Instagram Penulis : @Maryam.hhrd

Kartu Pos : Awal Mula Berteman Dengan Orang Jerman

Masih teringat dengan jelas ketika itu di hari Kamis, 28 Juni 2018 ada Pak Pos mengantarkan selembar kartu pos dari Jerman ke rumahku. Aku sebagai orang yang sedang aktif-aktifnya dalam kegiatan Postcrossing, tentu hal ini sangat menyenangkan bagiku. Siapa sih yang tidak Excited ketika ada kartu pos dari luar negeri, ditulis oleh orang dari luar negeri, dikirim menggunakan prangko dari negara asal mereka, melalui perjalanan yang panjang, melewati perbatasan negara, batas benua, yang dimana kartu pos itu ditujukan untuk kita, lengkap dengan nama dan alamat kita, tertulis pesan untuk kita, dikirim dari orang asing yang bahkan kita dan dia tidak pernah bertatap muka dan kenal sebelumnya! Terlebih aku yang belum pernah sekalipun bepergian keluar negeri sehingga kegiatan Postcrossing ini membuat rasa hausku yang ingin melihat dunia luar cukup terobati. Karena jangankan keluar negeri, keluar dari Pulau Jawa saja, aku hanya pernah ke Kepulauan Seribu yang lokasinya masih cukup dekat dari Jakarta.

Kegembiraan mendapat kartu pos melalui Postcrossing masih sangat terasa walau sudah belasan kartu pos yang ku dapat selama aktif di Postcrossing kala itu. Rasa excited nya bahkan masih terasa seperti ketika mendapat kartu pos dari luar negeri untuk yang pertama kalinya! Kartu pos pertama yang kudapat melalui Postcrossing adalah kartu pos dari postcrosser (anggota Postcrossing) asal Swiss. Masih segar di ingatan perasaan ketika pertama kali ada kartu pos dari luar negeri yang mendarat di rumahku. Aku? Senang bukan kepalang! Aku bahkan jingkrak-jingkrakan di lantai rumah saking senangnya dan rasanya masih tidak percaya. Ini beneran ada kartu pos dari luar negeri buatku? Bertuliskan namaku dan dikirim ke alamat rumahku? Bahkan tulisan, isi pesan yang ditulis di kartu pos yang ditujukan untukku itu bisa aku pegang secara fisik!  Oh Ya Allah senang sekali rasanya! Ada orang dari luar negeri yang tidak pernah tahu siapa aku dan aku tidak tahu siapa dia, tapi dia mengirimi aku kartu pos, menyapaku, menuliskan pesan di kartu posnya dengan tulisan tangannya sendiri dan bela-belain pergi ke kantor pos hanya untuk mengirimkan kartu pos tersebut untukku!

Bayangkan, di abad yang serba digital seperti sekarang ini, merupakan pengalaman yang sangat berkesan buatku sebagai anak yang terlahir di generasi yang tidak dibesarkan di masa ketika kegiatan kirim-mengirim pesan menggunakan kartu pos adalah hal yang lumrah. Banyak teman-temanku yang mengatakan bahwa sekarang zaman udah canggih, ada email dan Whatsapp buat kirim pesan, jadi untuk apa masih kirim pesan pakai ginian?

Namun berkali-kali aku mengatakan bahwa sensasi mendapat kartu pos itu, jaaaaaaauuuuuuh berbeda dengan ketika aku mendapat pesan di Email dan Whatsapp yang pesannya tidak bisa kupegang secara fisik serta tidak ada kesan apa-apa di dalamnya. Dibandingkan pesan melalui Email dan Whatsapp, pesan melalui kartu pos justru pesan yang bisa aku pegang secara fisik, ditambah gambar kartu posnya dan prangkonya yang menarik serta unik khas dari negara pengirim. Rasanya seperti ada kesenangan dan kepuasan di hati yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Melihat gambar di kartu pos dan prangkonya, membuatku seperti bisa melihat dunia. Hal itu membuat anganku terbang dan membayangkan seperti apa negara tersebut serta membayangkan jika diri ini suatu saat bisa berkunjung ke sana. Ah, sekali lagi aku sangat bahagia! Bahkan aku takjub dengan selembar kartu pos ini. Entah sudah berpindah ke berapa banyak tangan, sudah transit di berapa negara, berapa batas negara dan benua yang sudah dilewati dan berapa ribu kilometer jarak yang sudah ditempuh oleh selembar kartu pos ini sehingga akhirnya bisa sampai di tanganku. Aku sungguh takjub! Ini luar biasa!

Tak kusangka kartu pos ke-14 yang kuterima melalui Postcrossing yang dikirim oleh postcrosser asal Jerman bernama Lukas ini adalah awal mula pertemananku dengan orang Jerman! Hurray! Dia mengirimiku kartu pos bergambar gedung dari sebuah universitas di kota tempat dia tinggal, Ilmenau. Sedangkan Lukas sendiri ketika itu masih SD berusia 12 tahun. Pikirku mungkin mamanya membantu dia dalam berkegiatan Postcrossing dari mulai menyiapkan kartu pos, prangko, isi dan tulisan pesannya. Mengingat batas usia member Postcrossing adalah minimal berusia 13 tahun, jika di bawah itu maka diharuskan dengan pengawasan orang tua. Hal yang juga membuatku takjub adalah kartu pos dari Lukas itu berisikan puisi yang dibuat oleh Goethe dalam terjemahan Bahasa Indonesia! Wow, mereka baik sekali. Mereka mengirimkan puisi dari penyair Jerman yang bernama Johann Wolfgang Goethe dalam terjemahan Bahasa Indonesia sehingga aku yang merupakan orang Indonesia bisa dengan mudah membaca dan memahami puisinya 🙂

(Foto kartu pos dari Lukas bagian depan. Sumber : https://www.postcrossing.com/postcards/DE-7285277)

 

(foto kartu pos dari Lukas bagian belakang. Sumber : foto koleksi pribadi)

 

Perjalanan kartu pos ini memakan waktu selama 14 hari dengan menempuh jarak 10.965 km berdasarkan dari data Riwayat Identitas Kartu Pos https://www.postcrossing.com/postcards/DE-7285277 yang kemudian aku screenshoot seperti gambar di bawah ini:

 

Nah, setelah kartu pos dari Lukas ku terima, aku sebagai penerima wajib meregister kartu pos tersebut dengan memasukkan “Postcard ID” atau identitas kartu pos yang ditulis di kartu posnya. Namun Lukas atau mamanya mencetak alamat beserta “Postcard ID”nya di kertas lain lalu ditempel. Ditulis tangan langsung maupun diprint dulu di atas kertas pun tidak mengapa. Postcard ID tersebut didapat Lukas sebagai pengirim ketika “request address” di halaman situs web Postcrossing yang munculnya berbarengan dengan alamat tujuan. Identitas Kartu Pos atau “Postcard ID” pengirim berawalan dari kode negara pengirim. Lukas yang berdomisili di Jerman, maka kode negara Jerman adalah DE yang berarti Deutschland. Kemudian ada tanda strip yang menghubungkan deretan angka 7285277. Deretan angka tersebut menunjukkan bahwa kartu pos yang dikirim Lukas kepadaku itu adalah kartu pos ke-7.285.277 yang dikirim dari negara Jerman melalui situs web Postcrossing.

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa sih Postcrossing itu? Dan bagaimana cara kerjanya? Postcrossing menurut sepemahamanku adalah situs web yang memungkinkan kita untuk mengirim dan menerima kartu pos dari dan ke seluruh dunia secara acak, random atau kalian bisa melihat info secara lebih rincinya di tautan ini https://www.postcrossing.com/about. Di sana juga dijelaskan bagaimana cara kerja Postcrossing. Namun tenang saja bagi yang belum bisa Bahasa Inggris, kalian bisa search di internet dengan kata kunci “Cara kerja Postcrossing“. Di sana banyak orang Indonesia yang menuliskan tentang cara kerja Postcrossing di berbagai blog.

Tapi, tulis isi pesannya kan tetap harus pakai bahasa Inggris, bagaimana caranya wong aku saja tidak bisa Bahasa Inggris?”

Eiitt.. Tenang sodara-sodara, kalian tidak bisa Bahasa Inggris? Tosss.. Sama, aku juga dulu tidak bisa. Walaupun sekarang yaaa Bahasa Inggris aku juga tetap saja masih banyak banget yang salah. Namun karena waktu itu aku sudah kepengen banget bisa main Postcrossing, penasaran pengen dapet kartu pos dari luar negeri dengan harus kirim duluan kartu posnya keluar negeri, sehingga membuat orang belagu dan o’on Bahasa Inggris seperti aku ini jadi ngotot, bertekat bahkan nekad “Pokoknya aku pengen dapet kartu pos dari luar negeri. Lalu bagaimanapun caranya aku pengen ngomong sama mereka, berkomunikasi dengan mereka. Aku pengen mereka tahu bagaimana perasaan dan pikiranku dengan mengungkapkannya melalui tulisan di kartu pos untuk mereka. Bodo amat bahasa Inggris aku sejelek apa yang penting aku sudah berusaha untuk berkomunikasi dengan mereka dan aku berharap mereka tetep paham walaupun aku punya keterbatasan dalam Bahasa Inggris dan cuma mengandalkan Google Translate“.

Ngomong-ngomong soal keterbatasan Bahasa Inggris, aku jadi teringat pengalaman yang paling pertama ketika aku ngebet banget kepengen punya sahabat pena dari luar negeri di tahun 2015. Ketika itu aku bahkan sengaja menghindari orang-orang dari negara yang bahasa ibunya adalah Bahasa Inggris hanya karena aku tidak bisa Bahasa Inggris, wkwkwk..  Ketika itu aku berpikir, setidaknya kalau Bahasa Inggrisku salah dan jelek, aku tidak terlalu merasa malu dan malu-maluin. Wong lawan bicara aku bahasa ibunya juga bukan Bahasa Inggris jadi belum tentu Bahasa Inggris dia juga bagus….

Jadi, bagaimana tulisan Bahasa Inggris pertamaku yang aku kirim ke situs pencarian sahabat pena yang mana nanti diteruskan ke Email orang yang bersangkutan? Seperti ini:

(Sumber : https://maryamhhrd.blogspot.com/2017/12/korespondensi-dengan-orang-luar-negeri.html?m=1)

 

Hahaha, lihatlah betapa banyaknya kesalahan dalam Bahasa Inggrisku. Aku, orang yang tidak bisa bahkan oon dalam Bahasa Inggris ini, bahkan setelah tanya teman-teman pun Bahasa Inggris aku masih begitu-begitu saja tetapi tetep ngotot pengen punya temen dari luar negeri yang mana ngototnya sungguh kebangetan. Aku jadi sangat bersyukur bahwa di jaman ini ada google translate yang dapat diakses di pc maupun di handphone yang bahkan hasil terjemahannya sudah cukup bagus. Hal ini sungguh sangat memudahkan aku yang oon dalam Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan teman-teman dari luar negeri.

Oh iya, aku pernah membuat “Postcrossing starterpack” dimana itu berisi panduan simple atau mungkin lebih tepatnya apa saja sih yang harus disiapkan bagi para pemula yang ingin memulai Postcrossing? Nah, seperti inilah Postcrossing starterpack yang aku bikin :

(Postcrossing starterpack, sumber : instagram pribadi https://www.instagram.com/p/Bss-XIhhQeV/?utm_medium=copy_link)

 

Kembali lagi ke Lukas. Senang sekali rasanya mendapat kartu pos berisikan puisi indah dari Jerman yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ketika aku meregister kartu pos dari Lukas dengan memasukkan Postcard ID nya, aku juga mengetikkan pesan berisikan ucapan terima kasih, menanggapi serta memberikan pujian atas kartu pos, prangko serta isi pesannya kepadaku. Syukurlah, riwayat pesanku untuknya ketika aku meregister kartu pos dari Lukas di situs web Postcrossing masih tersimpan di Emailku.

(Sumber : Tangkapan layar email pribadi)

 

Eh ternyata tak ku sangka, Lukas membalas pesanku! Waah, aku terkejut karena tidak menyangka sekali. Kenapa tidak menyangka? Karena setiap aku mendapat kartu pos dari siapapun itu, lalu kemudian aku register sambil mengetikkan ucapan terima kasih, menanggapi dengan mengomentari serta memuji kartu pos beserta prangko yang aku terima, pengirim kartu pos tidak pernah membalas pesanku lagi. Tetapi ini beda, Lukas beda. Lukas justru membalas pesanku! Yeaaayy  senangnya dapat balasan pesan lagi 🙂

 

Kemudian aku balas lagi pesannya. Namun ternyata masih dibalas lagi oleh Lukas sehingga kami menjadi saling berkomunikasi melalui kolom pesan di akun Postcrossing yang kemudian diteruskan ke email. Lukas adalah pribadi yang baik, ramah dan menyenangkan sehingga aku berpikir sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku bisa berteman dan bersahabat pena dengan dia. Terlebih usia Lukas sepantaran dengan usia adik laki-lakiku. Hingga akhirnya aku mengirim pesan yang isinya mengajak dia untuk bersahabat pena denganku. Dan wow, kemudian dia mengatakan ya, dengan langsung mengirimkan alamat rumahnya! Kemudian aku mulai menyiapkan amplop lalu kertas untuk menulis surat lalu prangko sebagai ongkos kirim yang ditempel di amplop surat bagian depan. Di kertas surat aku menulis perkenalan diri, menceritakan tentang diriku, keluargaku, kesibukanku, dsb. Kemudian ke kantor pos untuk mengirimkan surat tersebut bersamaan dengan kiriman surat dan kartu pos lainnya.

Sekitar 14 hari kemudian surat tersebut sampai ke dia. Lalu sekitar 14 hari kemudian lagi amplop surat bergambar kartun Snoopy dengan dibubuhi prangko bunga dan Nelson Mandela dari dia sampai di rumahku. Di dalam amplopnya berisi stiker-stiker lucu bergambar hewan serta kertas tebal bergambar kartun Snoopy yang di dalamnya bertuliskan isi surat darinya.

 

(Sumber : postingan akun Instagram pribadi https://www.instagram.com/p/BnI83W1Fb4S/?utm_medium=copy_link)

 

Setelah itu kami jadi aktif kirim-mengirim surat bahkan kemudian Lukas, lalu kakaknya bernama Leon dan mamanya yang bernama Mrs. Kathrin mengirimiku banyak sekali hadiah setelah aku bercerita bahwa aku punya dua orang adik laki-laki yang usianya sepantaran dengan mereka dan juga satu adik perempuan yang lebih kecil. Di rumah, adikku mengabari ada paket berbentuk kardus dari Jerman ditujukan ke alamat rumahku. Begitu aku sampai di rumah dan membuka kotak kardusnya, wah isinya banyak sekali. Ada gelas, skipping, kartu pos bergambar gedung di Jerman, dan berbagai souvenir.

( Sumber : postingan akun Instagram pribadi https://www.instagram.com/p/Bnz9Le9lYf0/?utm_medium=copy_link)

Aku sungguh merasa terharu dan senang. Ya ampun, mereka baik banget. Akhirnya dari situ aku mulai sibuk juga kira-kira apa yang bisa kukirim untuk mereka selain selembar surat yang sekiranya bisa muat ke dalam amplop untuk mereka ya. Karena jujur aja kalau kirim paket apalagi keluar negeri dan dalam bentuk kardus pasti mahal banget. Namun akhirnya aku dapat ide. Ketika itu sedang ada acara Asian Games di Jakarta dan di waktu yang bersamaan aku sedang melakukan Praktik Keterampilan Mengajar di sebuah sekolah di Jakarta. Aku yang sedang gemar-gemarnya berburu kartu pos, datanglah ke Kantor Filateli Jakarta untuk membeli berbagai kartu pos dan prangko bertema Asian Games. Nah, salah satu kartu pos Asian Games aku masukkan ke dalam amplop, lalu Souvenir bookmark wayang yang sebelum-sebelumnya aku beli di online shop “Posnesia” di Shopee, bendera merah putih kecil serta stiker Persija yang dibeli di abang-abang tukang mainan dekat SD. Lalu dikirimlah amplop berisi surat beserta printilan-printilannya itu. Dari mengirim amplop kecil lalu aku coba mengirim amplop sedang hingga ke amplop yang lebih besar.

*Sekadar informasi, jika kalian tertarik untuk mengirim souvenir beserta printilan, atau hadiah kecil ke dalam amplop sedang maupun yang besar, kalian bisa intip grup Facebook “Komunitas Postcrossing Indonesia” disana ada banyak sekali informasi yang berguna mulai dari tarif prangko berdasarkan berat surat, daerah bahkan negara tujuan, dimana saja tempat yang jual kartu pos, bahkan juga giveaway kartu pos. Aku sering dapat giveaway kartu pos disana sekaligus menjadi ajang silaturahmi dengan sesama orang Indonesia yang juga merupakan anggota Postcrossing.

Kegiatan saling kirim-mengirim kartu pos, surat, bahkan parsel hadiah diantara kami pun semakin intens hingga tak terasa sudah berada di tahun 2020. Banyak sekali hadiah yang mereka kirimkan untukku diluar hari ulang tahunku yang dikirim menggunakan amplop kecil, amplop sedang hingga amplop besar. Hadiah-hadiah itu berupa kalender, majalah, buku dan kertas bergambar untuk diwarnai, souvenir, banyak kartu pos, teh, mainan anak-anak, bahkan kaos untuk adik laki-lakiku.

(Hadiah untukku dan adikku, Faisal dari mereka, sumber foto : sorotan Instagram pribadi “Incoming”, https://www.instagram.com/maryam.hhrd/)

Bahkan ketika Natal, aku mendapat kado natal dari mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka tahu bahwa aku tidak merayakan Natal tetapi mereka punya tradisi untuk mengirimkan hadiah untuk teman-teman mereka😊

(Hadiah Natal dari mereka, sumber foto : sorotan Instagram pribadi “Incoming”, https://www.instagram.com/maryam.hhrd/)

Bahkan ada yang menurutku sangat spesial, yaitu sebuah jam tangan dan sebuah pensil bertuliskan “Ausbildung” yang di kemasannya tertulis “Bundesagentur Fuer Arbeit”.

 

Melihat pensil ini aku jadi teringat sesuatu. Pernah ada orang yang mengaku dari Inggris menghubungiku dan menawariku untuk menjadi Au Pair di keluarganya. Mereka dapat Emailku dari Grup Aupair Belanda, Jerman di Facebook. Ketika itu admin grup memposting info tentang Ausbildung di Jerman dan aku meminta info tentang Ausbildung itu dengan melampirkan emailku di kolom komentar. Hal tersebut aku ceritakan ke mamanya Lukas karena ini penipuan, orang Indonesia tidak bisa jadi Au Pair di Inggris. Mungkin karena mamanya Lukas melihat kalau sepertinya aku berminat untuk ikut program Ausbildung di Jerman, maka dari itu beliau menghadiahkan Pensil Ausbildung ini untukku. Aku berharap hadiah Pensil Ausbildung ini adalah sebagai doa untukku agar suatu hari nanti aku betulan bisa ikut program Ausbildung di Jerman. Aamiin 😊

Selain mengirimkanku hadiah natal, mereka juga mengirimiku album prangko yang besar dan juga banyak sekali prangko ketika aku ulang tahun. Bahkan di waktu sebelumnya aku juga dikirimi album prangko kecil beserta banyak prangko di dalamnya. Aku pikir, sepertinya itu semua merupakan koleksi pribadi mereka. Sungguh, aku merasa jadi tidak enak ke mereka untuk menerima ini semua karena menurutku ini terlalu berlebihan. Aku takut ini semua merupakan koleksi berharga mereka yang mana harganya mahal, sehingga membuat mereka sampe mengorbankan banyak uang untuk ini atau merelakan koleksi terbaik mereka untuk diberikan kepadaku. Padahal sungguh, aku sama sekali tidak pernah meminta apapun ke mereka. Aku jadi berpikir mungkin mereka ingin berterima kasih kepadaku karena aku telah membantu proyek tugas sekolahnya Lukas di mata pelajaran Geografi, yang di mana Lukas membuat proyek tentang Indonesia dan gunung berapi di Indonesia.

Tetapi anehnya aku yang awalnya merasa senang setiap mendapat kiriman hadiah dari mereka, lama-kelamaan perasaan senang itu hilang dan justru digantikan dengan perasaan cemas, takut, pusing bahkan tertekan yang menyelimuti hati dan pikiranku seketika. “Kenapa kok dikasih hadiah malah tertekan?” Karena setelah senang menerima hadiah dari mereka, aku jadi bingung harus membalas pemberian mereka dengan apa lagi. Sedangkan uangku terbatas karena masih kuliah dan lagi mengerjakan skripsi. Apalagi aku sebagai orang Indonesia yang punya budaya “ga enakan sama orang lain” serta “takut mengecewakan dan menyakiti orang lain”, lama-lama aku merasa agak terbebani dengan menerima banyak kiriman dari mereka itu. Mereka sering bahkan hampir selalu kirim hadiah buatku dan juga adikku sehingga aku merasa tidak enak kalau tidak bisa balas kiriman hadiah dari mereka. Selama itu aku berusaha untuk membalas hal yang sama sebagaimana apa yang mereka kirim. Mereka kirim beberapa prangko, aku usahakan kirim prangko sejumlah yang mereka kirim. Mereka kirim kartu pos, aku kirim kartu pos juga, dsb. Walaupun berkali-kali mereka mengatakan tidak apa-apa jika aku tidak bisa membalas hadiah mereka, tetapi tetap saja aku merasa tidak enak. Sehingga ketika lebaran tiba dan aku dapat uang lebaran, aku senang karena mendapatkan kesempatan untuk mencarikan dan membelikan hadiah untuk ulang tahun mereka dan membalas prangko-prangko yang mereka berikan. Seiring berjalannya waktu aku berteman tidak hanya dengan Lukas, tetapi juga dengan Leon, kakaknya Lukas dan juga Mrs. Kathrin, mamanya Lukas. Bahkan aku sempat berteman di Facebook lalu bertukar nomor Whatsapp dengan mamanya Lukas dan kami sangat intens berkomunikasi walau kami memiliki keterbatasan dalam Bahasa Inggris. Kami saling kirim foto, salam, dan juga cerita tentang kegiatan dan keseharian masing-masing. Namun ternyata hubungan pertemananku dengan mereka tak selamanya berjalan dengan baik…

 

Bersambung…

Baca lanjutan kisahku di  sini

Follow instagram: @denkspa

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Comments

  1. omg, wah tulisannya sangat bagus mbak aku suka gaya penulisan mbak yang sistematis namun punya aura mistis yang bisa membuat pembaca betah lama-lama membacanya , ditunggu karya selanjutnya mbak , amazing

  2. Aku nangis baca ini. Rasanya aku gak bersyukur banget dapet kesempatan ke Jerman. Masih suka ngeluh dan males”an. Gak mau belajar dari kesalahan”. Ternyata ada banyak orang yg bermimpi kesini dengan segala upaya. Semangat ya. Aku terharu banget. Kalau mau aku ada kenalan yang cari Au Pair. Ibunya pegawai Bank di Jerman. Semoga kamu balas komentar ini. Setelah Au pair kamu bisa ausbildung. Saranku jangan langsung Ausbildung ya. Coba cara paling mudah dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.