Kisah sebelumnya:

Diary Au Pair: KANAN atau KIRI?

Sudah hampir dua bulan aku tinggal di München. Nadja dan Robert akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih besar, yang letaknya tak jauh dari tempat mereka kerja, yang sewanya lumayan terjangkau, pemandangan alamnya menakjubkan dan yang paling penting: Nadja suka dengan rumah tersebut.

Pindah rumah di Jerman bisa menjadi momok tersendiri bagi siapapun. Pasalnya, orang Jerman tak punya banyak teman untuk bantu-bantu pindahan. Kerabat pun kadang juga punya urusan masing-masing. Saat aku pindah kontrakan di Batu dulu, aku tak begitu merasakan kesulitan yang berarti. Kami waktu itu memang pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain dan yang letaknya tak begitu jauh. Saat ayah tiriku mulai membangun rumah, meskipun belum jadi sepenuhnya, kami sudah memboyong barang-barang dari kontrakan hari demi hari (tidak sekaligus) seperti yang dilakukan Nadja dan Robert.

Lebih tepatnya waktu itu kami diusir oleh pemilik kontrakan, karena rumah tersebut dijual kepada pedagang kain dan akan dijadikan gudang. Terpaksalah kami pindah. Untungnya, mereka memberi waktu beberapa bulan untuk pindah. Dan untungnya dalam beberapa bulan tersebut, ayah tiriku sempat mencicil membangun rumah yang besarnya hanya 60 meter persegi (dulu awal dibangun cuma separuh saja), kami tinggal berlima di satu petak rumah, satu kamar, satu kamar mandi, satu dapur.

Dulu karena Reni cucu kesayangan nenek dan Pak Tomo (suami kedua nenek),  dia harus tinggal di rumah nenek. Kadang Reni mengunjungiku untuk membantu menguliti kacang yang akan aku titipkan di warung-warung di pasar Batu atau mungkin rindu akan kejahilanku yang selalu membuatnya menangis. Beberapa tahun setelah nenek tidak tinggal di kontrakan bersama kami, beliau terkena stroke dan mendadak meninggal.

Kematian nenek bagaikan krisis moneter, banyak pihak yang  terkena imbasnya, namun ada juga pihak yang karena krisis, malah menjadi untung. Selain ke lima anak nenek yang harus membayar hutang-hutangnya setelah meninggal selama bertahun-tahun, Reni adalah cucu yang paling terkena imbas moneter ini, karena dulu dia selalu disayang, dimanja. Kebalikannya, aku adalah cucu yang diuntungkan oleh kematian nenek. Sekalipun saat pemakam aku menangis (karena semua orang menangis), setelah dikuburkan, aku menjadi manusia yang ibarat tahanan penjara, aku bebas.

Aku tak ingin tak menyayanginya. Namun, keberadaanku di dunia ini selalu disesalinya. Wajahku yang paling mirip bapak kandungku (yang selalu menyakiti ibu) selalu memicu amarahnya. Setelah nenek (dari ayah) yang mengasuhku di Surabaya meninggal, aku harus ikut nenek (dari ibu) di Batu. Sedangkan ibuku sendiri bekerja sebagai baby sitter di Surabaya demi mencukupi kebutuhan kami. Bapak kandungku? Jangan ditanya, sejak aku lahir sampai umur 9 tahun, mungkin bisa dihitung jari berapa kali dia mengunjungiku di Surabaya.

Obsesi bapak mempunyai pacar wanita bule membuatnya tinggal di Bali. Saat aku masih tinggal bersama nenek di Surabaya, aku masih sering mengunjunginya di Bali dan bertemu dengan Caroline (pacarnya orang Selandia Baru saat itu). Bapak kadang mengirimiku majalah Bobo dengan selipan uang 5000 di dalamnya. Namun, dia tidak mau tahu kebutuhanku dan Reni yang bejibun sehari-harinya. Ibuku yang menafkahi kami dan nenek di Batu yang mengurusi kami.

Karena beban yang bertambah, nenek (dibantu Pak Tomo) berjualan jamu gendong di pagi hari dan gorengan di sore hari. Aku yang sudah cukup besar, yang ikut tinggal di keluarga itu juga harus membantu, bangun pagi-pagi buta, belanja kebutuhan jualan di pasar pagi baru bisa berangkat sekolah dan ikut keliling jualan gorengan di sore hari sebelum les untuk lomba IPS di Beji.

Apapun yang aku lakukan selalu tidak benar di mata nenek. Pak Tomo yang bukan kakek kandungku kadang sampai menaruh hati padaku saat nenek memukulku hingga babak belur hanya karena lupa tidak memakai bahasa krama inggil saat berbelanja di pasar. Pak Tomo malah yang kadang melindungiku. Pedagang teman nenek itu melaporkannya pada nenek sehingga membuatnya malu dan murka padaku. Dia merasa tidak becus mengurus cucu yang tidak tahu sopan santun dan tidak bisa berbahasa krama.

Berat badanku saat SD hanya 25 kg. Tapi aku harus membawa belanjaan yang lumayan berat. Singkong, Tape, minyak goreng, gula, wortel, taoge, tepung terigu untuk membuat gorengan, ditambah kunci, kunyit, kencur, daun sirih, majaan, pepet, gula jawa, untuk bikin jamu. Kadang aku harus bolak balik ke pasar-rumah untuk mengambil sisa belanjaan yang aku titipkan di teman nenek (pedagang yang suka melaporkan aku). Tak jarang aku harus datang telat ke sekolah sambil menangis terisak karena tak diberi uang saku. Alasannya? Karena penjual tape langganan nenek pulang dan aku membeli tape di pedagang lainnya dengan harga yang 200 rupiah lebih mahal. Kata nenek, 200 rupiah itu uang saku kamu yang aku korbankan hari ini.

Saat aku bercerita kepada ibu guru. Beliau percaya padaku, namun beberapa hari kemudian setelah nenek dipanggil ke sekolah, beliau malah membenciku karena beliau lebih percaya pada cerita nenek (aku tidak tahu cerita apa) yang jelas bu guru menyebutku pembual.

Piring dan peralatan makanku pun dibedakan. Katanya karena nenek di Surabaya sempat mengidap asma, dia takut kalau Pak Tomo dan Reni serta tante Susi (anak bungsu nenek yang saat itu masih tinggal bersama) tertular lewat aku (padahal aku tidak sakit asma).

Keadaan ekonomi yang serba sulit membuat nenek sangat keras kepadaku. Aku hanya boleh mengambil makanan satu kali di satu piring, jika aku terlihat menambah nasi atau lauk, aku masih ingat tatapan mata melototnya bagaikan serigala yang akan menerkamku. Aku tak pernah menyalahkannya, karena aku tahu, kondisiku hanya menumpang dan tambahan beban hidup untuknya.

Namun di sisi lain, aku hanyalah anak-anak. Aku sering menangis meminta nenekku di Surabaya agar kembali hidup dan memungutku kembali. Aku sering berlama lama di pasar Batu dan pergi ke tempat parkir mobil Panther atau pick up lalu berdiri di bamper mobil berharap mobil tersebut jalan, lalu aku terjatuh dan orang yang punya mobil itu kaya raya, kemudian karena kasihan padaku, aku dipungutnya jadi anak. Namun, angan itu tak pernah menjadi nyata. Kadang aku minggat ke rumah temanku dan saat kembali, aku dipukuli habis-habisan, serta kepalaku dicelup-celupkan ke bak mandi berkali-kali agar jera.

Saat ibu pulang, nenek menjelma menjadi peri. Makananku diambilkannya, kadang aku disuapinya. Tapi tak jarang nenek bercerita bahwa aku sering membuat Reni menangis dan sempat beberapa kali aku dilarang bermain bersama Reni. Aku mengasihi Reni begitu pun sebaliknya. Reni adalah satu-satunya alasanku saat itu mengapa aku bertahan di Batu, satu satunya alasanku tersenyum setelah nenek menghajarku. Jika dia diambil juga, tahu sendiri rasa hancurnya hatiku.

Saat kecil, aku sering berharap mati.

Sungguh ironis dan terdengar sangat jahat jika aku berkata, aku hidup kembali justru saat nenek telah pergi.

Saat aku kelas 6, ibu pulang ke Batu dan berhenti bekerja sebagai babysitter untuk mengasuh kami. Beberapa bulan kemudian, ibu bertemu Pak Sutikno, supir truk yang truknya sering mangkal di depan Apotek Sumber Waras, spot di mana ibu berjualan kacang ijo. Mereka rupanya cinlok dan menikah beberapa bulan kemudian. Pak Tikno kisah hidupnya 11-12 dengan ibu (ditinggal sang istri selingkuh) dan harus menghidupi ke 3 anaknya.

Setelah nenek meninggal, hak asuh Reni menjadi tanggung jawab ibu. Karena tidak mungkin aku dan Reni tidur bersama dengan bapak dan ibu (cuma Daniel yang masih berumur 1 tahun yang boleh), maka bapak membuatkan ruangan sempit di atas kamar mandi setinggi 1 meter untuk tempat tidur kami berdua. Ruangan itu bukan kamar. Hanya celah antara kamar mandi dan asbes dengan tinggi kurang dari 1 meter, lebar kurang dari 1,5 meter dan panjang kurang dari 2 meter (aku tak tahu tepatnya) :D.  Untuk menjangkaunya, kami harus naik melalui tangga yang dibangun dari tanah, yang pada akhirnya memang menjadi tangga ke lantai 1, lalu memanjat pintu kayu yang digunakan untuk menutup jalan di tangga tersebut. Waktu itu, lantai satu belum dibangun, jadi kami hanya tidur di basement saja.

Bapak yang merancang semua desain hunian kecil kami. Tanah yang dibeli keluargaku adalah tanah dengan posisi miring. Banyak yang tidak mau membeli tanah tersebut, karena berpikir akan sangat mahal untuk membangun pondasi dengan batu-batu yang tinggi untuk meluruskan tanah yang miring. Tapi karena bapak begitu kreatif, alih-alih menyeimbangkan permukaan tanah dengan membuat pondasi batu, bapak menggali tanah yang miring tersebut sampai ke batas yang tidak miring. Hasil galian tanah dibuat batu bata, dan bentuk tanah yang sudah digali, dibangun menjadi satu hunian, berupa satu kamar, satu kamar mandi, satu dapur, satu ruang tamu, dan satu ruangan di atap WC untukku dan Reni. Kemudian bangunan di bawah yang sudah dibangun tersebut dicor agar pondasinya kuat, dan atapnya dibangun rumah yang sesungguhnya (lantai 1).

Karena termasuk tanah yang kurang diminati, harganya juga lumayan murah. Waktu itu hanya 100 ribu/meter persegi. Sekarang, harga tanah di Batu sudah jutaan per meter persegi.

Dulu orang-orang banyak yang skeptis dan tidak mau membeli tanah karena bingung untuk membangunnya. Karena kekreatifan bapak tersebut, akhirnya banyak orang yang mau membeli tanah miring tersebut dan membangunnya seperti cara bapak.  Akhirnya, kami punya banyak tetangga setelahnya. Tapi kreatif masih kalah sama kemampuan finansial. Sekalipun rumah kami pelopor rumah dengan bangunan basement di tanah miring pertama di kompleks tersebut, sampai 18 tahun kemudian, rumah itu masih belum jadi juga.

Bapak selalu tidak mempercayakan tukang dalam pengerjaan rumah. Karena dia yang paling tahu bagaimana desain rumah tersebut. Selain itu, aku tahu, kami tidak punya cukup uang untuk menggaji tukang. Untuk urusan nge cor atap, karena tidak bisa dilakukan seorang diri, kami selalu mengundang kerabat. Paman dan anak kandung bapak, yang semuanya laki-laki dewasa, yang biasanya membantu kami. Selebihnya, memasang batu bata, membuat saluran listrik dan air, sampai menyempurnakan dinding dan mengecat, semua dilakukan bapak seorang diri (kadang ibuk jadi kuli yang membantunya, kadang juga aku atau Reni). Bapak menyempatkan diri membangun rumah kami jika tidak ada muatan truk yang harus dikirim ke luar kota atau hari minggu sepulang dari gereja. Bapak selalu mengambil libur di hari minggu agar bisa ke gereja.

18 tahun kemudian, rumah tersebut belum selesai dibangun, meskipun lantai 1 dan 2 sudah berdiri kokoh, namun, belum bisa dikatakan benar-benar jadi. Masih ada saja ide bapak yang akan memasang WC di lantai 2 lah, membongkar dapur di lantai 1 lah, memasang genteng lah. Dan semua menunggu kesediaan dana. Sedangkan bapak bertambah tua, cicilan untuk membayar truk tiap bulan ke bank saja sudah bikin ngos ngosan.

Tetangga kami yang membangun beberapa tahun setelah kami bahkan sudah direnovasi ulang rumahnya. Dan kami masih berkutat dengan tikus dan rayap yang menggerogoti kusen pintu serta jendela basement sampai saat ini. Reni dan aku sudah tidak tinggal di atap kamar mandi sejak bapak mencicil membangun lantai 1. Atap tersebut dijadikan penyimpanan barang bekas dan penuh dengan tikus serta kecoak saat ini).

Aku dan Reni sebenarnya menikmati ruangan tersebut. Aku merasa ruangan itu seperti rooftop di film-film. :D. Dari atap tersebut, aku dan Reni selalu berbagi suka duka.

Aku masih kelas 1 SMP saat itu, dan Reni kelas 2 SD. Reni mengalami gangguan disleksia sehingga membuatnya sulit untuk membaca sampai kelas 5 SD. Dia selalu naik kelas dengan belas kasihan (orang di Batu menyebutnya munggah gantungan). Namun saat dia sudah bisa membaca, di semester kedua kelas 6, dia bahkan mengalahkan anak-anak yang rangking 10 besar di kelasnya dengan menyabot nilai NEM terbaik saat kelulusan. Reni sering dibully karena selalu tidak bisa mendeteksi huruf-huruf dengan benar. Tapi aku tahu dia tidak bodoh.

Saat Reni belum bisa membaca, aku selalu membacakan buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan. Aku membacakannya, Reni memijitiku, hehehe. Aku selalu meminjam buku-buku dengan petualangan anak-anak di Eropa. Seperti buku terjemahan karya Astrid Lindgren. Lalu Reni pun akan berjingkrak saking semangatnya jika dia mendengar kisah yang seru tentang anak-anak yang tinggal di desa Bullerbyn (desa ribut) di Swedia waktu itu. Aku juga paling suka membeli majalah Bobo bekas di pasar loak Batu lalu membacakannya untuk Reni.

Kalau dibilang sosok kakak adik yang rukun, tidak juga. Aku dan Reni adalah anak kecil yang super nakal. Reni tak hanya dibully di sekolah, tapi olehku juga di rumah. Dia selalu kalah di permainan apapun. Jadi aku malas mengajaknya main bola bekel, tutup botol (kempyeng) dan lompat tali, dimana aku selalu menang. Aku tidak ingin timku kalah. Aku selalu membuat onar, hampir membakar ladang jagung dan dipukuli sampai pahaku babak belur oleh nenek juga pernah.

Aku dan Reni juga sering bertengkar hebat sampai lempar-lemparan piring hanya masalah kutang yang dia pakai, atau karena dia malas mencuci gelas yang dipakainya. Aku bisa bayangkan betapa susahnya punya anak kami berdua. Aku yang suka usil ini, paling suka menggoda Reni saat dia mulai jatuh cinta pada teman SDnya. Kalau Reni belum menangis sampai sesenggukan, aku tak akan berhenti membully nya. Dan membuatnya menangis bukanlah pekerjaan yang sulit. Aku tahu titik kelemahan dia. Aku memang psychopat. 😀

Reni adalah manusia paling aneh yang pernah aku kenal. Di masa-masa SD, dia kesulitan membaca, pada saat dia sudah mulai bisa membaca, dia tidak bisa berhenti membaca. Apapun dia baca. Seperti orang yang puasa membaca selama bertahun-tahun, dia akhirnya kalap, membaca seperti orang kesurupan. Menginjak masa SMP, Reni tak henti-hentinya meminjam buku dan komik untuk dibaca. Ibu sampai kualahan menghadapi aksinya membaca di malam hari, membaca di gelap gulita, membaca  sambil jalan, makan, boker, mandi, dan semua aktifitas dilakukannya sambil membaca.

Parahnya, Reni hobi meminjam buku, namun tak punya tekad untuk mengembalikan buku dan komik yang dia pinjam. Seringkali ibu menemukan puluhan komik di bawah kolong tempat tidur dan dikumpulkannya menjadi 2 karung goni. Reni sering menghabiskan uangnya hanya untuk membayar denda ratusan ribu ke perpustakaan. Kegilaannya tak hanya sampai di situ, saking hobinya membaca, dia sampai rela tidak bersih-bersih dan mencuci pakaian sampai 3 bulan lamanya. Kalau sudah kehabisan sandang, dia akhirnya memakai punyaku, ibu atau bahkan bapak. Lalu akhirnya membuat kami bertengkar hebat.

Reni di masa SD adalah anak imut penurut dan baik hati. Dia sering berjualan rujak buah yang aku buat dari rumah di kelasnya. Dia selalu jadi orang kepercayaanku dan seperti adik kepada kakak pada umumnya, dia selalu meniru apa yang aku kerjakan, mulai dari tulisan tangan, pakaian, apapun yang aku perbuat, seperti tidak pernah ada cacatnya di mata dia. Bahkan suatu hari, aku suruh dia memanjat genting dan menerobos atap rumah nenek yang penuh dengan kabel listrik demi mencuri ikan asin dan sambal bajak, dia pun mau (aku dilarang ke rumah nenek lagi setelah kejadian itu sampai beliau meninggal).

Aku adalah manusia yang provokatif dan Reni adalah pengikutku yang setia. Dia pernah aku jatuhkan dari sepeda, saat aku menggendongnya, bahkan sampai punggungnya bolong seperti sundel bolong pun dia tidak pernah bilang kepada nenek bahwa aku yang berbuat kesalahan itu. Aku sering mencelakainya, aku sering menggodanya dengan cara pura-pura akan menjatuhkannya dari gendonganku ke got atau kubangan air penuh tiang batu dan besi. Suatu kali (itu yang terakhir), dia benar-benar jatuh dari gendonganku dan punggungnya mendarat pertama kali sampai berdarah-darah dan bolong menganga dengan diameter beberapa cm. Dia tahu bahwa mungkin aku bisa mati dihajar nenek kalau beliau sampai tahu itu perbuatanku. Makanya dia bungkam dan bilang terpeleset di atas got.

Reni adalah penggemar setiaku dan orang yang paling tahu apa yang aku sukai (bahkan yang ibuk sendiri tidak tahu). Aku suka bereksperimen membuat makanan yang aneh-aneh. Pernah aku membuat pizza rebus yang hasil akhirnya bolu kukus, atau daging bakar yang saat dimakan seperti kayu bakar (alot setengah mampus), tapi Reni dengan bangga dan seperti orang yang menemukan harta karun memakan hasil uji coba itu sampai habis. Aku tak pernah ingat dia protes atau bilang tidak enak sekalipun makanan itu hancur total. Percobaanku membuat bola-bola pisang coklat untuk dijual yang juga hancur penyek totalpun, dijualnya ke teman-teman sekelasnya.

Saat aku SMP kelas 3, saat itu Reni kelas 5 dan sudah mulai bisa sedikit membaca. Aku membuat sebuah cerbung parodi yang isinya tentang geng di kelas IX dan guru-guru terlibat. Cerbung itu kisah konyol di Afrika bagian belakang yang sangat aneh. Aku bercerita tentang Suku Weleh-Weleh. Cerbung itu banyak diminati oleh teman-teman sekelasku, sampai akhirnya hilang dibuang oleh teman yang berpikir bahwa cerita itu tidak masuk akal. Aku masih ingat banyak teman yang sampai rela mengorek tempat sampah dan melabrak pembuang notes kecil berisi cerita suku Weleh-Weleh itu ke rumahnya.

Satu teman bahkan menunjukkan notes kecil berisi sambungan episode Weleh-weleh 10 tahun kemudian saat kami bertemu kembali di facebook. Majalah dinding di kelas IX waktu itu, bahkan dipenuhi oleh tokoh-tokoh dengan nama-nama aneh di suku Weleh-Weleh, misalnya: Samu Samu Salju untumu terpendam di Musim Salju. Sampai akhirnya kisah Weleh-weleh itu lenyap tak berbekas, hanya satu hal yang membekas di hatiku: Saat Reni bilang,

“Mbak, tahu tidak, Aku memang belum bisa membaca waktu itu dan buku Weleh-weleh itu adalah motivasiku untuk bisa membaca dan karena notes kecil berisi cerita mbak itu, aku kecanduan membaca. Aku sampai menyebarkannya kepada teman-temanku di kelas supaya mereka membacanya juga, sampai akhirnya buku itu protol, ledeh (terputus-putus, hancur)”

Saat aku tanya notes yang mana yang dia sebarkan, Reni menjawab, “Kisah Weleh-Weleh di notes pertama berwarna merah jambu”. Kisah tersebut adalah fragmen yang hilang yang aku&teman-teman sekelasku kira dibuang Dodik (anak yang bilang kisah Weleh-Weleh tak bermutu), nggak tahunya, kisah tersebut lenyap karena Reni. Namun, aku tidak marah karena Reni bilang 7 tahun setelahnya, setelah aku lupa tentang Weleh-Weleh, setelah kami menyerah mencari bagian yang hilang.

*

Aku duduk disamping Nadja di mobil VW mini bus yang membawa kami dari apartemen lama menuju ke apartemen yang baru. Bunga-bunga tulip warna warni mulai menguncup dan menghiasi pinggiran jalan di sekitar Ismaning. Masih terlalu dini untuk mekar, ini masih awal musim semi.

“Indra, are you allright?” Kamu kelihatan melamun? Sedih karena pindah rumah?” tanya Nadja.

“Ah, nggak!” aku hanya mengingat-ingat dulu aku juga pernah pindahan saat masih di Indonesia.

“Wah, stress banget pastinya ya?”

“Nggak juga, kami bawa gerobak dorong dan motor bapak buat mengangkut barang-barang. Kami toh pindah tak jauh dari kontrakan lama!”

“Ach so… kalau di sini, kami sampai harus bayar jasa pindah rumah. Biaya pindahan mahal banget. Ini saja, kami tak punya banyak barang, biaya yang kami habiskan sampai 2000 euro.”

Waoow, hampir sepuluh kali lipat gajiku, pikirku.

Kami pun tiba di rumah yang baru. Rumah bernuansa modern yang cukup besar. Ada basement dengan 3 kamar. Satu kamar yang luas untuk ruang kerja dan kamar tamu. Di lantai 1, tak ada kamar, namun ruangan yang amat luas dengan dapur, ruang tamu dan kamar mandi. Di Lantai atas, baru berisi 3 kamar untukku, kamar si kembar dan kamar tidur utama. Kamar tidurku cukup luas dengan jendela berkusen merah hati yang menghadap ke pemandangan lapangan hijau dan nuansa senja yang menakjubkan.

Sekalipun aku punya kamar tidur yang dekat dengan Amy dan Zoe (tak lagi tidur di basement), kepindahan keluarga ini adalah awal mimpi burukku sebagai au pair.

Bersambung….

Comments

  1. You should try to be an author of inspirational book. You def success bombarded me with your sad story which is as Christian people you had an ordinary heart .The past is the past, the future is all that is worth discussing. Thank you for sharing. I’m your fan 🙂

    1. Thank you 🙂 But I am stil far from being a good writer though :D… I guess there are still bunch of incredible inspirational stories out there. I appreciate that you enjoyed reading my story. It makes my day 🙂 thanks again.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.