Banyak pertanyaan masuk tentang pendapatku seputar salah satu agen atau tempat kursus bahasa Jerman yang terpercaya dan tak hanya berfokus mencari keuntungan saja. Well, tentu saja yang namanya orang menawarkan jasa, tentunya fokusnya mencari untung. Yang bijak harusnya kita dalam memilih encari untung tersebut. Sesuaikah dengan jasa yang mereka tawarkan? Terlalu mahal kah?. Menurut pengalamanku pribadi, berangkat ke Jerman secara mandiri dan bertahan di Jerman bukan didasarkan dari keputusan kita memilih salah satu agen terpercaya. Terlebih kesuksesan lulus bahasa Jerman mulai A1 sampai C1 juga bukan karena tempat lesnya, tapi banyak faktor yang menyertainya.

Baca juga: Tips Lulus Ujian A1 dalam waktu 3 Minggu

Sebelum memberikan tips memilih pembimbing bahasa Jerman, aku akan sedikit cerita pengalamanku kursus bahasa Jerman selama ini.

Sebelum memutuskan ke Jerman sebagai Au Pair, aku tak punya basic bahasa Jerman sama sekali. Aku memilih untuk mencari guru kursus yang sangat murah di Batu dengan alasan tak punya uang saat itu. Pengajar bahasa Jermanku saat itu adalah guru SMA dan beliau tak pernah ikutan ujian A1 di Goethe, dan tak pernah datang ke Jerman. Aku membayar 500 ribu untuk 8 kali pertemuan selama 4 minggu (1 minggu 2x pertemuan selama 90 menit @pertemuan).

Aku tak menuntut banyak dari harga yang aku bayarkan dan memaklumi keterbatasan beliau dalam mengajar. Materi yang diajarkan pun berdasarkan dari kurikulum SMA (sama sekali bukan studio D dari Goethe Institut atau pun yang lainnya). Namun, karena aku mengejar target lulus ujian di minggu ketiga, aku terus menerus belajar secara mandiri dengan menonton youtube, film anak2 dalam bahasa Jerman, belajar bicara di depan cermin dan meminta ibuku bermain tebak kata Indonesia-Deutsch denganku setiap hari. Fokusku hanya menghafal kata-kata dalam bahasa Jerman sebanyak yang aku bisa, karena saat itu aku percaya, ketika kita sudah bisa hafal paling tidak 500 kata dalam bahasa asing (entah itu kosa kata kerja, benda, atau sifat), kita akan mampu untuk merangkai sebuah kalimat dan berkomunikasi.

Aku pun lulus A1 dengan nilai 76, tak memuaskan, namun cukup untuk apply Visa. Saat sampai di Jerman, menjadi Au Pair di 2 bulan pertama, aku melanjutkan kursus di Deutschakademie yang didaftarkan GF intensiv selama 4 minggu, A2.1 dan tak ikut ujian A2 atau apapun.

Menguasai A2 waktu itu bisa dibilang belum mumpuni untuk berkomunikasi. Namun, keuntunganku adalah Gfku berbicara bahasa Inggris dan meski belum lancar bahasa Jerman, aku bisa mengobrol dan curhat dalam bahasa Inggris. Aku pun tak menuntut untuk diles-kan lebih lanjut dan bahkan tak sadar bahwa sebagai au pair, kita punya hak 50 euro ekstra untuk les. Aku hanya dibelikan buku A2 dan audionya untuk belajar sendiri.

Di tahun kedua saat FSJ. Waktu itu, FSJ belum dikasih kursus bahasa Jerman gratis dan kemampuan bahasa Jermanku bisa dibilang mandeg di A2. Akhirnya aku pun berinisiatif ikut kursus yang bukan intensiv dan yang murah di Volkhochschule (VHS) di Hamburg-Harburg. Mengejutkannya, saat einstufungstest (placement test), oleh pihak VHS nya disuruh masuk B1 plus. Resepsionisnya bahkan bilang dengan hasil test mu dalam bahasa Jerman saat ini, kamu bisa langsung masuk B2 kalau mau. Aku sama sekali nggak nyangka mengingat aku hanya les sampai A2.1 saja dan selalu berbicara dengan bahasa Inggris dengan GF. Namun, setelah aku pikir-pikir lagi, saat itu aku punya pacar orang Jerman dan terkadang ngobrol dengan bahasa Jerman meski terbata-bata. Mungkin karena itu juga aku tak sadar belajar banyak tentang bahasa Jerman meski tidak di kelas.

Kisah cinta bersama orang Jerman: Pacaran dengan Orang Jerman? Romantiskah?

Aku akhirnya kursus di VHS sampai level B2.1 (2 kali kursus). Di sana, sebagai FSJ, aku hanya membayar separuh harga (waktu itu per kursus, non intensive, 4 bulan hanya 190 euro, dan aku hanya bayar 95 euro).

Aku menuntaskan kursus B1 plus dengan giat, tapi begitu masuk musim dingin, B2 ku hanya aku datangi 3 kali saja. Sudah dingin, waktu itu aku ditaksir oleh salah satu peserta kursus dari India, yang membuatku kurang nyaman. Hhehhe. Bukannya aku nggak suka orangnya, tapi tidak ada chemistry dan sudah terlanjur pengen berteman, jadi dia salah artikan kedekatan saja. Aduuuh jadi curhat.

Okay, lanjut….

Akhirnya, di tahun terakhir FSJ, aku tidak les bahasa sama sekali, tapi saat 6 bulan terakhir FSJ, aku mulai menjalin hubungan dengan Tobi (suamiku sekarang) dan mulai awal hubungan sampai sekarang, entah mengapa aku nyaman bicara bahasa Jerman dengannya. Selain dia tidak menjudge bahasa Jermanku yang semrawut, cara dia membenarkan grammatikku juga sangat lembut dan sabar, sehingga aku merasa lebih pede berbicara dan belajar bahasa Jerman lebih lanjut.

Aku pun menempuh S2 dengan full Bahasa Inggris sebagai pengantar kuliahnya. Namun, di semester ke-tiga, aku mencoba ikut kursus bahasa Jerman. Sebenarnya, tujuanku ikut kursus saat itu bukan untuk memperdalam bahasanya, namun untuk menghibur diriku dan mengalihkan kesibukan setelah kehilangan kandungan.

Baca kisahnya: Hamil hanya 3 bulan 

Nah, kursus C1 terakhir waktu itu merupakan kursus termahal dan yang paling aku sesali sebenarnya. Namun ini juga bisa jadi pengalaman.

Pertama, aku membayar kursus 675 euro untuk 6 minggu di level C1. Kursus tersebut adalah di UNS Hamburg yang katanya paling bagus. Yah, pengen coba dan membandingkan dengan VHS dan Deutschakademie sih. Ternyata, kursus intensiv seperti itu membuatku semakin stress, terlebih pengajarnya seperti berlari mengejar materi sampai tuntas. Setelah selesai les dan lulus ujian C1, aku lupa 80% dari materi grammatik yang aku pelajari saat itu. Bahkan aku semakin ga pede bicara atau pun nulis bahasa Jerman, karena takut salah dan gengsi: Masak udah C1 tapi masih kayak gini kemampuanku.

Kedua, les bahasa Jerman semahal apapun tak menjamin kita sukses berkomunikasi dalam bahasa Jerman dan lulus ujian bahasa Jerman dengan nilai baik. Banyak temanku yang hanya belajar otodidak dan memang mungkin mereka sprachbegab (talented) sehingga bisa lulus ujian dengan nilai baik.

Ketiga, les bahasa Jerman dengan guru sekompeten apapun juga tak membuat kita sukses berbahasa. Buktinya, dari 15 peserta kursus saat itu, ada banyak yang tak lulus ujian C1. Dan temanku serta aku sendiri juga setelah sama2 lulus C1, tak serta merta lancar bahasa Jerman, aku (seperti yang sudah kubilang tadi), malah minder.

TIPSKU:
– Jika kalian masih mau memulai kursus, pilih yang termurah dan komitmen pada diri sendiri dengan belajar secara mandiri di luar kursus,
– Jika ada kesempatan berkomunikasi dengan deutschmuttersprachler (native), gunakan kesempatan itu dengan baik,
– Jangan menyalahkan guru atau tempat les jika ada kegagalan, karena pemilihan tempat les adalah keputusan sendiri,
– Jadikan guru sebagai fasilitator bukan informan yang menjejali kalian dengan materi. KALIAN YANG HARUS AKTIF
– Jangan fokus dengan satu materi. Belajar lewat youtube, website, film, dsb sebagai alternative,
– Ini penting: Jadilah gelas kosong yang siap diisi ketika memulai pembelajaran baru. Kadang kita merasa kita sudah bisa ini dan itu sehingga informasi baru tak masuk lagi seperti gelas full yang tak bisa lagi diisi. Ketika mulai les, sekalipun sudah tau banyak, terima saja informasi lama dan baru yang diberi guru. Posisikan diri sendiri seperti bayi atau anak-anak yang sanggup menerima banyak informasi karena dipikiran mereka tulus, tidak sok pintar dan tidak sok tahu (karena mereka memang belum tahu). Kadang kalau seorang guru melihat seorang murid sudah banyak tahu, dia akan merasa murid ini sudah tahu dan tak perlu diberi informasi lagi. Bukan karena gurunya malas dengan anak ini, tapi merasa: buat apa memberi tahu orang yang sudah tahu info ini. Ya kan?
– INTINYA: bukan guru atau tempat lesnya, bukan mahal atau kualitas tempat kursus serta gurunya yang kompeten (sekalipun itu berpengaruh besar juga), namun komitmen kita terhadap diri dan perkembangan diri sendiri yang super penting.
Ayo semangat dan terus belajar. Ingat, jangan berhenti setelah lulus ujian saja, tapi terus lanjutkan pembelajaran dengan membiasakan diri berkomunikasi menggunakan bahasa baru tersebut.

*
Follow instagram: @resep.anak.rantau  

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Baca juga: Tips Membeli Barang Elektronik di Jerman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.