Mengapa negara sekuler yang notabene penduduknya banyak yang tak beragama, yang kafir, yang tak percaya Tuhan lebih mempunyai belas kasihan serta prikemanusiaan ketimbang kita warga Indonesia yang mengaku berTuhan tapi tak punya hati?

Hatiku hancur melihat sebuah posting manusia cacat ditali, diikat dan digantung seperti di gambar ini:

foto oleh: Reyfaldo Apriansyah sumber berita: Pantura Post
Sumber berita menyebutkan bahwa orang cacat mental ini adalah tersangka kasus penculikan yang akhir-akhir ini marak terjadi. Padahal berita tersebut belum benar adanya, namun orang-orang sudah terhasut dan main hakim sendiri.

Dia itu juga manusia loh! Seperti kita juga. 
Di Jerman, selama 2 tahun lebih aku berkecimpung di dunia orang cacat. Selama itu pula aku sering dibuat trenyuh oleh sikap orang-orang juga tergabung dalam yayasan ini. Awalnya aku juga berpikir orang cacat (terutama cacat mental) itu gila. Siapa sih yang tidak gila di dunia ini? Ketua yayasan di tempat aku bekerja pernah menyebutkan satu kalimat yang merubah pola pikirku selamanya:
“Mereka (orang cacat) itu sama seperti kita. Bagi kita, mereka tak normal, karena tak sempurna secara fisik atau mental. Tapi di mata mereka, kitalah yang tak normal, karena normal di mata mereka ya yang seperti mereka itu.”
Sejak kerja di sana, aku jadi sering menyesal dan membuatku ingin pulang ke Kota Batu. Saat aku kecil, ada penyandang cacat bernama Ableh yang sering kami bully dan kami kerjai karena dia kami anggap gila. Ada Yeni yang kemana-mana membawa boneka, yang juga pernah diperkosa, sampai melahirkan seorang anak, parahnya aku dulu menganggap itu biasa saja. Aku sangat malu kalau ditanya bagaimana orang cacat itu diperlakukan di Indonesia, lebih malu lagi kalau para kolegaku tahu kejadian ini. 
Pernah kudengar dan kusaksikan sebuah lembaga di sebuah desa di Jawa Timur, yang rata-rata penduduknya adalah cacat mental (karena mereka menikah dengan saudara sendiri), telah membuat sebuah perubahan dengan mengurusi dan memberikan kesempatan untuk penyandang cacat itu agar bisa bekerja dan berkarya layaknya orang normal. Aku harap ke depannya akan terus berlanjut. 
Lalu bagaimana orang cacat di Jerman itu diperlakukan? 
Orang tua yang melahirkan anak cacat, akan diberi tunjangan lebih oleh pemerintah. Sampai umur 18 tahun, anak-anak tersebut diasuh oleh orang tuanya, disekolahkan sebagai mana mestinya. Saat umurnya 19 tahun, mereka boleh memilih untuk tinggal bersama ortu atau tinggal di sebuah hunian yang dipersiapkan khusus untuk para penyandang cacat. 
Hunian-hunian tersebut ada yang hunian khusus untuk para cacat (wohngruppe) ada yang juga ditinggali orang cacat dan orang normal normal (wohngemeinschaft). Lembaga khusus di bawah naungan pemerintah memperkerjakan orang untuk membantu mereka melakukan aktifitas layaknya orang normal, seperti mencuci baju, memasak, mencuci piring, bersih-bersih, menyapu, melipat cucian, menata taman, belanja ke supermarket, nonton filmdi bioskop, dan kegiatan-kegiatan lainnya. 
Para penyandang cacat itu juga punya tempat kerja. Seperti werkstatt di mana orang2 yang cacat mentalnya tidak parah, bisa bekerja, menghasilkan karya yang nantinya dipromosikan dan dijual. Ada juga Tagetstätte di mana mereka yang lebih malas dan tidak mau bekerja masih diberi kegiatan, seperti membuat sebuah noteblok, menjahit, membuat kue, kalau nggak mau membuat maunya tidur atau jalan-jalan, ya tak apa-apa, tak ada paksaan untuk bekerja di Tagestätte
Para penyandang cacat ini amat sangat diusahakan bisa hidup selayaknya orang normal agar mereka tidak merasakan kesenjangan di lingkungan sosial hanya karena mereka kurang beruntung, terlahir tak sempurna. Tiap minggunya, mereka diberi uang saku agar bisa jajan dan beli kue atau es krim. Kalau uang itu tidak dipergunakan, bisa ditabung untuk jalan-jalan ke luar kota atau bahkan luar negeri. Salah satu penderita autisme,epilepsi dan mutisme minggu lalu bahkan berlibur ke Teneriva (sebuah pulau di selatan Spanyol). Baju-baju yang mereka kenakan juga kece, baju bermerek mahal, wangi serta hieginies meskipun kesehariannya ada yang ngiler sepanjang waktu, ada yang senantiasa makan eek nya sendiri.
Orang cacat mental, orang kalian anggap gila itu, MANUSIA juga loh! Sama seperti kita!
Mereka bisa merasakan sakit, bisa merasakan sedih, senang, mereka mengerti apa yang orang katakan. Ada salah satu penyandang cacat yang umurnya lebih dari 60 tahun, duduk di kursi roda sepanjang waktu dan selalu membual, mencaci maki, tertawa sendiri, kadang lucu seperti bayi, kadang menyebalkan sekali. Tapi dia adalah kesayangan para pekerja di Tagestätte. Coba pikir, bukankah kita juga sama? Sebagai manusia normal, kita kadang bisa menyenangkan bagi orang lain, kadang juga bisa menyebalkan dan memalukan. Hanya karena syaraf di otak kita berfungsi sempurna sehingga kita punya kendali diri dalam melakukan segala sesuatu, lalu kita bisa seenaknya sendiri menghakimi manusia ciptaan Tuhan yang terlahir cacat begitu?
Orang cacat yang katanya pernah mencekik anak-anak itu juga MANUSIA loh! Sama seperti kita juga! Kalau mereka jadi agresif dan menyerang orang seperti itu, karena dia butuh perhatian. Bukankah semua orang butuh dihargai dan diperhatikan?
Sama seperti manusia lainnya, orang cacat itu juga punya naluri, punya rasa iri, dengki, punya rasa iba, punya selera humor, punya keinginan untuk lebih diperhatikan oleh orang lain dan sebagainya! Ada seorang keturunan Turki yang terlahir sempurna, tapi saat usianya menginjak 2 tahun, dia mengalami kecelakaan di bagian otak, sehingga fisiknya tumbuh sempurna, namun otaknya tak berkembang dan tetap menjadi otak anak usia 2 tahun. Sekarang dia sudah berusia 41 tahun, tapi kelakuannya seperti anak usia 2 tahun, makan eek nya sendiri karena mirip nutella, mainan dengan air seni nya, selalu minta boneka, sama persis seperti anak-anak. Saat orang tuanya menyerah tak mau mengurusnya, pemerintah mengambil alih hak asuhnya, meskipun dia bukan orang Jerman. 
Jangankan orang Jerman, pengungsi dari Syria yang terdiagnosa cacat mental juga menjadi tanggungan pemerintah sepenuhnya, mereka tak harus kembali. Misalnya aku yang sekarang ini tinggal di Jerman tiba-tiba menjadi gila karena kejedot tembok, aku tak harus kembali ke Indonesia, pemerintah Jerman yang akan mengurusiku, lebih-lebih kalau pemerintah tau bahwa orang cacat mental suka sering diperlakukan tak layak di negara aslinya. 
Bagaimana kalau orang tua yang melahirkan seorang anak yang cacat itu miskin? Sudah aku bilang sebelumnya, mereka akan mendapat jatah tunjangan lebih. Ada satu kasus seorang ibu-ibu muslim dari Afganistan yang melahirkan anaknya cacat. Suaminya meninggal sehingga dia harus membesarkan anak cacatnya itu seorang diri. Tau apa yang pemerintah Jerman lakukan? Pemerintah menggaji ibu tersebut penuh untuk merawat dan menjaga anaknya. Anak itu sekarang sudah berumur 35 tahun, selama itu pula, ibunya numpang hidup dari tunjangan pemerintah untuk anaknya yang cacat, tanpa bekerja, karena pekerjaannya ya merawat anaknya yang cacat itu. Sekali lagi, mereka bukan orang Jerman, loh!
Masing-masing penyandang cacat punya satu penanggung jawab atas dirinya. Karena dia tidak bisa memutuskan, penanggung jawab itu yang akan memutuskan. Misalnya: aku dilarang keras menampilkan, memposting, menyebar luaskan foto dan cerita tentang salah satu orang cacat di tempat kerjaku dengan menyebutkan nama mereka. Kalau pun aku lakukan, orang cacat tersebut, tak akan tahu dan kalau pun tahu, mereka juga tak akan mengerti. Tapi penanggung jawabnya bisa menuntutku hingga ke ranah hukum. Begitu juga kalau ada orang yang memanfaatkan uang saku orang cacat ini untuk keperluan pribadi.
Aku salut sekali kepada kejujuran orang Jerman dalam mengurus orang-orang cacat ini. Setiap kali kita makan kue di sebuah cafe, kita wajib membayar sendiri-sendiri, tidak boleh meminta kepada orang cacat ini. Logikanya, uang penyandang cacat itu kita yang pegang, kita tipu, masuk kantong dan beli kue sedikit saja, mereka tak akan ada yang tahu, toh pemerintah akan memberi uang saku terus-menerus tiap minggunya. Tapi orang Jerman yang memang terbiasa hidup jujur, tak akan menipu dan korupsi, sekalipun kepada orang cacat. 
Memang dulu saat Hitler menjadi diktator, dia membunuh banyak orang cacat karena dianggap tak bisa bekerja dan tak berguna bagi bangsa. Tapi tak lama setelah Hitler tewas, perubahan dan kepedulian orang-orang terhadap penyandang cacat ini terus berkembang. Yayasan pemerintah di Hamburg tempat aku bekerja ini, dulunya adalah yayasan yang didirikan oleh seorang ayah yang memiliki putri penyandang cacat di tahun 60 an. Sekarang, banyak sekali yayasan dan donatur yang peduli terhadap orang cacat. Satu mainan anak penyandang cacat saja harganya bisa ribuan euro, satu kursi roda penyandang epilepsi dan cacat mental di tempat kerjaku dibandrol harga 17.500 euro (260 juta rupiah), siapa yang membayar semua itu? Pemerintah atas nama perusahaan asuransi terpilih.
Saat menulis ini, terus terang luapan emosi dan kesedihan meletup-letup karena tak tahan akan perlakuan orang-orang di sebagian kota di Indonesia terhadap orang cacat. Aku sedih sekali. Aku selalu berharap suatu saat bisa dipertemukan dengan orang-orang baik yang peduli akan pentingnya memanusiakan manusia agar bisa saling bekerja sama saat aku kembali ke Indonesia nantinya. 
Aku harap banyak yang menyebarkan tulisan ini agar banyak yang sadar bahwa orang cacat itu sama seperti kita. Kalau dia tiba-tiba jadi marah dan agresif seperti itu, ya karena kurangnya perhatian. Sama kayak kita yang kalau meraung-raung minta diperhatikan tapi dicuekin, apa yang mungkin kita lakukan untuk mendapat perhatian?

Memang urusan ini bukan urusan keagaamaan, karena semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan. Mungkin Jerman memang negara kaya, sehingga punya anggaran lebih untuk membantu penyandang cacat seperti mereka, sedangkan Indonesia belum bisa seperti itu. Tidak apa-apa, kita toh tidak harus turun tangan membantu, hanya sebagai ciptaan Tuhan, sama-sama manusia, hargailah juga keberadaan mereka dengan tidak membully, mengolok, menyiksa mereka. Mereka juga manusia, sama seperti kita!

Marilah kita sadar dan jadi insan yang lebih peduli kepada sesama. Aku tahu, banyak orang baik di luar sana, banyak juga yang menginginkan perubahan. Kita memang tak bisa serta merta menjadi seperti negara Jerman yang dari segi infrastruktur mikro sekecil-kecilnya sudah tertangani dengan baik, tapi paling tidak kita bisa memulai dari diri sendiri untuk lebih sadar, tak mudah terkecoh, tak bersikap pragmatis, menelan berita mentah-mentah, tak main hakim sendiri, tak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik. Maaf kalau tulisan ini mengandung emosi, tak seperti biasanya. Karena kadang, aku bisa kejam dan mencekik orang juga?
Viele Grüße

Comments

  1. temenku yg baru kecelakaan bilang bahwa kamu bakal ngerasain diskriminasi di indonesia kalau ada tubuhmu yang cacat. Duh, semoga ada perbaikan ke depan. Salut sama Jerman

  2. Mungkin karena terbiasa membaca kitab yang berisi idealisme, sehingga lupa bahwa dunia ini ada yang belum atau tidak sempurna. Sehingga dianggap makhluk aneh yang layak untuk dikucilkan atau ditertawakan.

  3. Sejak 6 tahun terakhir, saya sadar kalo yang umumnya dianggap gila lebih tepat disebut fakir miskin. Jadi diperlakukan layaknya fakir miskin. Sudah sering saya ajarkan ke istri untuk memberi makan ke orang2 tsb jika bertemu. Mengingat kami juga tidak suka kalo lihat orang merendahkan si meow (kucing kami) meski mukanya kaya gelandangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.