Hal yang selalu muncul dalam otakku saat dulu masih single, “Wah alangkah enaknya kalau aku punya pasangan bule, terlebih kalau dia sudah bisa berbahasa Indonesia, tahu dan cinta budaya Indonesia, sering ke Indonesia. Aku tak harus susah-susah mengadaptasi budayanya, karena dia sudah tahu budayaku.” Hmmm,,, namun saat kini aku menyadari bahwa bule toh manusia biasa yang masing-masing individunya tercipta dengan karakter yang berbeda. Suamiku orang Jerman yang justru mencintai kebudayaan dan makanan Vietnam ketimbang Indonesia dan aku sama sekali tak keberatan karenanya, selama dia mencintaiku.

Meskipun tak semua bule sama dan aku juga tak mau menstereotip masing-masing individu, namun ada baiknya pengalamanku dan beberapa teman yang akan aku tuliskan di bawah ini perlu dicermati supaya kita tidak gampang baper dan tidak terjebak dalam cinta tak tentu arah bersama salah seorang bule. 🙂

  1. Bule yang sudah kenal budaya Indonesia, kenal juga karakter orang Indonesia

Ini ada sisi baik dan buruk pastinya. Kita sendiri tahu bahwa (meski tak semua), namun masih banyak orang Indonesia yang menganggap orang berkulit putih itu superior. Padahal banyak juga diantara mereka yang bodoh, miskin, sama seperti kita juga. Hanya didikan sejak kecilnya dan masa lalu sejarah (kolonialisme) nya saja yang berbeda, sehingga membentuk pola pikir kita dan mereka yang berbeda pula.

Kalau bule sudah pernah ke Indonesia, lalu jatuh cinta dengan budayanya, makanannya, dan lalu mengenalmu. Tanyakan padanya dan pada dirimu sendiri: apakah dia mencintaimu karena kamu bagian dari Budaya (Indonesia) yang dia cintai, ataukah dia memang benar-benar mencintaimu sebagai sosok wanita (atau lelaki) yang dia cintai terlepas dari budaya apapun kamu berasal. Kedua pertanyaan ini memang tak menjadi masalah selama bule tersebut serius dan memang jatuh cinta padamu. Yang jadi masalah adalah saat ternyata dia hanya menganggapmu bagian dari budaya Indonesia yang dia cintai itu, dan karena dia kenal budaya serta orang-orang yang menganggap dia superior, dia jadi meremehkanmu dan menganggap bahwa kamu adalah wanita (atau pria) yang mudah dia dapatkan karena scara dia Bule dan mudah mendapatkan orang Indonesia.

Namun, sekali lagi. Banyak juga bule yang memang baik dan jatuh cinta pada kita sekaligus pada budaya kita, lalu menseriusi hubungan yang kalian jalin itu sepenuh hati. Akan tetapi, tak sedikit pula bule yang berpikir seperti yang aku jelaskan di atas: mudah mendapatkan orang Indonesia.

2. Pengalamanku

Terus terang, aku pernah 2 kali menjalin hubungan dengan pria Jerman yang sangat kenal budaya Indonesia, hampir setiap tahun pergi ke Indonesia. Pernah 2 kali ditaksir dengan pelajar Jerman yang pernah satu tahun tinggal di Indonesia da fasih sekali berbahasa Indonesia, 1 kali ditaksir oleh yang sudah pernah tinggal 6 bulan di Indonesia untuk bekerja, 2 kali ditaksir sama pria Jerman yang berniat berlibur ke Indonesia dalam jangka waktu yang lama, lalu 4 kali ditaksir dengan pria Jerman yang sama sekali tidak mengenal budaya Indonesia (2 diantaranya menjalin hubungan serius, satu diantaranya sekarang jadi suami).

Ini dari pengalamanku sendiri. Di antara pria-pria tersebut, yang kesemuanya orang Jerman. Yang paling brengsek adalah pekerja yang pernah 6 bulan tinggal di Indonesia. Karena dia tak hanya berniat kencan denganku, tapi juga dengan 2 wanita Indonesia lainnya yang sama-sama tinggal di Hamburg. Brengsek selanjutnya adalah kedua pelajar yang pernah 1 tahun tinggal di Indonesia. Yang satu, dia rutin sms-an denganku, dan ujung-ujungnya dia bilang dia punya hubungan dengan wanita di Jogja dan hubungan tersebut hanya sebatas hubungan fisik (sex) dan tak mengarah ke hubungan serius. Yang kedua, dia ternyata punya hubungan serius dengan wanita Polandia, namun dia ketemuan denganku dan berusaha cari celah untuk kontak fisik.  Kedua tipe ini kebetulan lumayan tampan dan aku sudah tertarik mulai dari awal, tapi keduanya sama-sama brengseknya.

Dua pria yang pernah menjalin hubunganku dan cukup baik serta serius, salah satunya Max (Baca kisahnya: Pacaran sama orang Jerman, romantis nggak sih?) . Dia punya paman yang pernah tinggal di Bali selama 19 tahun, sering berkunjung ke Indonesia, saat itu belajar bahasa Indonesia. Dia tak pernah pacaran dengan orang Indonesia sebelumnya. Satu orang lagi, juga cukup baik, pernah disakiti oleh wanita Indonesia (kasusnya ditinggal selingkuh), dan sangat hati-hati menjalin hubungan denganku, yang pada akhirnya dia ketakutan sendiri dan memutuskan hubungannya denganku dan menyesal saat aku sudah berpacaran dengan Max.

Ditaksir dengan orang yang ingin menghabiskan liburannya di Indonesia juga pernah, kita banyak mengobrol tentang Indonesia, tapi aku kurang tertarik karena aku tahu kita akan LDR. Satu diantaranya sangat baik dan serius, tapi aku tegaskan aku tidak mau. Satunya lagi cukup berani dan agak agresiv, serta playboy. Tapi kedua tipe ini ku tidak bisa masukkan ke kategori apapun karena keduanya adalah tipe petualang. Yang satu akhirnya punya hubungan dengan wanita Jerman, kemudian sekarang keliling dunia dengan wanita tersebut (tipe baik), dan yang satu lagi sekembalinya dari Indonesia, mengencani temanku, saat temanku tahu dia brengsek, dia menghubungiku lagi tak henti-henti sampai aku blokir.

Nah, dari pria-pria Jerman tadi, ternyata yang paling baik dan paling serius adalah para pria yang sama sekali tidak tahu budaya Indonesia. Mereka mulai mengenal dan mau mempelajarinya, saat sudah berhubungan denganku. Mereka terlibat budaya Indonesia karena ingin melibatkan dirinya kepadaku, karena ingin lebih mengenal diriku.

Dari pengalamanku di atas, mungkin kalian yang saat ini sedang dekat dengan salah seorang pria (wanita) asing, mungkin bisa membaca karakternya, lalu menyimpulkan sendiri.

3. Pengalaman teman

Ada beberapa teman yang menceritakan kisahnya padaku bahwa mereka sering berpikiran sama denganku, enak punya pacar orang bule yang sudah tahu budaya Indonesia, namun ujung-ujungnya sakit hati. Ada juga beberapa yang memang kenal bule saat di Indonesia dan sukses menjalin hubungan sampai menikah dan punya anak.

Salah seorang teman pernah dekat dengan pria Jerman (pria ini punya bisnis di Indonesia). Saat sudah mulai punya feeling terhadap si pria dan berharap lebih, malah si bulenya bilang, “Aku tahu kalau kamu sebagai wanita Asia, di Eropa tuh eksotis, banyak yang suka. Tapi bagiku yang sudah pernah ke Asia, orang Indonesia tuh biasa saja. Waktu ke Indonesia juga aku dikejar-kejar cewek dan malah dibayarin, aku berhubungan sex sama mereka, dsb”. Menjijikkan sekali bertemu dengan pria yang berpikiran seperti itu, bukan?

Teman yang lain pernah bertemu dengan bule dari Belanda saat keduanya berada di Medan. Setelah beberapa kali bertemu dan kencan, si bule bilang, “Sepertinya hubungan kita akan sulit. Kamu akan tinggal di Hamburg dan aku akan balik ke Belanda”. Heloooo, Hamburg dan Belanda tuh nggak sampai sejam ditempuh pesawat. Kalau cinta mah nggak mengenal jarak. Ujung-ujungnya teman aku ini baper luar biasa dan sering nangis saking sudah terlanjur sayang.

Teman yang lain berhubungan dengan seorang pria yang sudah pernah tinggal di Indonesia dan fasih sekali berbahasa Indonesia. Namun perlakuan pria tersebut sungguh sangat memuakkan. Dia bilang , “Apapun yang terjadi, aku tidak mau menikahimu.” Dia bahkan memutuskan temanku itu dengan alasan yang konyol: karena temanku itu sering datang ke apartemennya dan dia butuh waktu sendiri. Akhirnya si cewek mengiba agar dia kembali meskipun dia sendiri tahu bahwa pria itu brengsek.

Kalau aku ceritakan semua pengalaman-pengalamanku dan banyak teman yang aku dengar dari mereka sendiri atau dari orang lain, bakal jadi panjang banget. Tapi lagi-lagi selalu ada pengecualian dan selalu ada orang baik di dunia ini. Contohnya ya seperti yang aku ceritakan tadi, ada beberapa yang sukses menjalin hubungan dengan pasangannya sekalipun mereka mengenal karakter orang Indonesia dengan sangat baik. Kebanyakan wanita Jerman yang seperti ini, teman-teman Indonesia tersebut laki-laki dan bertemu dengan istrinya (bule) di Indonesia, dan lalu menikah kemudian membawa suaminya ke Jerman untuk hidup bersama. Ada juga sih salah seorang pria yang aku kenal punya hubungan serius dengan pacarnya di Bandung. Dia juga sering ke Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dan cinta budaya Indonesia. Tapi akhirnya mereka putus juga, karena hubungan jarak jauh dan si pria belum mau berkomitmen.

Baca juga: 9 ciri cowok Jerman yang serius menjalin hubungan

Tips:

Seperti yang sudah aku sebutkan di atas, kita harus hati-hati. Hati-hati sebenarnya bukan hanya terhadap bule tapi kepada semua orang yang dekat dengan kita. Dalam konteks ini, kita juga jangan jadi orang yang tertutup dan takut terhadap bule. IKUTI PERMAINANNYA dan MENANGKAN!!! Kalau dia serius dan ternyata orangnya baik, selamat!. Kalau ternyata dia brengsek dan hanya ingin bermain-main, jangan buang-buang waktu!

Dalam hati kecil kita, sebenarnya kita sudah punya kepekaan untuk mengetahui orang yang dekat dan karakter mereka dari pembicaraan dan tingkah laku serta perilaku mereka terhadap kita. Kalau ternyata dia susah ditebak, satu-satunya cara adalah TEGASI!! Kalian maunya ini, dia mau nggak ngikuti prinsip tersebut. Contohnya si bule inginnya masih senang-senang dan belum ingin serius, namun kalian sudah ingin serius. Kalau kalian mau sabar menunggu ya silakan, kalau tidak, sebaiknya segera beralih haluan.

Salah seorang teman yang pernah berkencan dengan orang Jerman bahkan berani bilang (meskipun menyakitkan), “Maaf, kayaknya aku sudah tidak tertarik meneruskan hubungan ini!”. Wow, aku salut sekali sama temanku tersebut. Kata suamiku, justru lebih baik seperti itu, jadi wanita harus tegas, kita juga harus tahu apa yang kita mau. Kalau kebetulan kita tidak menemukan kecocokan dengan orang yang kita temui, entah itu menyakitkan bagi kita atau baginya, salah satu pasti ada yang tersakiti (sakit adalah bagian dari perjalanan cinta juga). Jadi, tegaskan dan MOVE ON!

Nah, semoga artikel yang aku tulis ini tidak menjadikan kalian berpikiran buruk terhadap bule, namun sebaliknya, ambil pelajarannya dari pengalamanku dan teman-teman, lalu sikapi hubungan kalian dengan lebih baik.

Baca juga: Berpacaran dan Menikah dengan orang Jerman

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

 

Comments

  1. Membaca artikel ini kita jadi tau bahwa ngga semua orang itu baik karakternya, terlebih dalam menjalankan ke hubungan spesial.

    Terimakasih sharing pengalaman pribadinya,kak.

    1. Hallo Himawan, benar sekali, terlebih kita kan bertemu dan mencocokkan diri setelah tumbuh dewasa. Jadi, kadang kita juga harus meneliti karakter orang yang dekat dengan kita agar tidak kecewa nantinya 🙂

  2. Wah mbak Puspa…trims sharingnya, itu saya banget waktu 30 tahun yang lalu sebelum dapat suami WNI juga.
    Kalau diambil kesimpulan mendingan menjalin hubungan dengan bule yang malah belum mengenal sama sekali budaya Asia terlebih Indonesia karena selain LDR yang keduanya dituntut harus setia kebanyakan dari mereka juga belum mau berkomitmen untuk menikah alias masih bersenang-senang dan suka berganti ganti pasangan.
    Kita sebagai perempuan sudah sering Baper akhirnya begitu putus mewek2, sedangkan dari si bule cowok biasa aja alias tenang2 saja. Ngeselin ga tuh……nah disini kita memang dituntut harus bisa move on walaupun sulit.
    Lebih baik mempertahankan harga diri daripada harus ngemis cinta.
    Salam kenal mbak….

    1. Waaah 30 tahun yang lalu??? pasti pengalaman cintanya sudah banyak banget… iya mbak, apa yang anda bilang memang benar. salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.