Kak, tujuanku tuh kuliah di Jerman, sebaiknya aku FSJ atau Ausbildung dulu?

Aku tidak punya dana dan harus membantu orang tua di Indonesia, sebaiknya aku ke Jerman au pair atau langsung ausbildung ya, kak?

Kak,, minta saran donk. Apa yang sebaiknya aku lakukan? Aku merasa senasib dengan kakak, tidak punya uang, keluarga miskin, tapi cita-cita besar pengen kuliah di Jerman. Gimana ya kak?

Puluhan email curhatan dan pertanyaan seperti di atas masuk dan karenanya aku merasa aku harus menulis jawabannya di sini agar nanti kalau ada yang tanya lagi. Aku tidak perlu mengetik panjang-panjang, tinggal copy link blog Denkspa dan silakan baca. 🙂

Begini ya sahabat-sahabatku dimana pun kalian berada. Yang saat ini masih di Indonesia atau pun sudah di Jerman, segala sesuatu yang kalian putuskan, pasti ada baik dan buruknya, pasti ada lebih dan kurangnya. Kita tidak bisa memutuskan sesuatu yang menyangkut masa depan kita, lalu berharap semua berjalan sempurna. No way!!

Dulu saat aku bercita-cita kuliah di Eropa, aku yakin akan sebuah keajaiban. Karena mau bagaimana lagi? Uang tidak punya, otak tidak briliant? Tampang pas-pasan pula. :). Namun, namun karena keyakinan yang kuat itu, buktinya aku bisa mewujudkannya juga.

Sekarang mungkin kalian sudah bosan dengan ceritaku, jadi sebaiknya aku mulai bahas saja, sebaiknya apa yang kalian lakukan kalau senasib denganku?

Haruskah aku langsung ausbildung?

Tergantung, kalau sekarang masih di Indonesia, kesempatan untuk ausbildung yang ditawarkan sama Pak Nickel atau agen yang lain hanya di beberapa bidang. Sedangkan bidang kuliah apa yang ingin kalian tempuh nantinya? Nyambung nggak? Kemudian, gaji ausbildung itu sudah saya pastikan tidak akan tersisa setelah kalian lulus, karena kalau daftarnya dari Indonesia, gaji kalian masih akan dipotong tiket pesawat, kemudian berbeda dengan anak-anak azubi yang sudah lama tinggal di Jerman (biasanya mereka au pair dan ausbildung dulu), kalian belum punya banyak pengalaman kerja untuk mencari job sampingan, sehingga mengumpulkan uang juga susah.

Kalau sudah lebih lama tinggal di Jerman, kalian pernah punya pengalaman mengasuh anak (sebagai au pair), pasti ada beberapa tawaran job yang bisa kalian kerjakan yang langsung masuk kantong, ditambah kalau kalian pernah FSJ (misal FSJ nya bersama orang-orang cacat), kalian bisa bekerja tambahan di perusahaan dulu tempat FSJ sebagai aushilfe dan mendapatkan gaji 450 (basis) perbulan. Namun, kalau kalian langsung datang dari Indonesia? Pengalaman kerja di Indonesia biasanya tidak diperhitungkan, karena kan sistem kerja orang Jerman dan orang Indonesia beda, selain itu, kalian yang baru saja datang dari Indonesia harus menyesuaikan diri dulu dengan lingkungan Jerman, dengan orang-orangnya, harus Probearbeit dulu selama 6 bulan, dsb, jadi mencari kerja sambilan langsung? Hmmm, aku rasa sulit.

Kalau kalian sudah di Jerman (mungkin sudah jadi au pair), dan host family tidak mau membantu menjadi penjamin kuliah atau kalian belum menemukan kampus dan jurusan yang cocok, kalau aku jadi kalian, aku akan FSJ dulu, lalu ausbildung, lalu S2. Mengapa ?? Karena selama kurun waktu yang lama itu, kalian masih bisa bantu orang tua di Indonesia, dan banyak kemungkinan yang terjadi. Contohnya pada diriku dulu, aku bertemu suami yang akhirnya membantuku kuliah.

Tapi bukan berarti aku menyarankan kalian untuk mencari suami atau istri di sini,,,wkkkk,,, tapi kalau sudah punya banyak pengalaman kerja di Jerman (fsj dan ausbildung), selama masa itu, kalian juga bisa mengumpulkan teman, bisa meminjam uang sementara buat bikin perpanjang visa (seperti yang dilakukan  temanku), lalu juga bisa mendapat banyak nebenjob, karena otomatis kemampuan bahasa meningkat dan banyak pengalaman kerja, sehingga saat kuliah tidak kesulitan lagi.

Alternatif dariku ini mungkin bisa juga digunakan. Jadi, kalau kalian mau langsung ausbildung, setelah ausbildung, kerja saja di Jerman. Kemudian, bisa menempuh dual studium, yakni kuliah sambil kerja (dimana jurusan yang digeluti harus sama, tapi kuliahnya di Universitas), atau kalian bisa juga kuliah separuh waktu sambil kerja. Opsi kedua, kalian tidak perlu kuliah di bidang yang kalian tempuh saat ausbildung, tapi bidang yang kalian inginkan. Nah, karena  sudah bekerja, kalian tidak perlu kesulitan dana. Bisa juga kerja setahun, ngumpulin uang sampai 9000 euro, lalu digunakan untuk jaminan kuliah, atau kerja dulu setahun, lalu menunjukkan slip gaji kepada pihak ABH bahwa kalian kerja dan bisa mendanai kuliah yang saat ini ditempuh.

Baca: Seputar Duales Studium

Perlu aku tekankan di sini, kuliah di Jerman itu tidak mudah. Aku saja yang jurusannya cukup mudah (Studi Asia Tenggara), cukup sulit mengerjakan tugas dan sering depresi karena dapat nilai jelek, dan tidak bisa menyeimbangkan antara kerja dan kuliah, terlebih kalau semua teman di kelas orang Jerman dan mata kuliahnya susah banget, harus saingan ngomong dengan mereka yang kritis, uuht, bisa tertekan. Jadi, sebaiknya pertimbangkan hal ini juga.

Apakah aku harus FSJ dulu?

Baca juga: Plus Minus jadi FSJ di Jerman

Kalau kalian masih di Indonesia, daftar fsj atau BFD langsung dari Indonesia bisa jadi pain in the ass. Ada banyak email yang mengeluh padaku tidak dapat mendaftar FSJ, emailnya di forward ke Träger lain, harus menunggu balasan berbulan-bulan dan menunggu di dalam ketidak pastian setelah melamar ke puluhan Träger.

Baca juga: Melamar FSJ dari Indonesia

Memang syarat yang dibutuhkan oleh para calon FSJ atau BFD adalah A1 (sama dengan Au Pair), namun melamar FSJ dari Indonesia itu banyak kendala, termasuk yang aku tulis di artikel-artikel sebelumnya, yakni menunggu dan menunggu. Namun, tidak menutup kemungkinan kalian bisa diterima dengan cepat dan bisa ke Jerman dengan cepat seperti kisahnya Putu BC (tonton you tube sharingnya di sini). Jadi faktor keberuntungan dan nasib juga menentukan, juga faktor ketepatan melamar ke Träger, yang pas ada lowongan pas melamar.

Kalau kalian sudah di Jerman (mungkin sebagai au pair), seperti yang aku jelaskan di poin ausbildung, memang FSJ langkah yang sangat bagus. Untuk menyelami minat kuliah kamu, untuk mengumpulkan pengalaman, dan mengurus masalah finansial. Terlebih dalam kurun waktu FSJ itu, banyak hal bisa saja terjadi. Bisa saja kalian nggak pengen kuliah, tapi pengen nikah. Loh, 😀

Apa sebaiknya au pair dulu?

Tentu saja karena aku dulu memulai ke Jerman dengan menjadi au pair, aku akan menjawab: Iya, sebaiknya au pair dulu. Lalu kalian pasti protes: Nggak mau kak, aku nggak pengen jadi baby sitter, aku nggak suka sama anak kecil, aku nggak mau tinggal sama orang asing, aku sudah mencoba mendaftar tapi susah, nggak ada keluarga yang mau dsb.

Oke, baca dulu artikel: Plus minus jadi au pair agar kalian sedikit tercerahkan.

Nasib orang kan tidak ada yang tahu, ya kan? Banyak sekali kisah temanku yang dibantu host family mereka untuk melanjutkan kuliah di Jerman sampai lulus. Kalau kita daftar FSJ dan Ausbildung, artinya kita daftar kepada perusahaan, anggap saja perusahaan itu dikelola oleh banyak orang, dan kurang personal, sehingga kita susah mencari kenalan yang percaya sama kita. Tapi kalau kita menjadi au pair, kita langsung bekerja dengan sebuah keluarga, di mana kadang kita bisa curhat dan menceritakan keluh kesah keadaan kita dan kondisi ekonomi keluarga di Indonesia, lalu cita-cita kita yang besar. Siapa tahu keluarga berbelas kasihan dan mau membantu, seperti yang terjadi padaku dulu dan kepada beberapa temanku.

Namun, biasanya orang Jerman tidak mau membantu kalau kalian dirasa tidak memberikan feedback untuk mereka. Teman baikku yang dijamin host family nya, harus rela kerja di rumah mereka selama liburan contohnya. Banyak juga kawan yang datang mengadu sambil menangis, sudah tidak betah oleh host family nya, tapi mereka merasa berhutang budi karena hosfam sudah membantu banyak, menjadi penjamin, dsb. Kuatkan mental saja dan fokuskan cepat lulus kuliah. Badai pasti berlalu, itu kan sudah keputusanmu, dulu pasti kamu sudah memikirkan dampak negativ ini, jadi resiko seperti ini, harus bisa diantisipasi. Itu yang selalu aku bilang kepada mereka. Mau bagaimana lagi? Masak aku harus menyarankan untuk kabur atau bunuh diri? LOL??

Nah, selain hal di atas, menjadi au pair itu juga cara yang paling mudah dan murah untuk ke Jerman. Setelah menjadi au pair, kita bisa ganti visa ke FSJ, Ausbildung, Studium, Kerja, dsb. Itu jalurnya. Tapi kalau kalian mendaftar dari Indonesia sebagai Azubi, kalian sudah tidak mungkin lagi berubah menjadi au pair, atau FSJ, sekalipun balik ke Indonesia, biasanya pihak kedubes akan mempersulit pengurusan dan menganggap kita tak punya pendirian dan jalur hidup yang terarah, sehingga kemungkinan besar visa ditolak (banyak kasus seperti itu). Kecuali setelah azubi, ingin kuliah, bisa juga.

Sampai di sini, mungkin kalian bisa makin bingung, makin tidak pasti, atau bisa juga tercerahkan. Seperti yang sudah aku bilang. Setiap keputusan, terlebih keputusan untuk keluar negeri adalah sebuah hal yang besar, yang pasti ada plus minusnya dan tidak selamanya berjalan mulus. Oleh karena itu, pertimbangkan baik-baik. Aku sendiri tidak bisa memaksa dan menentukan jalur hidup yang akan kalian tempuh. Tugasku hanyalah mengarahkan dan membimbing saja berdasarkan pengalamanku sendiri atau pun beberapa orang dan kawan yang aku dengar. Kalau kalian punya kisah dan alternatif yang bisa disarankan, silakan saja cantumkan di kolom komentar. 🙂

Baca juga: 8 Tips Dapat Restu Dari Orang Tua Untuk Ke Luar Negeri

Semoga tips ini memberikan informasi seputar Jerman. Jangan lupa like facebook fanpage Denkspa untuk mengetahui info harian seputar Jerman, terutama Hamburg (tempat aku tinggal sekarang). Klik di sini untuk like facebook fanpage Denkspa. Vielen Dank (Banyak terima kasih)

Baca juga: Kuliah di Jerman: Gratis tapi Mahal

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.