Salah seorang dosen cantik yang berasal dari Los Angeles pernah mengatakan pada kami di kelas, “Kalau ada teman yang bertanya padaku saat pulang ke Amerika, apa yang aku sukai dari Jerman, tanpa pikir panjang, aku akan langsung bilang: Pasar Natalnya! Kalian harus ke Jerman menjelang natal karena atmosfirnya begitu magic.”

Seperti hari raya Idul Fitri di Indonesia, hari Natal di Jerman merupakan hari yang ditunggu-tunggu. Hari di mana anak-anak bersuka ria menanti hadiah dari keluarga, hari di mana keluarga berkumpul dan menikmati kekhusukan heiligsabend (malam menjelang natal), dan juga pastinya hari libur nasional yang dirayakan di seluruh negara bagian. Meskipun tak jarang aku mendengar keluhan-keluhan seputar perayaan menjelang natal yang bikin semua orang super duper stress. Lho kok?

Salah seorang psikolog Amerika, Ray William menuturkan dalam artikel tentang depressi:

“Kita semua tahu bahwa bagi umat Kristen, Natal merupakan hari yang paling dinanti dan harusnya menjadi hari yang paling bahagia, penuh suka cita, kegembiraan, keceriaan berkumpul dengan keluarga. Namun, berdasarkan penelitian kesehatan, hari-hari menjelang natal merupakan hari yang penuh depressi. Rumah sakit dan kantor polisi bahkan melaporkan tingginya insiden percobaan bunuh diri dan kecelakaan menjelang hari besar tersebut. Psikiatris, psikolog dan para ahli mental lain juga menuturkan hal yang sama akan tingkat angka depressi yang meningkat menjelang natal. Di Amerika dilaporkan bahwa 45% responden mengalami depressi dan ketakutan menjelang hari raya tersebut.” (sumber: psychologytoday)

Bagi yang pernah tinggal di Jerman, terutama yang tinggal sebagai au pair di sebuah keluarga Jerman maupun bekerja dengan orang Jerman, pasti merasakan betapa stressnya mereka menjelang perayaan. Mengapa? Berikut alasannya:

  1. Winter Depressi

Di Eropa, natal identik dengan salju dan musim dingin. Kalau kita melihat film-film yang disuguhkan TV Indonesia menjelang natal, contohnya Home Alone, pasti masih membekas dalam ingatan, bahwa film-film tersebut menampilkan suasana musim dingin, salju, pohon natal dengan hiasan salju dan segala aksesoris musim dingin yang terkadang membuat angan kita melayang ingin melihat salju juga. Tapi percayalah, tak semua yang tinggal di negara 4 musim suka salju dan musim dingin. Banyak juga yang saat musim dingin melarikan diri ke negara beriklim tropis. Musim dingin ini juga identik dengan depressi.

Baca juga: 10 Gejala Winter Depressi

Musim dingin, selain salju yang menumpuk dan bikin kotor, juga identik dengan minimnya cahaya matahari. Malam begitu panjang, dan siang hari berlalu dengan sangat cepat. Suasana gelap dan dingin sudah membuat depressi, ditambah beberapa alasan lanjutan di bawah ini, membuat orang-orang lebih stress lagi.

2. Kalender Adven

Satu bulan menjelang natal, biasanya orang-orang menyiapkan kalender adven. Bagiku, adven ini seperti ramadhan saja, bedanya anak-anak tak harus puasa. Buat anak-anak, biasanya mereka diberi 24 kotak yang masing-masing berisi kejutan, entah itu coklat, mainan, ataupun permen untuk dibuka satu persatu setiap harinya sampai natal tiba. Minggu pertama adven, orang-orang menyiapkan 4 buah lilin yang akan dibakar tiap malam sampai malam natal tiba. Minggu pertama, mereka menghidupkan satu lilin, minggu kedua 2 lilin, minggu ketiga 3 lilin, dan minggu ke empat sampai malam natal, semua lilin dinyalakan. Jadi saat natal tiba, kita bisa melihat ada perbedaan diantara ke-empat lilin tersebut.

Sambil menyalakan lilin dan membuka satu kalender adven, orang tua dan anak-anak berkata,

Advent, Advent,

ein Lichtlein brennt.

Erst ein, dann zwei,

dann drei, dann vier,

dann steht das Christkind vor der Tür.

(adven, adven satu lilin kecil kecil terbakar, lilin satu, lilin dua, lalu tiga, lalu empat, lalu muncullah anak kristus di depan pintu). Kalender dan lilin adven ini adalah upaya menghitung hari-hari menjelang natal (satu bulan), anak-anak biasanya antusias sekali tiap harinya.

Bagi anak-anak sih menyenangkan, selama 24 hari berturut-turut dapat sebungkus kejutan. Nah, bagi orang tuanya yang nyiapin? Bisa kalang kabut, terlebih kalau anaknya nggak cuma satu, tapi 5? Waaah :D.

Untungnya banyak toko yang menjual pernak pernik kalender adven yang sudah jadi. Tapi banyak juga keluarga yang aku kenal, benar-benar menyiapkan 24 bungkus pernak pernik buat anak-anak mereka sendiri. Waoow.

3. Kado di Hari St. Nicolaus

Hari kematian St. Nicolaus jatuh pada tanggal 6 Desember, beberapa minggu menjelang natal. St. Nicolaus dipercaya sebagai orang dermawan yang mencintai anak-anak. Oleh karena itu, hari kematiannya diperingati dengan membagi-bagikan hadiah kecil kepada anak-anak.

Tentu saja, ditengah hiruk pikuk kesibukan mempersiapkan natal, bekerja, dan janji sana-sini, orang-orang masih harus memberikan kado untuk anak-anak mereka di hari St. Nicolaus. Sangat menyibukkan dan membuat beberapa orang stress. Masalahnya bukan di kadonya, tapi untuk memikirkan hadiah apa, membeli, membungkus dan memberikannya itu perlu ekstra waktu dan tenaga. Banyak orang yang tidak merayakan tanggal 6 Desember ini karena dirasa terlalu berlebihan buat mereka.

4. Tukar Kado Natal

Saat masih kecil, momen Idul Fitri adalah momen dimana kita bisa dapat pesangon dari para saudara, kerabat dan tetangga serta makan jajanan atau ketupat sayur sepuasnya. Momen tersebut memang beda banget saat kita sudah beranjak dewasa, nggak dapat uang lagi, malah harus memberi uang, menyediakan jajanan, sebelum hari raya, masak untuk syukuran. Berasa banget stressnya dan bokeknya, kan? :p

Nah, natal di Jerman pun juga demikian. Sebelum natal tiba, anak-anak bebas memilih kado natal. Dari beberapa orang Jerman yang bercerita padaku, mereka bilang bahwa saat kecil, mereka tidak tahu bahwa St. Claus yang memberi mereka kado itu sebenarnya orang tua mereka sendiri. Menjelang natal, mereka boleh menulis di secarik kertas yang dimasukkan amplop, lalu ditaruh di suatu tempat, dimana St. Claus bisa tahu dan bisa membaca keinginanmu!

Ada satu kisah lucu yang Nadja (host family-ku) ceritakan padaku. Saat SD, dia tak sengaja membuka laci di kamar mamanya dan menemukan kertas-kertas dimana tertulis keinginannya dan adik-adiknya di sana. Dia menangis meraung-raung karena menyadari bahwa mamanya berbohong dan sadar kalau St.Claus itu tidak ada. Mamanya yang tahu hal itu segera menyuruhnya tutup mulut supaya adik-adiknya tidak tahu. Sejak itu, Nadja tidak pernah mau lagi meminta hadiah natal dan akhirnya dia cerita juga pada teman-teman dan adik-adiknya bahwa hadiah-hadiah natal mereka itu sebenarnya bukan dari langit, tapi dari mama.

Bagi anak kecil, momen natal adalah momen yang menyenangkan. Tapi bagi orang dewasa justru momen yang bikin stress. Harus tukar kado. Menyiapkan kado untuk anak-anak dan anggota keluarga lain, menulis kartu ucapan, menyiapkan kado di hari St. Nicolaus, belum lagi pernak-pernik natal seperti pohon natal, masak untuk keluarga besar (yang kebetulan rumahnya dijadikan tempat perayaan), dsb.

5. Mudik

Seperti Idul Fitri juga, menjelang natal, orang-orang yang merantau pada pulang kampung untuk berkumpul dan merayakan natal bersama keluarga, bertukar kado, makan-makanan khas natal, dan menginap barang semalam dua malam.

Di satu sisi, ada kebahagiaan tersendiri kembali ke kampung halaman, di sisi lain, proses mudik, perjalanan panjang dan jauh bisa bikin stress juga.

6. Tertekan

Suasana natal bisa menjadi tekanan mental bagi para anggota keluarga. Seperti dikatakan oleh William di jurnal psikologinya, banyak orang yang mengharapkan suasana khusuk di hari raya ini, namun semua berubah menjadi ajang komersil dan pamer. Saat kumpul dengan keluarga, mereka bernostalgia sekaligus bertukar kado. Proses pemberian kado ini juga oleh sebagian orang dinilai komersil dan pamer seberapa mampu mereka memberi kado . Kalau mereka yang tak mampu membeli kado dan tak menyiapkan kado? Jadi dipikir pelit, tak sopan, dsb. Jadi, banyak orang yang merasa senang bisa kumpul dengan keluarga, banyak juga yang malah sedih dan tertekan. Banyak oknum kapitalis yang diuntungkan, lebih banyak lagi orang-orang yang merayakan natal ini yang merasa ditekan.

*

Nah, bagaimana dengan kalian? Bagaimana perayaan natal atau hari besar lainnya di tempat kalian? Bikin hepi? Bikin stress? Artikel ini aku tulis berdasarkan pengamatan pribadi dan beberapa sumber psikologi. Meskipun banyak faktor yang bikin stress, suasana natal tetaplah menjadi atmosfir yang tak bisa tergantikan di sepanjang tahun. Pasar Natal, Glühwein, kukis natal, dan segala pernak-pernik natal masih tetap jadi ikon unik, menarik dan favorit banyak orang di Jerman. Meski stress, mereka toh masih tetap merayakannya juga. 🙂

Semoga artikel ini bermanfaat. Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *