Artikel ini sebenarnya sudah aku visualisasikan di Vlog dengan judul: Lulus Ujian A1 dalam 3 Minggu dan Trik Belajar Bahasa Jerman

Saat berencana hijrah ke Eropa sebagai Au Pair dulu, sebenarnya aku kurang fokus ingin ke negara mana. Sebenarnya, tak ada kepikiran sama sekali ingin ke Jerman karena tak ada kenalan atau teman yang sudah pernah ke sini. Negara yang paling ingin aku singgahi adalah Prancis, karena terkesan dengan buku yang ditulis Icha Ayu (Au Pair dan Backpacker Keliling Eropa dengan menjadi Babysitter) dan juga karena ada beberapa kenalan di Paris. Selain Prancis, Belanda dan sejarah kolonialismenya yang begitu erat dengan sejarah Indonesia juga sangat menarik hati. Tak hanya Prancis dan Belanda, sebenarnya Swedia dan kisah kampung Bullerbyn yang dideskripsikan Astrid Lindgren dalam buku yang sejak masa-masa SMP aku baca, membuat hati ingin juga menjelajah salah satu negara Skandinavia ini. Namun, setelah mencoba peruntungan mendaftar di website Aupairworld.com dan kontak dengan salah satu keluarga Austria yang saat itu tinggal di Jerman, membuatku memutuskan, “Oke, sepertinya Jerman adalah takdirku”

Saat hati sudah meluap-luap dan mantap ke Jerman, salah satu kendala berarti yang menghadang saat itu adalah kemampuan Bahasa Jerman. Sekalipun keluarga tersebut tak menuntutku untuk bisa berkomunikasi dalam Bahasa Jerman, namun pihak Embassy mensyaratkan untuk lulus Ujian A1 sebelum mendaftar Visa Au Pair.

Kalau kalian memang sudah pernah belajar bahasa Jerman atau paling tidak mengenal sedikit kosa katanya, mungkin ujian A1 akan kalian tempuh dengan mudah. Namun untukku saat itu yang hanya tahu 3 kata, -Ich liebe dich-, bakal jadi momok yang menakutkan untuk menghadapi ujian A1, terlebih keluarga tersebut ingin aku cepat datang ke Jerman. Hufft, harus ngebut bagaimana supaya bisa lulus Ujian A1 tersebut dalam waktu singkat?

Berikut tips-tips yang mungkin aku bisa bagi kepada kalian, yang mungkin bisa membuat kalian semangat belajar dan tidak takut menghadapi rintangan apapun dalam meraih mimpi:

1. Katakan bahwa ‘AKU BISA!!’

Saat membaca syarat pengajuan visa di embassy saat itu, entah mengapa aku tak merasa syarat itu terlalu muluk. A1? Sesulit apa sih? Bisakah aku lulus? Bahasa Jerman? Apa bedanya dengan bahasa Inggris yang saat itu sudah pernah aku pelajari?

Semua pertanyaan-pertanyaan di atas sama sekali tidak muncul di otakku. Tak ada ketakutan yang menghantui atau ketakutan akan tidak bisa ke Jerman karena tidak lulus ujian A1. Aku berkata pada diriku sendiri, “Ini toh sebuah bahasa, sama seperti bahasa Indonesia dan yang lainnya, bahasa yang bisa dipelajari oleh pembicara asing.” (Meskipun setelah lama belajar Bahasa Jerman, semakin tahu lah diriku kalau bukan orang Jerman, kita bener-bener butuh waktu seumur hidup untuk menyesuaikan dengan tata bahasanya. LOL)

2. Cari tempat kursus (kalau bisa yang paling murah)

Sebenarnya saat itu, aku berpikir aku ingin belajar otodidak. Memang memungkinkan, tapi aku juga berpikir bahwa aku butuh seseorang tempat aku bertanya dan paling tidak menjelaskan mengapa ini seperti ini dan mengapa itu seperti itu. Saat google dan browsing di you tube, belum banyak tutorial dalam bahasa Indonesia saat itu (sedangkan kalau langsung belajar dengan bahasa Jerman bisa ndower karena tidak mengerti). Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mencari tempat kursus.

Tempat kursus bukan berarti di Goethe Institut yang sangat mahal atau tempat kursus persiapan berangkat ke Jerman. Bagiku saat itu, aku hanya butuh satu orang guru yang bisa memulai membuka wawasanku tentang bahasa baru yang aku pelajari ini, tak harus di kelas, tak harus mahal. Kebetulan adikku yang saat SMA dulu ada ekskul Bahasa Jerman, menyarankanku untuk menghubungi ibu gurunya. Wah, kesempatan emas. Aku tak perlu pergi ke kota besar (Malang atau Surabaya), di Kota Batu pun aku sudah bisa les.

Namanya Bu Sina, pengajar Bahasa Jerman di SMA Negeri 1 Batu. Saat itu, beliau menawarkan les privat, harganya 500 ribu rupiah selama 1 bulan, satu minggu hanya 2 kali pertemuan (berarti 8 kali saja). Tak apa, batinku. Yang penting aku sudah punya guru.

Keuntungan lainnya kalau kita membayar seorang guru untuk kursus, pasti ada beban mental tersendiri membuat kita berpikir, ‘Aku sudah membayar kursus ini dengan mahal, jadi aku harus mendapatkan sesuatu dan memanfaatkan pengajarnya dengan maksimal’.

Baca juga: 10 fakta mengejutkan tentang bahasa Jerman

3. Tekat untuk Belajar Sendiri

Materi yang diajarkan Bu Sina (karena beliau basicnya ngajar di sekolah) adalah materi di buku pelajaran Bahasa Jerman untuk anak SMA, bukan materi persiapan ujian A1, studio D, dsb. Benar-benar jauh. Meskipun demikian, tak menjadi masalah karena -sekali lagi- aku paling tidak punya satu tonggak yang bisa membantuku berjalan dalam belajar bahasa tersebut. Setiap hari sepulang les (les pagi jam 8-10), aku download soal-soal sendiri, soal-soal ujian dari website Goethe, aku pelajari apa saja yang mungkin akan keluar di ujian itu, aku download juga audionya, dsb.

Contoh soal-soal tersebut tak hanya aku baca, namun setiap kata yang asing, aku cari di kamus, aku catat, aku hafalkan, dan aku terapkan. Misalnya saat aku menemukan satu kata: Sabun yang dalam bahasa Jerman artinya Seife, saat mandi atau cuci tangan, aku bilang saja pada diriku sendiri, “Ohh es ist Seife, Seife, Seife”. Dari situ, aku tak kehilangan kontak dengan bahasa baru ini. Kalau ada kata atau struktur kalimat yang tidak aku mengerti, aku tanyakan kepada Bu Sina. Nah, itulah gunanya tonggak guru pembimbing tersebut.

Untuk download Übungsmaterialien (bahan ujian yang dulu aku download itu), klik saja di sini

4. Luangkan waktu secara intensiv

Dulu memang aku hanya les 2 kali seminggu dan hanya 2 jam saja setiap kali pertemuan. Oleh karena itu, aku sadar itu tidak cukup. Belajar sendiri, rutin dan intensiv yang paling penting. Sepulang les, aku luangkan waktu untuk paling tidak mempelajari lagi materi dari Bu Sina (rata-rata tentang struktur kalimat dan grammar), selain itu juga materi yang aku download dari internet.

Baca juga: Belajar Bahasa Jerman? Jangan Takut Salah Grammatik!

5. Perbanyak kosa kata baru!!

Ini yang menurutku paling penting. Saat memulai les, Bu Sina langsung mengajariku tentang Konjugation (perubahan bentuk akat kerja) di pertemuan pertama. Bagaimana tidak kaget?

Tapi aku tetap saja tertarik dan semangat belajar. Karena setelah belajar, aku harus mengerjakan soal-soal yang beliau dapat dari buku pembelajaran itu. Nah dari situ, aku latihan memperbanyak kosa kata. Kata benda, kata kerja, kata sifat, dsb.

Selain itu, di rumah aku juga latihan soal-soal dari goethe, aku catat semua kosa kata baru, lalu aku hafalkan dan terapkan agar tak hilang.

5. Batasi diri

Saat aku sudah meluap-luap, kadang aku ingin tiap hari hafalan ratusan kata. Tapi sebenarnya itu tidak baik. Saranku, kasihanilah kerja otak dengan membatasi diri kita sendiri. Latihan setiap hari sedikit demi sedikit jauh lebih baik dari pada latihan satu hari sekaligus banyak. Lagipula, otak kita punya kapasitas dan daya serap yang juga tidak sekaligus. Jadi, limit your self!

6. Sadari kemampuan dan jangan memaksa!

Saat kalian membaca ini atau membaca pengalaman orang lain yang mungkin belajar bahasa dengan jauh lebih cepat, jangan gelisah. Belajar bahasa adalah seperti hidup, keduanya bukan sebuah kompetisi. Kalau orang lain bisa melakukannya dalam 1 minggu, dan kita dalam satu bulan, bukan berarti kita kalah, dan dia menang. Satu bulan adalah waktu kita, dan jangka waktu yang optimal untuk kita. Kalau dalam waktu 6 bulan masih belajar A1, mungkin memang kita belum begitu intensiv dalam belajar atau tidak terlalu menrapkan apa yang kita pelajari. Semua pasti ada sebab dan akibat.

Percaya saja, di dalam otak kita, sebenarnya ada program yang bisa mengaktifkan daya kerja memori saat kita belajar sebuah bahasa. Oleh karenanya, setiap bayi mampu menyerap bahasa ibu mereka dengan baik, begitu pun saat orang belajar sebuah bahasa, artinya kita mengaktivasi daya kerja otak kita akan bahasa baru tersebut. Meskipun tak secepat bayi kemampuan menyerapnya, namun tetap saja saat aktiv, bahasa baru itu akan masuk (dari sebuah penelitian yang aku baca, aku lupa nama sumbernya, maaf). Jadi, aku percaya, sekalipun orang yang tidak berbakat di bidang bahasa, atau tidak pandai di kelas sekalipun, kalau tekun mempelajari bahasa baru, pasti bisa.

7. Cari TANDEM PARTNER

Dulu aku memanfaatkan interpals.net untuk mencari tandem partner dan menemukan satu orang Pakistan yang menikah dengan orang Jerman dan tinggal di Jerman. Dia saat itu sedang belajar bahasa Jerman juga tapi lebih lama dariku, jadi aku banyak belajar darinya. Kemudian lewat situs itu pula aku bertemu pria Jerman yang sudah 20 tahun menikah dengan wanita Indonesia. Kita bahkan tidak hanya bertukar bahasa bahkan dia sampai datang ke Malang dan mentraktir keluargaku.

Couchsurfing.com juga situs yang bagus untuk belajar bahasa, kalau ada bule Jerman kebetulan mampir ke kotamu, samperin aja, tawarin ngajak keliling desa gratis kek, sambil belajar bahasa darinya.

Untuk lebih tahu tentang couchsurfing dan cara daftarnya, buka: apa itu couchsurfing?

Selain kedua situs tersebut sebenarnya masih banyak situs-situs lain yang bisa kalian explore. Misalnya internations.org, lalu tandempartner.com, dsb.

8. Lihat film bahasa Jerman dengan subtitel Jerman

Dulu, aku disarankan oleh seorang kawan dari Rusia yang juga pernah belajar bahasa Jerman, untuk menonton sebuah film pendek (seri) dalam bahasa Jerman yang juga ada subtitel bahasa Jermannya juga. Film  dengan judul ‘Jojo sucht das Glück’ ini dipersembahkan oleh Deutsche Welle untuk orang-orang yang sedang belajar berbahasa Jerman B1. Aku rajin sekali menontonnya, sekalipun aku harus sering mem-pause untuk mencari kata-kata sulit di sana. Namun dari sana aku belajar banyak sekali. Termasuk bagaimana orang native Jerman ngobrol, berinteraksi, berpacaran dan menyukai lawan jenis, dsb. Film ini pendek-pendek kok, sekitar 4-5 menit saja satu episod nya, jadi aku sekalian latihan listening juga.  Ceritanya juga sangat menarik dan mudah diahami, aku sampai menonton ratusan episodenya.

Untuk nonton film dari awal, silakan klik di sini: Jojo sucht das Glück stafel 1

9. Bersenang-senanglah dengan bahasa Jerman

Saat ini kan ada banyak sekali aplikasi untuk belajar bahasa asing. Duolingo, dsb. Manfaatkan dengan baik untuk memperkaya kosa kata dan mempelajari bahasa Jerman. Yang paling penting menurutku adalah jangan merasa tertekan dan terbebani karena bahasa ini. Kalau aku sendiri dulu saat mulai belajar emang semangat banget. Pas udah 4 tahun di Jerman dan sadar betapa susahnya aturan bahasa ini, jadi sedih juga. HhHAHA. Pasalnya aku sendiri merasa, masak iya sih semakin aku belajar, semakin terasa tidak mungkin untuk menata struktur kalimat dengan baik dan benar, kan malu kalau dibaca orang Jerman tahu kalau aku sudah tinggal 4 tahun di sini. Uhhht

Tapi kalian kan masih baru, masih awal. Jangan pikirkan hal itu. Kalian bisa memperkenalkan diri, merangkai satu kalimat dan mengeja nama serta nomor telefon saja sudah luar biasa. Jadi, semangat dan bersenang-senanglah dengan bahasa ini. Oh iya, banyak sekali orang yang bilang padaku, bahwa banyak kok orang asing yang sudah lama, puluhan tahun tinggal di Jerman, tapi masih belum bisa bicara bahasa Jerman.

10. Pelajari dari berbagai sumber

Aku dulu selalu nonton youtube berjam-jam tiap hari. Tak hanya nonton ‘Jojo sucht das Glück’, tapi juga mendengarkan lagu bahasa Jerman, trus lihat channelnya goethe institut bagaimana simulasi ujian A1 sprechen. Lalu aku latihan, latihan dan latihan. Itu saja, aku tak mempelajari sampai pusing, hanya apa yang aku butuhkan supaya lulus saja. Melihat film dan mendengarkan lagu juga berkaitan dengan poin nomor 9, bersenang-senang dengan bahasa Jerman, agar lebih cepat masuk.

Sementara ini, sepertinya cukup 10 tips dulu yang bisa saya bagikan. Kalau kalian kebetulan pernah belajar bahasa asing dan menemukan atau menerapkan tips yang bermanfaat, silakan di share di kolom komentar agar yang lain juga pada tau. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

Comments

  1. Hallo Gerindra,
    Saya mengalami poin no. 9, ” Yang paling penting menurutku adalah jangan merasa tertekan dan terbebani karena bahasa ini,” dan semua yang aku pelajari semuanya gak bisa aku ucapkan bahkan sekarang sudah di Jerman, aku banyakan ga ngerti apa yang mereka bilang. Dan aku mulai merasa kayanya sulit sekali bahasa ini. Apakah kamu punya tips mengatasi masalah ini?

    Danke schön!

    1. Tips pertama: kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami hal seperti ini. Banyak kok teman aku yang sudah lulus pendidikan bahasa jerman S1 di Indo, begitu sampai Jerman, tidak bisa ngomong sama sekali.
      Tips kedua: banyak latihan mendengarkan, lalu mencoba sedikit2 bicara, sekalipun salah tidak apa2, aku dulu juga kayak gtu. Kalau aku tidak mau bicara, mereka nggak maksa kok. Tapi aku paksakan saja, dengan begitu, aku bisa mendengarkan jawaban mereka, lalu belajar bagaimana berinteraksi dari sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.