Kak, apa yang harus aku perbuat? Mengapa aku nggak segera dapat host family-Träger-Arbeitgeber di Jerman? Mengapa yang lain udah berangkat, aku belum juga?

Meski pertanyaan ini retorikal, namun aku sering banget dapet curhatan seperti ini, baik melalui fb messanger, instagram maupun email. Dan seperti biasa, kalau aku malas menjawab, aku simpan dulu dan akhirnya kelupaan jawab sampai berbulan-bulan (buat kalian yang suka curhat, sorry, kadang bukannya aku sengaja nggak menjawab, tapi karena lupa dan banyak pertanyaan yang aku sendiri nggak tahu jawabannya. CONTOHNYA YA PERTANYAAN MACAM INI. Hhehhe).

Di artikel kali ini, aku akan menjawab kegalauan kalian yang (mungkin) saat ini sedang dalam proses menunggu keberuntungan dapat kesempatan untuk ke Jerman.

Seberapa lama menunggu?

Aku dapat gf dalam kurun waktu 2 minggu. Tapi temanku dapat setelah 2 tahun. Meski hanya 2 minggu menunggu, tapi perjuangan dapat gf sampai berangkat ke Jerman tidaklah mudah dan sebentar. Kira2 8 bulan kemudian aku bisa berangkat ke Jerman. Dan ini proses normal. Segala sesuatu di Jerman memang serba terjadwal dan nggak bisa spontan. Jika kalian dapatnya sekarang, kemungkinan berangkat ya 4-12 bulan mendatang.

Baca cerita: Sebelum jadi Au Pair Part 1: Semua berawal dari Patah Hati

Setelah menemui banyak kawan dan pejuang di Jerman, aku menyimpulkan satu hal: Semua orang punya waktunya sendiri-sendiri. Ada yang cepat, ada yang lambat. Teman kamu cepat berangkat? So what? Kesempatan untuk ke Jerman dengan menjadi au pair, FSJ dan azubi itu ada setiap saat. YA!! Aku bilang sekali lagi: Ada setiap saat.

Program au pair cuma boleh satu tahun. Pasti akan ada au pair yang selesai dan gf membutuhkan au pair baru. Di sana lah kesempatan itu ada. Akan selalu ada keluarga yang butuh au pair.

Kesempatan untuk FSJ juga maksimal hanya boleh 18 bulan (1,5 tahun). Sehingga, akan ada FSJ yang udahan, dan Träger butuh relawan baru. Akan ada juga relawan yang nggak krasan dan mengundurkan diri. Di sana lah kesempatan itu ada.

Begitu pun dengan Ausbildung. Ingat! Jerman adalah negara maju. Negara ini tak berhenti membangun. Dan sampai saat ini pun jutaan karyawan dibutuhkan di berbagai sektor. Setiap harinya, akan ada perusahaan baru, hotel baru, Yayasan yang karyawannya cuti hamil dan melahirkan, mengundurkan diri. Dinamika ini akan selalu berkembang dan oleh karenanya, akan selalu ada lowongan. Berbeda dengan di Indonesia, negara berkembang biasanya banyak sekali SDM namun, tak diiringi dengan lapangan kerja yang cukup dan memadai. Orang-orang harus dituntut untuk kreativ dan bersaing untuk maju. Kalau di Jerman, kesempatan itu akan selalu ada. Baik orang kreativ atau bukan, asal mau bekerja, pekerjaan apapun akan menghasilkan upah yang setara dengan pekerjaan lain. Karena starndart gaji semua pekerjaan sudah ditentukan.

Seberapa gigih kamu dalam pencarian?

Ini selalu menjadi jawabanku. Ada salah satu follower instagram yang bertanya: “Kak, kenapa sih aku nggak dapat tempat FSJ, aku udah tinggal di Jerman……“

Lalu aku bertanya, „Emang udah berapa banyak lamaran yang kamu kirim?“

Dia menjawab, „Empat lamaran!“

Waaaaaassss???

Sambil emosi aku tumpahkan aja kekesalanku dan menulis panjang lebar padanya bahwa 4 lamaran itu bukan bentuk kegigihan yang nyata. Aku dapat gf setelah mengirim pesan ke sekitar 20 keluarga, dan saat melamar FSJ, di München, aku melamar ke lebih dari 30 Stiftung (yayasan) dan ke seluruh Jerman, lebih dari 50 Träger. Dari puluhan itu, di München, aku mendatangi 4 lamaran interview, 3 diantaranya ditolak dengan alasan bahasaku belum mumpuni dan mereka nggak menerima lowongan di Bulan Januari (aku waktu itu memang melamar untuk bulan Januari, karena masa Au Pairku habis di bulan Januari).

Kalian enak sekarang bisa curhat di AFA. Sharing dengan mereka yang udah pernah mengalami lika-liku perjuangan sampai FSJ dan Ausbildung. Kebanyakan dari Anggota dan pengurus akan membantu menjawab atau menyelesaikan permasalahan yang kalian hadapi. Nah aku waktu itu?

Apa itu AFA Germany? Baca di sini!

Memang sudah banyak pemuda AFA yang datang ke Jerman. Namun, AFA belum terbentuk dan rata2 orang yang bisa aku curhatin, ya teman au pair, di mana mereka mengalami problem serupa juga.

Aku tak ambil pusing. Aku bukan tipikal orang yang terlalu overthinking dalam mengambil satu tindakan. Aku hanya dapat satu informasi saja waktu itu: LAMARLAH LEWAT PRO-FSJ.de. Selain itu, aku tak punya tips-tips lain (Saat itu, selain Fitri Ananda, tak ada blog yang menulis tentang FSJ). Fitri pun menjelaskan seluk beluk FSJ dan aku merasa terbantu karenanya. Namun, mulai dari lamaran, CV dan motivation letter, aku buat sendiri (dibantuin Nadja, gf ku sih. Hhehhe).

Klik di sini untuk melihat contoh surat lamaran dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Aku tahu aku ingin tetap tinggal di Jerman saat itu. Jadi, aku punya beberapa rencana: FSJ, lanjutin S2 atau Sprachkurs dengan GF sebagai penjamin > ini aku udah diskusi sama gf. Waktu itu saking cintanya gf sama aku, sampai mereka mau adopsi aku jadi anak angkat kalau aku nggak bisa tinggal di Jerman. Wkkkk.  Kalau Ausbildung, waktu itu aku masih belum siap. Mengingat setelah selesai Au pair, aku masih kurang banget bahasa Jermannya.

*

Itu ceritaku, belum lagi cerita temanku yang mengirim lamaran sampai 96 kali dan beberapa kali ditolak. Cerita Ragil yang hampir menyerah setelah 2 tahun menunggu tak dapat-dapat gf. Atau puluhan cerita lain di AFA yang bisa kalian ikuti kalua gabung di Grup AFA Germany.

Dapatkan cerita Ragil dengan subscribe channel Youtubenya: Apa itu Au Pair?

Cerita Windi Martanto yang berliku dan inspiratif bisa di Baca: Titik Terang Yang Muncul setelah hampir berputus asa.

COME ON. Ukur seberapa gigih dirimu dalam proses pencarian kesempatan tersebut! Kalau kamu udah merasa capek setelah ngirim 4 lamaran, pantesan aja nggak dapet-dapet!

Seberapa percayakah?

Ini poin penting dalam proses keberangkatan ke Jerman. Karena setelah menemui puluhan pejuang AFA, aku mendapat banyak cerita, sebagian dari mereka yang nggak kunjung berangkat adalah karena masih ada yang mengganjal di Indonesianya.

Entah itu ketidak yakinan akan program yang akan ditempuh, orang tua yang nggak menyetujui, masih ada urusan yang nggak beres, pacar yang nggak mendukung, dan banyak hal lain yang menyertai.

Baca juga: 8 tips dapat restu orang tua untuk ke luar negeri

Meski banyak juga yang meskipun di Indonesianya masih ada urusan, tetap berangkat dan kembali setahun kemudian untuk selesaikan urusan tersebut, tapi banyak diantara mereka yang tersendat-sendat ke Jermannya.

Kita adalah penentu keberhasilan diri kita sendiri. Ketika kita percaya, energi yang terpancar dari dalam diri kita akan membuat semesta mendukung. Tuhan yang merestui langkah kita kedepannya. Namun, Tuhan juga menyelidiki apakah kita memang benar-benar ingin berada di sana, di dalam rencana masa depan di Jerman. Jangan-jangan kita hanya ingin ke sana karena melarikan diri dari sesuatu di Indonesia yang belum selesai, mungkin Tuhan ingin kita selesaikan urusan kita dulu? Atau jangan-jangan kita nggak benar-benar ingin ke Jerman, hanya karena pacar kita di sana, atau saudara yang pernah ke sana, namun sebenarnya sangat berat untuk meninggalkan Comfort Zone di kota tempat tinggal kita sekarang?

Jadi, percaya dan niat bahwa kita akan berangkat juga merupakan salah satu kunci keberangkatan itu sendiri. Aku sering bertemu dengan pemuda-pemuda  Indonesia yang aku kenal lewat interpals, couchsurfing, facebook, atau pembaca blog. Yang semuanya ingin ke Jerman juga.

Tahun demi tahun berlalu. Setelah aku pikir-pikir sekarang, tak ada satu pun dari mereka. Ya, tak ada seorang pun yang masih tinggal di Indonesia. Semuanya ada di Eropa. Bahkan ada seorang ibu-ibu yang aku temui karena beliau rutin membaca ceritaku di blog: beliau sekarang bersama putrinya yang menikah dengan orang Swedia, dan tinggal di Jerman. Kebetulan? Tentu saja bukan. Itu semua karena sinergi mereka. Mereka yang memintaku meet up, bertukar pengalaman tentang Jerman karena ingin ke Jerman, di sela-sela pembicaraan, aku selalu berkata: „Aku yakin kok, kamu pasti akan ke Jerman juga, cepat atau lambat“. Dan seperti itu lah ucapan menjadi doa. Saat aku pulang ke Indonesia, mereka sudah berada di Eropa. 😊

*

Ke Jerman adalah satu langkah besar dalam hidup dan percayalah, bahwa jika sudah waktunya tiba, kalian akan berangkat juga. Yang terpenting adalah niat dan usaha. Itu tadi sedikit jawaban dari banyak pertanyaan yang masuk seputar mengapa ada yang cepat dan ada yang lama pergi ke Jermannya. Semoga wacana ini sedikit membuka pikiran kita bahwa everything in life happens, it happens for a reason. 🙂

*
Follow instagram: @resep.anak.rantau  

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.