Tulisan pembaca
Untuk kontak dengan penulis follow IG nya dengan klik: @rae8220 atau klik di sini
Halo sahabat Denkspa, aku ingin berbagi pengalaman suka dukaku menjadi au pair di Jerman. Semoga dari kejadian zang menimpaku, ada hikmah yang bisa dipetik. Selamat membaca.
Aku mengikuti program Aupair karena ada teman kuliah yang juga seorang Aupair. Aku mencari keluarga secara mandiri melalui website Aupairworld.com
Cerita di keluarga pertama sampai ketiga

Awalnya aku stay di Oldenburg. Keluarganya punya 2 anak laki-laki usia 4 & 9 tahun. Anak usia 4 tahun ini temperamental dan oleh mamanya diijinkan bermain menggunakan pisau, palu dan hal berbahaya lainnya asal didampingi orang dewasa. Selain itu, aku juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Parahnya lagi mamanya juga suka teriak-teriak. Aku sendiri tipe yang gak bisa dibentak atau diteriakin. Setelah hampir 2 minggu, aku ditanyain sama mamanya, bisa bertahan di sini atau cari GF baru. Aku memutuskan lebih baik cari GF baru dan Mamanya mau bantuin cari GF baru sampai akhirnya nemu satu keluarga. Cuma sekali telpon akhirnya aku memutuskan pindah. Kebodohanku aku adalah pindah sebelum kontrak di tangan. Keluarga baru bilang bakal buatin kontrak setelah aku sampai di rumah mereka. Akupun setuju karena aku sudah tertekan di keluarga pertama.

Di keluarga kedua, di Kraiburg am Inn, awalnya baik-baik saja. Aku meminta kontrak namun pihak keluarga meminta surat keterangan sehat karena keluarga ini memiliki Pflege Kinder (Anak asuh / bukan anak kandung). Sialnya ketika di Indonesia aku tidak membuat surat itu, sehingga aku harus cek kesehatan di Jerman atau cari GF baru lagi. Gast Mutter bilang kalo mau cek di Jerman butuh biaya 500€. Kemudian dia nawarin buat ketemu dokternya tapi cuma ditanyain gitu. Jadi gak perlu ngeluarin uang banyak. Tapi kutunggu kenapa gak segera ada Termin akhirnya aku menimbang-nimbang lagi. Lebih baik aku pindah GF lagi karena keluarga ini tinggal di hutan dan jauh dari kota. Gast Mutter ini membantu lagi mencarikan keluarga baru. Yang membuat kesal adalah: aku bekerja selama hampir sebulan, namun tidak digaji dengan alasan uangnya sudah untuk membayar kursus online selama setahun dan biaya untuk persiapan tes kesehatan. Ketika kutanya email dan lain-lain untuk kursus, dia tidak membalas.  Jelas kalo Gast Mutter ini penipu.

Baca: Kenali Ciri Host Family Penipu!

Di keluarga ketiga di Eppingen, hari pertama bekerja sudah stress. Sekeluarga pergi ke kolam renang dan aku disuruh membawa semua barang. Fyi, keluarga ini punya 3 anak laki-laki usia 9,7 dan bayi. Anak paling besar adalah anak berkebutuhan khusus. Dia tidak bisa bicara, tidak bisa duduk dan membutuhkan kursi roda. Sulit memang bekerja dengan anak bekebutuhan khusus. Tapi yang menjadi masalah bukan di anak itu namun di Gast Mutter. Dia menyuruh hampir setiap hari bersih-bersih termasuk toilet. Waktu kerja lebih dari 6 jam. Aku sudah pernah protes tentang jam kerja dan pekerjaan namun tetap saja karena berdalih kita “keluarga”.  Sebenarnya aku sudah tidak betah dengan keluarga ini namun aku memilih untuk bertahan karena trauma yg sebelumnya. Takut nasib akan lebih buruk. Setelah 8,5 bulan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena mental sudah lelah walaupun masih ada sisa waktu visa.

Baca: Tips Memilih Host Family Au Pair

Setelah pergantian banyak keluarga, aku baru anmelden atau registrasi di keluarga ketiga. Untuk perpanjang visa juga dilakukan di keluarga ketiga. Puji syukur tidak ada masalah sama sekali untuk masalah ini.

Cara anmelden /lapor diri di Jerman, klik di sini!

Bulan maret 2020, aku bergegas ke Bandara Tegel Berlin dengan membawa barang dan siap untuk terbang ke Indo. Di tengah perjalanan aku mendapat email jika penerbangan di cancel karena Corona. Segera aku mencari GF (gast family) baru di Berlin dan aku membawa seluruh koper dan keluarga ini bilang aku tidak bisa dulu tinggal di rumahnya karena barang2 Aupair lama masih ada di kamarnya. Aku merasa kurang nyaman di keluarga ini memutuskan untuk menginap di temanku di Erfurt.

Selama di Erfurt aku mencari GF baru dan akhirnya GF dari temanku membantu mencarikan GF. Datanglah aku ke keluarga ke empat di Holzkirchen. Keluarga terbaik yang pernah aku singgahi. Mereka menganggapku seperti anaknya sendiri. Pada tanggal 8 Juni masa berlaku visaku habis. Namun keluargaku membantu untuk menghubungi pihak Ausländer Behörde (ABH atau Kantor Imigrasi) agar bisa perpanjang visa. Awalnya pihak ABH tidak mengijinkan aku untuk stay karena aku sudah lebih dari sekali ganti GF. Terus aku bilang aku baru anmelden di keluarga ketiga dan ke empat. Itu berarti secara resmi aku baru ganti keluarga sekali karena di keluarga pertama dan kedua tidak anmelden. Pada akhirnya pihak ABH memberikan Grenzübertrittsbescheinigung (ijin tinggal terbatas) yang berlaku hingga 7 September.

Bagaimana aku pindah ke keluarga kedua? Dibantu teman? nyari mandiri?
Perpindahan dari keluarga pertama ke dua dibantu oleh keluarga pertama. Begitu juga perpindahan keluarga kedua ke tiga dibantu oleh keluarga kedua. Ini kesalahan diriku sendiri memang karena tidak mencari keluarga baru sendiri.
Lalu bagaimana teman aku di Erfurt itu mencarikan keluarga baru yang baik? melalui agen? mandiri?
Teman di Erfurt ini hanya memberikan tumpangan untuk menginap beberapa hari di Erfurt. Untuk pencarian keluarga baru yang baik ini dibantu oleh GF dari teman kuliah (bukan teman yang di Erfurt). Jadi keluarga yang baik ini merupakan kenalan dari GF teman kuliah.
Jika ada masalah seperti yang aku alami, langkah awal apa yang harus au pair tempuh? 
Ketika merasa keberatan dengan tugas aupair atau jam kerja dibicarakan baik-baik dengan GF. Namun jika sudah tidak menemukan jalan keluar, lebih baik cari keluarga baru. Selain itu, perbanyak koneksi pertemanan orang Jerman atau Orang Indo yang menetap di Jerman. Jadi ketika mendapatkan masalah dengan GF atau mengalami kesulitan ada yang bisa membantu.
Bagaimana meminimalisir kegagalan menjadi au pair? 
Bertanyalah sebanyak mungkin tentang keadaan GF,  pekerjaan orang tua, usia anak-anak, memiliki hewan peliharaan atau tidak. Tanyakan juga tentang jam kerja. Pastikan jam kerja tidak lebih dari 6 jam perhari / tidak lebih dari 30 jam perminggu. Pastikan kerja lebih fokus dengan mengurus anak. Untuk pekerjaan rumah tangga, Aupair hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan. Hati-hati karena ada GF (Gast Familie) yang menyuruh untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Yang perlu ditanyakan ketika Video Call adalah tugas kamu apa aja, seminggu dapat libur berapa kali, untuk biaya kursus dibayari full atau separuh, dapat tiket transportasi bulanan atau tidak, mendapatkan sepeda pancal atau tidak, rumah jauh dari pusat perbelanjaan tidak.
Apa kamu menyesal telah menjadi au pair? 
Dengan banyaknya masalah yang kuhadapi, aku tetap merekomendasikan program Aupair. Tidak ada rasa sesal menjadi seorang Aupair. Menurutku program Aupair menjadi sarana untuk lebih mengenal kebudayaan dan kebiasaan orang Jerman. Menjadi Aupair juga membiasakan untuk menerapkan bahasa Jerman yang digunakan sehari-hari. Yang terpenting kamu juga mendapatkan keluarga baru di negeri orang.
Apa hikmah yang bisa kamu petik dari menjadi au pair dan 3 kali pindah keluarga? 
Bisa merasakan tinggal di beberapa Bundesland (negara bagian) atau di beberapa kota di Jerman. Selain itu juga bisa mengambil hal-hal baik atau sisi positif dari setiap keluarga dan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari kedepannya.
*
Cerita di atas adalah pengalaman pembaca denkspa yang ditulis dan diedit seperlunya. Kamu punya kisah pengalaman di Jerman yang ingin dibagikan, silakan kirim cerita kamu ke denkspa@gmail.com
Untuk ketentuan selanjutnya, baca: Kirim artikel kamu ke denkspa, komisi Euro!

Penulis: Dika Puspita, untuk kontak dengan penulis follow IG nya dengan klik: @rae8220 atau klik di sini

*
Follow instagram: @denkspa

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.