Apakah kalian punya pikiran untuk menikah dengan orang Jerman? Kalau iya, mungkin pengalaman pribadiku ini akan berguna bagi kalian, kalau tidak, mungkin untuk sekedar menambah wawasan seputar Jerman saja.

Baca juga: 7 Definisi Hubungan Ala Orang Jerman

Bagaimana bisa berpacaran dengan orang Jerman?

Satu bulan sebelum datang ke Jerman, lewat akun traveling ala backpacker (couchsurfing), aku dikirimi pesan oleh salah seorang penggiat couchsurfing, sebut saja namanya Adam. Dia tahu aku merubah lokasi tempat tinggalku dari Batu-Indonesia, ke Munich-Jerman, dan menawarkan untuk berkeliling kota Munich bersamanya barang sekali saja.

Saat aku tiba di Munich, Adam masih di Jepang. Saat pulang ke Munich, rupanya dia lupa kalau pernah menjanjikan jalan-jalan padaku. Karena aku belum punya teman saat itu, aku pikir tak ada salahnya mengkontak dia agar bisa jalan-jalan di kota. Rupanya dia sangat sibuk sehingga tidak sempat menepati janjinya. Akhirnya, aku pun menemukan teman sesama orang Indonesia yang juga merantau ke Jerman melalui program Au Pair. Satu akhir pekan, dia mengajakku dugem di sebuah club di München. Aku sangat tegang dan kaku karena memang tidak suka dugem. Tapi sebelum aku keluar karena sudah pengap dengan suasana club, ada yang menarik tanganku dan meminta nomor hpku. Bodohnya aku, karena terlalu polos, aku kasih saja. Akhirnya kita sering sms-an setelahnya. Sebut saja nama pria itu Sven.

Karena seringnys sms-an dengan Sven, akhirnya aku sedikit ada rasa kepadanya. Di saat itu, Adam tiba-tiba menghubungi untuk menepati janjinya. Aku pikir tak ada salahnya bertemu dengan Adam, toh aku juga bukan pacar Sven, dan saat itu Sven sedang berada di Amerika untuk bekerja. Saat pertama kali bertemu Adam, rupanya dia sudah jatuh cinta padaku. Setelah pertemuan pertama itu, dia terus menerus meminta untuk bertemu denganku.

Aku yang saat itu masih lugu, tak pernah tahu kalau orang Jerman selalu mengajak bertemu, tandanya dia tertarik. Aku mau saja bertemu dengan Adam dan hingga suatu saat dia bilang bahwa dia suka padaku.

Aku masih bingung antara Sven dan Adam. Karena kata hatiku berkata aku lebih menyukai Sven, akhirnya aku bilang pada Adam kalau aku tidak bisa bersamanya. Adam sempat marah dan kecewa, katanya aku hanya memberinya harapan palsu saja.

Tiga bulan berlalu, rupanya Sven tidak benar-benar suka padaku, dia tidak pernah ingin serius atau menjalin hubungan ke arah serius. Aku dikenalkannya kepada teman-teman dan saudaranya, tapi semua itu hanya dengan maksud pamer. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Sedangkan aku berpengharapan besar terhadap Sven.

Suatu hari setelah 4 bulan kenal dengan Sven dan sering hang out bareng, dia berkata bahwa dia hanya ingin bersenang-senang denganku. Di saat itulah, aku marah dan mengutuknya, lalu aku tidak mau bertemu dengannya lagi.

Aku tidak menghubungi Adam karena malu. Di bulan ke 7-10 berada di München, aku membiarkan diriku sendiri dan asik dengan rencana perjalananku keliling Eropa.

Bertemu Pria yang Selalu Brengsek

Saat travelling ke Köln, lagi-lagi melalui situs Couchsurfing, aku disukai oleh pria Jerman. Kami sempat bertemu untuk ngopi sebentar di Köln. Satu bulan saat kembali ke München, dia bahkan mengunjungiku untuk mengajak hiking. Tapi dia juga sama brengseknya dengan Sven. Karena sudah mencium gelagat busuknya, aku pun enggan berhubungan dengannya lagi.

Aku punya pacar yang lumayan baik yang aku temui saat acara malam kebudayaan di München, sebut saja namanya Richi. Dia bisa berbahasa Indonesia dan ingin belajar bahasa denganku. Aku yang jatuh cinta padanya duluan, karena dia tampan, mapan, loyal, dan suka budaya Indonesia, umurnya pun terpaut 7 tahun, aku suka yang lebih tua agar bisa ngemong diriku yang kekanak-kanakan ini.

Saat ke Hamburg untuk interview FSJ, lagi-lagi lewat situs couchsurfing aku bertemu seseorang yang mau mengantarkan aku melihat-lihat kota Hamburg. Aku bertemu Max saat itu, dan karenanya hubunganku dengan Richi semakin terpuruk dan akhirnya putus. Richi yang memutuskanku karena cemburu. Max sering meneleponku dari Hamburg dan ingin belajar bahasa Indonesia juga. Karena aku tak curiga, aku ajari dia sedikit bahasa lewat skype.

Aku benar-benar sedih karena hubunganku dengan Richi putus. Aku saat itu hanya menganggap Max sebagai murid dan teman biasa. Meskipun Max pernah mengundangku makan malam di rumah keluarganya, memberiku hadiah natal dan mengirimiku buku-buku bahasa Jerman, tapi aku hanya tak pernah punya perasaan lebih kepadanya.

Richi tak mempertahankanku saat aku pergi. Bahkan saat aku pulang ke Indonesia untuk mengurus visa FSJ, dia tak peduli. Max lah yang -selama aku di Indonesia- rajin menghubungi dan skype denganku. Akhirnya, karena terbiasa ngobrol dengan Max, 6 bulan berkenalan dengannya, dia mengutarakan bahwa dia jatuh cinta padaku dan bertanya apa aku mau jadi pacarnya. Kami pun pacaran di awal tahun 2015.

Saat aku kembali ke München, Max yang menjemputku di rumah host family ku dan mengajakku ke rumah pamannya untuk bermain ski. Max bekerja sebagai DJ di Hamburg, tapi saat itu dia sudah pindah ke kota lain untuk menempuh S2. Sebenarnya, aku belum terlalu suka kepada Max saat awal-awal kenal karena umurnya yang 2 tahun lebih muda dari padaku.

Sebelum aku bertolak ke Hamburg, karena Max ada acara ulang tahun temannya, aku pun berangkat ke stasiun sendiri. Saat itu, Richi ingin menemuiku. Aku pun bersedia bertemu dengannya barang sebentar saja. Di stasiun, kulihat dia sangat sedih. Aku tak tega melihatnya seperti itu, lalu aku pun bertanya mengapa.

“Aku menyesal membiarkanmu bersama Max, sebenarnya aku masih ingin denganmu. Tapi tak apa kalau kamu bahagia dengannya”

Wah, kok kayak di sinetron sih. Tapi beneran dia bilang seperti itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku pun tak bisa meninggalkan Max dan kembali kepada Richi karena Max telah mengambil hatiku. Akhirnya aku menawarkannya untuk menjadi sahabat saja. Kami pun bersahabat dan sering telp. Ini kesalahanku yang fatal.

Enam bulan berlalu. Richi ingin mengunjungiku ke Hamburg. Saat itu, aku dan Max masih berlibur bersama ke Budhapest. Sepulangnya dari Budhapest, aku pun bersedia menemani Richi untuk jalan-jalan di Hamburg, karena aku pikir dia temanku. Toh dia tidak menginap di tempatku.

Max berubah pikiran. Dia yang saat itu berencana pulang ke kotanya, malah ingin tinggal di Hamburg saat Richi juga berada di sana. Sebenarnya Max juga sudah tahu karena aku tak pernah menyembunyikan apapun darinya. Tapi saat Richi pulang ke München, Max mengajakku bertemu dan memutuskan hubungan kita dengan alasan dia sudah mencintaiku lagi.

September 2015 merupakan ulangan dari derita hati putus cinta yang pernah kualami saat februari 2012 silam. Rasanya ternyata tetap saja sakit. Terlebih Max mem-blokir semua akun media sosialku di awal 2016 karena katanya aku dan dia harus sama-sama move on.

Baca juga: sebelum jadi au pair> semua berawal dari patah hati

Menemukan Pria Yang Tepat

“Percaya saja bahwa suatu saat, setelah kita lelah mencari, kita akan menemukan yang sama lelahnya dengan kita, yang harapannya untuk bahagia sama dengan kita, dialah orang yang tepat”

Kata-kata diatas diucapkan sahabatku yang umurnya bahkan 8 tahun lebih muda dariku, yang saat itu belum pernah pacaran serius. Tapi kata-kata itu benar dan aku membuktikannya.

Aku pun memutuskan untuk melupakan Max dan move on. Salah seorang teman menyarankanku bermain dating sites. Aku saat itu tidak percaya dan agak takut untuk mencoba. Tapi akhirnya aku mencoba juga.

Tinggal di Jerman yang dingin, di musim dingin membuat kita terkadang merasa sepi, sendiri, dan sedih secara tiba-tiba. Aku butuh teman. Aku sebenarnya tak kekurangan teman saat itu. Tapi mereka toh punya jadwal masing-masing, punya pacar, punya kehidupannya sendiri-sendiri. Aku pun mencoba bermain dating sites. Dari salah satu sahabat, aku disarankan untuk menggunakan okcupid. Aku sangat berterima kasih kepada sahabatku itu karenanya, aku bisa bertemu suamiku, Tobi.

Aku menggunakan okcupid hanya 2 minggu saja. Saat itu, Tobi menulis teks padaku dengan ramah, berbeda dari teks-teks orang lain, yang rata-rata hanya bilang hallo, hallo cantik, manis, memuji nggak jelas, dsb. Aku masih malas membalas teks dari Tobi karena dia tidak memasang foto profil yang jelas. Tapi setelah 3 hari, aku balas juga.

Hubungan kami berlanjut, kami bertemu di sebuah cafe di Hamburg dan bisa ngobrol berjam-jam. Aku merasa sangat nyambung dengan Tobi dan rupanya dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku. Di pertemuan berikutnya, aku saja yang ngobrol dan dia hanya mendengarkan celotehku. Di pertemuan-pertemuan lainnya juga seperti itu.

Tobi adalah pria yang sangat sopan. Dia tidak pernah berubah sejak aku pertama kali menemuinya, selalu ramah dan lucu.

Setelah satu bulan sering bertemu, dia mengirimiku surat sepanjang 2 lembar kertas folio yang isinya menyatakan bahwa dia jatuh cinta padaku dan memintaku menjadi pacarnya.

Aku masih belum bisa memahami perasaanku padanya saat itu karena aku masih selalu saja merindukan Max. Kepada Tobi, aku selalu bercerita panjang lebar tentang Max, membandingkannya dengan Max. Tapi Tobi selalu mendengarkanku sambil tersenyum. Suatu hari, aku bertanya padanya, “Tobi, nggak apa-apa kah kalau aku selalu cerita tentang mantanku padamu?”

Jawaban inilah yang membuat hatiku luluh dan mulai menaruh rasa padanya. Tobi menjawab, “Tentu saja tidak masalah, kamu bersamanya kan hanya 6 bulan, lama-lama cerita tentangnya juga akan habis dengan sendirinya.”

Seringkali Tobi membuatku menangis karena aku merasa beruntung sekali memiliki pria yang sabar seperti dia. Aku ini sangat cerewet dan dia adalah pendengar yang luar biasa. Dia orang Jerman yang romantis dan aku suka sekali kejutan-kejutan kecil yang dibuatnya. Kadang dia juga mengatur kejutan besar untukku, seperti saat ulang tahunku, dia menyewa pesawat kecil pribadi plus pilotnya untuk mengajakku terbang mengelilingi Laut Utara (Nord See) selama 2 jam.

kami naik pesawat kecil itu untuk lihat laut utara Jerman dari atas

 

Banyak cerita tentang Tobi yang tak mungkin aku tulis semuanya di sini. Mungkin kapan-kapan aku sambung lagi. Kami menikah tanggal 15 November 2017 di Denmark. Mengapa di Denmark dan tidak di Jerman? Kapan-kapan aku ceritakan. Semoga kisah pribadiku ini bermanfaat dan sedikit memberi hiburan.

Baca juga: apa yang dibicarakan orang Jerman saat nongkrong bareng?

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Viele Grüße

Comments

  1. sy fokus ke pesawat kecilnya, jadi ingat anastasia di film fifty shades darker, ada adegan di ajakin jalan2 sm cristian pake pesawat semacam ginian,hahaha

    waah akhirnya jodoh dgn yg lain,,td sy kira bakalan sm max,
    btw, jodohnya jauh juga ya mba,,

    sy malah lagi nunggu pinangan ini, kira2 kapan yah? hiks…

  2. sy fokus ke pesawat kecilnya, jadi ingat anastasia di film fifty shades darker, ada adegan di ajakin jalan2 sm cristian pake pesawat semacam ginian,romantis lah,hahaha

    waah akhirnya jodoh dgn yg lain,,td sy kira bakalan sm max,
    btw, jodohnya jauh juga ya mba,,
    langgeng trus ya..
    sy malah lagi nunggu pinangan ini, kira2 kapan yah? hiks…

  3. Happy Wedding Indra. Semoga langgeng sampai akhir hayat. Senang baca tulisanmu, bahasanya ringan, menyegarkan namun penuh informasi. Keep writing ya. Tuhan memberkati.

  4. Happy Wedding Indra…. saya salah satu pengemar blogmu (hehehe… jgn GR) ya? ternyata merried juga sama Tobi, kaget juga tiba-tiba tau kamu nikah.. selamat ya? bener2 mimpimu menjadi nyata sekarang. Selamat menempuh hidup baru GBU….

  5. omaigat naik pesawat kecil gitu di INdonesia dimana ya?????? T.T romantis amat mbak

    jawaban tobi-nya beneran nyejukin hati ya.. untung saya pria, ga jadi suka deh sama tobi wkwkwk . maap mbak salah pokus

    *kabur*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *