Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah pertanyaan yang membuatku ingin menulis artikel ini. Pertanyaan tersebut adalah, “Bagaimana kehidupan rumah tangga di Jerman, terutama untuk orang Indonesia yang menikah dengan orang Jerman?”

Tentu saja masing-masing rumah tangga, punya kehidupan yang berbeda-beda. Beda pasangan, beda pula pengalamannya. Semua tergantung watak dan karakter orang Indonesia dan orang Jerman yang dinikahinya. Jadi, aku tidak mau menyamaratakan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Di sini, aku ingin berbagi sedikit pengalamanku menikah dengan orang Jerman dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan suami. Aku akan juga membandingkan sedikit dengan pengalaman beberapa teman Indonesia yang punya pacar orang Jerman, menikah dengan Jerman, dan orang Indonesia yang menikah dengan orang Indonesia tapi tinggal di Jerman. Sehingga kalian bisa mendapatkan gambaran dari kehidupan rumah tangga yang berbeda-beda.

Baca juga: Berpacaran dan Menikah dengan orang Jerman

  1. Siapa yang bekerja, siapa yang mengurusi rumah?

Aku mulai dari permasalahan bekerja dan mengurusi rumah. Kalau di Indonesia, meskipun tidak semua rumah tangga membebankan pekerjaan ini kepada sang istri, tapi masih banyak pasangan yang menganut sistem ideologi lama, yakni suami cari uang, istri ngatur rumah tangga, termasuk masak dan bersih-bersih. Sekalipun istri juga kerja, namun kodratnya sebagai wanita membuatnya masih harus melakukan pekerjaan rumah tangga sepulang kerja. Bersyukur sekali kalau punya suami yang sudah mulai merubah pola pikirnya, tidak terlalu kolot, sehingga mau membantu istrinya untuk bersih-bersih rumah. Tapi di keluargaku, termasuk keluarga tante dan om-omku di Batu, kerja tugas sang suami, masak dan bersih-bersih tanggungan istri.

Kalau di Jerman? Suamiku termasuk salah satu dari banyak pria yang lumayan malas, bahkan kalau aku bilang, sangat malas untuk bersih-bersih. Tugas bersih-bersih, rapi-rapi, dan masak adalah tugasku. Dia bagian menyedot debu (vacuum cleaning) dan membuang sampah. Tapi dia punya tugas yang aku paling malas melakukannya, yakni mencuci baju, menjemurnya di loteng, dan melipatnya. Itu tugas dia. Hehehe. Jadi, aku merasa kami sudah membagi tugas dengan adil. Selain itu, aku bersyukur dia tidak suka masak, sehingga aku hanya menyuruhnya belanja, dan aku yang masak. Dengan seperti itu, aku hanya masak makanan yang aku suka saja dan dia ikut makan.

Suamiku adalah orang yang sangat sederhana soal makanan. Jika aku tidak masak, dia hanya makan roti dan keju, ditaburi merica sama garam saja. Buatnya sudah enak banget. Kalau nggak, dia membeli pizza beku, lalu dipanggang sebentar atau merebus pasta dan dikasih saos tomat dan bawang bombay. Dia tidak pernah sekalipun protes kalau aku malas masak. Pernah saking malasnya, sepulang dari liburan di Asia, aku tidak masak selama 2 bulan. Dia tidak seharipun protes. Hanya saja, terkadang dia bilang kangen masakanku. Pria Jerman banyak yang jago masak, jadi beruntung juga kalau kalian punya pasangan yang mau memasak dan bersih-bersih rumah juga.

Temanku yang tinggal bersama dengan pacarnya, punya tugas yang berkebalikan. Kebetulan pacarnya seorang pria yang sangat bersih. Temanku malah jarang bersih-bersih. Saat aku berkunjung ke rumah mereka, si cowok malah yang mencuci piring, me-lap dan merapikan dapur. Kami ngobrol cekikikan di ruang tamu.

Temanku yang dua-duanya orang Indonesia, punya tugas yang juga berbeda. Istrinya memasak, suaminya belanja dan bersih-bersih. Istrinya nyuci, suaminya menjemur pakaian. Yah, sekali lagi, semua tergantung individu dan pasangannya masing-masing. Tak ada yang sama.

2. Siapa yang mengatur KEUANGAN?

Saat bertunangan dengan orang Indonesia dulu, aku lah yang mengatur gajinya. Dari pengeluaran sekecil apapun, sampai pemasukan kami berdua, aku yang ngatur. Tapi kini, menikah dengan orang Jerman membuat segalanya menjadi berbeda. Suamiku yang mengatur keuangan kami berdua. Dia tahu berapa jumlah uangku, tapi aku tidak tahu berapa jumlah uangnya, uang simpanan kami, dan pengeluaran-pengeluaran yang tiap bulan kami keluarkan.

Terkadang, aku protes, mengapa aku tidak boleh tahu. Dia selalu menjawab, ‘Biarlah aku sendiri yang pusing mengaturnya, kamu tinggal bersenang-senang saja dengan uangmu!’. Kadang sebagai wanita aku merasa kurang dianggap kalau aku tidak ikut campur mengatur keuangan rumah tangga kami. Tapi kuakui suamiku pria yang sangat pandai mengatur keuangan dan teliti sekali perihal pengeluaran kami. Jadi, ya sudah, aku percayakan saja kepadanya.

Karena aku juga bekerja, aku tidak meminta nafkah. Aku bahkan ikut iuran uang makan dan uang lain-lain setiap bulan. Tapi suamiku membayar apartemen, uang pemanas ruangan, uang listrik, air, internet, dsb. Kalau aku ingin sesuatu yang mahal, misalnya kamera, laptop, hp, TV, liburan, dll, dia yang membelikan. Selebihnya, dengan uang hasil kerjaku dan Bafög , aku mencukupi diriku sendiri, makan dan shopping dengan teman-teman. Ups… :D. Tapi karena aku juga orang yang cukup hemat dan tidak suka barang bermerk, aku sering menghabiskan uangku untuk makan dan masak saja 😀

Aku sering mendengar, bahwa di Jerman, siapa yang pendapatannya lebih besar, dialah yang mengatur keuangan di dalam rumah tangga. Contohnya ya seperti aku dan suamiku. Tapi pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Buktinya, rekan kerjaku, orang Jerman yang menikah dengan orang Jerman, istrinya yang mengatur keuangan, padahal suaminya berpenghasilan lebih besar. Kemudian, teman Indonesiaku yang menikah dengan orang Jerman dan tidak bekerja, dia yang mengatur uang suaminya. Suaminya luar biasa boros dan suka foya-foya, jadi dia bilang, kalau suaminya yang ngatur uang, bisa-bisa mereka jadi gelandangan :P.

Suamiku selalu bilang bahwa masalah uang bukanlah masalah yang paling besar. Dia sejak kecil memang sudah suka menabung dan cita-citanya adalah membangun sebuah rumah kecil kalau kami sudah punya anak-anak dan butuh tempat tinggal. Tanah dan rumah mahal sekali di Jerman, jadi dia selalu meyakinkanku bahwa apa yang dilakukannya tak perlu membuatku khawatir, dia akan mencukupiku dan anak-anak kami. Aku percayakan saja semua padanya.

Baca juga: hati-hati menjalin hubungan dengan bule yang sudah tahu budaya Indonesia

3. Siapa yang mengurus anak?

Masalah menjaga dan mendidik anak adalah tugas suami dan istri. Karena aku belum punya anak, aku belum bisa memastikan siapa yang harus bangun tengah malam dan menenangkan si bayi ketika menangis, siapa yang mengganti popok, dsb. Tapi berdasarkan pengalamanku sebagai au pair, aku melihat betapa sang ayah punya tugas yang cukup berat juga dalam andil mengurus anak. Contohnya, sepulang kerja, sang suami harus bermain sama anak-anak, lalu mengantarkan mereka ke kamar mandi untuk gosok gigi setelah makan malam, lalu mengganti popok dan baju tidur, setelah itu membacakan cerita, lalu membereskan dapur.

Namun, menurut penuturan beberapa au pair, ada juga suami yang tidak mau tau urusan anak. Mereka cuma mau main, tapi mengganti popok dan urusan lainnya, tidak mau tau. Hmm,,,lagi-lagi semua serba berbeda tergantung kesepakatan suami dan istri.

 

Di Jerman, tidak ada asas, suami adalah imam rumah tangga, apapun yang dikatakan dan diperintahnya adalah sebuah sabda. Di Jerman, wanita dan pria derajatnya setara. Semua yang dikerjakan di dalam rumah tangga adalah sesuai kesepakatan dan diskusi bersama. Tentu saja, ada pula keluarga muslim yang menjalankan asas imam dan makmum. Namun, tidak ada ideologi tetap yang harus dianut semua orang, semua keluarga. Masing-masing punya pola pikir dan aturan sendiri-sendiri dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya.

Apakah kalian punya pengalaman yang berbeda? Silakan di share di kolom komentar 🙂

Jangan lupa like facebook fanspage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (terima kasih banyak)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.