata wayangnya bisa juga survive di Eropa. Orang-orang seperti inilah yang akan tetap memberikan kita semangat dan mungkin saja bisa menggubris perkataan yang mengecilkan hati dari orang lainnya.

Terkadang saat merantau, kamu malah bisa lebih melihat mana orang baik yang memilih untuk membisikkan kata semangat daripada mereka yang mungkin memilih untuk menghina. Secara tidak langsung, kepindahanmu sebagai au pair ke Eropa mungkin bisa membantumu untuk memfilter, mana hubungan yang layak dipertahankan dan tidak.

Baca juga: Mau Jadi Au Pair?? Kenali Host Family Palsu!

INGAT KEMBALI NIAT AWALMU

Ketika kamu merasa malu dan rendah diri, karena sedang mengikuti program au pair di negara lain…

Ingatlah dulu semangatmu yang membara.

Berapa banyak waktu yang kamu habiskan untuk memahami bahasa Jerman?

Mungkin ada sebagian yang dibantu orang tua untuk kursus bahasa. Apakah uang yang sudah orang tua mu percayakan cuma ingin kamu gantikan dengan rasa malu semata?

Ingat-ingat apa yang membuatmu yakin untuk merantau ke Eropa.

Mungkin sudah lelah juga jarimu untuk menulis pesan ke calon keluarga.

Apa tidak sayang, kalau kamu pulang atau jadi tidak semangat, karena malu?

 

If there is one thing we need to be ashamed for, it is not about being an au pair.

It is about letting other people bring you down for being an au pair.

 

Penulis: Abigail Tessa

IG: @abigailtessa

Subscribe youtube channel Tessa: Abigail Tessa

Kunjungi Website: http://ceritavoneropa.com/

 

CATATAN:

Semua gambar diambil dari https://www.pexels.com/.

Pexels mengizinkan penggunaan gambar secara bebas, untuk lisensi lebih lanjut:

https://www.pexels.com/license/ (All photos can be used and downloaded for free).

*

*
Follow instagram: @denkspa

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.