Pernahkah teman-teman merasa sudah sangat siap untuk melakukan sesuatu, namun Tuhan punya rencana lain dan mengubah rencana kalian tersebut?. Saat aku berumur 24 tahun, aku merasa sudah sangat siap menikah, sudah punya tunangan dan sudah merencanakan pernikahan yang indah, namun siapa sangka Tuhan punya rencana lain yang lebih baik. Ternyata kesiapanku menikah adalah 5 tahun kemudian, bukan dengan tunanganku tersebut, melainkan dengan orang lain yang juga baik, sayang, dan menggantikan tunanganku dengan sempurna. Aku ke Jerman 2 tahun setelah dia mengkhianatiku, berhasil move on dan menikah 3 tahun setelahnya. Rencana Tuhan memang bukan rencana kita, tapi rencanaNya lah yang paling indah.

Cerita selengkapnya: Semua berawal dari patah hati

Kali ini meskipun sama sedihnya, namun sedikit lain versinya. Sekalipun amat pedih, dalam artikel ini aku akan bercerita singkat tentang kehamilanku setelah hingga akhirnya berakhir di usia 13 minggu.

Aku dan suami menikah pada 15 November 2017 dan memang merencanakan segera punya momongan, karena tahun 2018 aku sudah memasuki gerbang usia 30 dan aku ingin anakku tak terpaut jauh umurnya denganku kelak. Selain itu semakin tua, takutnya semakin sulit. Tak disangka satu bulan setelahnya aku hamil. Memang saat menikah, aku sedang datang bulan, jadi 15 hari kemudian ovulasi dan tepat 30 hari kemudian kalau conceived, aku akan hamil, dan memang benar. Yeeay, kami pun senang sekali.

Bulan Desember tanggal 22, aku periksa kandungan untuk pertama kali. Dokter memastikan apakah embrio nya sampai di rahim dengan selamat, ataukah tersesat di tempat lain, dsb :P. Ternyata si embrio ada di sana, mungil sebesar biji kacang ijo. Kami menyimpan foto USG itu dan meskipun bagi orang lain fotonya terlihat hitam putih buram, kami selalu berbunga-bunga melihat butir kecil mungil di antara keburaman gambar itu.

Sebelum periksa kehamilan, aku tidak merasakan gejala apapun. Tidak mual muntah, loyo, dan sebagainya, malah setiap hari makan enak tidur nyenyak. Kata dokter, tidak perlu khawatir, karena Bu Dokter sendiri dua kali hamil merasa tidak hamil tapi bayinya sehat, kalaupun mual muntah itu juga pertanda baik.

Empat hari setelah periksa mulailah gejala alam yang tidak kuduga sebelumnya. Semasa kecil aku sering melihat orang hamil muda, ibuku, tanteku, semua teler. Mual, muntah, seperti orang sakit parah yang tak kunjung sembuh. Seperti itulah yang perlahan-lahan terjadi padaku di akhir bulan Desember, benar-benar kelabu, seperti lagu sendu Desember kelabu.

Beberapa gejala hamil di minggu ke 6-12 yang aku alami:

  1. Penciuman yang sangat sensitif. Aku merasa seperti anjing pelacak yang bisa mencium radiasi bau hingga puluhan meter. Bau rokok, kopi, alkohol terlebih yang membuatku muntah. Selain itu, bau sampo, sabun dengan aroma bunga (kalau buah oke), bau rambutku sendiri, bau kertas, bau deterjen, bau tetangga, eh. Sampai suami bilang, “Rasanya kamu bisa membantu FBI atau Polisi kerja di Airport sebagai anjing pelacak deh!”
  2. Kehilangan nafsu makan. Ini yang paling membuatku menderita. Pasalnya aku suka sekali masak dan makan. Saat hamil, jangan makan, membayangkan makanan saja sudah mual. Masuk dapur 1 menit, muntahnya bisa 15 menit. Jangankan masak, lewat dapur saja rasanya sudah mau pingsan. Untungnya suamiku mengambil alih semua pekerjaan mulai belanja, menyiapkan makanan (yang aku mau), cuci piring, baju, bersih-bersih, dia melakukan semua itu sambil kerja. Di kantornya, dia bisa minta ijin kerja dari rumah. Jadi dia kerja selama 3 minggu dari rumah agar bisa sekalian menjaga dan meladeniku.
  3. Tidak bisa minum. Seperti makan, minuman pun harus aku bayangkan dulu rasa dan aromanya. Teh, air putih, kopi, jus, dsb hanya membuatku mual. Aku akhirnya menemukan varian minuman yang selalu berbeda tiap 2 hari, yakni fanta stroberi ditambah air putih yang banyak banget, lalu jus stroberi yang dibeli di supermarket tertentu dengan merk tertentu, sprite dengan tambahan air yang banyak, kemudian es jeruk nipis dengan sedikit gula dan es batu (kalau es batunya habis, melihat air jeruknya saja bikin mual), kemudian jus lemon tapi harus hangat.
  4. Letih dan ngantuk. Aku bisa tidur 15 jam sehari, bangun cuma untuk makan, ke toilet dan muntah, selebihnya kalau dibuat tidur enakan. Namun, terkadang kalau ada jadwal kerja, aku paksakan untuk kerja. Anehnya, si bayi kooperatif banget, saat kerja, meski mual, tetap bisa selesaikan tugas. Namun untuk kerja, menulis blog, membuat video, dsb, sama sekali NOL. Melihat laptop dan hp saja di otak bagian belakang seperti berdengung, tanda sinyal stress yang harus segera aku tinggalkan. Itulah sebabnya selama 2 bulan aku sama sekali tidak menulis dan jarang aktif di sosmed.
  5. Hyperemesis Gravidarum (HG). Jika kalian saat hamil mengalami muntah parah sampai harus terapi infus di rumah sakit, itu tandanya kita mengalami HG, yakni gejala hamil yang menyebabkan makanan minuman apapun tak bisa masuk, yang mengharuskan ibu dirawat di RS. Ini juga terjadi padaku di minggu ke 10 saking parahnya. Saat itu seharian makanan apapun yang aku coba makan selalu keluar. Sampai asam lambung yang pahit juga keluar. Si bayi hanya ingin makan biscuit, namun tak membuat aku kenyang. Akhirnya kami pun ke RS dan aku diinfus. Kata dokternya, bayinya mendapatkan apa yang dia butuhkan, kok! Tenang saja!. Tapi aku tidak mendapatkan apa yang butuhkan, hampir tiap malam tidur kelaparan, kalau dikasih makanan untuk mengganjal perutku sendiri pasti dikeluarkan.
  6. Benci suami. Aku tak mengerti mengapa aku mendapatkan paket gejala komplit yang dirasakan ibu hamil muda. Tak terkecuali benci suami. Aku dulu berpikir, orang hamil pasti berpura-pura atau nggak mungkin lah, apa yang membuat kita benci sama orang yang kita cintai dan melayani kita dengan sepenuh hati?. Tapi itu benar-benar terjadi. Memang benar suamiku berada di rumah untuk melayani dan merawatku, namun kalau dia dekat kurang dari 1 meter, aku bisa dipastikan mual. Kadang aku menangis mengingat kasihan sang suami, tapi bagaimana donk? Di kepalaku, kalau dia dekat seperti ada radiasi berdengung dan perut merespon dengan mual, sehingga aku muntah. Terlebih kalau dia baru keluar dapur, setelah mandi, bau sampo, bau sabun, bau pasta gigi, semua membuatku mual. Jadi kalau nonton TV atau tidur, aku harus sedikit jaga jarak.
  7. Sedih tanpa alasan. Yang aku pelajari, saat normal, wanita memproduksi hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan indung telur. Nah saat hamil muda sampai 12 minggu, embrio membentuk plasenta dan memproduksi berkali-kali lipat kedua hormon ini. Tugas Estrogen dan Progesteron juga beda-beda, yang jelas untuk menyiapkan kehamilan, air susu, juga melemaskan otot-otot, sehingga kita merasa lelah, otot pencernaan juga melambat kerjanya sehingga kehilangan selera makan, estrogen juga bekerja kuat di indra penciuman, sehingga bau-bauan menjadi semakin tajam. Nah, kedua hormon ini juga berperan memunculkan gejala saat menjelang mens yang membuat mood naik turun. Itulah sebabnya banyak orang bilang, orang hamil tuh tidak mens, tapi kondisi kejiwaannya seperti orang mens 9 bulan, haha (nggak semua juga kalee). Saat minggu ke 9-11, hampir tiap malam aku nangis, sedih. Alasannya? tak ada. Pernah aku cerita pada suami kalau aku sudah makan pedas sejak usia 3 tahun, lalu aku bertanya padanya, “Kalau kamu? Kapan mulai makan pedas?”. Dia menjawab, “Sejak bertemu kamu”. Aku tak tahu mengapa jawaban suami itu membuatku SEDIH LUAR BINASA. Aku menangis hampir satu jam memikirkan betapa kasihannya orang ini yang selama 27 tahun hidupnya sangat flat, tak pernah makan pedas, pedas membuat hidupku berwarna, namun aku merasa suamiku hidupnya hitam putih saja sebelum dia makan pedas. Benar-benar gila. Sampai suamiku bersusah payah meyakinkan bahwa dia tak merasa sedih atau flat sebelum makan pedas. Tapi aku tetap saja sesenggukan seperti anak kecil yang nangis sesak tercekat di tenggorokan.
  8. Suka yang tidak disukai dan sebaliknya. Semenjak hamil, aku yang biasanya benci alpukat, jadi selalu makan alpukat, aku yang tidak suka quinoa, jadi suka, yang sebelumnya suka daging, jadi eneg kalau lihat daging. Terlebih di awal minggu ke 10, tiba-tiba aku mual kalau lihat dan membayangkan cabe. Padahal kan aku pecinta pedas? Suamiku ngakak. Aku jadi makan semua yang sehat-sehat, yang tawar, tak ada rasanya sama sekali, padahal sebelumnya aku melihat makanan berdasarkan warna, dan aroma, kali ini, benar-benar sebaliknya. Aku makan oatmeal tawar, bayam dan quinoa, kentang tawar, tahu rebus, dsb.
  9. Sembelit. Yang aku baca, normal-normal saja wanita hamil mengalami gejala sembelit dikarenakan pertumbuhan janin yang mendesak rectum, sehingga feses sulit keluar. Aku BAB mungkin seminggu sekali dan itu pun rasanya seperti orang mau melahirkan. Ya Tuhan, aku berpikir dosa apa sehingga BAB saja harus pegang tangan suami karena sulitnya mau keluar. Dramatis dan jorok sekali kedengarannya, tapi jujur, aku menangis satu jam setiap kali BAB. Tubuh menginginkan feses untuk keluar, tapi kerasnya setengah mati dan parahnya si feses sudah mecapai separuh perjalanan, sehingga kalau aku masukkan kembali tidak mungkin dan sakit luar binasa, kalau aku keluarkan juga tidak bisa karena stuck di tengah-tengah. Aku yang tadinya duduk jadi jongkok, tapi tetap tidak bisa, suamiku sampai ikutan nangis dan bingung harus berbuat apa. Mau panggil ambulan aku tidak mau, parah banget, malu tauk!. Mau dibiarkan, sampai kapan? Begitulah setiap kali BAB satu hingga 1,5 jam setelah kontraksi sehingga si feses akhirnya keluar dan kami girang bukan kepalng setelah menangis berjam-jam di toilet. Sungguh aku tidak mengada-ada. 🙁
  10. Kulit kering bersisik. Sebanyak apapun lotion yang aku pakai, kulit tetap saja kering dan bersisik, terlebih kulit kaki.

 

Rasanya 10 gejala sudah cukup banyak ya. Mungkin faktor keturunan juga mempengaruhi reaksi tubuhku terhadap hormon kehamilan itu, sehingga aku harus mengalami semua gejala-gejala tersebut. Yang paling membuat sedih adalah fakta bahwa aku jauh dari keluarga dan tinggal di luar negeri. Aku juga nyidam seperti nasi jinggo, ikan pindang pakai santan dan blimbing wuluh, beras kencur, dsb. Tapi bagaimana? Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkannya? Kalau di Indonesia kan tinggal pesan gojek atau nyuruh ponakan buat beli. Aku pun bisa mengusahakan untuk membeli bahan dan membuatnya sendiri, namun seperti yang aku jelaskan, masuk dapur semenit saja muntahnya 15 menit? Bagaimana mungkin aku membuatnya sambil muntah-muntah?

Pengalaman hamil adalah pengalaman yang sungguh ajaib. Aku pernah baca quote, “Tak ada yang bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya morning sickness”. Memang tak bisa dideskripsikan kalau tidak merasakannya sendiri. Aku sama sekali tidak merasa sakit seperti terjangkit virus atau letih karena mengkonsumsi obat. Fisikku benar-benar sehat, bahkan aku bisa memaksanya kerja dan rapat. Setelah muntah yang parah, kadang memang pusing, tapi lega dan merasa sehat.

Aku bertanya pada suami, apa yang membuatnya paling tersiksa saat aku hamil. Dia menjawab saat melihatku muntah. Saat muntah yang sampai asam pahit lambung keluar, memang saat dimana aku merasa beberapa detik tidak punya nyawa lagi, seperti orang kumat epilepsi. Karena tekanan dari dalam, wajah sangat tegang, mata terbelalak, mengeluarkan air mata, hidung berair, mulut menyembur. Aduuuh, jijik kalau dijelaskan. Aku sangat salut kepada ibu-ibu di dunia dan dari pengalaman itu, aku jadi rindu sekali pada ibu. Satu poin yang membuatku juga sedih sepanjang kehamilan.

Yang lebih ajaib dan membuatku saat ini ingin jadi neurologi dan ahli genetik adalah proses perubahan Estrogen dan Progesteron itu loh. Bagaimana mungkin aku yang sejak 29 tahun tak pernah mengalah dan menyerah pada hidup, ini menyerah pada hormon selama 6 minggu. Saat aku patah hati, aku masih bisa PP Batu Malang untuk kuliah, ujian sambil berlinang air mata, saat patah hati lagi di Jerman, aku masih bisa kerja meskipun juga kehilangan nafsu makan dan sedih luar biasa. Nah ini, sebuah kabar gembira, namun merubah hidupku yang membuatku menyerah dan takluk. Di minggu ke 9 aku merasa tak sanggup kuliah, aku drop semua matkul karena dibuat berpikir saja sudah berkunang-kunang apalagi minggu-minggu terakhir kuliah aku harus menyiapkan presentasi, dsb. Aku mengalah. Menulis blog dan berbagi pengalaman yang menjadi hobiku juga terpaksa aku tinggalkan dengan alasan malas, letih, loyo, mual. Sehari-harinya aku hanya bergelimpangan di kasur, tanpa hp, hanya melihat asbes dan berpikir tentang hormon-hormon ini. Kadang melihat ipad untuk nonton Youtube tentang hamil, gejalanya, dan mencari tahu pengalaman orang-orang yang sama. Aku baca ratusan komentar orang-orang yang juga fatigue saat hamil dan benar-benar takluk oleh hormon. Sehingga aku merasa terhibur dan tak sendiri, pathetic banget yak :D.

Tidak semua orang hamil mengalami hal yang sama, bahkan di kehamilan anak yang berbeda pun, berbeda pula rasanya. Meskipun kehamilanku harus berakhir, paling tidak aku merasa bersyukur telah menjadi calon ibu dan merasakan betapa seorang wanita itu sungguh luar biasa perjuangan dan pengorbanannya kepada anak.

Karena artikel ini sudah terlalu panjang, cerita kehilangan aku sambung di artikel selanjutnya. 🙂

Artikel selanjutnya: Dan Tiba-Tiba Semua Harus Berakhir

 

Comments

  1. HGnya parah banget ya mbak kayak ini deh, Kate Middleton. Dia hamil anak pertama sampai harus dirawat di RS, trus hamil anak kedua juga kayaknya, ya?
    Kalau pengalamanku dulu sih iya mual dan muntah pas hamil pertama kali, nggak bisa cium bau nasi dan nggak bisa makan nasi, pasti kalo makan nasi jadi uwweekk uweeekkk… :-p
    Bahkan pas belum tau kalo itu hamil, saya dan suami itu sama-sama sakit. Saya demam dan kepala berat banget, sedangkan suami sampai mual, muntah-muntah dan kepala rasanya berputar-putar. Kirain si suami masuk angin, eh ternyata setelah periksa ke bidan, si suami kena imbas kehamilan.
    Tapi hamil anak kedua lumayan mendingan cuma mual dikit aja di pagi hari, ga separah hamil anak pertama.

    1. Wooow, suaminya bisa sampai terkena juga ya,,,, hiks, kalau aku harus menanggungnya seorang diri. Untungnya suami selalu ada di sampingku. Terima kasih ya sudah share 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.