Beberapa teman Indonesia yang aku temui di Jerman mengaku berangkat ke Jerman dengan modal nekat dan persiapan ujian A1 mereka lakukan secara otodidak, alias belajar sendiri di rumah. Karena kagum banget sama mereka, aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa me-manage pembelajaran bahasa Jerman yang menurutku lumayan susah itu tanpa bantuan pembimbing. Sedangkan banyak juga temanku yang masih ada pembimbing pun, tetap nggak bisa dan nggak sebagus mereka bahasa Jermannya.

Baca juga: Tips memilih guru (kursus) bahasa Jerman

Dari mengumpulkan informasi-informasi seputar pembelajaran Bahasa Jerman dan menganut pada pengalaman dariku sendiri serta teman-teman (baik yang belajar otodidak maupun ikut kursus), aku kumpulkan tips-tips berikut yang mungkin berguna bagi kalian yang saat ini berpikir untuk ikutan kursus atau belajar otodidak saja:

  1. Kenali bakat dan minat diri sendiri

Mengenali diri sendiri adalah langkah awal terpenting untuk mulai memutuskan sesuatu. Hal ini tak hanya untuk ikutan kursus dan memilih bidang atau program yang akan ditempuh, tapi juga memilih agen yang fair. Oleh karenanya, aku tak bisa menyarankan kalian harus ikut ini dan itu, karena pandanganku terhadap diri kalian beda dengan pemahaman kalian terhadap diri sendiri serta kemampuan untuk membayar sebuah jasa yang ditawarkan. Kalau dirasa mampu untuk belajar sendiri, usahakn semaksimal mungkin. Toh, sekarang ada banyak media pembelajaran. Ada you tube (belajar bersama denkspa), youtube Rora, Syafia Lidina juga menawarkan pembelajaran bahasa Jerman. Selain itu banyak juga deutsch lernen dalam bahasa Inggris maupun bahasa Jerman. Tinggal pilih saja. Selain youtube ada pod cast, ada aplikasi, bisa beli buku dan dipelajari sendiri.

Baca juga: Ke Jerman: Mandiri Vs Agen

Yang terpenting lagi, menurut satu temanku: adalah meskipun kurang berbakat dan untuk menyerap sebuah bahasa itu susahnya minta ampun, kita harus mengenali diri sendiri, termasuk cara bekerja otak kita yang enak bagaimana. Mungkin si A lebih suka belajar lewat youtube, tapi si B, lebih masuk kalau membaca buku dan mengerjakan banyak latihan soal. Kenali motivasi diri dan teruslah gali potensi itu sampai kita menemukan titik di mana kita merasa: “Ah, ternyata bahasa Jerman bisa kok aku pelajari sendiri”

Aku bukan tipikal orang yang bisa belajar sendiri, karena aku adalah sang kolerik. Kolerik itu dari segi psikologis, orang yang punya motivasi bersaing tinggi dan kompetitif. Nah, orang kayak gini ga termotivasi belajar kalau nggak ada lawannya. Aku butuh lawan belajar supaya bisa berkompetisi dan terpacu. Jeleknya orang kayak gini, mereka haus pujian dan ingin menunjukkan yang mereka kuasai.

Saat aku mengenali diriku seperti itu, aku nggak mau memaksakan diriku belajar sendiri, paling tidak, aku harus punya pembimbing atau guru, meskipun lawan belajar nggak ada, tapi aku bisa nunjukin ke guru itu bahwa aku rajin dan semangat. Ga penting banget kan? Tapi yeah,,, itu proses pengenalan diriku. Jadi aku nggak mau memaksakan diri.

Nah temanku yang berhasil otodidak itu juga punya sifat 11-12 denganku, kompetitif. Tapi dia punya cara mengatasinya. Caranya, dia yang saat itu tinggal di Jogja, berusaha mencari tandem partner sebanyak-banyaknya. Waktu itu, katanya banyak mahasiswa Jerman yang abroad semester di UGM. Akhirnya dia berupaya untuk mengenal beberapa dan belajar dengan mereka. Jadi, sifat bersaingnya dan haus pujiannya, ditumpahkan dengan membuktikan ke kenalan orang Jerman tersebut bahwa dia bisa belajar bahasanya yang susah secara otodidak. Positif banget kan? Itulah perlunya mendalami diri kita dan mengenali kekurangan kita, lalu bukan menjadikannya kekurangan, tapi motivasi untuk belajar.

Kalau kalian bagaimana?

2. Investasikan waktu dan tenaga

Belajar secara otodidak itu tak selamanya enak loh. Karena tak ada kawan belajar di kelas, musuh terbesar kita ya diri kita sendiri. Saat selesai kursus A2.1 di München, aku tak menempuh kursus lagi dengan alasan, di desa tempat aku tinggal waktu itu jauh dari kota. Akhirnya aku belajar otodidak dari buku saja. Hasilnya? TAK MEMUASKAN.

Seperti yang aku bilang, aku nggak bisa belajar tanpa pembimbing, jadi aku paksa pun juga nggak masuk-masuk pembelajarannya. Tapi satu temanku yang berasal dari Majalengka mengaku, saat mulai persiapan A1, dirinya stop kerja, kosongkan pikiran dari hiruk pikuk yang bikin stress, lalu bener-bener fokus belajar otodidak bahasa Jerman. Dalam waktu 2 bulan, dia bisa lulus ujian A1, bahkan tanpa background bahasa Jerman sama sekali sebelumnya.

Belajar secara mandiri seperti ini artinya kita sudah siap dengan komitmen dan target. Dalam pencapaiannnya, kita juga nggak bisa setengah-setengah. Supaya hasilnya maksimal, kita harus all out. Pelajari semua, jadilah gelas kosong dan tampung informasi sebanyak-banyaknya.

3. Selalu ingin tahu dan applikasikan

Belajar bahasa seperti yang aku bilang BERKALI-KALI, bukan soal belajar struktur dan grammatiknya, namun bahasa adalah masalah kebiasaan. Bayi dan balita tak mengenal grammatik, tapi bisa bicara dengan susunan tata bahasa yang sempurna. Jika kita bisa seperti anak-anak yang selalu ingin tahu, selalu mengulang-ulang dan nggak malu, nggak ragu berbuat salah, jatuh bangun lagi, salah diperbaiki lagi, kita akan cepat belajarnya.

Tips dariku: bawa notes kecil atau kataikarte atau applikasi di hp buat mencatat hal baru yang kalian temui di jalan, di poster iklan, saat orang ngomong, atau saat menonton film. Catat kosa-katanya, karena dari proses menulis itu, otak kita bisa merekam bagaimana sebuah kata itu eksis dan dijalankan dengan cara menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat nonton film, kita nggak tau artinya das Buch, kalau kita ada waktu untuk menyela film tsb, kita bisa tuliskan di notes, sekalian artinya dan setelah semua tertulis, kita bisa buka kembali notes tersebut dan membacanya berulang-ulang atau digunakan untuk bertanya atau untuk menginformasikan sesuatu yang berkenaan dengan arti das Buch (buku).

4. Pelajari kata BENDA dengan GENDERNYA sekaligus

Ini yang aku sesali setelah lama belajar bahasa Jerman. Karena nggak ada yang memberi tahuku sejak awal bahwa belajar kata benda dalam bahasa Jerman itu akan lebih baik jika dipelajari langsung dengan artikel gendernya. Seperti yang kita tahu, masing-masing dari kata benda dalam bahasa Jerman mempunyai kategori feminim, maskulin dan netral. Metode yang aku pelajari adalah menghafal kata benda tersebut tanpa artikelnya. Padahal, artikel ini sangat signifikan untuk dihafal. Jadi, aku kayak kerja dua kali, hafalan kata benda, lalu hafalan artikel dari masing-masing kata benda tersebut. Kalau kalian mulai belajar otodidak, download app DER DIE DAS dan ketika mulai menghafal kata benda, langsung hafalkan dengan artikel gendernya sekaligus, supaya di kemudian hari nggak ngulang lagi. Contohnya kalian ingin tau arti Cangkir, alih-alih hafalan ‘tasse’, langsung hafalkan ‘die Tasse’, mau tau arti mobil, jangan hafalkan ‘auto’ saja, tapi langsung ‘das Auto’. Dengan begitu kita akan terbiasa pada kata-kata benda selanjutnya.

Baca juga: 10 Keunikan dan Fakta mengejutkan tentang Bahasa Jerman

5. Fokus

Jika kalian ingin lulus ujian A1, fokuskan pembelajaran otodidak tersebut pada soal-soal ujian A1, jangan belajar yang aneh-aneh dulu. Saat aku bertemu peserta ujian di Goethe Institute Surabaya waktu itu, salah satu diantaranya ada yang terlihat sangat lihai, pandai dan menguasai bahasa Jerman. Aku nggak tau apakah dia emang bisa atau nggak, orang akunya sendiri belum bisa waktu itu. Yang kulihat, lelaki muda umur 20 an itu membaca buku dan berkomunikasi dengan guru lesnya (dia les di Goethe Institute Surabaya) pakai bahasa Jerman. Aku merasa minder mengingat kemampuanku. Tapi karena udah bayar mahal, aku terjang saja ujian itu. Dan mengejutkan sekali, aku dan beberapa orang dari Malang waktu itu lulus, dan dia malah nggak lulus. Dia gagal (kalau nggak salah) di ujian membaca. Mungkin kurang konsentrasi atau fokusnya udah terlalu tinggi sehingga yang rendah dan gampang malah disepelekan.

Dari sana aku belajar bahwa kita nggak harus belajar banyak hal sekaligus. Dikit-dikit aja yang penting fokus. Setelah itu pelan-pelan melanjutkan yang telah kita pelajari. Kalau kita udah pengen bisa banyak hal, tapi menyepelekan yang gampang, hasilnya ya kayak anak yang kutemui saat itu.

Baca juga: 10 Tips Belajar A1 dan lulus Ujian dalam 3 minggu

6. Temukan metode yang menyenangkan

Seperti yang aku tekankan, kita harus have fun belajar bahasa ini. Belajar otodidak artinya kalian adalah guru sekaligus murid, jadi kalianlah penentu keberhasilan, penemu metode pemebelajaran, fasilitator dan penyerap informasi itu sendiri. Kalau aku suka menulis, jadi aku suka dan selalu menekankan muridku untuk menulis buku diary. Meskipun bukan bahan ajar wajib, tapi dari buku diary tersebut, aku berinteraksi dengan mereka. Aku mengoreksi tulisan mereka dan dari sana mereka tahu apa yang salah (grammatik), lalu aku komentari dan mereka bisa belajar membaca dari komentarku tersebut (membaca), lalu proses penulisan buku diary tersebut sudah langkah metode menulis, saat di kelas, salah satu dari mereka, aku suruh membacakan, lalu murid yang lain mendengarkan, kadang kalau kurang jelas, aku yang mengulangi kata-katanya (proses mendengarkan dan memahami), lalu beberapa di antara murid yang lain, aku suruh bertanya tentang kejadian di buku diary tersebut (proses berbicara).Dari sana, aku mendapat feedback luar biasa positif dari murid-muridku. Di akhir semester, mereka menulis buku diarynya sampai habis, dijilid dan diberikan untuk kenang-kenangan kepadaku yang isinya mengharukan sekali.

Meski kalian tidak punya guru untuk mengoreksi dan mendengarkan curhatan di buku diary tersebut, kalau suka menulis, cari saja metode-metode lain yang menyenangkan untuk membiasakan diri berlatih bahasa Jerman itu. Jangan memberatkan

7. KONSISTEN

Aku tak pernah berhenti belajar bahasa Jerman. Karena memang bahasa ini butuh waktu seumur hidup buat bisa benar-benar menguasainya. Jika kalian mulai belajar otodidak, kadang di awal-awal sangat konsisten dan semangat, namun seiring dengan berjalannya waktu, semangat itu mengendur dan perlahan luntur. Aku kenal anak yang aku temui di Jogja dan belajar privat bahasa Jerman 6 bulan. Sambil nyambi kerja, dia belajar bahasa Jerman waktu itu. Tapi waktu 6 bulan itu di benar-benar tidak fokus dan waktu ketemu Tobi pun, dia tak memahami satu kata pun dalam bahasa Jerman. Dia mengaku bahwa kalau nggak di tempat les, dia nggak bicara bahasa Jerman. Whatttt? Das macht keinen Sinn (ga masuk akal). Kita harus konsisten dan terus menerus belajar suatu bahasa asing, kalau cuma kadang-kadang dan tanpa aplikasi sama sekali, akan gampang menguap.

Banyak banget tips untuk memulai belajar otodidak, termasuk yang sering aku tekankan: senangi bahasa ini dan JANGAN jadikan beban. Bocoran dariku: nggak semua orang Indonesia di Jerman menguasai bahasa Jerman dengan mahir, baik dan benar. Banyak juga yang masih belepotan, tapi kita di Jerman cuek aja, yang penting nggak malu, lawan bicara ngerti, komunikasi nyambung. Jangankan orang Indonesia, orang Jerman aja banyak loh yang melakukan salah-salah. Jadi, nggak ada istilah malu dan takut mencoba.

Baca juga: Belajar Bahasa Jerman? Jangan takut salah Grammatik!

Jika kalian pada akhirnya memutuskan untuk : TAK SANGGUP belajar sendiri, seperti saranku sebelumnya, pilih pembimbing, guru, agen yang fair, yang paling murah, dan belajar sungguh-sungguh darinya.

Viel Erfolg beim Lernen!!!!

*
Follow instagram: @resep.anak.rantau  

Youtube channel belajar bahasa Jerman dan seputar Jerman: Youtube Denkspa

Liebe Grüße

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.