Tinggal di Jerman selama beberapa tahun, aku bertemu banyak sekali orang-orang hebat, yang berjuang di tanah perantauan, jauh dari orang tua, sanak saudara. Aku kagum sekali akan kegigihan teman-teman di sini dalam menggapai mimpi. Sebagian dari mereka adalah anak lulusan SMA/SMK yang memberanikan diri datang ke Jerman dengan menjadi au pair dan memutar otak bagaimana agar bisa melanjutkan kehidupan di Jerman yang semua serba mahal ini. Dari mereka aku menyadari satu hal, bahwa menggapai mimpi itu bukan hanya untuk mereka yang punya uang saja, bukan untuk mereka yang sangat cerdas saja, tapi untuk kita semua, bahkan yang nggak cukup pandai untuk ikut seleksi program beasiswa (seperti aku), dan yang nggak cukup mampu untuk membiayai kuliah (seperti aku lagi :D),  yang mau dan berani keluar dari zona aman dan bertekat bahwa mimpi itu kita tanam untuk kita raih, dan kita melakukan yang terbaik untuk meraihnya.
So, bertemu dan bertukar pikiran dengan teman se-perantauan, aku banyak mendapatkan informasi untuk kuliah di Jerman, tanpa uang jaminan 8000 euro. 
Berikut trik dan tips yang mungkin bisa jadi inspirasi juga buat kalian yang berminat kuliah di Jerman:

 

1. Mulai dari NOL

Yang aku maksud di sini, kalau kalian benar-benar pengen datang dulu ke Jerman, cari cara yang paling mudah, yakni jadi au pair (lihat bahasan seputar au pair). Kalau kalian sebegitu beruntungnya, seperti salah satu teman aku yang 2 tahun lalu jadi au pair di salah satu kota kecil di Bavaria, kalian akan dapat Host Family yang baik hati dan percaya kepada kalian sehingga mau menjamin kalian (hitam di atas putih) selama beberapa tahun kuliah di Jerman. Tapi hal ini juga faktor keberuntungan. Karena menjadi penjamin (verpflichtungserklärung) berarti berani menjamin dan benar-benar kenal siapa yang dijamin, misalnya kalian udah dijamin sama keluarga lantas melakukan aksi pencurian, perampokan, dan tindakan kriminal lainnya sampai berurusan dengan polisi, keluarga penjamin bisa terlibat dan harus bertanggung jawab. Faktor ini lah yang dipikirkan banyak keluarga Jerman. Meskipun mereka mengenal karakter kita, baik, sopan, pemalu, sungkan-an, tapi kita tetap saja orang asing. Seperti Host Family ku dulu, mereka bersedia menjamin, asal aku kuliahnya tidak jauh-jauh di lain kota (tetap di München), agar bisa sekali-sekali membantu mereka di akhir pekan. 

2. Punya plan B setelah start dari nol

Kalau ternyata kalian nggak beruntung punya host family dermawan dan suka membantu, jangan putus asa. Tetap jalin hubungan baik dengan siapa saja. Rejeki bisa bersumber dari mana aja kan? putar otak, putar haluan. Salah satu kenalan bercerita, dia tinggal di Austria selama 1 tahun untuk jadi au pair (mulai dari nol) lalu pindah ke Jerman jadi au pair lagi (dari nol lagi :D), lalu karena dia nggak begitu beruntung dapat keluarga penjamin, dia (dan yang juga aku lakukan) memutuskan untuk menjadi FSJ atau BFD (simak seputar FSJ dan BFD) dan menambah pengalaman juga belajar bahasa Jerman yang nantinya saat kuliah akan sangat berguna untuk kerja sampingan.
Ketika FSJ, pastikan terhubung dengan banyak orang, nggak cuma orang Jerman, tapi kawan-kawan Indonesia agar dapat link untuk mencari kerja tambahan dan sebagainya. 

Baca juga: Duales Studium di Jerman: Kerja, Kuliah, Dapat Gelar, Dapat Gaji!

3. Nabung, Hemat, Pelit 

Saat FSJ atau au pair, kalian jadi punya waktu cukup untuk berpikir apakah kalian benar-benar ingin kuliah di Jerman atau malah balik ke Indonesia, atau banting stir ke ausbildung, dsb. Gunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya agar kalian nggak salah mengambil langkah ke depannya. Jangan sampai salah spekulasi!!!
Salah seorang teman yang aku sayangkan sekali dia harus kembali ke Indonesia karena salah spekulasi. Dia datang ke Jerman dengan jadi au pair dan punya impian melanjutkan S2, tapi keasikan menjadi au pair, alih-alih daftar FSJ, dia malah terus tinggal di Host Family yang sama (memperpanjang visanya bukan lagi au pair, tapi sprach schulerin dengan host family sebagai penjamin). Kalau sudah punya visa sprach schulerin, tahap selanjutnya yang harus kalian tempuh adalah studkol (studen koleg) atau jadi mahasiswa. Teman aku itu di akhir tahun visa sprach schulerin nya, dia berubah pikiran ingin menjadi FSJ dulu sebelum mulai S2. Kalau kalian sudah punya visa sprach schulerin, kalian harus mau tidak mau kembali ke Indonesia untuk memperpanjang visa FSJ. Usut punya usut yang aku dengar, pihak kedubes Indonesia belum mengijinkan dia kembali ke Jerman lagi. Saat aku menulis ini, sudah bulan ke 8 dia menunggu visa di Indonesia. Jadi sangat disayangkan kalau kalian salah spekulasi.
Kembali ke topik. Kalau kalian cekatan, ada banyak peluang kerja sambilan saat FSJ, dari situ kalian bisa mengumpulkan uang yang nantinya akan kalian pergunakan untuk memperpanjang visa dan uang tabungan saat memulai study. Sebagai info tambahan:
Aku dulu mendapat gaji FSJ perbulan 623 euro, dari situ aku membayar kamar 300 euro, makan aku jatah 80 euro perbulan, dan pengeluaran tak terduga sekitar 50 euro. Aku mendapat sekitar 190 euro per bulan untuk tabungan. Tapi aku punya pekerjaan sampingan menjadi baby sitter yang aku lakukan tiap akhir pekan sekitar 5 jam perminggu, baby sitter dibayar 10 euro perjam, jadi perbulan aku mendapat tambahan sekitar 200 euro. Bisa kurang bisa lebih. Ada beberapa bulan aku mendapat penghasilan hanya dari baby sitter saja 400 euro. Katakanlah aku boros, aku masih bisa menabung sekitar 300-400 euro per bulan dan dalam satu tahun, aku punya tabungan 3600 sampai 4000 euro. Tapi aku sangat boros saat itu, jadi setelah satu tahun setengah menjalani FSJ, aku hanya punya tabungan 3000 euro. Yah, seperti yang aku katakan, kalian harus cekatan dan semangat dalam menjemput rezeki demi menggapai mimpi.

4. Nyicil VISA

Awalnya aku merasa tergelitik bertemu dengan salah satu mahasiswa S2 sejurusan yang lihai banget dalam ‘ngakali’ birokrasi pemerintah Jerman. Birokrasi pemerintah Jerman emang njlimetnya alang kepalang, tapi bukan berarti kita nggak bisa bertahan. Kalau kalian bisa bertahan dalam suasana macet Jakarta, kalian bakal tahan dengan tantangan hidup di mana aja (apa sih kok jadi nglantur) :D.
Jadi teman aku ini nggak pernah punya uang 8000 euro buat kuliah di Jerman. Dia hanya punya 2000 (itu pun dapat dari hutang sesama teman Indonesia yang tinggal di Hamburg) dan dari 2000 itu dia bisa memperpanjang Visa nya selama 3 bulan. Setelah tiga bulan? ya memperpanjang lagi dengan utang lagi 2000. Jadi selama 2 tahun ini dia berada di Jerman, tiap 3 bulan dia harus memperpanjang Visa. Kerugiannya, tiap 3 bulan dia harus rela bayar 80 euro untuk memperpanjang. Tapi informasi terakhir kemarin, dia bisa nabung dan dapat pinjaman sana sini sampai 6000 euro sehingga dia bisa memperpanjang sampai 9 bulan.

 

5. Pinjam Teman!!!!

Kalau kalian dengar dan baca kisah tentang kuliah di Jerman dari anak orang mampu atau yang lolos seleksi beasiswa, mungkin kisah lucu seputar pinjam meminjam di kalangan mahasiswa hampir tak terdengar. Padahal udah jadi rahasia umum bahwa saat memperpanjang visa adalah saat kedermawanan teman diuji. Ya, salah seorang teman dekat yang juga cerdik sekali harus rela bersusah payah menghubungi semua kenalannya di Jerman (tentunya orang-orang Indonesia senasib seperjuangan) dan meminjam uang untuk memperpanjang visa dari FSJ ke student. Dari semua yang dia kenal, ada yang meminjamkan 100 euro, 300 sampai 1000 dan dia bisa dapat 8000 euro untuk itu. Masalahnya, uang 8000 itu tidak bisa ditarik secara utuh setelah kita mendapat visa, hanya 650 euro per bulan. Jadi, saat kita meminjam, pastikan mereka belum butuh uang tersebut sampai beberapa bulan ke depan.

6. Verpflichtungserklärung

Atau penjamin. Seperti yang aku sebutkan di atas, keluarga host family bisa jadi keluarga penjamin. Namun, bukan hanya itu, teman dekat bisa juga jadi penjamin asalkan dia sudah bekerja dan gajinya cukup untuk menjadi Verpflichtungserklärung. Saat aku ingin memulai S2 tahun lalu, paman dari teman dekat aku (orang Jerman) malah menawarkan diri untuk menjadi Verpflichtungserklärung karena beliau pernah tinggal lama di Indonesia dan kita sering bertemu, beliau percaya dan menganggap ku sebagai keponakannya sendiri, selain dari paman tersebut, orang tua dari teman yang lain, yang pernah aku dampingi saat magang di Indonesia juga bersedia menjadi penjamin, dan teman yang lain yang sudah bekerja di perusahaan Jerman juga demikian. Intinya, kalian nggak bakal tahu bagaimana nasib membawa kalian ke mana dan rejeki bersumber dari mana. Tetap lah jadi orang ramah dan baik agar kita dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan berkenan membantu kesulitan kita.

7. Banting Tulang

Kalau kalian masih belum beruntung juga dengan cara ini itu, dan borosnya minta ampun, masih ada cara gila tanpa 8000 euro dan tanpa beasiswa untuk kuliah di Jerman, yakni kerja banting tulang. JERMAN BUTUH TENAGA KERJA!!!!! kebangetan banget kalau kalian sampai nggak dapat kerja di sini sedangkan Jerman tuh gudangnya kesempatan kerja (kecuali kalau kalian malas nyari dan malas kerja ya). Banyak banget iklan lowongan kerja sambilan buat pelajar. Teman aku ada yang kerja di bagian gudang H&M, jadi penyetempel surat di kantor pos, kerja di pabrik coklat, dan banyak lainnya. Dan info itu tinggal tanya saja ke Studierenwerk Beratung atau kantor buat konsultasi masalah keuangan mahasiswa. Ada juga kerja yang langsung masuk kantong seperti baby sitter, atau bersih-bersih rumah, jagain kucing atau ngajak jalan-jalan anjing, dan sebagainya. Gajinya dihitung per jam. Rata-rata sih 10 euro perjam. Kerja 15 jam saja perminggu, kalian sudah bisa hidup di Jerman satu bulan. Sebagai mahasiswa, kalian diperbolehkan bekerja maksimal 19 jam per minggu, dan itu dikontrol oleh pemerintah, kalau lebih dari itu, kalian bisa dapat masalah. 

8. Beasiswa setelah satu tahun kuliah

Aku berpikir, kuliah di Jerman benar-benar asik, selain biaya kuliahnya minim dan peluang kerja sambilan yang seabrek, banyak juga tawaran beasiswa dari pihak kampus atau yayasan2 tertentu. Asal rajin nyari di websitenya DAAD atau website kampus, kalian pasti nemu. Rata-rata beasiswa diberikan saat kalian udah 2 semester kuliah dengan transcript record yang baik. Jadi awal-awal kuliah banting tulang dulu yeeay. 
Aku dengar Bafög (atau pinjaman pemerintah untuk mahasiswa) juga kini bisa buat mahasiswa asing yang sudah tinggal minimal 15 bulan di Jerman. Tapi aku pribadi lebih memilih daftar beasiswa lain selain Bafög. 

Kalau kalian masih bimbang mau dari mana melangkah dan ragu atau kesulitan memulai dari nol, berarti kalian belum segigih itu. Mungkin Tuhan belum mengizinkan makhluk plin plan dan kurang tangguh berada di negara yang semuanya serba harus disiplin dan terorganisir. Tapi hidup di Jerman juga tidak seindah bayangan saat aku masih SD, salju, jalan yang bersih dan rapi. Iklim dan cuaca yang ekstrim kadang membuat kita merindukan Indonesia yang selalu sehangat mentari. Orang-orang Jerman yang serba kaku, disiplin, tepat waktu, saklek, frontal kadang membuat aku merindukan orang-orang Indonesia yang kepo, suka senyum dan sungkan an. :D. Jadi tak sedikit juga kawan yang memutuskan untuk berubah pikiran (setelah mencoba memulai dari nol), karena merasa budaya Jerman tak sesuai dengan hati nurani. Ada juga yang harus pulang karena salah spekulasi lah, malas cari tahu dan eksplorasi lah, dan tergerus oleh kerasnya hidup di Jerman. 

So, aku harap postingan kali ini bisa jadi inspirasi dan ide buat kalian yang ingin kuliah di luar negeri, khususnya Jerman. Aku akan sangat senang sekali kalau kalian mau membagi tulisan ini kepada yang mungkin membutuhkan info, adik, kakak, teman, saudara, kenalan, dsb sehingga mereka juga bisa mendapatkan info tambahan lain yang mungkin berguna juga. Aku senang berbagi dengan kalian dan lebih senang kalau kalian tanya atau berkomentar tentang tulisan yang aku buat sehingga ke depannya aku bisa berbagi hal-hal yang positif lagi. 

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

Comments

  1. Waah ketemu tulisan mba girindra, aku jga gabung d grub jdi aupair yg mba buat. Senang dan meng inspirasi bgt tulisannya. Dri bbrpa thn lalu udh png bgt bisa aupair dsna cmn keterbatasan kursus dan agent buat kesana. Tapi thn lalu ketemu sama prof yg mau bantu buat qt jdi aupair dsna, cmn syaratnya ngk bisa klo cmn sendri. Harus ada teman yg ikut juga ?

    1. Saat ini, saya belum bisa membantu, namun saya dan kawan-kawan di sini berencana untuk membangun link untuk bisa menjadi agen terpercaya untuk membantu pemuda-pemuda ynag ingin ke Jerman. Semoga nantinya bisa membantu

  2. Halo!
    saya masih bingung dengan uang jaminan 8000 euro dengan cara mencicil visa di poin ke empat tersebut. apakah memang benar benar bisa? Saya mau tau dong bagaimana caranya? KOK BISA?
    Saya berkeinginan untuk melanjutkan S1 dijerman, namun setelah saya baca persyaratannya, dibagian uang jaminan ini agak berat sepertinya…tolong pencerahannya 🙂

    1. Jadi kalau kamu sudah tinggal lebih dari 1 tahun di Jerman, kamu nggak punya uang 8000 tapi cuma 2000. nah kalau 8000 kamu dapat visa 1 tahun, kalau 2000 seperempatnya kamu cuma dapat 1/4 tahun alias 3 bulan. Setiap 3 bulan, km harus perpanjng visa dan boros bgt karena tiap perpanjang harus bayar 90€ buat bikin kartunya. Cara ini nekat banget dan GA BERLAKU di semua tempat. Tergantung pihak behördenya, entah orangnya baik atau nggak. Beberapa teman bisa juga loh pakai cara ini, beberapa yg lain nggak. Mereka rata2 punya 4000 doank, lalu dapat visa 6 bulan

  3. Hai,saya kebetulan diterima di beberapa kampus di Jerman utk sw. Dan beberapa teman saya disana, bersedia menjamin saya dan memberikan Verpflichtungserklärung. Cuma pertanyaan saya adalah, Verpflichtungserklärung dikeluarkan oleh imigrasi daerah mereka tinggal dan saya akan berkualiah di tempat yang sama sekali berjauhan dr wilayah mereka. Misal saya akan berkuliah di wilayah Bavaria dan mereka ada di wilayah Northen Germany. Apakah akan menjadi masalah nantinya? Saya sudah bertanya kepada pihak kedutaan dan mereka menyarankan saya utk membuat surat tsb jika mmg tidak memiliki 8000€. Fyi, saya sdh pernah stay di Jerman selama 7 bulan hanya menggunakan invitation letter dari salah satu lembaga training. Mohon pencerahannya. Trm kasih

  4. Hai, boleh ikut bekomentar..

    Kalau boleh saran, opsi pinjam uang teman bisa di hilangkan gak ya? Soalnya itu memang mungkin, tapi kalau bisa di jadikan pilihan terakhir. Dan kalaupun terpaksa pinjam hanya ke orang2 tertentu saja, selain itu dengan jumlah yg sekali bayar utang, bisa lunas. Itu berarti tdk lebih dari 1 atau 2 orang.
    Kenapa begitu, soalnya artikel ini dibaca bukan hanya anak2 yang sdh di jerman malah lebih banyak orang2 yg blm ke jerman. Dan ini fatal, kalau dari awal orang2 itu berpikir masalah pinjam meminjam uang hal yg biasa di jerman dalam rangka membantu teman. Padahal banyak dari kasus tsb berakhir dengan rusaknya pertemanan ataupun harus mengikhlaskan karena yg meminjam uang menghilang, atau setidaknya pura2 menghilang dan sulit diajak komunikasi.
    Sedikit share, dulu saya pernah dipinjam uang oleh si A, (bukan utk visa) untuk bayar uang sekolah jumlahnya 700€. Waktu itu dia bilang sedang bekerja, jadi pasti nanti bs bayar. Singkat cerita setelah saya selalu intens tanyakan kapan akan membayar, kurang lebih uang yg dia pinjam lunas stelah lbih dr 2 thn (beberapa kali menyicil). Dan 400€ yg terakhir, dia bayar dgn cara gali lubang yg baru. Alias pinjam teman yg lain. Ada teman yg dihutangin jg sm si A ini, jumlahnya minimal sm dgn saya, tpi krn tdk prnah menanyakan uangnya (temen saya ini memang lebih berkecukupan di banding saya) akhirnya dia memilih utk mengikhlaskan saja krn si A tiba2 sdh di Indonesia dan susah utk dihubungi. Menurut saya jumlah itu tentu gak sdikit ya, 100-150€/bln sdh bs makan yg mewah bagi saya, malah sangat mewah. Jadi bs di bayangin 700€ bs buat makan saya 7 bln. Padahal saya percaya sm A, kami kenal sdh lama. Kami berteman baik, tpi ya tetap saja. 🙁

    Nah jgn berpikir ini kasusnya kan beda sm yg pinjam utk bikin visa, kalau tdi kan pinjam uangnya buat sekolah/hidup ya pasti susah dikembalikan. Tunggu duluuu, memberi pinjaman utk bikin visa itu sm menakutkannya. Kenapaa, nih yaa, anggap saja harus pinjam utk dpet 8000€,kita hanya punya uang 2000€. Berarti 6000€ lg yg kurang. Kalau sperti yg disebut di atas, pinjam orang 100,300 sampai 1000€ seorang, biar cepet langsung pinjam 6 orang dgn nominal 1000€/org yaah. Sedangkan rekening kita terlimit pengeluarannya sekarang 720€/bln. Anggap saja pengeluaran perbulan (minimal) 420€/bln, berarti sisa 300€/bln. Ini menurut saya jg gak ideal, tpi kita anggap saja mungkin krn lg kepepet, krn yg sesuai realita ya ada bln2 tertentu yg pengeluaran kita jadi besar, kayak pas bayar semesteran (setahun 2x). Tapi ya balik lg, anggap saja.. mungkin..
    Untuk kembalikan ke orang pertama (1) 1000€= nyicil 1-3 bln pertama.
    Untuk kembalikan ke orang kedua (2) 1000€= nyicil 4-6 bln berikutnya.
    Untuk kembalikan ke orang ketiga (3) 1000€= nyicil 7-9 bln berikutnya.
    Untuk kembalikan ke orang keempat (4) 1000€= nyicil 10-12 bln berikutnya.
    Dan seterusnya….. Lihat apa yg terjadi, kita gak bs kembalikan uangnya krn kita butuh uang lebih utk perpanjang visa LAGI!!! Krn tiap thn perpanjang visa kan,klo visanya diatas 2 thn, yaaa mungkin saja masih bisa kembalikan… mungkiin… Nah kasus diatas belum lunas tuh ke orang nomer 5 dan 6 (gmn klo pinjamnya lbih dr 6 org utk visa 1 thn).
    Selain blm lunas ke org yg sisanya, disatu sisi kita jg dzalim ke org yg 2,3 dan 4 krn menunda bayar hutang smpai berbulan2. Padahal mungkin org yg dipinjami itu jg butuh uang untuk hidup dan perpanjang visanya sendiri (yap, mereka jg btuh perpanjang visa).
    Jadi gak masuk akal kita ambil opsi ini, kecuali pinjamnya sm ortu, yg mngkn gpp klo gak dibalikin.

    Ada siih cara utk meminimalisir kejadian tsb, apatuuh. Krn pinjam meminjam uang ini bukan hal main2, berilah pinjaman sm org yg kalian percaya, hrs dekat, bkn asal kenal, trs minta dokumen lengkap selengkap2nya dr org yg akan meminjam, cth. fotokopi paspor, alamat tempat tinggal diindonesia, minta nomer telpon ortu yg bs dihubungi, pastikan jg ortu si peminjam mengetahui adanya pinjaman tsb (jgn sampe ortu lepas tangan, krn klo lepas tangan, kita gak ada jaminan lain) dan kedua belah pihak membuat surat keterangan hitam diatas putih yg di sah kan melalui ttd bahwa ada transaksi pinjam meminjam sejumlah uang tertentu yg akan dikembalikan dlm kurun wktu tertentu. Satu lagi, klo bs ada jaminan lain entah barang ato apapun. Tp walaupun setelah smua usaha diatas, tetap tdk ada jaminan si peminjam akan membayar (klo emg orgnya berniat kriminal ). Yaa jdi untung2an aja dpet peminjam yg amanah atau tdk.
    Saya takut tulisan ini “menginspirasi” adik2/teman2/org2 lain yg tdk sepenuhnya bertanggung jawab dan mengaggap ini hal sepele dan biasa di jerman. NO, it is a big deal!!! Blm pernah kan liat org yg dihutangin nangis2 minta uangnya dibalikin, dan bhkan dia jdi kesusahan malah hrs pinjam ke org lain krn uangnya sbnernya ADA, tpi di tangan org lain yg pinjam seenaknya. Dan kalau ditagih jawabannya blm tau kpn bs bayar krn bln ini bnyak pengeluaran jdi mngkn bln dpan, pdhal bln dpannya ditagih dan ada jawaban sama, ato malah ngeles, nnti yah diomonginnya, soalnya lg mau ujian sibuk belajar nih. Rasanya kok gini amat sih, knp jdi kita yg ngenes, pdhal itu uang kita sendiri, dan dia dlu pas pinjem baaiiik banget, nah tiba wktu ditagih, malah lupa ingatan.
    Yaampun, yaampun, yaampun.. Bnyak2 sabar aja deh sis and bro klo udah bgtu.
    Nah skali lg, saya gak menyarankan opsi ini ada di pilihan krn memang naluri meminjam akan ada dgn sndiri nya ketika kita sgt membutuhkan tnpa hrs ada tulisan inspirasi bgini. Dan tentu ide ini hrs muncul dibarengi dgn pemikiran yg bertanggungjawab bisa mengembalikan plus hnya pinjam ke org terdekat (bukan temennya temen yg pnya uang lbih bnyak).
    Klo artikel ini bs menginspirasi bnyak org, bgus bgt. Tpi saya khawatir kpd sebagian yg lain krn 1 point ini.
    Mohon dipertimbangkan lg utk diedit sedemikian rupa agar bkn hnya menarik tp bnar2 memberikan contoh yg baik buat smuanya.
    Atas segala salah ucap atau pun khilaf, saya pribadi meminta maaf. Segala respon saya terima, baik baik atau buruknya.
    Sekian. Terima kasih. 🙂

    1. Terima kasih ya atas sarannya. Sampai sekarang, kami masih tetap pinjam meminjam kok kalau mau memperpanjang Visa. Tentunya kepada orang yang sudah sangat kenal. Aku saja semester lalu meminjami teman beberapa ribu euro untuk memperpanjang. Ini kan hanya salah satu tips, yang memang sangat aktual di kalangan orang Indonesia di Jerman. Kalau mereka tidak punya teman untuk pinjam meminjam, tentunya boleh dihapus dengan sendirinya. Kalau soal menginspirasi mereka untuk melakukannya, saya rasa juga tidak mudah menemukan teman yang mau meminjami kita ribuan euro. Aku pun tak akan mau meminjamkan uangku kepada teman yang tidak begitu dekat. Namanya juga tips berdasarkan pengalaman, kalau tips satu tidak berhasil, ya tips yang lain, 🙂

  5. Hallo kak, infonya sangat bermanfaat 🙂 saya sekarang kuliah semester enam akhir di salah satu univ swasta fakultas hukum, punya keinginan buat melanjutkan S2 di jerman, tapi kayanya bakalan model nekad juga.

  6. Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

    Hallo kak, infonya sangat bermanfaat 🙂 saya sekarang kuliah semester enam akhir di salah satu univ swasta di jogja fakultas hukum, punya keinginan buat melanjutkan S2 di jerman, tapi kayanya bakalan model nekad juga.

  7. terima kasih kak infonya sangat bermanfaat. saya ad keinginan untuk kuliah di jerman s1, tp sayangnya org tua saya bukan kategori keluarga mampu. unuk visa 8000 itu sangat2 besar untuk keluarga saya. saya mau tanya kak, kalo belum tinggal 1 tahun di jerman (memang benar2 pendatang baru) 8000 dipokok itu sangat wajib? atau adakah cara lain?
    untuk biaya kuliah dan biaya hidup diambil dr uang visa 8000 itu bisa kak? jd setiap tahun kalo masa berlakunya habis harus isi lagi deposit visanya? kalo belum habis? atau tabungan dipisahkan?
    maaf kak banya bertanya,, ini benar2 pengalaman pertama dan modal nekat saya. makasih kak

    1. Iya, jadi 8000 itu wajib kalau kamu belum di Jerman sama sekali dan memang dipotong tiap bulannya untuk biaya hidup kamu sendiri selama tinggal di Jerman. Jadi, itu semacam tabungan beku gtu yang ga bisa diambil berapapun kapanpun,,,kalau habis, kamu harus isi ulang karena itu sebagai syarat pengajuan visa di tahun berikutnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.