Banyak email yang berdatangan menanyakan seputar wawancara FSJ. Kebetulan sebelum memulai program FSJ, aku sempat diwawancarai oleh beberapa arbeitgeber (baca:arbeitgeber) dan Träger (baca: trega:) sehingga kali ini aku bisa berbagi tips dan info seputar wawancara FSJ tersebut: 

Dalam Bahasa Apa? 
Perlu aku jelaskan di sini bahwa aku melamar ke lebih dari 50 tempat penyedia lowongan kerja sebagai FSJ di seluruh Jerman. Ada yang lewat Träger, ada yang langsung ke Arbeitgeber. Träger adalah agen penyalur dan pembina para sukarelawan. Mereka pula lah yang nantinya meng-organisir seminar, menjadi tempat curhat, menampung keluhan, mencarikan tempat yang lain kalau para FSJ nggak krasan. Lalu Arbeitgeber adalah penyedia lapangan kerja yang menampung dan memberikan kesempatan bagi para calon sukarelawan untuk berkerja. Arbeitgeber juga memberikan seminar tambahan serta fortbildung (penyuluhan) seputar pekerjaan. Misalnya, seminar yang diberikan Träger seputar kota Hamburg dan Pengungsi di Hamburg (temanya umum), Arbeitgeber memberikan tema lebih khusus, misalnya penyuluhan penanganan epilepsi (kalau kerja di yayasan penyandang cacat), atau menangani anak yang hiperaktif (kalau kerja di sekolah atau TK), atau seminar tentang kepikunan (kalau kerja di panti jompo), dsb. 
Aku sempat mendapat undangan interview, satu kali lewat Skype, satu kali bertemu langsung di sebuah Rumah Sakit, satu kali di sebuah TK, satu kali di yayasan penyandang cacat, satu kali di Sekolah Luar Biasa (SLB). 
Yang lewat skype: dengan bahasa Jerman, aku meminta wanita yang mewawancaraiku tersebut untuk berbicara pelan-pelan agar aku mengerti. 
Yang di RS: dengan bahasa Jerman, 
Di TK: karena TK itu TK bilingual, aku meminta dalam bahasa Inggris
Sisanya dalam Bahasa Jerman semua. 
Bahasa Jermanku saat itu sangat amburadul, wawancara di RS gagal karena mereka membutuhkan orang yang bisa berbahasa Jerman dengan lebih baik. Aku juga kurang sreg karena aku bakal kerja riwa-riwi di Ambulanz.
Di SLB dan yayasan penyadang cacat berhasil, karena meskipun aku masih terbata-bata, aku menunjukkan kepada mereka bahwa aku bersemangat, saat itu, wawancara tidak begitu formal, hanya hospitalisasi, melihat-lihat bagaimana cara kerja mereka. Aku tak hanya duduk, tapi ikut aktif melihat dan bertanya ini itu. 
Apa saja yang ditanyakan?
Di München, wawancara FSJ jauh lebih menegangkan dan membuatku kualahan, pasalnya mereka mewawancarai seresmi-resminya dan formal sekali. Pertanyaannya beragam mulai dari bagaimana pengalaman kerja sebagai au pair, suka nggak sama Jerman, sama budaya Jerman, warna kesukaan kamu apa? Kelemahan kamu apa, kelebihan yang kamu miliki apa? Dan pertanyaan yang mengacu ke arah psychology seperti warna kesukaanmu apa, mengapa suka warna itu, lalu  misalnya di sebuah bencana kamu disuruh memilih, antara menyelamatkan orang tua atau anak? Dan sebagainya, seram banget. Diwawancarai seperti itu dalam bahasa Indonesia saja sudah seram, apalagi bahasa Asing,, uuuh
Tapi wawancara di Hamburg agak Rileks, ketua yayasan hanya mempersilakan aku masuk ke ruangan bersama orang-orang yang nantinya akan kerja bersamaku sehingga dari sana, aku bisa melihat-lihat bagaimana mereka bekerja, entah aku suka dan cocok dengan kerjaan itu atau nggak. Lalu setelah 3 jam nimbrung, aku dipanggil ke kantor untuk diberitahu kalau nantinya aku akan bekerja mulai jam berapa sampai jam berapa, berapa gaji yang aku terima, lalu dipersilakan untuk bertanya, kemudian dipersilakan pulang dan akan dihubungi kembali. 
Di sebuah SLB Hamburg pun seperti itu, meskipun aku suka karena bisa melihat secara langsung bagaimana anak-anak cacat itu menempuh pendidikan, namun gaji yang ditawarkan tidak cukup untuk hidup di Jerman perbulannya, sehingga aku menghubungi mereka lewat email untun menolak pekerjaan itu dan menerima pekerjaan di yayasan penyandang cacat. 
Demikian sharing kita kali ini tentang pengalaman wawancara kerja saat FSJ, tips dariku: persiapkan diri sebaik mungkin, jangan malu untuk bertanya atau meminta mereka mengulang kembali kalimat yang kalian tidak mengerti. Mereka akan dengan senang hati mengulangi atau mencari kalimat yang lebih mudah dipahami. Itu lebih baik ketimbang pura-pura ngerti padahal aslinya nggak. 
Sampai jumpa di topik selanjutnya………

Baca juga: Video Call Au Pair dan Interview di Kedubes Jerman

Viele Grüße

Comments

  1. Hallo

    saya mau nanya jg tentang wawancara… harus bener bener lancar ya?
    saya masih susah bicara dg bahasa jerman… pdhl udh B1 🙁
    biasanya kontrak kerja nya berapa lama?
    thx

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.